Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
Part 71_Kekalahan sang Mama Mertua


__ADS_3

Seberapa pun reader, like dan favoritnya, author akan tetap selalu update sampai kelar halu/khayalan di kepala author 😸


Reader jangan lupa tinggalkan jejak dukungan ya... Biar lebih semangat nulisnya. 🙏🏼🙏🏼🙏🏼


Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.


Jangan lupa bahagia.


.........


Nyonya Lita memeluk Tara, bersyukur karena suaminya membela hak putrinya. Tara seakan mendapatkan semangat untuk menjalani hidup tanpa Aryan. Kedatangan Gala dan dukungan dari papa mamanya membuat Tara semangat kembali.


"Tidak bisa! Tara tetap harus menikah dengan Anand!" Nyonya Gita masih tidak terima.


"Nyonya Gita, kenapa anda begitu serakah ingin menjadikan Anand penguasa Maheswari dan Cakra Wangsa. Sekali pun anda tidak setuju saya menikahi Tara, anda tidak bisa menghalangi karena anda hanya mama mertua saja. Anda juga tidak punya hak untuk memaksa Tara menikah dengan Anand. Kalau memang anda seserakah itu, mari kita bawa masalah ini ke jalur hukum." Gala menantang Nyonya Gita.


"Okay, lebih baik menempuh jalur hukum. Kami juga punya hak atas apa yang dimiliki Aryan." Nyonya Gita menyambut tantangan dari Gala.


"Selamat siang, maaf sepertinya saya datang di waktu yang kurang tepat." Sapa Pak Heru, pengacara Aryan.


"Pak Heru... Apakah ada hal yang sangat penting sehingga anda ke sini di hari minggu?" Tanya Tara.


"Ada hal yang perlu saya sampaikan terkait dengan pesan terakhir Tuan Aryan." Jelas Pak Heru.


"Silakan duduk, pak. Sampaikan saja di depan kami semua, tidak ada yang perlu ditutupi." Pinta Tara.


Pak Heru duduk di tengah-tengah suasana yang kian memanas. Namun Pak Heru tidak ambil pusing dengan keadaan itu, dia harus segera memberitahu Tara tentang pesan terakhir Aryan padanya. Pak Heru segera mengeluarkan berkas salinan dari berkas asli yang dia simpan dengan baik.


"Baiklah... Saya hanya ingin menunjukan pesan terakhir dari Tuan Aryan."


"Beberapa waktu lalu saat diketahui non Tara hamil, Tuan Aryan menghubungi saya untuk mengalihkan semua kekayaan miliknya menjadi atas nama Devi Tara Maheswari Cakra Wangsa. Surat kuasa dari Tuan Aryan juga sudah ditanda tangani oleh Tuan Aryan, jadi sudah sah di mata hukum." Papar Pak Heru.


"Apa? Mana mungkin Aryan menyerah semuanya pada istrinya. Pasti ini perbuatan Tara yang serakah dan ingin mengambil alih semua milik Aryan." Teriak Nyonya Gita tidak terima.


"Bukan! Ini memang Tuan Aryan yang diam-diam mengalihkan semua asetnya menjadi atas nama non Tara. Kelak semua kekayaan yang Tuan Aryan tinggalkan akan menjadi hak milik anak yang ada dalam kandungan non Tara saat ini." Terang Pak Heru.

__ADS_1


"Saya sebagai mamanya Aryan tidak terima ini semua. Saya akan menuntut Tara karena mengambil semua milik Aryan." Nyonya Gita murka.


"Nyonya, ini semua sah di mata hukum karena surat-suratnya juga jelas. Percuma jika anda ingin menuntut karena semua sudah dihibahkan dan diatasnamakan non Tara sebagai wali dari anak yang ada di dalam kandungannya." Pak Heru menjelaskan.


"Saya tidak terima! Harusnya harta Aryan tidak hanya untuk istri dan anaknya tapi juga menjadi hak mama dan papanya juga." Nyonya Gita masih saja serakah.


"Diam kamu Gita!" Teriak Tuan Indra.


"Kamu membuat ku tidak bisa sabar lagi. Kamu tidak membantu apa-apa saat Aryan berjuang merintis usaha. Yang kamu lakukan hanya membantu Anand saja. Setelah kepergian Aryan, kamu malah mau minta harta Aryan! Aku sungguh gagal mendidik istriku." Tuan Indra tidak mampu bersabar lagi.


"Aku akan tetap memberikan 60 % kekayaanku pada Aryan dan kelak akan aku berikan pada anak Aryan dan Tara. Itu adalah hak dari Aryan, aku percayakan cucu kita pada keluarga mu, Yoga. Aku percaya kalian akan berhasil mendidik cucu kita seperti kamu mendidik Tara dan Gala. Semoga Tuhan masih memberiku umur panjang menunggu cucuku menjadi penerus ku kelak."


"Papa, kenapa kamu tidak memikirkan Anand. Dia juga anak kamu! Dia juga berhak untuk menjadi penerus mu!" Nyonya Gita masih mau melawan suaminya.


"Apa papa tidak salah, ingin memberikan harta yang begitu banyak pada menantu yang bahkan akan menikah lagi dengan pria lain?"


"Tara memang menantu, tapi dia juga ku anggap sebagai putriku menggantikan Aryan. Jika kamu tidak terima dengan keputusan ku, sebaiknya kita bercerai saja. Terserah Anand akan mengikuti mu atau mengikuti aku. Jika Anand pilih ikut dengan ku, aku akan mendidik Anand dan merubah dia jadi lebih baik lagi." Tuan Indra mengambil keputusan.


