Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
S2_pengantin baru


__ADS_3

mobil yang di tumpangi oleh ustadz Ahmad dan Dila sampai di yayasan, dan saat keduanya turun dari mobil.


semua penghuni pondok menyambut keduanya, bahkan mereka mengalungkan bunga.


"apa ini, padahal kita tak baru pulang dari Medan perang loh," kata ustadz Ahmad yang merasa Semuanya sedikit berlebihan.


"kaki hanya menyambut pengantin baru, dan selamat semua berkas dan buku nikah sudah selesai, sekarang kalian sudah resmi dan sah sebagai pasangan suami istri," kata ustadz Yusuf memeluk ustadz Ahmad.


begitupun dengan yang lain mengucapkan selamat, Anis juga melakukan hal yang sama pada Dila.


Dila mencium tangan umi Chasanah dan berpelukan, "baiklah sekarang ajak mereka masuk, karena kalian pasti lelah,"


"terima kasih umi," kata Dila yang masih mengendong putri sambungnya.


kini dia diantar oleh umi Chasanah ke rumah milik ustadz Ahmad, ternyata rumah itu begitu sederhana.


Dila masuk dan masih melihat begitu banyak kenangan dari Khadijah, tapi dia terpaku oleh sebuah potret di dinding.


ustadz Ahmad datang membawa tas besar masuk kedalam kamar, "ada apa dek?"


"beliau ini?" tanya Dila menunjuk foto Khadijah.


"istri pertama ku, ibu Fatin, namanya Khadijah Muawanah," jawab ustadz Ahmad.


Dila pun ingat wanita yang pernah bertemu dengan wanita itu di mimpinya.


"ah maaf, biar aku simpan foto Khadijah, karena aku belum melepaskannya, sekarang kamar ini milik kita," kata ustadz Ahmad.


Dila menidurkan Fatin di kamar miliknya yang bisa tembus ke kamar samping.


setelah Fatin lelap tertidur, dan ustadz Ahmad menyimpan foto Khadijah di kamar Fatin.


keduanya pun kembali ke kamar, dan duduk berdua di ranjang, Dila bingung karena dia merasa aneh karena suasana tegang.


ustadz Ahmad melepaskan cadar milik Dila, ustadz Ahmad dengan gemetar melihat wajah cantik istrinya.


sedang Dila masih menunduk karena merasa canggung, ustadz Ahmad mengangkat wajah Dila.


"tolong tatap aku dek," kata ustadz Ahmad.


dila pun perlahan mengangkat wajahnya, ustadz Ahmad tersenyum, dan kemudian dia kembali menunduk malu.

__ADS_1


"tolong jangan seperti ini mas ..." lirih Dila malu.


ustadz Ahmad pun memakaikan lagi cadar milik istrinya, dan tersenyum pada istri barunya itu.


"maafkan aku, sekarang ayo kita makan dulu, karena aku lapar," ajak ustadz Ahmad.


"mas mau makan apa? biar aku buatkan," tanya Dila yang ingin melayani suaminya


"buatkan mie goreng saja dek, biar mudah tapi jangan mie instan ya," kata ustadz Ahmad.


"tentu mas, aku mengerti dan tolong jaga Fatin ya, soalnya dia biasanya akan bangun karena haus," kata Dila.


"baik dek," jawab ustadz Ahmad.


Alexa merasa begitu kecewa pada sang mama yang tak datang menjenguknya di yayasan.


ini sudah hampir sepuluh hari dari permintaannya, tapi tanpa di ketahui oleh Alexa.


ibu Salwa datang bersama supir pribadi untuk berkunjung ke yayasan, terlebih dia juga baru dapat kabar jika ustadz Ahmad juga baru menikah sekalian mengucapkan selamat.


"Hendra, kalau untuk hadiah pernikahan lebih baik di belikan apa ya?" tanya ibu Salwa.


"lebih baik di belikan barang untuk kebutuhan dapur atau di kamar nyonya, itu lebih berguna nyonya," jawab Hendra pada juragan barunya.


