
acara berjalan sangat baik dan lancar, Husna juga membacakan beberapa ayat Alqur'an.
sedang Husain dan Hasan larut dalam pikiran masing-masing, Dila sadar jika anak-anaknya sedang mengalami masa sulit.
dia pun tak bisa melakukan banyak, terlebih dia masih terus berduka karena kematian dari Fatin.
Mahi baru datang bersama Hendra, mereka bergabung dengan para jamaah putra.
sedang Mela tak bisa terus melihat putranya yang berhenti dan menutup pintu hatinya untuk semua wanita.
tapi dia sudah dapat pertentangan dari Hendra, karena kematian dari Fatin juga baru tiga bulan.
tak pantas jika Mela meminta putranya itu untuk menikah lagi, terlebih dia sebagai ibu harusnya mendukung putranya.
keluarga sedang berkumpul di rumah ustadz Ahmad setelah acara selesai, terlihat Hendra yang sibuk dengan ponselnya.
begitupun Mahi, karena kesal Mela mengambil kedua ponsel itu. "berhenti bermain ponsel, kita sedang kumpul,"
"kembalikan bunda, ayah sedang berbincang dengan Farhan, ini masalah penting," kata Hendra yang sudah mulai kesal.
"aku juga sedang memantau keadaan rumah sakit bunda, terlebih ada masalah penting," sakit Mahi juga.
"apa kalian berdua lebih mementingkan ponsel kalian dengan kami semua," kata Mela tak percaya.
"cukup kamu sangat tau jika aku paling tak suka di ganggu saat bekerja, dan berhenti bersikap seenaknya Mela," kata Hendra dengan suara mulai meninggi dan merebut ponselnya kembali.
Mela pun tak mengira jika suaminya itu masih marah, telebih tentang pembahasan terakhir mereka.
Mahi juga mengambil ponselnya dan bersiap pergi dari rumah itu, "Mahi mau kemana nak?" tanya Dila melihat pria itu.
"maaf umi, aku tak bisa berada di sini, dan untuk bunda tolong jangan memaksaku lagi, karena jawaban ku tetap sama, aku tak tertarik menikah dengan siapapun, karena tak akan ada wanita yang bisa mengantikan Fatin di dalam hidup ku atau di hatiku, meski dia adalah Husna," marah Mahi yang langsung pergi.
semua orang kaget, tapi Husna hanya terisak lirih, permintaan gilanya kini di ketahui semua orang.
Dila masih terkejut, tapi Mela sudah menenangkan dan memeluk Husna.
"apa ini Husna?" tanya Dila pada putrinya itu.
"tenanglah mbak, nanti biar aku yang ceritakan semuanya," jawab Mela.
Rosita yang juga tak suka pun memilih pergi, "tapi bunda keterlaluan bisa melakukan hal itu, padahal bunda tau jika mas Mahi hanya cinta pada mbak Fatin."
Dila makin tak mengerti dengan ucapan Rosita, ustadz Ahmad menghela nafas dalam, "jika kamu ingin membunuh Abi, lakukanlah nak, tapi jangan meminta hal yang tak mungkin terjadi pada pria yang begitu mencintai kakak mu," kata ustadz Ahmad
__ADS_1
"maafkan Husna Abi, Husna saat itu hanya terbawa perasaan terlebih mas Mahi yang selalu menemani Husna di rumah sakit, jika kami berdua sama-sama kehilangan orang kami cintai, mungkin kami bisa saling melengkapi, tapi Husna akhirnya sadar jika itu tak mungkin terjadi," jawab Husna memohon ampun pada Dila.
"kamu tau umi bahkan belum bisa melupakan neng mu, dan kamu bahkan berani memikirkan itu, kamu keterlaluan Husna," marah Dila yang kemudian pergi.
sedang ustadz Ahmad di bantu Hasan juga meninggalkan ruang tamu itu.
Husna tak mengira jika reaksi mereka akan sebesar ini, pasalnya dia melakukan ini juga bukan sepenuhnya kehendaknya, melainkan karena Husna melihat ada seorang gadis yang terus berusaha mendekati Mahi.
Husna ingat bagaimana saat itu dia sedang berusaha berjalan perlahan, dia tak sengaja mencuri dengar obrolan seseorang.
"bagaimana nak? apa kamu berhasil menggoda dokter Mahi?" tanya seorang wanita paruh baya itu.
"tentu saja Bu, dia mulai perhatian lagi padaku, dan ku pastikan jika sebentar lagi dia akan jatuh ke pelukan ku," jawabnya dengan yakin.
mendengar itu, Husna tak bisa menerima, jika ada seseorang yang ingin mengantikan posisi Fatin.
"tapi ingat kita harus melakukannya dengan rapi, terlebih sekarang dia sangat kaya, itu tujuan utama kita," kata wanita baya itu lagi.
