Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
Part 54_Jalan Buntu


__ADS_3

Reader jangan lupa tinggalkan jejak dukungan ya... 🙏🏼🙏🏼🙏🏼


Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.


Jangan lupa bahagia.


.........


Tuan Indra panic setelah menerima kabar bahwa mobil yang ditumpangi istrinya mengalami kecelakaan.


"Anand…"


"Anand…" Teriak Tuan Indra panic.


"Iya, pa." Anand mendekat dengan raut wajah yang tegang. Anand panic karena mengira papanya sudah tahu kelakuannya pada Tara.


"Mama kecelakaan… Ayo cepat ke sana dan telepon ambulan untuk membawa mamamu ke rumah sakit." Perintah Tuan Indra.


"Mama kecelakaan?" Anand shock.


"Mama tidak baik-baik saja kan, pa?" Anand mulai khawatir, bagaimanapun Nyonya Gita adalah mama tercintanya yang selalu menyayangi dan membelanya.


"Tenanglah! Papa juga belum tahu, tapi yang jelas kita harus segera ke sana dan segera membawa mamamu ke rumah sakit." Tuan Indra mulai berpikir jernih, tidak baik jika dia panic dan membuat Anand makin khawatir.


"Jangan kabari Aryan dulu! Kita kabari dia kalau sudah di rumah sakit saja." Saran Tuan Indra.


"Tapi, pa! Bukankah mama tadi berniat mengajak Tara?" Teringat ucapan mamanya sebelum berangkat arisan.


"Ayo cepat berangkat, pa!"


"Aku khawatir Tara kenapa-kenapa."

__ADS_1


Tanpa sadar Anand menunjukkan rasa cintanya pada Tara. Kecemasan dan kepanikan terlihat jelas dari gelagatnya yang terburu-buru menuju TKP. Tuan Indra sempat heran dengan sikap Anand, namun sedetik kemudian dia mengingat kejadian beberapa hari lalu dimana Anand mencoba menjadi Aryan untuk mendapatkan cinta Tara. Tuan Indra pun segera menelepon Aryan.


"Halo, pa." Jawab Aryan dari seberang telepon.


"Papa mau ngomong sesuatu, tapi jangan panic!" Pinta Tuan Indra.


"Apa ada sesuatu yang gawat hingga papa memintaku untuk tidak panic?" Tanya Aryan.


"Hmmm… Mama mengalami kecelakaan mobil, kemungkinan besar mama dan istrimu terluka cukup parah. Ini papa dan Anand sedang menuju ke TKP." Papar Tuan Indra.


"Istriku? Tara maksudnya?" Aryan kaget.


"Iya, bukankah mamamu mengajak Tara ikut arisan dengan teman sosialitanya?" Jelas Tuan Indra.


"Maaf, pa. Tadi mama kesini mengajak Tara, namun aku melarangnya. Tara sekarang di rumah bersamaku." Terang Aryan.


"Syukurlah kalau Tara tidak ikut, papa dan Anand sangat khawatir dan takut kalau Tara kenapa-kenapa." Tuan Indra merasa lega karena Tara tidak ikut istrinya arisan.


"Baiklah, teleponnya papa tutup, nanti papa kabari lagi." Tuan Indra mengakhiri panggilan teleponnya.


"Apa benar Tara tidak ikut, pa?" Tanya Anand tak sabar.


"Kenapa kamu begitu khawatir? Kamu bukanlah suaminya." Tegas Tuan Indra.


"Mak-Maksudku bukan begitu, pa. Kasihan Aryan kalau sampai terjadi sesuatu pada Tara, pa." Sanggah Anand.


"Nyetirnya yang kenceng! Tentang Aryan dan Tara bisa kita bahas lain waktu." Perintah Tuan Indra.


"Kasihan mamamu kalau nunggu lama, kita belum tahu separah apa lukanya. Semoga saja tidak parah dan ambulance cepat datang untuk membawa mamamu ke rumah sakit. Jangan sampai terlambat ditangani." Harap-harap cemas memikirkan keadaan istrinya.


"Apa kita akan berurusan dengan polisi, pa?"

__ADS_1


"Sudah tentu kita berurusan dengan polisi karena mobil mamamu menabrak pembatas jalan dan merusak perkebunan jati milik orang."


"Kalaupun nanti berurusan dengan polisi, kita tinggal memberikan ganti rugi. Toh ini kecelakaan tunggal." Tuan Indra tak khawatir soal uang maupun urusan dengan polisi.


"Paling penting adalah kondisi mamamu dan juga pak sopir." Imbuh Tuan Indra.


Setelah naik mobil kira-kira 25 menit, sampailah mereka di lokasi kecelakaan. Ternyata sudah ada polisi dan warga yang berkerumun di sana. Ambulance pun sudah datang untuk evakuasi korban. Ada juga beberapa pengendara motor yang berhenti dan menyempatkan diri untuk melihat-lihat.


