Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
S3_sangat tertarik.


__ADS_3

Fatin segera pergi dari kampus, pak Wihandoko tersenyum melihat gadis yang nampak alim tapi memiliki sikap kasar seperti Fatin itu.


"selidiki dia dengan sebaik-baiknya, dan aku sangat tertarik padanya," bisik tuan Wihandoko pada asistennya.


"baik tuan," jawab pria itu.


Gazali yang murka, berbalik badan dan malah melihat ayahnya berdiri di sana dengan angkuh.


"sudah puas di permalukan?"


Gazali mengenggam erat tangannya, "apa peduli anda, kenapa pemilik perusahaan besar yang sangat sibuk ini berada di kampus kecil begini, cepat pergi atau anda akan menginjak kotoran," kata Gazali dengan dingin


"sayangnya di tempat seperti itu putra ku berakhir, meski aku tak mau, sepertinya aku harus berusaha keras mengeluarkannya," jawab pak Wihandoko dengan nada yang lebih kejam.


pria lima puluh tahun itu, masih terlihat begitu tampan dan gagah di usianya, pasalnya dia terus menjaga makan dan kondisi kesehatannya.


"peduli dengan putra anda, memang anda pernah melakukannya, bukankah selalu sibuk dengan para wanita di sekeliling anda," kata Gazali.


"tutup mulutmu, para pengawal seret bocah itu pulang," kata pak Wihandoko.


Gazali melawan tapi tak ada gunanya, teelrbih ayahnya itu sudah membawa ratusan pengawal.


pria itu langsung di bawa pergi, tak ada yang bisa menahan atau melawan pria kaya itu.


pasalnya dia bisa di bilang kebal hukum dan apapun itu, bahkan pernah kasus pelecehan pun, pria itu tetap bisa melenggang bebas.


Fatin mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, tanpa sadar mobil itu menuju rumah sakit, sesampainya di rumah sakit.


Fatin segera masuk untuk menemui seseorang, dia nampak membawa beberapa cemilan di dalam kantong kresek.


Fatin bergegas menuju ke bagian administrasi, "permisi, di mana ruangan rawat dari Aliya, gadis kecil yang mengidap kanker,"


"ruang VIP Bu, anda lurus saja dan belok ke kanan, ruangannya ada di ujung koridor," jawab perawat itu


"terima kasih," jawab Fatin.


"mbak Fatin, anda disini? padahal dokter Mahi sangat sibuk," kata perawat Aline yang langsung di cubit oleh perawat Dita.


"memang kenapa, meski dia sibuk, aku tetap istrinya, dan lagi aku sedang tak ingin bertemu dengannya," jawab Fatin yang langsung pergi.


perawat Dita sadar jika Fatin tak menyukai sikap lancang dari perawat Aline.

__ADS_1


"cari perkara saja," kesal perawat Dita.


sedang perawat Aline hanya mengangkat bahunya, sedang Fatin bergegas menuju ke ruangan yang di maksud.


"selamat siang gadis cantik," sapa Fatin yang membuka pintu.


tapi semua bawaannya jatuh ke lantai, dia terkejut melihat gadis yang kemarin lalu masih bisa tersenyum.


kini di tubuh kecilnya terpasang semua alat kesehatan, "mbak Fatin..." panggilnya lirih.


"Aliya..." kata Fatin yang tetap berusaha tersenyum.


"mbak Fatin disini, nanti dokter ganteng marah," kata gadis kecil itu.


"tidak akan dong cantik, lihat mbak bawa boneka dan buah untuk ku, kalau boleh tau dimana dokter yang merawat mu?" tanya Fatin.


"mbak tinggal pencet tombol itu, mereka akan datang, dan ada dokter ganteng juga kadang datang," kata gadis kecil itu.


"benarkah, boleh kamu tekan gak, mbak mau ngomong sebentar dengan dokter mu," kata Fatin.


"baiklah," jawab Aliya yang melakukan permintaan Fatin.


benar saja tak lama ada dua dokter yang datang dengan berlari, tapi mereka kaget karena Aliya tersenyum sambil melambaikan tangan pada mereka.


