
Mahi pun tidur di samping Fatin, dan tak lupa memeluk tubuh istrinya itu, "terima kasih sayang," bisik Fatin.
"iya mas, tapi aku harus bertahan dari posisi ini berapa lama, ini bisa membuat pinggang ku patah mas," gumam Fatin.
Mahi pun tersenyum dan mengambil bantal yang di gunakan untuk mengganjal bagian b*k*Ng saat tadi bermain.
setelah itu, Mahi menarik tubuh Fatin pada dirinya, tak lupa Mahi menahan tubuh Fatin agar tetap miring.
"emm.. mas itu dia bergerak," kata Fatin malu.
"ah... sepertinya dia belum puas, jadi kita boleh melakukannya lagi ya," mohon Mahi dan Fatin pun tak bisa menolaknya.
beruntung di luar masih sangat ramai karena acara pewayangan, jadi suara aneh yang keluar dari keduanya tak menganggu siapapun.
di tepat lain Mela heran tak melihat Mahi dan Fatin, bahkan di kamarnya juga tidak ada.
"adek, tau dimana mas dan mbak ipar mu?" tanya Mela.
"di rumah eyang, mereka tidur disana, karena mas Mahi kesal kamarnya penuh seperti itu," jawab Rosita.
"ah begitu rupanya, padahal pakde mau ketemu, biar bunda panggil kalau begitu," kata Mela.
"duh bunda, seperti tidak pernah muda saja sih, masak orang lagi malam pertama di ganggu, jangan dong bunda, jika tidak kapan kita punya bayi di rumah ini," kata Rosita
"ha-ha-ha, kamu benar juga," jawab Mela tersenyum.
sebenarnya Mela tersinggung terlebih dia mengalami pernikahan yang beda, tapi dia tak risau akan hal itu.
karena beruntung dia memiliki Hendra sebagai suaminya yang begitu romantis bahkan sering memberikan hal-hal kecil yang membuatnya bahagia.
Fatin pun ketiduran, bahkan Mahi merasa geli sendiri karena merasa tak pernah puas menyentuh istrinya itu.
__ADS_1
keesokan harinya, Fatin tak bisa bangun untuk sholat subuh karena kelelahan, bahkan setelah di paksa Mahi baru wanita itu bangun.
tapi setelah sholat mereka malah melakukannya lagi, "maaf jika aku tak berpengalaman..."
"aku juga pertama kali, dan kita bisa belajar bersama lain kali, untuk lebih banyak gaya," jawab Mahi.
"hentikan ucapan mu mas," kata Fatin yang malu.
Rosita yang membantu Mela membereskan rumah bersama Hendra juga.
"aduh, kemana ini pengantin baru kok gak keluar kamar, aku panggil ah,enak aja mas Mahi tidur terus," kesal Rosita.
"hentikan hal bodoh itu dek, kamu gak mau kan kalau kesana dan mendengarkan ceramah dari kakak mu, sudah bantu kami saja," tahan Hendra.
"ih.. iya ayah," jawab Rosita kalah.
Mahi terbangun terlebih dahulu, dan akan mengambil sarapan untuk dirinya dan Fatin.
saat di dapur, Rosita langsung mencecar kakaknya itu, terlebih di leher Mahi ada sebuah goresan.
"iya ayah, semoga lekas ya, karena bunda tak sabar lagi," jawab Mela.
sedang di tempat rumah Dila, semuanya sedang sarapan bersama dengan nasi bungkus kesukaan dari keluarganya itu.
nasi pecel jangan lodeh warung Mak Jum, yang sangat terkenal di desa itu.
bahkan Abdul sempat nambah dengan berbagi bersama Husna,ya pasangan itu sangat suka makan tapi tak bisa gemuk.
"aduh tuhan ku, pasangan ini suka makan, tapi lari kemana itu makanannya, dari pada cuma diem di rumah,mending sono jalan-jalan gih," kata Hasan pada Husna dan Abdul
"kamu jahat banget sih mas, aku juga mau kembali ke rumah tau, karen harus ujian, cih..." kesal Husna.
__ADS_1
"kasihan sekali, ingat ya dek,jika kamu tidak bisa lulus dengan nilai baik, aku tak mau memberikan mu hadiah bukan madu,ingat itu," ancam Hasan.
"jahat banget,iya iya aku tau," kesal Husna yang sudah membereskan semua pakaiannya.
tak hanya Husna dan Abdul yang kembali, tapi ada ustadz Yusuf dan juga Husain yang juga kembali karena pekerjaan yang tak bisa di tinggalkan.
sedang Dila dan ustadz Ahmad menemani Bu Wati mengunjungi makam dari suaminya.
wanita sepuh itu sebenarnya sudah sangat lemah, tapi dia selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi makam dari suaminya.
Arif juga ikut mendorong kursi roda ibunya menuju makam desa, "bapak kamu lihat kan,kemarin cucu kita menikah, ternyata kita tak mengira jika Dila dan Hendra akan jadi besan, jadi ibu sudah merasa jika semua bahagia, jika boleh jemput ibu ya pak..." kata Bu Wati.
"ibu ngomong apa?" tanya Dila sedih.
Bu Wati tersenyum mengusap pipi Dila yang menangis, tak terduga Bu Wati pun menutup mata untuk selamanya di makam desa.
"ibu!!" teriak Dila yang langsung memeluk tubuh renta itu.
ustadz Ahmad tak menduga bahwa mertuanya akan meninggal dunia dengan seperti ini.
mereka pun membawa Bu Wati pulang, mereka pun menghubungi semua keluarga.
Fatin yang baru mandi pun kaget menerima pesan dari keluarganya, "eyang..." kata Fatin sedih.
Fatin bergegas mencari mshi dan keluarganya, "mas... ayo pulang ke rumah umi, karena eyang meninggal dunia mas..." tangis Fatin.
"apa?" kaget semua orang yang memang masih berada di rumah keluarga itu.
Mahi pun bergegas berangkat ke rumah pakde istrinya itu, terlebih rumah itu juga tak jauh.
mereka merawat jenazah dengan sangat segera, karena tak ingin menundanya terlebih itu keinginan sang ibu.
__ADS_1
bahkan Bu Wati di makamkan di samping makam suaminya itu, dan semua orang tak mengira baru juga membuat hari bahagia putrinya.
keluarga Dila malah harus merasakan kesedihan kehilangan dari ibunya itu.