Nyonya Parwati melihat Tuan Indra datang, dia langsung menghampiri Tuan Indra bersama dua orang polisi. Nyonya Parwati telah memberitahu polisi bahwa yang mengalami kecelakaan adalah Nyonya Cakra Wangsa. Polisi pun sepertinya tidak akan mempersulit, mereka sudah tahu pasti Tuan Indra Cakra Wangsa pasti mampu mengganti kerugian yang ditimbulkan oleh kecelakaan istrinya.


Nyonya Gita pingsan namun tidak mengalami luka yang parah, namun sang sopir kakinya luka-luka dan tangannya terkena serpihan kaca mobil akibat bagian depan mobil yang menabrak dengan keras. Mereka telah dievakuasi dan dimasukkan ke ambulance. Dengan sigap ambulance membawanya menuju rumah sakit terdekat.


Ada pendanaan, jelas saja kasus akan ditangani dengan cepat. Polisi pun segera meminta keterangan warga sekitar yang terletak 0.5 km dari lokasi kejadian. Tidak ada saksi terjadinya kecelakaan itu. Kecelakaan terjadi sore hari ketika hujan turun, jelas saja tidak banyak yang melintas di jalan itu.


Dua orang polisi lainnya memeriksa mobil dan rencana olah TKP akan dilakukan besok pagi menjelang siang. Mereka melihat kedua ban depan dan ban belakang sebelah kiri mengalami pecah ban. Dengan bantuan senter dan penerangan lampu jalan yang sedikit temaram, mereka belum bisa mengecek apa penyebab mobil mengalami pecah ban. Akhirnya penyelidikan malam itu sementara diakhiri, mobil Nyonya Gita dibawa menuju satlantas kota untuk diselidiki nantinya.


Tuan Indra sedikit lega karena melihat istrinya tidak terluka parah, hanya ada beberapa goresan di lengan kirinya, mungkin karena menghalau pintu mobil yang sempat bergesekan dengan pembatas jalan dan pohon jati. Nyonya Gita masih pingsan kemungkinan karena shock saja.


Tidak ada CCTV di dekat area kecelakaan, tidak ada saksi kunci, hujan turun menyapu semua jejak dan bukti. Kalau saja kecelakaan ini bukan murni kecelakaan tunggal, pasti akan sulit mencari bukti dan mengungkap kebenaran. Hanya tersisa keterangan dari sang sopir dan keterangan dari Nyonya Gita saja. Tuan Indra sudah pesimis, meskipun dia masih ragu jika kecelakaan ini murni kecelakaan tunggal dan factor jalan yang licin karen hujan.


Pecah ban mobil mungkin saja terjadi karena ban kurang tekanan udara, jarang dirawat, tertusuk benda tajam, perlakuan kasar saat berkendara seperti manuver kasar dan rem mendadak, kondisi ban yang aus karena lama tidak diganti, modifikasi velg ban dengan ukuran yang lebih kecil.


Tuan Indra terus memikirkan beberapa kemungkinan yang menjadi penyebab pecah ban, bahkan sampai 3 sekaligus. Dari semua itu, tertusuk benda tajam kemungkinan besar menjadi penyebab pecah ban. Selama ini mobilnya selalu dirawat dan sopirnya adalah sopir pilihan yang berkendara dengan halus dan tidak ugal-ugalan. Namun, jika benar karena benda tajam kenapa bisa bersamaan. Area jalan dekat dengan perkebunan, lalu dari mana datangnya benda tajam di tengah jalan, ataukah mungkin ada yang sengaja. Kalaupun ada yang menebar paku, pasti ada sisa paku di jalan yang bisa mengenai pengendara lain.


"Sepertinya sudah ada yang merencanakan ini semua dengan matang, bahkan sampai menunggu saat yang tepat di mana jalanan sepi dan hujan cukup deras. Sudah pasti orang ini cukup pintar. Tapi, siapa yang mengincar Gita?" Batin Tuan Indra.


"Atau mungkin saja ada tukang tambal ban atau bahkan rampok yang menebar paku disini. Tapi ini janggal, tidak mungkin perampok atau tukang tambal ban hanya menebar beberapa paku dan semua mengenai mobil istriku. Harusnya ada sisa paku yang masih ada di jalan. Kalaupun benar ada paku, hujan juga telah menghilangkan sidik jari di paku-paku itu. Sepertinya penyelidikan ini akan menemui jalan buntu." Tuan Indra terus memikirkan segala kemungkinan yang terjadi.


Di lain tempat di sudut kota itu, ada dua orang yang tertawa bahagia setelah berhasil membuat mobil Nyonya Gita mengalami kecelakaan. Hati yang terselimuti dendam tentu saja sudah tidak bisa berpikir jernih. Hal buruk yang manusia lakukan, pasti suatu saat akan kembali kepada manusia itu sendiri. Entah apa yang telah Nyonya Gita lakukan hingga membuat dua orang itu mendendam hingga mencelakainya. Mengingat kesombongan dan mulut pedas Nyonya Gita, bukan tidak mungkin dia memiliki beberapa musuh.


.................

__ADS_1


Yuk ditunggu jempolnya, komentarnya dan dukungannya. Terima kasih telah bersedia mampir membaca.


__ADS_2