Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
Part 45_Anand Menggila


__ADS_3

Hujan datang membawa kenangan


Tapi masa lalu janganlah diingat


Reader berikanlah author dukungan


Agar menghalu dan menulisnya lebih semangat


Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.


Jangan lupa bahagia.


.........


Sore kemarin Anand telah memangkas rambutnya menjadi seperti gaya rambut Aryan. Padahal biasanya Anand lebih suka rambut sedikit lebih panjang alias gondrong. Pagi ini Anand pun berdandan seperti Aryan, orang yang melihatnya pasti akan salah mengenalinya.


"Pagi, ma, pa." Sapa Anand.


"Anand... Kenapa kamu berpenampilan seperti Aryan?" Nyonya Gita kaget melihat penampilan Anand.


"Wajar aja sih, ma. Namanya anak kembar, mungkin karena kangen sama Aryan." Anand beralasan.


Tuan dan Nyonya Cakra Wangsa tidak mengerti kenapa tiba-tiba Anand seperti itu. Mereka pikir benar kata-kata Anand bahwa itu karena dia merindukan saudara kembarnya. Setelah sarapan Anand pamit pergi bekerja.


Anand melajukan mobilnya bukan ke kantor pusat Cakra Wangsa Group, melainkan ke arah butik Tara. Entah niat apa yang membuatnya pagi-pagi datang ke sana. Sesampainya di Tara Collection, Anand memarkirkan mobilnya agak jauh dan tidak terlihat dari depan butik Tara. Dia hanya diam dan mengamati.


Sorot mata Anand berubah menjadi tajam dan penuh amarah serta kecemburuan. Dari jauh Anand melihat Aryan mengantar Tara. Adegan romantis sepasang pengantin baru yang membuat Anand semakin terbakar cemburu.


Aryan membukakan pintu mobil untuk Tara. Padahal bisa saja mereka pakai sopir tapi Tara tidak suka pakai sopir, apalagi setelah menikah. Adanya sopir bisa mengurangi keromantisan pengantin baru. Sudah cukup para bodyguard mengawasi dari jauh.


Tara mencium tangan Aryan, lalu menatapnya. "Mas gantengku, waktunya kerja. Pegang tangannya nanti lagi ya..." Tara tersenyum manis.


"Ah... Sayang... Kalau tidak ada kerjaan mendesak, aku lebih suka berlama-lama denganmu." Ujar Aryan.


Bukannya melepaskan tangan Tara, Aryan justru malah menarik Tara ke dalam pelukannya.


"Maaas..." Teriak Tara dari dalam pelukan Aryan.


"Diam 'lah! Sebentar saja." Pinta Aryan.


"Nanti bakal ada hot gossip... Semenjak menikah Tara jadi manja dan tidak mau ditinggal kerja oleh suaminya." Gumam Tara.


"Biarkan saja orang mau berkata apa. Padahal jelas akulah yang memujamu."


"Aku juga memujamu." Tara tidak mau kalah dan membalas pelukan Aryan dengan erat.


"Ha... ha... ha... Harusnya kita ambil cuti satu bulan untuk bulan madu sampai puas." Kelakar Aryan.


"Satu bulan honeymoon capek mas. Perlu dijeda dulu, jaga mood biar selalu ada kerinduan." Jelas Tara.


"Kamu pinter ya sekarang." Aryan melepaskan pelukannya dan mengecup kening Tara.


"Okay, have a nice day, my queen."


"Mas pulang jam berapa? Makan siang ke sini nggak?" Tangan Tara menggoyang-goyangkan tangan Aryan dan enggan melepasnya.


"Kalau urusan kerjaan sudah selesai, makan siang aku ke sini. Kalau belum, aku usahakan jam 5 sore sudah sampai sini. Nanti aku kabari lagi."

__ADS_1


"Okay, bye... Mas gantengku." Tara melambaikan tangan pada Aryan.


"Bye... My queen. Love you..." Aryan membuat simbol love dengan jarinya.


"Love you too..." Tara pun tidak ketinggalan memberikan simbol love untuk Aryan.


Para karyawan Tara yang tidak sengaja melihat menjadi ternganga melihat kelakuan bosnya itu. Mereka berdua benar-benar pasangan yang bikin iri. Anand pun sudah tidak sabar menunggu kepergian Aryan.


Tara masuk ke dalam butiknya dengan wajah penuh kebahagian. Hari ini dia akan sibuk membuat desain baru untuk dirilis bulan depan.


Lima belas menit setelah Aryan pergi, Anand segera bergegas masuk ke butik Tara Collection. Karyawan yang tadi sempat melihat Aryan dan Tara kaget dibuatnya.


"Loh… Kok mas Aryan… Ehh pak Aryan kesini lagi." Ucap Mita.


"Tara dimana?" Tanya Anand tanpa basa-basi.


"Di ruangannya, mas. Ehh… Pak." Jawab Mita gugup.


"Iya, di sebelah mana?" Anand menunjukkan raut muka tidak sabar.


"Itu, tinggal naik tangga, pak. Ruangan mbak Tara belum pindah." Jawab Mita cepat.


Tanpa berterima kasih Anand langsung naik menuju ruangan Tara. Kepergiannya menyisakan tanya pada Mita dan karyawan yang lain.


"Tumben sekali pak Aryan marah ya?" Gumam Mita.


"Siapa yang marah? Pak Aryan tadi pagi so sweet banget." Wenny menimpali.


"Barusan pak Aryan tanya ruangan mbak Tara dimana. Udah gitu raut wajah dan nada bicaranya kaya lagi marah gitu." Jelas Mita.


