Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
Part 14_Tara Gala Galau


__ADS_3

Menanam bunga mawar pakai media pot


Bunga mawar berwarna merah pekat


Wahai reader berikanlah author support


Agar menghalu dan menulisnya lebih semangat


Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.


Jangan lupa bahagia.


...


Tara dan Aryan menikmati kebersamaan mereka malam ini, makan berdua dan jalan berdua tanpa ada yang mengganggu. Aryan mengantar pulang Tara jam 9 malam. Aryan pulang dengan hati yang penuh bunga-bunga. Sedangkan Gala menunggu kepulangan Tara dengan hati yang yang gelisah.


Gala menunggu Tara di pintu depan.


"Tara... " Panggil Gala saat Tara telah sampai di depan pintu utama.


"Gala... Kamu belum tidur?"


"Kamu belum pulang, mana mungkin aku bisa tidur." Jawab Gala sedikit jutek.


"Jadi bodyguard gantengku lagi marah ni?" Goda Tara.


"Aku nggak marah, buat apa marah?"


"Lalu? Kenapa jutek begitu?"


"Aku hanya nggak suka kamu meninggalkan aku sendiri bersama Anand."


"Kamu kalau lagi ngambek tambah ganteng loh!" Goda Tara.


"Tara... Aku serius, aku kesal harus satu mobil dengan Anand."


"Iya, aku tahu." Jawab Tara santai.


"Terus? Kenapa kamu tega ninggalin aku sama dia?"


"Apa papa sama mama sudah tidur?" Tara mengalihkan pembicaraan.


"Sudah, papa mama juga tahu kamu pergi dengan Aryan, makanya mereka nggak khawatir."


"Aku capek, biarkan aku istirahat ya?" Pinta Tara.


Tara hendak berjalan masuk namun Gala menarik tangannya. "Apa kamu marah padaku?"

__ADS_1


"Marah? Untuk apa marah?"


"Lalu kenapa kamu pilih pergi dengan Aryan dan meninggalkanku dengan Anand?" Tanya Gala khawatir.


"Kamu cemburu?" Tara tersenyum.


"Tidak! Siapa juga yang cemburu, kurang kerjaan banget." Gala mengelak.


"Kalau nggak cemburu, ngapain kamu masih setia nunggu di depan pintu sampai aku pulang?"


"Aku hanya khawatir kalau ada apa-apa sama kamu. Sudah tugasku sebagai bodyguard untuk memastikan kamu aman." Gala mengelak.


"Padahal aku suka kalau kamu beneran cemburu." Tara cemberut.


"Sekarang aku sudah aman sampai rumah, jadi biarkan aku pergi istirahat."


"Tunggu! Kamu masih belum jawab pertanyaan ku." Gala masih menahan Tara.


"Gala… Kalau masih minta jawaban, tunggu aku habis mandi. Gerah banget, ini sudah nggak nyaman."


"Aku capek loh! Tega banget sih, mau istirahat malah ditahan-tahan terus."


"Kamu harus jawab pertanyaanku dulu! Baru boleh istirahat."


"Tunggu aku di balkon. Aku mau mandi sebentar, kalau masih ngeyel, aku nggak mau jawab lagi." Tara manyun.


Tara mendekat dan berbisik pada Gala. "Cium aja kalau berani, aku tunggu. Tapi jangan di depan pintu seperti ini, nggak romantis." Tara terus menggoda Gala.


Gala deg-degan tidak karuan mendengar jawaban Tara. Dia pun tidak sadar kalau Tara sudah kabur masuk ke dalam rumah dan tak terlihat lagi.


...…...


Jam di ponsel sudah menunjukkan pukul 10 malam, Gala masih di balkon menunggu kedatangan Tara. Orang-orang di kediaman Maheswari sudah tertidur lelap, hanya tinggal Gala dan Tara yang masih terjaga. Tara datang menghampiri Gala yang masih setia menunggunya, seperti biasanya Tara hanya mengenakan baju tidurnya.



Bertahun-tahun mereka bersama, tidak ada rasa canggung di antara mereka. Namun malam ini berbeda, Gala merasakan rasa canggung yang luar biasa setelah tadi siang dia memberanikan diri mengungkapkan perasaannya.


Tara mendekati Gala dan duduk di sampingnya. "Kamu masih setia menungguku. Apa nggak lelah habis seharian main di pantai?"


"Kenapa kamu seperti anak ayam kehilangan induknya?" Tara tersenyum meledek Gala.


"Jangan terus menggodaku! Aku sedang serius."


"Apa kamu marah dan benci padaku karena aku mengungkapkan perasaanku padamu yang selalu ku pendam selama ini?" Gala sedikit gugup dan frustasi.


