Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
Part 38_Pilihan


__ADS_3

Kalau pusing minum aspirin


Tapi jangan berlebihan dosisnya


Mohon berikan dukungan pada novel Pria Idaman Lain


Tambahkan favorit, vote, jempol dan hadiahnya


Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.


Jangan lupa bahagia.


.........


"Sajna, kamu dimana? Kenapa aku tidak menemukanmu di rumah maupun di kantor?" Bunyi pesan Tara pada Gala.


"Maaf, aku lupa mengabarimu. Hari ini aku ada keperluan mendadak yang belum bisa aku ceritakan padamu." Balas Gala.


"Okay, take your time. Love you…" Tara memberikan ruang untuk Gala.


"Love you too..." Gala masih mencari waktu yang tepat untuk bicara pada Tara.


Tara masih sibuk dengan kerjaannya, padahal 3 minggu lagi dia akan menikah dengan Aryan. Tara mengeluarkan desain gaun pernikahan yang pernah dia buat. Dia berniat akan memperlihatkan desain itu pada Aryan, meskipun dia tahu bahwa Aryan pasti akan mengikuti kemauannya.


Tok… tok… tok…


"Masuk!" Tara memberikan instruksi.


"Selamat siang, nona Tara." Sapa orang itu.


Tara mengenali suara itu namun tidak dapat melihat siapa pria yang tengah masuk ke ruangannya. Dia menutupi wajahnya dengan buket bunga mawar merah dan putih yang berbentuk love.



"Mas Aryan?" Tara menebak, dia tidak mungkin menebak bahwa itu Gala.


"100 buat kamu, sayang." Aryan memperlihatkan wajahnya lalu memberikan bunga itu pada Tara.


"Banyak banget bunganya, mas. Kenapa nggak sekalian kebunnya?" Canda Tara.


"Sayang, kamu ini tidak bisa bersikap romantis ya? Wanita lain pasti akan kaget dan memeluk pacarnya jika diberi bunga." Protes Aryan.


"Aku berbeda, mas." Tara mengambil bunga dari tangan Aryan, lalu meletakkannya di meja.


Aryan terlihat kecewa. "Apa kamu tidak suka?"


"Suka… Apa yang mas sembunyiin di balik punggung?" Tanya Tara.

__ADS_1


Aryan mengeluarkan satu kotak coklat berbentuk love.



"Wow… Coklat." Ucap Tara girang dan langsung mengambil coklat itu dari tangan Aryan.


"Kamu lebih suka coklat itu dari pada aku." Aryan manyun.


Tara tidak mempedulikan Aryan, dia membuka kotak coklat itu lalu mengambil satu potong coklat.


"Apa mas Aryan pernah mencicipi coklat yang seperti ini?" Tanya Tara.


"Belum." Aryan masih cemberut. Sebenarnya dia masih menata hatinya setelah apa yang diucapkan Gala tadi pagi.


"Okay, itu berarti mas Aryan harus makan coklat ini bersamaku." Ajak Tara.


"Tapi aku kurang suka dengan coklat." Bantah Aryan.


"Nanti pasti suka dan ketagihan." Smirk Tara.


Tara memakan satu potong coklat dan sengaja mengoleskan coklat itu dibibirnya kemudian dia mencium Aryan secara tiba-tiba. Aryan membalas ciuman Tara, semakin dalam dan semakin intens hingga keduanya tersengal-sengal karena kehabisan nafas.


"Apa sekarang mas Aryan jadi suka coklat? Padahal tadi bilangnya nggak suka." Ucap Tara sambil mengatur nafas.


"Aku suka coklat tapi hanya coklat yang kamu suapkan dengan bibirmu yang manis ini." Jempol Aryan mengusap bibir Tara dengan lembut.


"Mas jangan negative thinking. Aku tidak pernah bersikap seperti ini dengan pria lain." Terang Tara, takut jika Aryan mengira dia bukanlah wanita baik-baik.


"Meskipun kamu pernah bersikap seperti ini pada pria lain, yang paling penting bagiku sekarang dan seterusnya kamu hanya boleh bersikap romantis dan manis hanya denganku saja." Tegas Aryan.


"Serius, mas? Kalau masa laluku kurang baik, mas Aryan masih mau menerimaku?" Tara mecoba menilai ketulusan cinta Aryan padanya.


Deg… deg… deg…


Aryan terjatuh dalam lamunan, mengingat ucapan Gala tadi pagi.


"Mas Aryan! Mas Aryan!" Tara mencubit lengan Aryan.


"Aw… Sakit, Tara!" Aryan kaget.