"aku baik dokter, ini temen Aliya mau tau kondisi Aliya," jawab gadis kecil itu.


"ada apa nyonya?"


"bagaimana bisa dia di sembuhkan, apa hanya perlu mencari tulang sumsum yang cocok?" tanya Fatin.


"ya nyonya benar, meski sudah di berikan imbalan, tapi belum ada orang yang bisa memiliki kecocokan dengan nona muda," jawab dokter yang nampak masih sangat muda itu.


"bisa aku melakukan tes itu, tapi tolong rahasiakan semuanya dari keluarganya," kata Fatin.


"apa anda yakin, bukankah Anda dan dokter Mahi baru menikah?" tanya dokter senior itu.


"iya dokter, tapi aku yakin itu tak akan mengganggu kesehatan ku bukan, terutama untuk kesuburan," kata Fatin yang menang sudah membaca beberapa artikel.


"baiklah jika anda ingin melakukan itu, mari ikut saya untuk melakukan tes kecocokan," kata dokter senior itu.


Fatin pun mencium kening dari Aliya, dan kemudian ikut ke ruang khusus.

__ADS_1


perawat Dita yang kebetulan lewat pun bertanya-tanya, kenapa Fatin mengikuti dokter Fadil.


dia pun segera ikut masuk untuk bertanya pada sesama perawat, perawat Dita terkejut dengan apa yang di pilih oleh Fatin.


Fatin sudah siap untuk melakukan prosedur, perawat Dita bergegas ke ruangan dokter Mahi untuk memberitahu hal tersebut.


"dokter gawat, istri anda melakukan prosedur pengecekan kecocokan sum-sum tulang belakang untuk Aliya." kata perawat Dita dengan nafas yang putus-putus.


Mahi langsung berlari untuk menghampiri istrinya itu, bahkan dia tak peduli perawat Aline menahannya karena memiliki janji penting.


Mahi sampai di ruang laboratorium, dan terlihat Fatin sudah melakukan hal itu.


"sayang apa yang kamu lakukan?" tanya Mahi sedikit dengan suara meninggi.


"aku hanya melakukan apa yang menurut ku benar saja," jawab Fatin tersenyum.


"tenang dokter Mahi, jika cocok itu sangat bagus, jika tidak juga kita harus tetap berusaha untuk menemukan pendonor secepatnya," kata dokter Fadil.


"baiklah dokter, sekarang kamu istirahat di ruangan ku ya," kata dokter Mahi.


"tidak mas, aku tak ingin menganggu mu, terlebih asisten mu sudah bilang kamu sangat sibuk, biar aku menemani Aliya Saja, dan mungkin nanti akan pulang saat sudah tak pusing lagi," jawab Fatin.


"baiklah terserah kamu saja, ingat jangan telat makan ya," pesan Mahi.


keduanya pun pamit keluar, Mahi mengantar istrinya itu ke ruangan Aliya.


sedang Mahi langsung menghubungi bagian HRD untuk memindahkan Aline, pasalnya wanita itu sudah bersikap seenaknya.


bagi Mahi, istrinya selalu yang utama di banding apapun, Fatin pun menceritakan tentang dongeng rakyat.


bahkan mereka berdua juga belajar melukis, tak terduga jika gadis sekecil itu, bisa melukis secantik itu.


bahkan Fatin di buat terpana, tapi di lukisan itu ada warna hitam yang cukup banyak.


terlihat ada mata merah di sana, dan wajah yang tak seberapa jelas, "ini gambar apa Aliya?"


"itu ayah Aliya, mama selalu bilang ayah sibuk, dan Aliya juga tak ingat wajahnya," jawab gadis kecil itu.


"sekarang Aliya harus berjuang untuk sehat agar bisa bertemu dan bermain dengan ayah ya, mbak yakin jika Aliya bisa," jawab Fatin.


"iya mbak,Aliya tau jika Aliya itu merepotkan, tapi Aliya ingin sekali saja di peluk oleh ayah," jawab gadis itu.

__ADS_1


"kita berdoa saja ya, semoga ayah Aliya, mau memeluk dan menyayangi Aliya yang cantik ini," kata Fatin menunjukkan cara berdoa.


__ADS_2