"Apakah aku harus menjelaskannya? Bukankah kamu telah dapat jawabannya tadi siang?"

__ADS_1


"Bahkan kita sudah sepakat untuk melupakan kejadian tadi. Meskipun aku tak akan pernah lupa." Tara menjelaskan.


"Lalu kenapa tiba-tiba kamu memilih pulang dengan Aryan dan bukan bersamaku?" Gala meminta penjelasan.


"Aku tidak marah padamu, mau ku katakan berapa kali lagi?"


"Aku merasa kamu marah dan menghindari aku." Gala tertunduk lesu.


Tara menggeser duduknya hingga bersentuhan dengan Gala. "Lalu aku harus apa? Agar kamu percaya kalau aku sedikit pun tak berniat marah atau menjauhi kamu." Ucap Tara lembut sembari menatap Gala.


Gala masih terdiam bergelut dengan logikanya, dia tahu perasaannya terhadap Tara tidak boleh dilanjutkan. Namun perasaan itu menguasai Gala dan merusak logikanya, padahal dia ingat betul pesan dari tuan Yoga.


Tara menangkup wajah Gala dengan kedua tangannya. "Lihat aku Gala! Apa aku pernah marah padamu?"


Gala hanya menggelengkan kepala. "Aku tidak pernah bisa marah padamu ataupun menjauhi kamu. Tapi aku merasa marah dan kesal jika kamu bersama wanita lain." Jelas Tara.


"Aku sadar, aku terlalu egois dan serakah, maafkan aku." Tara menempelkan keningnya di kening Gala, matanya terpejam karena sedih.


"Aku yang harusnya minta maaf padamu. Aku sudah tahu kamu akan menjadi milik orang lain, namun aku tak mampu mengendalikan perasaanku lagi." Ucap Gala lirih.


Keheningan menyergap kedua hati yang sedang galau, menyadari cinta yang bercabang dan tidak mungkin saling memiliki. Apa mungkin ini godaan bagi Tara sebelum menikah dengan Aryan. Mereka saling merasakan nafas satu sama lain, hati mereka sedih menyadari akhir kisah mereka yang sudah tergambar jelas.


Entah dari mana keberanian itu muncul, Tara mengecup bibir Gala dengan perlahan dan Gala pun menyambutnya. Gala perlahan merubah posisi duduknya menjadi menghadap Tara, lalu tangannya mulai memeluk Tara dengan serakah. Dibawanya Tara dalam pelukannya dan diperdalamnya ciuman itu. Kini Tara mengalungkan tangannya di leher Gala, ciuman lembut berubah menjadi luma-tan yang menuntut lebih. Setelah beberapa menit berlalu, Gala menghentikan ciumannya karena merasa sesak dan hampir tak sanggup bernafas dengan baik.


Gala menyatukan keningnya dengan kening Tara. "I love you, Tara." Ucapnya lirih.


Tara menjawabnya dengan ciuman yang panas, Tara yang biasanya banyak bercanda berubah menjadi agresif. Bibir mereka saling melu-mat dan menghisap dengan rakusnya, seakan mereka ingin membayar lunas hutang perasaan yang selama ini tertahan.


Perlahan Gala berhenti melu-mat bibir Tara, ciumannya turun ke leher Tara. Perlahan bibirnya menjelajahi leher Tara yang jenjang hingga Tara terlena dibuatnya. Kancing teratas yang terbuka membuat bibir Gala semakin menjelajah ke bawah, hingga sampai tepat di atas dua bukit yang indah. Rasanya Gala tak ingin berhenti namun akal sehat menahannya.


Tara yang sedari tadi masih mengalungkan tangannya di leher Gala, menahan Gala di dalam pelukannya, Gala pun menyandarkan kepalanya di dada Tara. Gala mengeratkan pelukannya pada Tara, takut jika semua ini segera berlalu dan dia benar-benar harus merelakan Tara menjadi milik orang lain.


Gala pov: Aku mencintaimu Tara. Aku tidak ingin merusak kesucianmu dan kepercayaanmu padaku hanya karena keserakahanku.


Tara pov: Aku bingung dengan perasaanku Gala. Semoga kamu memaafkan keegoisanku ini.


Untuk beberapa waktu mereka berdua bertahan pada posisi itu, kemudian mereka kembali ke kamar masing-masing karena takut jika ada yang melihat.


................




(Ilustrasinya kira-kira seperti itu ya guys)


Yuk ditunggu jempolnya, komentarnya dan dukungannya. Terima kasih, matur suwun.

__ADS_1


__ADS_2