
malam hari ini Dila membawa makanan ke kamar Mela, gadis itu terlihat masih termenung di pojok kamar.
Dila seperti melihat refleksi dari dirinya dulu yang juga sempat syok dan trauma karena kecelakaan yang mengakibatkan suaminya meninggal dunia.
"assalamualaikum Mela, ayo kita makan yuk," kata Dila yang masuk bersama seorang santri.
Dila pun meminta santri itu pergi agar Mela tidak ketakutan akan kehadiran orang lain.
"tidak pergi, aku lebih baik mati," kata Mela berteriak.
"benarkah, apa kamu tega melihat kesedihan pada kedua orang tuaku, padahal aku dengar mereka hanya memiliki dirimu," kata Dila yang sedang mencemili sambel goreng tempe kering.
melihat Dila yang sedang makan, Mela pun sedikit menelan ludahnya terlebih perutnya belum terisi apapun dari sore.
"mau makan tidak, kebetulan hari ini ada pepes pindang, sambel goreng tempe kering dan sayur labu loh," kata Dila memamerkan makanannya.
"boleh aku ikut makan, aku lapar," kata Mela yang melihat Dila.
Dila pun tersenyum dan membawa nampan itu di lantai dan mengajak Mela makan berdua dengan lesehan.
Mela pun nampak begitu menikmati waktu makannya, bahkan keduanya terlihat begitu akur.
setelah selesai, Dila mengajak Mela untuk sholat berjamaah di masjid, sebenarnya Mela normal dan sehat.
hanya saja trauma itu datang dan pergi tanpa bisa di prediksi, jadi Dila mengalihkan perhatian Mela pada kesibukan.
seperti malam ini Dila mengajak Mela ke pengajian bersama ibu-ibu dan gadis itu nampak biasa.
"bagaimana perasaan mu Mela, yang kamu rasakan di dalam lubuk hatimu," tanya Dila yang takut menyinggung Mela.
"entah ustadzah, aku merasa tubuhku kotor jika menginggat segalanya, malu, takut dan sakit, rasa sakit itu seperti kembali datang, dan aku ingin rasanya mari jika mengingat pelecehan itu," kata Mela dengan nada suara gemetar.
__ADS_1
Dila pun merangkulnya, "aku tau ini sulit, tapi percayalah aku juga pernah di posisi mu, bahkan kondisiku lebih parah," kata Dila.
"tapi bagaimana caranya ustadzah bisa menjadi seperti ini?" tanya Mela.
"dengan membuka hati, mencari kesukaan dan hobi baru, dan yang pasti membuka lembaran baru," jawab Dila.
"tapi akan sulit dengan ku karena siapa yang mau menerima wanita yang sudah tercemar seperti diriku ini,bahkan aku merasa keluarga ku juga tak bisa melakukan itu," kata Mela.
"jangan seperti itu, aku yakin suatu saat pasti akan ada seseorang yang mencintaimu dengan tulus, dan jika merasa sedih, takut dan cemas, kamu bisa mencurahkan segalanya pada Allah dalam sujud di waktu sepertiga malam," kata Dila.
"baiklah ustadzah," kata Mela tersenyum.
mereka pun kembali ke kamar masing-masing, kulsum menyapa Mela dan mengajaknya berjalan bersama.
sedang Dila menuju ke kantor suaminya, tenyata pria tampan itu sedang memeriksa beberapa berkas.
"assalamualaikum imam surga ku, dan hadis kesayangan yang lucu tiada duanya," kata Dila yang masuk ke ruangan itu.
"iya sayang, gara-gara Ani sekarang panggilannya jadi umi ya, bukan ibu," kata Dila melirik suaminya.
ustadz Ahmad pun tersenyum mendengar ucapan dari istrinya itu, "ya karena itu adalah pasangannya sayang, oh ya lusa kita jadi berangkat bersama beberapa orang untuk umroh, dan biarkan Anisa yang menjaga di yayasan,"
"iya Abi, kita umrah pertama kalinya bersama dan mengajak Fatin, lagi kita harus benar-benar menyiapkan segalanya," kata Dila.
