Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
S2_mencoba.


__ADS_3

ustadz Ahmad pun kembali ke kamar Dila dan mengetuk pintu pelan, Dila keluar dan kaget melihat sosok pria di depan pintu kamarnya itu.


"assalamualaikum ustadz, apa ada masala?" kata Dila menurunkan pandangannya.


"waalaikum salam, maaf aku tadi menaikan nada suaraku keras padamu, padahal niat mu baik, tolong Dila jaga putriku ya, karena hanya kamu yang begitu baik padanya, dan aku melihatmu yang begitu tulus padanya, terlebih setelah kepergian Khadijah selamanya," kata ustadz Ahmad.


"insyaallah ya ustadz, tapi kenapa ustadz ngomong seperti itu?" bingung Dila.


"tidak, hanya sadar diri kalau manusia itu tak pernah tau umur yang dia dapatkan, sudah aku permisi, dan jangan pernah merasa dirimu paling berdosa, karena kita semua manusia pasti punya dosa, tapi hanya Allah yang tau sebesar apa dosa yang kita miliki," kata ustadz Ahmad sebelum pergi.


Dila pun melihat kepergian ustadz Ahmad, dia merasa hangat karena ucapan lembut pria itu.


"tolong jangan membuat ku berharap ustadz, karena sampai kapan pun aku tak mungkin bisa karena aku bukan wanita baik-baik," gumam Dila.


seorang yang melihat keduanya merasa kesal, pasalnya dia yang mengincar ustadz Ahmad tapi pria itu terus cuek.


tapi kenapa dengan Dila ustadz Ahmad begitu perhatian dan itu sangat di bencinya.


sore hari, Dila berjalan sambil mendorong kereta bayi milik Fatin, dan duduk bersama Anisa.


"loh kok disini, bukannya masih belum boleh banyak bergerak," tegur Anisa.


"tak masalah mbak, biar saya yang mengajar ngaji, toh Fatin juga sedang tidur pulas, karena kelelahan main di kamar tadi," jawab Dila.


"Alhamdulillah kalau begitu, aku bisa melihat dan mengawasi bagian dapur, permisi ya Dila," pamit Anisa


kini Dila mulai mengajar ngaji untuk anak-anak dan para orang dewasa yang belum bisa membaca iqra'.


Dila begitu telaten, saat Fatin bangun, Dila memangku Fatin, dan balita itu tenang setiap mendengar suara Dila mengaji.


sedang para remaja sedang mengaji kitab bersama para penghuni yayasan yang juga sedang dalam masa berobat.

__ADS_1


ustadz Ilham, dan umi Chasanah yang menjadi guru kali ini, dan besok giliran Dila dan ustadz Ahmad.


semuanya berjalan lancar, Dila bahkan melupakan rasa sakitnya bersama dengan Fatin.


balita cantik itu sedang bermain dengan mainan plastik yang aman, "aduh kok di gigit SE sayang ku, cintaku, masak giginya sudah mau tumbuh?"


Fatin pun tersenyum seakan mengerti ucapan dari ibunya itu, dari kejauhan ustadz Ahmad merasa senang melihat interaksi keduanya.


"assalamualaikum ustazah, boleh kami bermain dengan Fatin?" tanya Fafa dan beberapa temannya yang baru selesai mengaji.


"maaf, kalian siapa, aku mengenal Febi dan Lina, tapi kalian berdua?" tanya Dila yang masih memegang Fatin.


"perkenalkan nama saya Fafa ustazah, saya yang beberapa hari ini membantu mengurus Fatin, dan ini teman saya Alexa," kata gadis itu.


Dila bisa melihat jika Alexa bukan anak dari orang biasa, karena penampilannya sangat berbeda.


"boleh ya ustazah, kami akan main disini," kata Alexa memohon.


tapi Fatin malah menolak, dan langsung menggenggam erat gamis Dila, "eh.. kenapa sayang kok gini, Fatin..."


Febi yang tau mengerti karena seorang bayi itu tau mana yang menyayangi mereka tulis atau tidak, "sudah ustazah kami hanya ingin bertanya sesuatu, apa bisa kami membuat wirausaha disini, karena yang kami dengar ustazah memiliki kedai waralaba yang sangat viral dan laris, boleh kami juga bekerja sama?" tanya Lina.


"tentu, tapi izin ustadz Ahmad sebagai kepala disini, dan satu lagi berhenti memanggilku ustazah, panggil mbak saja," kata Dila lembut.


"baiklah mbak, butuh berapa untuk bisa join bisnis dengan bisnis waralaba mbak?" tanya Alexa.


"kalau orang lain biasanya delapan ratus ribu, tapi untuk kalian, cukup beli yang akan kalian jual, dan untuk tempat jualan saya berikan gratis," jawab Dila.


"terima kasih mbak," kata febi dan Lina senang.


"tapi inget jika itu ustadz Ahmad mengizinkan, dan tidak menganggu pelajaran kalian, karena saya tak mau kalian sibuk dan melupakan kewajiban kalian," kata Dila menginggatkan.

__ADS_1


"inggeh mbak, terima kasih," jawab keempatnya sebelum pergi.


Dila pun menaruh Fatin di kereta bayi dan berusaha bangkit dan mulai mendorongnya untuk masuk kedalam rumah karena hari mulai petang.


Dila mencium tangan umi Chasanah yang sedang mengaji sambil menunggu waktu sholat Magrib.


"cucu nenek yang manis, tumben biasanya jam segini tidur, ada ibu ya, sekarang gak lepas sama sekali, uh... manjanya," kata umi Chasanah.


"benarkah umi, padahal setahu saya Fatin tak pernah bisa tidur jam segini, kalau iya pun akan bangun saat tengah malam," kata Dila merasa ada yang aneh.


"benarkah? padahal beberapa hari ini Fatin tidurnya dari sholat magrib sampai pagi loh, kok bisa gitu sih," kata umi Chasanah dengan enteng.


Dila merasa ada yang aneh, pasalnya Fatin tak pernah tidur selama itu, balita ini sering terbangun di malam hari.


"jadi itu kenapa ustadz Ahmad bisa menjaga ku beberapa hari ini?" tanya Fatin.


"iya, dia memaksa, padahal sudah umi katakan jika kalian tak boleh berduaan dalam satu ruangan, tapi dia memaksa karena takut jika kamu pergi meninggalkan dia dan putrinya," jawab umi Chasanah keceplosan.


"umi... tolong berhenti, aku tak pantas untuk perasaan ustadz Ahmad," kata Dila memohon.


ustadz Ahmad hanya bisa mendengar dari kejauhan, sepertinya perjuangan untuknya masih sangat panjang, demi mewujudkan keinginan dari Khadijah.


"maafkan umi, kamu kontrol ke rumah sakit kapan lagi, kalau bisa cari hari libur biar Anisa bisa menemanimu," usul umi.


"baik umi, kebetulan seminggu lagi, dan itu bertepatan dengan hari Jum'at," kata Dila.


umi Chasanah pun mengangguk, sedang Fatin terus tertawa melihat pembicaraan kedua orang itu.


terlebih bayi kecil kura keduanya sedang bermain bersamanya.


Anisa dan ustadz Ilham sedang melakukan sujud syukur, pasalnya apa yang di rindukan dan di minta selama beberapa tahun ini di kabulkan.

__ADS_1


__ADS_2