
Feby kembali ke tempat kerjanya, ternyata beberapa tamu sudah menunggunya.
Feby pun datang dengan senyum yang merekah, ya gadis itu menjadi primadona di tempat itu.
itulah kenapa jika Feby yang meminta sesuatu pasti akan di turuti oleh pemilik tempat karaoke itu.
Wihandoko terus mencari fatin, tapi wanita itu seperti hilang di telan bumi. dia pun ingat jika tak mungkin ada tempat selain Yayasan.
"kalian semua, sekarang menyamar, sebisa mungkin cari wanita itu di sekitar yayasan, karena dia hanya memiliki tempat kembali di sana," perintah pria itu.
"baik tuan," jawab semua orang.
sedang Gazali yang mengamati tingkah ayahnya sedikit heran, kenapa pria begitu panik karena hanya seorang wanita yang kabur.
"kenapa dia seperti kehabisan wanita saja, padahal dia selalu mendapatkan wanita manapun yang dia sukai, dasar pria men-ji-jik-kan," kata Gazali yang memilih pergi.
Fatin bangun dan memilih mandi, ternyata Feby benar-benar menyiapkan semua keperluannya.
dia pun hanya duduk dan menangis, dia sangat merindukan Mahi dan orang tuanya.
"aku merindukan kalian semua... mas Mahi, Abi, dan umi ... apa kalian akan mengingat ku ... wajah ku sudah di ubah oleh pria itu..." tangis Fatin.
Feby baru datang dan melihat wanita yang di tolongnya itu begitu sedih, "mbak kenapa? apa ada yang sakit?" tanya Feby khawatir.
"tidak kok mbak, terima kasih ya, aku hanya merindukan keluargaku," jawab Fatin berusaha tersenyum.
"kalau begitu ayo saya antar, pasti mereka khawatir," kata Feby yang kasihan melihat wanita itu
"mereka tak akan mengenaliku, wajah ini bukan wajah ku, seseorang sudah menggantinya, bagaimana bisa aku di kenali sebagai Fatin Sidqia Sulaiman Ahmad lagi...." lirihnya.
Feby kaget mendengar itu, pasalnya yang dia tau wanita itu sudah mati, "apa anda neng Fatin putri dari ustadz Sulaiman Ahmad yang terkenal itu?"
Fatin mengangguk lemah, "mbak jangan bercanda, neng Fatin sudah di temukan tewas di mobil box yang menculiknya, berita itu menjadi heboh karena dia putri pertama dari ustadz yang terkenal, terlebih ini sudah hampir tiga bulan mbak," jawab Feby masih tak percaya.
"apa? bagaimana bisa aku mati, aku di sekap dan melakukan operasi plastik oleh orang yang menculik ku," jawab Fatin.
"tapi itu benar mbak, bahkan ada yang bilang jika neng Fatin itu di ketemukan dengan tubuh yang sudah hampir busuk," jawab Feby.
tubuh Fatin makin lemah mendengarnya, "ya Allah... cobaan apa lagi ini, kenapa aku harus mengalami hal ini, bagaimana bisa keluargaku akan percaya jika aku masih hidup," lirih Fatin sangat sedih.
Feby pun memeluknya, dia berusaha menenangkan wanita itu, "sudah mbak nanti kita cari caranya, sekarang kita cari makanan saja dulu yuk," jawab Feby.
"tidak perlu, aku akan memasak untuk mu, sebaiknya kamu mandi karena tubuh mu bau minuman," kata Fatin.
"ah iya, he-he-he, mulai sekarang panggil aku Feby ya mbak, dan aku akan memanggil mbak Fatin oke," jawab Feby.
Fatin pun mengangguk saja, dia pun mulai memasak makanan sederhana untuk gadis yang menolongnya.
di yayasan terlihat begitu ramai, terlebih hari ini ada acara Tasyakuran atas sembuhnya Husna.
gadis itu sudah puluh sepenuhnya dan sudah tak salam keadaan yang menghawatirkan.
