
Seberapa pun reader, like dan favoritnya, author akan tetap selalu update sampai kelar halu/khayalan di kepala author 😸
Reader jangan lupa tinggalkan jejak dukungan ya... Biar lebih semangat nulisnya. 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.
Jangan lupa bahagia.
.........
Hingga menjelang siang, Tara benar-benar menunggu Aryan yang sedang bekerja. Untuk mengatasi rasa bosan Tara telah menyiapkan tablet untuk menggambar desain baju. Sesekali dia tersenyum melihat Aryan yang menurutnya terlihat seksi ketika sedang serius bekerja.
"Keren banget sih suamiku, bikin gemes." Batin Tara.
Tara selalu memperhatikan setiap kali ada karyawan yang masuk ke ruangan Aryan. Sedari tadi yang masuk pasti seorang laki-laki, Tara tidak melihat ada karyawati yang masuk ke ruang Aryan. Tara heran dibuatnya, dia ingin sekali bertanya pada Aryan, namun suaminya itu sedang sibuk meneliti file di laptopnya. Kalau sudah menyangkut soal moody-an memang susah ditebak dan diatasi. Tara beranjak dari duduknya dan berjalan menuju tempat Aryan yang masih sibuk dengan laptopnya. Aryan pun tak sadar saat Tara sudah disampingnya.
"Maaas."
Tara menyingkirkan tangan Aryan dari atas keyboard laptopnya lalu segera duduk di pangkuan Aryan, dia pun mengalungkan tangannya di pundak Aryan.
"Kenapa, sayang?" Aryan sedikit kaget.
"Apa kamu bosan?" Imbuh Aryan.
"Nggak mas, cuma pengen dipangku aja. Mas Aryan serius banget mantengin laptop." Tara melihat ke layar laptop Aryan.
"Kamu lihat sendiri 'kan kalau mas lagi ngecek laporan." Jelas Aryan sabar.
"Gemesin banget sih, kamu mas!" Mencubit kedua pipi Aryan.
"Pengen aku karungin terus dibawa pulang." Senyum-senyum nggak jelas.
"Ya ampun, sayang. Mas bukan kucing yang bisa kamu karungin ya!" Aryan balik mencubit pipi Tara.
"Mas Aryan memang bukan kucing sih, kayaknya lebih mirip singa deh?" Gumam Tara.
"Lah, kok singa?" Heran.
"Iya kayak simba yang kuat dan gagah perkasa." Ucap Tara.
Tangan Tara mulai menjelajah ke lengan Aryan yang berotot, lalu pindah ke dada Aryan yang bidang. Aryan sebisanya menahan diri karena sedang di kantor.
"Sayang, sebaiknya kita pulang." Usul Aryan.
"Pekerjaan kamu 'kan belum selesai, mas!" Heran.
"Kalau kamu duduk di pangkuan ku begini, yang ada aku akan mengerjakan hal yang lain, yang lebih enak tentunya." Senyum-senyum.
"Maksudnya?" Tara masih belum menyadari.
"Sayang, apa kamu menggoda ku?"
"Sayang, kamu bikin mas nggak kuat nahan. Ayo kita pulang sekarang terus bulan madu lagi."
Tara mulai paham maksud Aryan. "Mas, mau itu?"
__ADS_1
"Mau nyiram bunga mu, ayo cepat pulang!" Titah Aryan.
"Di sini aja, mas." Sanggah Tara.
"Ini kantor, sayang. Kalau ada yang dengar gimana?"
"Terus, kalau bajunya jadi lecek dan kotor kena keringat gimana?"
"Tinggal telepon butik suruh bawain baju baru kesini, di mobil juga ada. Cuman mainnya harus pelan-pelan."
"Serius, sayang." Aryan semakin semangat.
"Iya, mas gantengku."
Tara berdiri dan ingin melangkah pergi.
"Sayang, kok malah pergi sih?" Aryan ngerasa diberi harapan palsu, padahal dia sudah berharap lanjut melakukan hal lebih.
"Mau kunci pintu, mas! Sekalian mau bilang sama asisten mu biar dia tidak gangguin 30 menit ke depan." Jelas Tara.
"Yakin 30 menit?" Aryan sangsi.
Tara tidak memperhatikan ucapan Aryan dan terus ke luar ruangan dan memberi instruksi pada asisten Aryan. Mulai detik itu sampai 1 jam ke depan, Aryan ingin istirahat sebentar dan tidak boleh diganggu, begitulah pesan Tara pada sang asisten. Tara pun mengunci pintu lalu melepas blazers yang ia kenakan dan melemparkannya ke sofa. Tara balik duduk di pangkuan Aryan, meja sedikit dirapikan dan laptopnya sudah disimpan.