"tapi nyonya memang sangat sibuk, biar nanti saya yang bantu untuk menjelaskan pada nona muda," jawab Hendra.


mereka pun membelikan beberapa seprei dan bedcover, tak hanya itu juga ada perhiasan juga.


setelah itu mereka juga membelikan makanan kesukaan dari Alexa dan juga sembako untuk para penghuni yayasan.


mereka pun menuju yayasan, dan langsung di sambut oleh umi Chasanah dan Alexa.


meski awalnya hadis itu ogah-ogahan, tapi karena ada Hendra dia jadi mau menyambut ibunya bersama dengan Fafa.


"mama..." sapa Alexa yang langsung memeluk ibu Salwa


"aduh putri ibu sudah makin cantik saja, maaf ya ibu baru bisa datang karena kesibukan ibu ya," kata ibu Salwa.


"iya Bu, halo mas Hendra, makin cakep saja," kata Alexa.


"iya terima kasih nona," jawab hendra.

__ADS_1


mereka pun menuju ke area pendopo untuk berbincang, sedang Hendra membantu membawa beberapa barang ke dapur yayasan.


sedang sore hari Dila berjalan bersama dengan Fatin untuk mengajar ngaji.


begitupun dengan ustadz Ahmad yang langsung memenuhi tanggung jawabnya.


bagaimana pun mereka tak boleh terlalu bersantai, setelah libur terlalu lama.


Hendra memilih ikut mendengarkan ceramah yang di berikan oleh ustadz Ahmad di masjid yayasan.


Dila mengajar mengaji anak-anak, bahkan dia membagikan hadiah makanan pada siapapun yang bisa menjawab pertanyaan yang diberikan.


"hari ini mbak akhiri sampai di sini ya, besok jangan lupa tugasnya harus hapal surat An-Nas, paham Semuanya?"


"siap Bu ustadzah..." jawab semua serempak.


akhirnya Dila selesai, dan melihat Fatin masih bermain di tempat duduknya, "sekarang ayo kita makan dulu yuk Fatin, ibu akan buatkan makanan untuk gadis cantik ini," kata Dila mengendong Fatin.


para santri menyapa Dila yang berjalan sambil membawa kursi khusus milik putrinya.


kebetulan Dila lewat di area pendopo dan uni Chasanah memanggilnya, "Dila kenari nak,"


"iya umi," jawab Dila yang memberikan kursi Fatin pada seorang pengurus agar di bawa ke rumah ustadz Ahmad.


"assalamualaikum umi, ada apa?" tanya Dila lembut.


"perkenalkan ibu Salwa, orang tua dari Alexa, dan ibu Salwa perkenalkan istri dari ustadz Ahmad, Dila," kata umi Chasanah saling mengenalkan.


"wah cantik ya, dan nak Fatin sudah lengket sama ibu sambungnya, pasti nak Dila sangat beruntung ya," kata ibu Salwa.


"iya Bu, saya beruntung memiliki suami yang bisa menerima semua masa lalu saya," jawab Dila tersenyum di balik cadarnya.


"oh ya, jika nak Dila ingin mengembangkan sekolah atau perkembangan UMKM di sini, saya bisa bantu karena saya juga termasuk jajaran para donatur," kata ibu Salwa ingin menyombongkan diri.


"Alhamdulillah kalau ibu mau membantu, tapi selama saya bisa saya akan mendanai sendiri Bu, kalau begitu saya permisi ya karena putri saya waktunya makan sore, permisi," pamit Dila sopan.


Bu Salwa merasa tersinggung dengan ucapan Dila, "memang sekaya apa sih keluarganya sampai bicara sombong begitu?"


"aduh Bu Salwa jangan ngambek gitu dong, Dila memang donatur tetap yayasan ini, dan keluarganya hanya petani saja kok," jawab umi Chasanah


"donatur tetap? bukannya donatur tetap itu dari keluarga Andri Gunawan ya," tanya Bu Salwa.

__ADS_1


"Dila itu adalah istri yang di tinggal mati oleh mas Andri, dan menjadi donatur tetap di sini bahkan ikut mengajar dan menjaga Fatin, dan sekarang dia adalah istri dari pemilik yayasan Bu, jadi tak salah saat dia bilang akan mengunakan uang miliknya untuk perkembangan UMKM dan yayasan juga," terang umi Chasanah.


__ADS_2