"tentu saja, dan bonusnya aku akan memiliki suami yang kuat dan tampan, dan pasti kehidupan ku tak akan seburuk yang lalu," tambah wanita muda itu.
Husna yang mendengar itu pun bergegas menuju ke kamarnya, meski kakinya sangat sulit di gerakkan rapi dia tetap berusaha.
Mahi uang melihat hal itu bergegas menghampiri dan membantu Husna untuk kembali ke ruangan rawatnya
"tidak ada kok mas," jawab Husna.
dia tak mungkin mengatakan hal yang tadi di dengarnya, pasalnya dia tak tau siapa mereka,jadi dia memutuskan untuk menyimpannya sendiri.
keesokan harinya, ternyata keluarga Mahi menjengguk dirinya, terlihat Mela yang begitu sabar menyuapi Husna.
dia pun merasa hangat mendapatkan perhatian seperti ini, "neng Fatin sangat beruntung ya mendapatkan suami dan mertua sebaik ini, seandainya aku juga bisa memilikinya," kata Husna yang sedih.
"bunda sudah menganggap neng mu itu sebagai Putri sendiri," jawab Mela tersenyum.
"memang kenapa? tapi sayangnya meski kamu dan mbak Fatin satu orang tua, aku lebih suka mbak Fatin dari pada dirimu," saut Rosita.
"huss... gak boleh ngomong gitu dek," kata Mela yang mengingatkan putrinya itu.
"aku tak mengerti, kenapa kamu sekarang begitu marah padaku?" tanya Husna pada Rosita
"pikir saja sendiri, kamu punya otak bukan, dasar gadis aneh," kesal gadis itu.
mrla tak mengira jika Rosita bisa begitu kasar, padahal tadi gadis itu masih baik-baik saja.
__ADS_1
"maaf ya Husna, dia mungkin sedang dapet," kata Mela merasa tak enak.
"iya Bunda, aku mengerti, mungkin dia tak suka jika ada yang ingin mengantikan neng Fatin," jawab Husna.
"tapi bunda tak keberatan jika kamu menjadi menantu bunda sih,tapi kamu harus berjuang demi hal itu, dan bunda bisa bantu," jawab mrla tersenyum.
Mela tak mengira jika keinginannya bisa berdampak sangat besar seperti ini, "maaf ya Husna sepertinya kita harus mengurungkan semua rencana ini, kamu lihat saja reaksi mereka bukan," jawab Mela sedih.
"iya bunda," jawab Husna.
Fatin memilih sholat malam, dan berdoa agar bisa segera di pertemukan dengan Mahi.
pasalnya rasa rindunya hanya bisa lewat doa saja, dan mulai besok dia akan berjualan cemilan yang di titipkan di tempat karaoke.
dan juga online, tapi semua usahanya akan atas nama Feby. terlebih mereka Sudan mendapatkan izin dari pengelola daerah itu.
semua berjalan lancar, Fatin sudah berangkat subuh dan tak lupa dia menyamar jadi gadis culun.
karena dia tau jika pria bajingan itu tak akan mudah menyerah untuk mengejarnya sampai kapanpun.
Hendra sudah mengerahkan seluruh orang yang di kenalnya untuk menjebloskan pria yang berani mengusik keluarganya, bahkan dia memulai dari usaha pria itu.
setelah itu beberapa kasus yang tak di terima polisi, kali ini di bawa ke kantor polisi untuk di usut.
awalnya mereka menolak, tapi Hendra tak kekurangan akal, dia menemukan semua bukti yang di butuhkan polisi dan akhirnya tuan Wihandoko akan di tangkap atas semua kasus pelecehan seksual.
siang itu Feby sudah berangkat bekerja, sedang Fatin juga sudah selesai membuat kue yang dia jual online.
dia memang meminjam uang dari Feby untuk bertahan hidup sendiri, pasalnya dia tak boleh terus merepotkan gadis itu.
"tumben Feby, bawa beginian segala?" tahta Roy.
"ini titipan mbak yang kemarin aku bantu, dia membantu dengan berjualan seperti ini, jadi boleh kan aku titip disini?" tanya Feby.
jangan disini, lebih baik di toko ku yang ada di depan, tapi harus minimal lima puluh saat kamu menitipkannya," kata Roy.
"baiklah, kebetulan di rumah masih ada juga," jawab Feby merasa senang.
dia segera pulang, ternyata begitu banyak orderan, terlebih bentuknya yang memang cantik dan kemasan yang baik juga.
"aku boleh minta dua puluh lima lagi, biar aku titipkan di tempat bos ku," kata Feby.
"tentu, oh ya nanti aku pinjem motornya untuk mengantar semua pesanan ini ya," kata fayin.
__ADS_1
"tentu mbak, Semuanya ada di laci, ambil saja, oh ya ingat hati-hati ya," kata Feby yang kemudian turun .