__ADS_1
maka itu ustadz Ahmad dan seluruh pengurus pondok mengadakan pengajian Akbar
para pengawal dari Wihandoko memerhatikan semua orang, beruntung karena para wanita tak mengenakan cadar.
Mahi yang berada di lantai dua rumahnya, tak sengaja melihat sosok yang menjadi cleaning servis waktu itu.
dia pun bergegas turun, dia mencari pria itu dan menemukannya. Mahi langsung menariknya ke area yang jauh dari keramaian.
Mahi langsung menghajarnya dengan membabi buta, pasalnya dia masih belum terima segalanya, meski sudah hampir tiga bulan kepergian istrinya.
"ampun pak ... tolong jangan pukul lagi..." mohon pria itu yang sudah muntah darah.
"mohon ampun kau, sekarang katakan siapa yang menyuruhmu, dan kenapa kamu membunuhnya!" teriak Mahi dengan marah.
"saya tidak bisa bilang pak, karena keluarga saya juga dalam masalah jika saya bilang, maafkan saya, tapi saya bisa bersumpah jika kami tak membunuhnya," kata pria itu ketakutan.
dia tak mengira jika pria yang dulu dengan mudah dia lumpuhkan, sekarang begitu beringas seperti ini.
"apa yang kau katakan, kamu tidak membunuhnya, terus itu mayat siapa!" bentak Mahi.
Mahi menonjok perut pria itu dan wajahnya, bahkan pria itu muntah darah dan beberapa giginya patah juga.
"itu milik orang lain," jawab pria itu yang sudah kesakitan.
Hendra yang tak sengaja mendengar pun menghentikan putranya itu, "berhenti Mahi, kamu bisa membunuhnya, katakan dengan jelas siapa yang menyuruh mu, dan kamu tak perlu takut aku bisa menyelamatkan keluarga mu,"
"Wihandoko," jawab pria itu.
tapi sayangnya dia tak dapat menangkap pria itu, karena kondisi yang begitu ramai.
"sialan!" maki Mahi marah.
dia pun kembali ke tempat pria itu terkapar, Hendra langsung menghubungi polisi tapi tak mengizinkan mereka datang dengan mencolok terlebih di tempat itu masih ada acara.
Mahi harus merasa bagaimana sekarang, sedih,bahagia atau apa, dia yang hampir gila memikirkan istrinya.
tapi sekarang dia mendengar jika Fatin tak di bunuh, terus yang mereka temukan dan mayat itu siapa.
"tenang nak,ayah akan meminta tolong om Farhan dan Tante Fatah, koneksi mereka tak terbatas, dan kamu harus merahasiakan ini, karena kita tak tau kondisi istrimu yang sebenarnya," kata Hendra menenangkan Putranya itu
"baik ayah, dan aku rela mengeluarkan uang berapa pun asal ayah bisa menemukan istriku," kata Mahi memohon.
Hendra mengangguk, sedang tanpa di duga, Husain datang ke area permukiman itu untuk menemui Feby.
dia datang ke tempat kost Feby dan mengetuk pintu, "Feby sepertinya ada tamu, boleh mbak bukan?" tanya fatin.
"tidak usah mbak, biar aku saja," jawab Feby yang bangun dan membuka pintu.
dia kaget melihat Husain yang sedang berdiri di sana, lengkap dengan peci dan baju Koko nya.
"mau apa dih kesini, pakek baju gini pula, ayo masuk, kamu bisa di hajar oleh semua orang tau gak," marah Feby yang menarik Husain masuk kedalam kostnya.
__ADS_1
"maaf aku datang tiba-tiba, aku ingin mengajakmu ke yayasan, apa kamu mau ikut dengan ku ke tempat pengajian Akbar," kata Husain yang tak sadar bahwa ada wanita lain di sana.
Fatin berdiri melihat sosok adiknya itu, dia pun perlahan mendekat kearah pria muda itu.
"Husain ..." panggil Fatin.