"Kenapa mas Aryan malah melamun? Pasti mas Aryan tidak mau menerimaku jika masa laluku kurang baik, iya kan?" Sergah Tara.


"Aku hanya sedang berpikir dan memantapkan pilihanku. Aku akan tetap menerimamu, kamu hanya boleh menikah denganku. Tapi kamu harus berjanji untuk setia padaku seorang. Begitu pula diriku, aku berjanji akan setia padamu seorang."


"I love you, mas Aryanku." Tara memeluk Aryan.


"A hundred hearts would be too few to carry all my love for you." Aryan memeluk Tara dengan erat.

__ADS_1


Terjemahan. "100 hati pun masih terlalu sedikit untuk membawa semua cintaku padamu."


Tara pov: Bagaimanapun sulitnya, aku harus mempertegas pilihanku. Aku tidak boleh menyakiti mereka berdua. Aku tahu diam-diam Gala memendam rasa sakit saat aku bersama mas Aryan. Mas Aryan pasti juga akan terluka dan kecewa jika aku terus bersama Gala. Aku mencintai Gala, tapi cintaku pada mas Aryan lebih besar. Aku tidak sanggup jika harus melukai mas Aryan. Semoga Gala mau menerima keputusanku dan semoga dia bisa bahagia meski bukan bersamaku.


"Bagaimana kalau kita makan siang di luar?" Aryan memberikan ide.


"Baiklah, ayo..." Tara setuju.


"Betulkan make up-mu! Baru kita keluar. Aku tidak mau kalau kita jadi bahan gosip para karyawanmu." Aryan mengingatkan.


"Mas Aryan nggak mau digosipkan telah bermesraan denganku?" Tara manyun.


"Belum sah, Tara! Aku nggak mau bikin nama kamu jelek." Terang Aryan, sambil mencubit pipi Tara.


"Maaaass... Emang aku gemuk? Kok mas Aryan suka nyubit pipiku sih?" Tara ngambek.


"Nggak, sayang. Kamu nggak gemuk, aku hanya gemas aja sama kamu. Lagian kalau gemuk pasti enak dipeluk." Jelas Aryan.


"Tuh 'kan! Berarti aku kurus dong? Terus nggak enak dipeluk." Protes Tara.


"Nggak, sayang. Kamu nggak gemuk, nggak kurus, pas banget pokoknya. Cepet benerin make up-nya!" Titah Aryan.


"Iya, mas Aryanku sayang." Tara membetulkan make up-nya.


Make up Tara sudah perfectly natural. "Sudah siap, sayang." Tara bergelayut manja pada Aryan.


Mereka berdua pun pergi makan siang bersama. Para karyawan heran melihat Tara dan Aryan yang bergandengan mesra, kedua wajah mereka berhias senyuman.


"Mbak Tara sudah mulai go public nih! Sudah berani tampil mesra terang-terangan." Ucap Vania, salah satu karyawan Tara.


"Wah... Kita tidak bisa panggil mbak lagi pada mbak Tara. Mungkin kita harus panggil Nyonya Aryan Cakra Wangsa." Wenny menimpali.


"Hati mas Gala pasti terluka melihat mbak Tara dan mas Aryan. Kesempatan ngedeketin mas Gala nih." Ucap Mita.


"Ngareeep...!" Ucap Wenny dan Vania serentak.


Tanpa sepengetahuan Tara dan Aryan, ada orang kepercayaan Gala yang melaporkan kedatangan Aryan di butik.


"Gala, Aryan datang membawa bunga dan sekotak hadiah untuk Tara. Bahkan sekarang mereka pergi berdua. Para karyawan mulai berbisik-bisik karena melihat Tara dan Aryan bergandengan mesra." Orang kepercayaan Gala mengirim pesan.


"Baik, terima kasih atas informasinya." Balas Gala.


Gala pov: Mereka berdua tampak bahagia, sepertinya mas Aryan benar-benar menepati ucapannya. Kini tinggal aku yang harus mencari waktu menyelesaikan hubunganku dengan Tara. Bagaimanapun caranya aku harus menjelaskan pada Tara, tapi tidak boleh membuatnya merasa bersalah.


.................


Karakter Tara dibuat beda dengan wanita pada umumnya. Biasanya wanita hanya mengharap prianya yang inisiatif bersikap romantis. Padahal pria juga suka kalau wanitanya bersikap romantis duluan. Betul nggak reader? ☺🤭

__ADS_1


Yuk ditunggu jempolnya, komentarnya dan dukungannya. Terima kasih telah bersedia mampir membaca.


__ADS_2