Tuan Indra berpamitan pada besannya, tidak lupa berpamitan juga pada Tara dan Gala.


"Tentu, Ndra. Kita akan mendidik cucu kita bersama. Bukankah kamu juga berhasil mendidik Aryan. Aku masih sangat kehilangan menantu ku itu." Tuan Yoga tahu kesedihan sahabatnya itu.


"Semoga Aryan tenang di atas sana karena aku mengambil keputusan sesuai keinginannya. Aku tahu pasti Aryan ingin Tara bersama orang yang dia cintai dan mampu menjaganya. Aryan pasti juga tidak suka kalau aku memaksa Tara menikah dengan Anand." Tuan Indra menyadari kekurangan dan kesalahan Anand.


"Cinta memang tidak bisa dipaksakan. Menikah untuk seumur hidup, siapapun tidak berhak memaksa Tara. Biar Tara sendiri yang menentukan."


"Aku percaya kamu akan mengambil keputusan yang tepat, Tara. Kamu sekarang adalah anak perempuan ku. Jagalah cucuku dengan baik." Pesan Tuan Indra pada Tara.


"Terima kasih, pa. Mas Aryan pasti bangga punya papa seperti papa Indra." Tara menangis bahagia karena papa mertuanya mengambil keputusan sesuai yang dia harapkan.


"Gala..." Tuan Indra memeluk Gala.


"Aku percayakan Tara dan cucuku padamu. Aku sudah kehilangan Aryan, aku tidak mau kehilangan cucuku. Tolong jaga dia dengan baik. Jika Yoga bisa menjadikan mu seperti anaknya, aku pun juga bisa. Meskipun nanti kamu punya anak dengan Tara, aku harap kamu tidak memperlakukan cucuku dengan tidak adil." Tuan Indra menitikkan air mata, hatinya masih rapuh karena kehilangan Aryan.


"Aku akan membuktikan kalau aku bisa menjadi papa yang baik untuk anak Aryan, om. Aku akan membuatnya tidak pernah merasa kehilangan papanya. Aku juga tidak akan menghilangkan sosok Aryan sebagai papanya. Dia akan mempunyai dua papa, ada papa Aryan dan papa Gala. Jika di perjalanan nanti aku berbuat salah tolong tegurlah aku. Bagaimanapun juga aku masih butuh bimbingan dari om Indra dan papa Yoga." Gala berjanji pada Tuan Indra.

__ADS_1


"Kalau begitu mulailah dengan memanggilku papa, sama seperti kamu memanggil Yoga." Pinta Tuan Indra.


"Baik, pa. Aku bersyukur sekali diberikan 2 papa yang menyayangiku. Aku harus segera memberitahu ayah, beliau pasti akan sangat senang sekali mendapatkan keluarga baru." Gala terharu.


Tuan Indra dan Nyonya Gita pergi meninggalkan kediaman Aryan. Raut wajah Nyonya Gita sangatlah tidak enak dilihat, mungkin dia masih belum terima dengan keputusan suaminya, apalagi suaminya mengancam akan menceraikan dia jika dia tidak setuju.


Pak Heru pun segera menyelesaikan tugasnya dan meminta Tara menandatangani berkas-berkas yang diperlukan untuk pengalihan harta Aryan kepada Tara sebagai wali dari anak Aryan yang masih di dalam kandungan.


"Non Tara, mulai saat ini anda harus benar-benar berhati-hati. Jagalah anak Tuan Aryan, jangan sampai anda kehilangan dia atau Nyonya Gita akan merebut semua milik Tuan Aryan dari anda." Pak Heru mengingatkan.


"Aku akan menjaganya bukan karena harta yang mas Aryan tinggalkan, aku akan menjaganya karena dia adalah bukti cinta kami berdua. Aku akan pertahankan milik mas Aryan bukan karena aku serakah, aku tahu mas Aryan pasti tidak mau miliknya jatuh ke tangan tante Gita dan mas Anand. Aku bersyukur sekali mendapatkan suami sebaik mas Aryan." Mata Tara mulai berkaca-kaca.


"Hiduplah dengan bahagia dan lanjutkan hidup non Tara dengan baik. Tuan Aryan pasti ingin anda selalu bahagia, tidak masalah jika anda ingin menikah kembali." Saran Pak Heru.


"Tapi, ini masih terlalu cepat, pak."


"Aku masih butuh waktu menenangkan diri dan mengikhlaskan kepergian mas Aryan." Sanggah Tara.


Deg...


Gala mulai gelisah, apakah Tara tidak akan menerima lamarannya.


"Baiklah, tugas saya sudah selesai. Saya ijin pamit undur diri." Pak Heru mohon pamit.


"Terima kasih telah datang di waktu yang tepat, pak." Tara menjabat tangan Pak Heru dan mengantarnya ke depan.


.................


Apakah Tara benar-benar akan menolak lamaran Gala?


Apakah Nyonya Gita akan menyerah begitu saja?


Anand akan menyadari kesalahannya dan ikut papanya atau semakin tersesat karena mengikuti mamanya?


Ikuti terus ceritanya ya 🙏🏼👍🏼

__ADS_1


Yuk ditunggu jempolnya👍🏼, komentarnya dan dukungannya❤. Terima kasih telah bersedia mampir membaca.


__ADS_2