Feby dan Husain pun menoleh, Husain kaget melihat ada wanita yang berpenampilan seksi berdiri di depannya.
"iya apa anda mengenal ku?" tanya Husain yang mengalihkan pandangannya.
"bocah gila, dia itu kakak mu, neng mu Fatin," kata Feby kesal.
"kamu jangan gila, cukup kamu menghina dan menolak diriku, tapi tidak boleh kamu menghina neng ku, dia susah tenang di akhirat, dan lagi wajahnya tak sama dengan neng Fatin, dan lagi neng ku selalu berpakaian tertutup bukan berpakaian minim seperti ini, kamu ingin mencemari namanya, kamu keterlaluan Feby, dan kamu wanita menjijikan berhenti bicara seolah mengenalku dan menjadi neng Fatin, itu mengelikan," kata Husain yang marah.
Fatin pun terduduk lemah, inilah yang dia takutkan, tak ada yang percaya padanya.
bukan dia tak mau menutup auratnya, pasalnya Feby hanya memiliki baju daster tanpa lengan yang di padukan dengan sweater rajut.
tapi tak menutupi bentuk tubuh Fatin yang memang sempurna sebagai wanita.
sedang Feby tak mengira jika reaksi dari Husain sampai sejauh ini, padahal dia tak berbohong kepada pria itu.
"sudah mbak,Husain memang seperti itu,dia sering datang kesini dan melakukan apa yang dia inginkan," kata Feby.
"apa maksudnya datang kesini melakukan apa yang dia inginkan?" tanya Fatin.
"aku dan dia adalah teman satu sekolah, dia menyukaiku meski dia tau pekerjaan ku adalah wanita pemandu karaoke, dan selalu berpenampilan seksi, dia tetap ingin memintaku untuk jadi kekasihnya, aku sering menolak bahkan membuatnya terluka, tapi dia tak berhenti mengejar ku, itulah kenapa dia jadi makin sering kesini," jawab Feby jujur.
"itulah kenapa keduanya tak ingin di jodohkan, dan meminta hak untuk menentukan pilihan jodohnya, apa pernah dengar tentang pernikahan putri terkecil dari ustad Ahmad?" tanya Fatin yang langsung ingat.
"oh pernikahan itu tidak terjadi, karena calon suaminya mati dalam kecelakaan, dan putri ustadz Ahmad juga baru subuh dari koma, itu sih yang aku tau saja," jawab Feby yang mulai makan.
Fatin tak mengira, jika begitu banyak musibah yang dihadapi oleh keluarganya. bahkan sudah sejauh ini tapi dia datang dan mungkin bisa membangkitkan luka pada keluarganya.
Fatin pun makan dengan Feby, sedang Husain merasa begitu bodoh, terlebih mendengar ada wanita yang berani mengaku sebagai neng nya itu.
dia sampai di parkiran, ternyata mobil polisi sudah pergi setelah mengevakuasi mayat pria tadi.
dia pun menghampiri Mahi yang sedang berbincang dengan Hendra, "ada apa mas?"
"hanya masalah kecil, kamu dari mana, bukankah Abi meminta semua putranya untuk datang karena hari ini juga bertepatan dengan ulang tahun yayasan," kata Mahi pada adik iparnya itu.
"habis beli sesuatu, baiklah aku permisi ya," kata Husain sebelum bergegas pergi.
dia akan merahasiakan ini dari kakak iparnya itu, terlebih luka Mahi masih sangat besar tentang kehilangan Fatin.
sedang di samping Dila, terlihat sosok Husna yang terlihat cantik dengan gamis putih.
meski belum bercadar wanita itu tetap terlihat begitu muslimah, tapi semua orang tak tau jika gadis itu menyembunyikan rahasia besar.
terlebih pernikahannya dan Abdul susah tidak akan bisa terlaksana, dan bagaimana dia bisa menghadapi orang jika tau dia pernah melakukan kesalahan besar bersama Abdul.
__ADS_1
bahkan pria itu harus meninggal dunia dalam keadaan masih junub.