Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
S2_ngidam aneh


__ADS_3

kandungan Dila sudah menginjak tiga bulan, dan ustadz Ahmad semakin mengurangi kegiatan di luar yayasan.


karena dia tak ingin kehilangan kesempatan untuk menjaga istrinya dan juga Putri kecilnya fatin yang tengah lucu-lucunya.


pagi ini ustadz Ahmad sedang membuat sarapan, karena Dila tak bisa mencium aroma jenis bawang-bawangan yang sedang di masak.


"sarapan siap, untuk Fatin sarapan bubur sayur dan umi yang cantik makan nasi goreng ya," tawar ustadz Ahmad.


"terima kasih Abi, seharusnya aku yang masak tapi malah merepotkan Abi seperti ini," kata Dila merasa bersalah.


"sudah sayang, aku tak apa-apa kok, nasi goreng ini," kata ustadz Ahmad tersenyum.


mereka bertiga pun sarapan, setelah itu Dila kembali membasuh wajah putrinya yang cemong.


"sudah siap, hari ini ada tamu yang mengantarkan keluarganya yang mengalami hal yang tak terduga," kata ustadz Ahmad mengandeng tangan Dila.


"bismilah ya Abi, kemarin aku juga sudah membaca datanya," jawab Dila tersenyum.


mereka pun mulai melakukan kegiatan masing-masing, Dila sedang mengajar para balita karena hari ini ada kelas taman bermain.


sedang untuk di kelas yang lebih besar ada Emy dan Anisa, Dila mengajarkan lagu islami.


tak lama dua minibus datang, dan seorang wanita yang di rantai di bawa dengan di apit dua pria.


beruntung pelajaran untuk taman bermain itu hanya satu setengah jam jadi pelajaran pun selesai.


Dila menitipkan Fatin kepada Bu Ning, "mbak Dila yakin mau bantu ustadz Ahmad, kan mbak Dila sedang hamil muda, takutnya nanti mbak kenapa-kenapa,"


"tenang Bu, aku sudah pasrah akan takdir Allah, ibu tenang ya, lagi pula kamu juga sudah memiliki Fatin di antara kami," kata Dila menenangkan wanita itu.


"baiklah kalau begitu, tapi hati-hati ya Mbak," pesan Bu Ning.


Ridwan dan Vivi kaget saat ustadz Ahmad sendiri yang menyapa mereka, "assalamualaikum... selamat datang," sapa ustadz Ahmad.


"waalaikum salam ustadz, ternyata ini yayasan milik ustadz?" kaget Ridwan.


"iya mas, ini tempat kami mencoba untuk membantu saudara kita yang membutuhkan, tapi bukan yang sudah parah, tapi menyembuhkan luka trauma, dan gangguan emosi saja," terang ustadz Ahmad.


"pergi!! kamu jahat!! lepaskan aku, tolong jangan menyentuhku!!" teriak Mela dengan keras.


"tenang Mela," bujuk sang ibu.


Dila menghampiri gadis yang berontak itu, Dila menepuk pelan punggung dari Mela.

__ADS_1


gadis itu merasakan sesuatu dan menoleh, "tenang ya dek, coba istighfar yuk, astagfirullah hal adzim ..."


"Tasik nafas, tenang ya ..." suara lembut Dila.


Mela pun perlahan sedikit tenang, tapi tatapannya penuh ketakutan, Dila pun memeluknya.


"tenang ya dek, kamu akan aman di sini, ingat kamu tak sendiri ada Allah yang tak akan pernah tidur," kata Dila.


tak terduga Mela malah menangis dengan keras, "tolong aku .... aku kotor, mereka memaksaku ..." tangis Mela.


"menangislah, tumpahkan semua kesedihan mu," kata Dila lagi.


setelah menangis sekitar lima belas menit, Mela sudah benar-benar tenang.


vivi dan Ridwan tak mengira Dila bisa membuat Mela yang sudah sebulan ini terus mengamuk, bisa tenang hanya dengan pelukan.


"Alhamdulillah sudah merasa lebih baik mela, jangan takut di sini insyaallah semua sudah terlatih dan nanti istri saya yang akan menjagamu," kata ustadz Ahmad.


"maaf merepotkan mu ya Dila," kata Vivi.


"tidak mbak, ini bukan merepotkan karena ini sudah tugas kami untuk menyembuhkan traumatik yang di alami oleh saudara-saudara kita, terlebih korban seperti Mela," kata Dila.