"tenang, itulah kenapa aku mengajak Anton dan Ryan, agar ada yang bisa di mintain tolong menjaga Fatin, dan ada Emy juga," kata ustadz Ahmad yang sudah dapat cubitan gemas dari Dila.
"jadi sekarang ini harus beristirahat dengan baik agar bisa menjalankan ibadah itu dengan baik ya," kata ustadz Ahmad mencubit hidung Dila.
"iya Abi," jawab Dila tersenyum.
mereka pun pulang menuju ke rumahnya, sedang di dalam penjara, Hendra sedang melakukan olah Raka push up.
__ADS_1
dia baru beberapa bulan tapi sudah berhasil membentuk tubuhnya dengan sangat cepat.
bahkan sekarang dia menjadi orang yang di segani di dalam sel karena keberaniannya menundukkan semua kepala preman di penjara.
tubuhnya penuh luka tapi itu tak jadi masalah sedikit pun, dia pun tak pernah mendapatkan kunjungan dari siapapun.
terlebih Hendra dengar jika ibunya sedang dalam kondisi kesehatan yang buruk.
tapi keesokan harinya, Hendra tak mengira jika dia memiliki tamu yang datang untuk menemui dirinya.
"Hendra ada yang ingin bertemu dengan mu!" panggil supir penjaga lapas.
Hendra pun memakai bajunya dan menghentikan olahraga pull up yang sedang dia lakukan.
dia pun menuju ke ruang khusus, dan kaget melihat siapa yang datang, Hendra hanya tersenyum mengejek melihat pria itu.
"apa kabar Hendra?" tanya Ridwan.
"ha-ha-ha, kamu sedang stress,kenapa menemui ku, bukannya kamu begitu senang aku di penjara, ini kan impian kalian tapi ini juga salah ku," kata Hendra mengebrak meja.
"aku tau, tapi aku ingin mengatakan sesuatu,jika sekarang adik sepupu ku itu hamil dan aku ingin memintamu menikahinya, karena aku yakin kamu akan bisa membahagiakannya, terlebih ibumu juga memohon hal itu pada keluarga kami," kata Ridwan.
"ha-ha-ha kau gila, kamu ingin aku menikahi wanita gila, aku masih waras kali, lagipula aku akan membuatnya jatuh kedalam neraka," kata Hendra mengejek Ridwan.
"kamu terlalu terobsesi dengan wanita yang bahkan sudah bahagia dengan keluarganya, kamu tau Dila sudah hamil dengan suaminya yang baru, dan kamu malah membusuk di sini,lebih baik pikirkan ini dan mulailah hidupmu bersama dengan adik sepupuku, setidaknya saat tua nanti kamu tak akan busuk sendirian dan akan ada orang yang memeluk mu agar tak sendirian," kata Ridwan menyeringai.
"tutup mulutmu, bagaimana dia bisa hamil, dia itu mandul!" bentak Hendra.
."asal kau tau yang mandul itu dirimu bukan Dila, karena sesungguhnya Dila pun sempat keguguran saat kecelakaan dengan Andri," kata Ridwan menertawakan kebodohan dari Hendra yang menyakini jika Dila yang begitu sempurna itu cacat.
Hendra pun merasa di bohongi, "lihat pria bodoh ini sekarang menyesal, kau itu selalu membelakangi orang-orang yang menyayangimu dan mencintai mu,kau selalu sibuk dengan dunia mu, mulai dari ibumu, Dila yang kau sia-siakan,dan Sekar istri kedua mu yang bahkan memilih hamil dengan pria lain karena kamu tak bisa mencintainya, dan sekarang kamu begitu sombong setelah merusak seorang gadis, kau itu bodoh dan kejam, dasar manusia sampah, sepertinya kedatangan ku kesini itu sia-sia karena aku bicara dengan batu yang keras, berteriak berapa kali pun kamu tak akan mendengarkan bukan, kalau begitu aku permisi," kata Ridwan yang ingin pergi.
__ADS_1
tapi tak terduga, Hendra menonjok kaca pembatas hingga retak, padahal itu kaca yang begitu tebal.