(Ilustrasi doang ya guys, fotonya lain orang)
"Kenapa Tara jadi seagresif ini? Kalau aku tanya pasti malah jadi bad mood." Batin Aryan.
"Jadi kamu nggak mau pergi bulan madu lagi?" Aryan sedikit kecewa.
"Bulan madunya bisa di mana pun dan kapan pun asalkan pintunya terkunci rapat. Asalkan mas Aryan masih kuat." Tara menci*m Aryan terlebih dahulu.
Aryan pun tidak tinggal diam dan mengambil alih pimpinan. Siang yang panas akan semakin panas jika ruangan itu tidak ber-AC.
"Mau yang cepet atau lama, sayang?"
"Cepet ajaaa... Kalau di rumah boleh lama-lama."
"Sayang, kalau kamu tidak nyaman atau merasa ada yang kurang, bilang sama aku ya. Jangan sungkan!" Tutur Aryan.
"Apapun yang kamu lakukan, aku suka mas. Apa mas Aryan puas dengan service dari ku? "
"Tidak akan pernah merasa puas, yang ada mas maunya lagi dan lagi. Kamu tuh nagih banget, sayang." Tertawa bahagia.
"Kalau kamu tiap hari ikut ke kantor, sepertinya aku akan lebih semangat kerja." Imbuhnya.
"Cepet mas, udah nggak tahan nih!"
Akhirnya olahraga siang itu berakhir dengan cepat. Untung saja di ruang kerja Aryan juga ada toilet, Tara pun membersihkan diri di sana. Aryan menunggu pak sopir yang mengambilkan baju di dalam mobil.
"Apa mungkin Tara sudah mempersiapkan ini semua? Rasanya bahagia sekali, hidupku terasa lebih sempurna dari sebelumnya. Tapi aku masih kepikiran kenapa Tara jadi lebih agresif dari biasanya." Batin Aryan.
Aryan memberikan baju ganti pada Tara, sudah tidak terpikirkan lagi bagaimana nanti para karyawan akan bergunjing. Tara ke luar dari toilet.
__ADS_1
"Mas, sepertinya perutku kram." Keluh Tara sambil memegangi perutnya.
"Ayo ke rumah sakit." Dengan cepat Aryan mengendong Tara.
"Mas, turunkan aku, biarkan aku istirahat di sofa dulu. Ini tidak terlalu sakit, mungkin sebentar lagi hilang." Pinta Tara.
"Aku tidak yakin, sayang. Sebaiknya kita periksa ke dokter aja. Atau aku panggilkan dokter pribadiku, biar dia ke sini." Saran Aryan.
"Mas, ini tanggal berapa?" Tidak menjawab saran Aryan malah balik bertanya.
"Tanggal 25. Kenapa malah nanyain tanggal? Atau karena mau ada tamu setiap bulan?"
"Tanggal 25." Tara terdiam dan berpikir.
"Iya tanggal 25. Ya udah, aku teleponin dokter aja." Putus Aryan.
"Jangan, mas." Tara menghalangi tangan Aryan yang hendak menelepon.
"Sayang..." Ucap Aryan lembut.
"Serius, mas. Jangan telepon dokternya! Besok pagi kita pastikan dulu, kalau sudah pasti baru kita ke dokter kandungan." Ucap Tara girang.
"Maksudnya?"
"Kamu sakit kok malah girang sih?" Aryan heran.
"Nanti pulang kantor mas Aryan harus beli test pact di apotik. Tidak boleh menyuruh orang lain!" Perintah Tara.
"Test pack?" Sejenak Aryan terdiam.
"Kamu hamil, sayang?" Teriak Aryan.
"Hussshh... Jangan kenceng-kenceng, mas gantengku." Tara mencubit kedua pipi Aryan. Lalu sekilas menci*m bibirnya.
Aryan hendak menci*m Tara lagi, namun Tara meringis karena sedikit kram.
"Jangan terlalu bahagia dulu, mas. Besok pagi kita pastikan dulu pakai test pack." Saran Tara.
"Kenapa tidak sekarang aja? Aku beli sekarang ya?" Aryan semangat.
"Mas, test pack paling akurat kalau pagi, pas bangun tidur. Jadi... Sabar dulu ya..." Memberi pengertian.
"Iya, sayang. Kalaupun nanti hasilnya masih belum, kita akan rajin berusaha lagi." Senyum-senyum nggak jelas.
"Jadi jangan over thinking, okay!"
"Iya, mas gantengku yang baik hati dan penuh perhatian. Makin cinta deh." Mereka berpelukan.
"Semoga kebahagiaan ini tidak cepat berlalu, sayang." Batin Aryan.
................
Ikuti terus ceritanya ya 🙏🏼👍🏼
Yuk ditunggu jempolnya👍🏼, komentarnya dan dukungannya❤. Terima kasih telah bersedia mampir membaca.
__ADS_1