"tapi apa kamu tau siapa pelakunya?" tanya Ridwan dingin.


"maafkan aku ya mas Ridwan, tapi sepertinya itu tak ada hubungannya dengan kami, terlebih itu sudah masa lalu," kata ustadz Ahmad yang tak suka dengan tatapan intimidasi dari Ridwan.


"sudah-sudah, sekarang lebih baik kita ke aula, dan mas aku permisi ya masih ada kelas bersama dengan ibu-ibu," pamit Dila pada semuanya.


tapi saat setelah berjalan, Dila kembali dan berdiri di depan ustadz Ahmad.


"ada apa umi?" kaget ustadz Ahmad.


"mau peluk dulu dong Abi," kaya Dila jujur.


"tapi malu banyak orang," bisik ustadz Ahmad.


"peluk dulu, kalau gak nanti adeknya gak bisa di ajak tenang ngajarnya," kata Dila menatap penuh harap.


ustadz Ahmad pun tersenyum dan memeluk Dila, "semoga ini ngajarnya lancar, sehat-sehat ya adek dan umi-nya,"


"terima kasih Abi," jawab Dila yang langsung pergi.


Vivi dan Ridwan tak mengira jika Dila begitu manja, gadis yang selalu terlihat begitu mandiri bisa melakukan apapun sendiri.

__ADS_1


punya sisi seperti ini, "apa Dila sedang hamil? bukankah dulu hasil pemeriksaannya Dila mandul?" tanya Ridwan.


"apa siapa yang bilang, bahkan Dila sempat keguguran bersama mas Andri karena kecelakaan yang merenggut nyawa mas Andri," kata ustadz Ahmad.


"apa!!" kaget keduanya.


"berarti Dila menyembunyikan kenyataan jika Hendra sebenarnya yang tak subur, dan rela di hina dan di ceraikan karena keterangan palsu dari dokter," kata Ridwan.


"sepertinya dan saya mohon jangan bahas masa lalu lagi, karena kami sudah menguburnya dalam-dalam, karena sekarang aku ingin melihatnya terus tersenyum tanpa ada kesempatan buruk lagi yang menghampiri," kata ustadz Ahmad.


"maafkan saya, saya hanya tak mengira jika Dila berkorban begitu banyak, bahkan demi pria bajingan seperti itu," kata Ridwan merasa tak enak.


mereka pun berkumpul dan membahas semuanya di aula bersama umi Chasanah.


bagaimana pun umi Chasanah yang bertanggung jawab atas semua masalah yang terjadi.


sedang Dila sedang memberikan beberapa pelajaran untuk pengembang UMKM yang di naungi yayasan.


mereka akan menciptakan produk baru berupa barang-barang daur ulang untuk hiasan perabotan sehari-hari.


hari ini mereka sedang belajar membuat tas belanja dari bungkus kopi dan juga plastik, ada yang di jahit ada yang di sulam.


semuanya Dila ajari dengan telaten, bahkan Dila terus tersenyum bersama semua ibu-ibu.


umi Chasanah mengajak Mela ke kamar, dan Mela merasa sedikit tenang karena di lorong itu selalu terdengar suara orang mengaji.


itu sengaja di lakukan untuk memberikan rasa nyaman dan tenang pada semua yang sedang dalam masa pengobatan.


akhirnya keluarga mereka pulang karena Mela sudah bisa beradaptasi dengan baik.


sedang di penjara, Hendra susah babak belur di hajar oleh beberapa tahanan yang lebih lama.


"bang aku tak ada salah dengan kalian, berhenti semena-mena," kata Hendra yang mengusap darah di sudut bibirnya.


"alah bacot banget, pemerkosa seperti ku itu tak pantas di kasihani, karena pria seperti mu itu banyak wanita jadi korban," hina tahanan lain.


"bacot!!! lu sendiri begal yang bunuh orang anjing, jangan samain semua orang, kau pikir aku takut hah!!" bentak Hendra yang langsung menendang kepala pria itu.


dia sudah cukup bersabar terus di hina, tapi dia juga bukan pria lemah, "cih, segitu doang lu pingsan, dasar lemah anjing, jadi jangan berani menganggu ku lagi,"


Hendra pun memilih tidur di bagian pojok penjara, sedang semua tahanan yang satu sel dengan Hendra pun kini tau jika pria itu kejam.


bahkan pria yang biasa menjadi pimpinan penjara pun di buat pingsan hanya dengan satu kali tendangan.

__ADS_1


__ADS_2