
Fatin masih duduk bersama Hasan dan Husain, ketiganya merasa jika akhir-akhir ini rumah nampak tak nyaman.
terlebih untuk ustadz Ahmad dan Dila yang harus menjaga kesehatan diri mereka.
"neng, bagaimana jika kita mengirim Abi dan umi umrah, setidaknya mereka bisa berdoa di sana, dan sedikit menenangkan pikiran mereka," usul Husain.
"boleh juga, terlebih sudah lama umi dan Abi tak ke tanah suci, karena semua masalah yang di hadapi keluarga ini," jawab Fatin
"kalau begitu kita berangkatkan bersama dengan om Yusuf dan istri saja, supaya ada yang menjaga mereka, atau perlu dari kita ada yang ikut?" tanya Hasan.
"ya jika itu di perlukan tak masalah, lebih baik Husain kamu saja yang ikut bagaimana, karena kamu bisa berdoa untuk jodoh mu juga disana," kata Fatin memberi usul.
"baiklah neng, aku setuju untuk menemani mereka berempat," jawab Husain.
akhirnya Hasan yang mengurus segala dokumen, dan kebetulan mertua dari Fatin juga akan berangkat bersama Rosita untuk melakukan ibadah umroh juga.
Hasan pun menggabungkan mereka dalam satu rombongan yang sama agar mudah saling mengawasi.
Mahi pun merasa bingung dengan situasi dari keluarga istrinya, bagaimana bisa dia mencarikan seorang suami yang bisa menerima kondisi istrinya yang bahkan sudah tidak suci lagi karena zina.
saat sedang santai, dokter Ryan datang untuk menemui Mahi di ruangan pria itu.
"apa aku mengganggu mu dokter?" tanya pria itu sambil membawa kopi.
"tentu saja tidak, mau apa nih dokter ahli saraf datang ke ruangan ku?" tanya Mahi yang duduk berhadapan dengan pria yang lebih dewasa darinya itu.
"ha-ha-ha hanya ingin berbincang saja, sebenarnya mau curhat juga sih," jawab dokter Ryan.
__ADS_1
"mau curhat masalah apa? kok sepertinya sangat berat untuk di katakan?" tanya Mahi penasaran.
"biasa masalah jodoh, kamu tau kan orang tua ku sangat menginginkan seorang cucu, terlebih aku adalah anak tunggal mereka, bahkan mereka ingin aku segera menikah dan punya anak, tapi dengan semua kesibukan yang aku miliki, bagaimana bisa aku menemukan gadis yang tepat," kata dokter Ryan menghela nafas.
"mau aku Carikan? mau yang gadis atau janda nih?" goda dokter Mahi.
"ya di sekitar rumah ku kan banyak gadis ya wak, boleh lah jodohkan satu pada ku ini, aku tak butuh dia kaya, cantik, asal ya setidaknya dia mengerti agama," jawab dokter Ryan.
Mahi pun mengangguk, "akhir pekan jadwal kosong kan, jika iya coba main ke rumah ku, semoga nanti ada yang nyangkut satu," kata Mahi
"boleh nih, aku ajak sekalian dokter Rizal ya kebetulan kami sedang off bersamaan," jawab dokter Ryan.
Mahi pun tersenyum, pasalnya jika dokter Rizal seorang duda dengan satu anak.
istrinya meninggal dunia karena melahirkan anak pertama mereka, dan itu terjadi karena keteledoran keluarga dokter Rizal.
dengan cadar yang sesuai dengan gamis lebar yang dia kenakan. di tangannya juga terlukis gambar Henna yang sangat indah.
ya tadi sore beberapa murid sedang belajar melukis Henna, jadilah dia dan Husna menjadi tempat praktek.
meski tak bisa menghibur dengan cara yang sangat mencolok, setidaknya Fatin bisa melakukan hal-hal kesukaan dari adiknya itu.
Fatin pergi bersama Hasan,karena Dila ingin di temani Husain untuk membahas beberapa masalah yayasan.
Keduanya menuju ke salah satu pasar, mumpung toko itu belum tutup tadi Fatin sempat menitipkan belanjaan lewat telpon.
Hasan tinggal membayar semua belanjaan dengan ATM yang di berikan oleh ustadz Yusuf, sedang Fatin belanja untuk keperluan pribadinya dan itupun mengunakan ATM yang di berikan Mahi.
__ADS_1
setelah berbelanja semua kebutuhan yayasan, mereka pun pergi ke toko buah, ya Fatin sedang menyukai beberapa jenis buah.
dia tak akan pernah kehabisan stok karena sebelum habis dia sudah membelinya lagi.
"neng jeruk itu buat apa? kok kecil-kecil gitu masih di beli?" tanya Hasan penasaran.
"untuk di buat es jeruk, mas Mahi menyukai es jeruk peras, dan untuk yang lain ya di makan la," jawab Fatin.
tak lupa Hasan khusus membeli jeruk dan semangka dengan uang pribadinya.
ya setidaknya untuk anak-anak pondok, setelah selesai keduanya akan pulang tapi Hasan mengajak Fatin berhenti di salah satu kedai.
"tempat apa ini? kok dari aromanya sepertinya enak," kata Fatin penasaran.
"masuk saja neng, di jamin neng pasti suka, oh ya aku langganan di warung kecil ini loh, bakminya selalu the best," jawab Hasan mengacungkan jempolnya.
"wah jadi penasaran, baiklah mari kita coba," kata Fatin semangat.
mereka pun makan dengan lahap, dan tak lupa membungkus untuk orang di rumah.
Fatin juga membeli bakso yang di jual, dan ada beberapa jenis,dia sudah tau apa saja yang ada di dalam bakmi itu, dan besok akan mencoba membuatnya.
ya karena Indra perasa dari Fatin memiliki kepekaan yang baik, jadilah dia mudah membedakan bumbu apa saja yang ada di dalam semangkuk mie itu.
itulah kenapa kafe milik Hasan tetap laris karena semua di awasi langsung oleh Fatin,meski kemarin hampir berantakan.
tapi sekarang mereka sudah kembali berbisnis dan sangat menyenangkan berbisnis bersama Fatin yang selalu menjadi pencetus ide menu baru.
__ADS_1