"Loh…Bukannya baru lima belas menit yang lalu nganterin mbak Tara, kok balik lagi ya?" Wenny ikut bingung.


Anand mengetok pintu ruang kerja Tara dan tidak berapa lama terdengar suara Tara menyahut mengijinkannya masuk. Tara menoleh melihat siapa yang masuk. Hanya dengan sekali tatap saja Tara tahu dia bukan Aryan, apalagi baju yang dikenakan warnanya juga berbeda.


"Mas Anand… Ada perlu apa kesini, mas?" Sapa Tara.


"Anand?" Masih ingin berpura bahwa dirinya Aryan.


"Mas Anand jangan bercanda deh! Ada perlu apa, mas?" Tara seperti enggan.


"Apa kamu tidak mengenali suamimu sendiri?" Anand masih teguh pada pendiriannya.


"Mas Anand… Please, jangan bercanda deh! Mas Aryan baru saja pergi 15 menit yang lalu."


"Iya, aku tadinya pergi, tapi balik ke sini lagi. Aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat, apa tidak boleh?" Anand terus berbohong.


"Mas Anand… Aku tahu yang ada di depanku sekarang adalah mas Anand bukan mas Aryan." Jelas Tara.


"Kenapa kamu tidak bisa mengenali suamimu sendiri? Dan terus mengatakan Anand-Anand terus." Anand terus mencoba.


"Mas Anand, apa kamu sedang ingin mengerjai ku? Aku sangat tahu betul suamiku yang mana." Tara masih mengalah, dia beranjak berdiri berbicara di depan Anand.


"Ini aku Aryan, bukan Anand." Anand mencoba menyentuh pipi Tara, namun Tara reflek menepisnya.


"Mas Anand, kamu adalah kakak iparku. Apa yang mas inginkan dengan merubah penampilan seperti ini?" Tara meminta penjelasan.


"Apa tidak ada tempat di hatimu untukku? Meskipun aku mencoba menjadi Aryan." Ucap Anand.

__ADS_1


"Ruang di hatiku sudah penuh dengan mas Aryan, kami sudah menikah dan kami sangat bahagia."


Ucapan Tara benar-benar menyulut kemarahan Anand.


"Kenapa kamu selalu menolak ku? Aku sudah meminta maaf untuk semua kesalahanku dulu. Kenapa kamu begitu pendendam dan mengingat masalah yang terjadi saat kita pertama bertemu."


"Itu namanya first impressions, mas. Aku sudah memaafkan mu, namun luka hati dipermalukan di depan umum itu tidak bisa dihapus." Jelas Tara.


"Aku menolak mas Anand bukan karena masalah itu, tapi karena aku hanya mencintai mas Aryan. Bukankah mas Anand juga tahu itu? Kami lebih dulu bertemu." Imbuh Tara.


"Wajahku dan wajahnya sama, jika kamu lebih dulu bertemu denganku, apa kamu juga akan memilihku?" Anand masih bersikeras.


"Eemm... Wajah kalian memang sama, tapi bagiku mas Aryan memang lebih tampan." Tersenyum membayangkan senyuman Aryan.


Tiba-tiba Anand mendorong Tara ke tembok dan memaksa menciumnya. Tara tidak menyangka Anand akan melakukan hal nekat, dia pun tidak siap dengan serangan Anand yang tidak terprediksi. Lima detik Anand berhasil mencium dan menjamah Tara, namun detik berikutnya Tara telah berhasil melepaskan diri dan mendorong Anand.


"Apa mas Anand sudah gila?" Teriak Tara.


"Iya, aku sudah gila."


Anand berusaha mendekati Tara lagi, namun Tara berusaha menghindar.


"Jangan takut padaku! Aku mencintaimu sama seperti Aryan mencintaimu."


"Galaaaaaa..." Teriak Tara sekeras-kerasnya.


Semua karyawan Tara kaget karena teriakan Tara, begitu pula Gala yang terus berlari masuk ke ruangan Tara. Melihat Tara yang terus meronta karena perlakuan Anand, tanpa pikir panjang Gala memukul Anand bertubi-tubi.


"Mas Aryan, apa begini caramu memperlakukan Tara? Kalau begini caramu, harusnya aku tidak mengikhlaskan Tara bersamamu!


"Dia bukan mas Aryan, dia mas Anand yang mencoba menjadi mas Aryan." Jelas Tara.


"What?"


Gala kaget dan langsung reflek menutupi tubuh Tara yang sedikit terbuka dengan jaketnya. Tara terduduk lemas, sudah lama dirinya tidak berlatih bela diri hingga dia tidak bisa melawan Anand sendiri. Tanpa mereka sadari Anand telah pergi.


Tara menelepon Aryan. "Mas..."


"Iya, sayang." Jawab Aryan.


"Mas..." Tara belum berani untuk bicara.


Gala merebut ponsel Tara karena Tara mulai menangis.


"Mas Aryan, ini Gala."


"Hey... Kenapa bisa kamu yang berbicara?"


"Jangan banyak tanya dulu, Tara shock karena Anand mencoba melecehkannya, bahkan Anand datang sebagai dirimu. Jika kamu tidak becus menjaga istrimu, biar aku saja yang menjaganya."


Tanpa pikir panjang Aryan langsung mematikan teleponnya dan bergegas kembali ke butik Tara. Semua pekerjaannya diserahkan pada bawahannya.


...………....


Apa yang akan dilakukan Aryan pada Anand?


Ikuti terus ceritanya ya...

__ADS_1


Yuk ditunggu jempolnya, komentarnya dan dukungannya. Terima kasih telah bersedia mampir membaca.


__ADS_2