
Seberapa pun reader, like dan favoritnya, author akan tetap selalu update sampai kelar halu/khayalan di kepala author 😸
Reader jangan lupa tinggalkan jejak dukungan ya... Biar lebih semangat nulisnya. 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.
Jangan lupa bahagia.
.........
Suasana kini lebih tenang. Tara sedikit lebih bersemangat setelah mendengar keputusan dari papa mertuanya. Kini dia tidak perlu takut lagi, tidak akan ada yang memaksanya menikah dengan Anand. Meskipun mama mertuanya masih belum menerima keputusan yang telah diambil, Tara yakin mama mertuanya tidak akan berani macam-macam karena takut akan dicerai oleh papa mertuanya.
"Tara, biarkan Gala tinggal di sini, bisa di paviliun samping. Papa tidak mau kalau tiba-tiba mama mertuamu datang dan membuat keributan. Jika ada Gala di sini yang menjagamu, papa tidak akan khawatir." Saran Tuan Yoga pada Tara.
"Tapi, pa!" Tara menolak.
"Belum lama aku kehilangan mas Aryan suamiku, sepertinya tidak pantas jika ada laki-laki lain yang tinggal di sini denganku." Tara berargumen.
"Gala bukan laki-laki lain, Tara. Dia adalah calon suamimu. Apa kamu tidak dengar tadi Gala melamarmu?" Tuan Yoga mengingatkan.
"Tapi Tara belum menjawabnya, pa." Jelas Tara.
Deg... Deg... Deg...
"Apakah aku sudah kehilangan Tara? Harusnya dulu aku tidak pergi begitu saja meninggal dia, meskipun itu demi kebahagiaannya dengan Aryan." Ucap Gala dalam hati.
"Papa tahu kamu sangat mencintai Gala. Kenapa sekarang kamu ragu?" Tuan Yoga heran.
"Bukankah Gala sudah mengatakan akan menerima kamu dan anakmu!"
"Papa dan mama akan merestui kalian." Tuan Yoga semangat.
"Tapi itu tidak adil bagi mas Aryan maupun Gala, pa. Belum tentu juga ayah Gala mau merestui kami." Tutur Tara.
"Lebih tidak adil bagiku jika kamu menolak lamaranku, Tara. Apakah kamu sudah benar-benar menghapus cinta kita hingga tidak bersisa?"
"Aryan juga meminta ku untuk melindungi kamu dan anaknya. Aku pergi dengan alasan mencari kebahagiaan ku sendiri, tapi kebahagiaan ku hanya ada padamu. Maaf karena aku pergi tanpa memberitahu. Aku hanya tidak sanggup pergi jika harus berpamitan langsung padamu." Gala menjelaskan.
"Beri aku waktu, aku tidak bisa melupakan mas Aryan begitu saja. Hati ini masih sakit karena kehilangan dia." Mata Tara berkaca-kaca teringat kembali semua tentang Aryan.
"Bagaimana aku bisa melupakannya jika hanya kebahagiaan yang selama ini dia berikan." Ucap Tara dalam hati.
__ADS_1
.........
Gala ngotot untuk tinggal di paviliun kediaman Aryan Cakra Wangsa, cinta membuatnya tidak peduli dengan omongan orang lain. Semenjak pulang dia belum menemui ayahnya, masih belum siap bertemu dan menuntut jawaban dari Pak Raji. Gala tidak habis pikir mengapa ayahnya itu tidak memanggilnya pulang sesuai dengan permintaan Tuan Yoga. Kecewa, tentu Gala merasa kecewa pada ayahnya karena tidak memahami dan tidak mau mengerti apa yang sebenarnya Gala rasakan dan inginkan. Rasa takut menyelimuti hatinya, takut jika ayahnya tidak merestuinya bersama Tara.
Kandungan Tara kini sudah masuk 5 bulan. Hari ini adalah jadwal Tara ke dokter kandungan untuk mengecek kesehatan janinnya. Gala memaksa untuk mengantarkan Tara. Meskipun awalnya Tara menolak dan ingin ditemani mamanya, pada akhirnya Gala yang mengantar, Nyonya Lita sengaja membuat kesempatan untuk Gala dan Tara agar kembali dekat.
Di tempat dokter kandungan hanya 4 orang yang sedang mengantri, maklum dokter spesialis yang cukup mahal. Tara melihat para ibu-ibu hamil yang mengantri ditemani oleh suami mereka saat periksa. Bulir air mata mulai menggenangi matanya. Gala yang sadar akan hal itu segera bersikap layaknya suami Tara. Sepertinya tidak ada yang curiga kalau Tara bukan datang dengan suaminya. Ibu-ibu hamil yang sedang mengantri tidak mengenal Tara.
"Apa benar harusnya aku menikah dengan mas Anand, dengan begitu orang-orang tidak akan tahu kalau yang bersamaku bukanlah mas Aryan. Tapi, bagaimanapun juga kabar kematian mas Aryan pasti juga sudah menyebar ke segala penjuru kota ini." Tara membatin.
"Gala, apa tidak sebaiknya kamu menungguku dari jauh?" Tara meminta Gala menjauh.
"Aku tidak mau jika tiba-tiba ada yang mengenaliku dan melihatku bersamamu. Mereka pasti akan mengatakan hal-hal yang tidak mengenakkan." Memberi penjelasan.
Tara sedikit kesulitan saat akan duduk, Gala dengan sigap membantu memegangi Tara dan memastikan dia duduk dengan nyaman. Gala hanya diam saja saat Tara memintanya pergi, yang ada dipikirannya saat ini hanya keselamatan dan kenyamanannya Tara. Gala sangat tahu Tara menahan rasa sakitnya sendiri, Gala pun tidak ingin mengulang kesalahan yang sama, dia tidak akan pergi menjauh sedikitpun dari sisi Tara.
"Gala, apa kamu tidak mendengarkan aku?" Tara protes karena Gala tidak pergi dari sampingnya.
Tara terpaku melihat ibu hamil yang baru saja datang dan duduk tidak jauh dari dia. Ibu itu sangat bahagia, sedikit kesulitan untuk berjalan dan hanya mampu berjalan pelan-pelan, sepertinya usia kehamilannya sudah 8 menuju 9 bulan. Ibu itu ditemani oleh adik laki-lakinya. Ibu itu berbicara dengan ibu hamil yang disampingnya dan bercerita bahwa suaminya meninggal 5 bulan lalu karena kecelakaan pesawat.
Deg...
"Saya bahagia karena suami saya meninggalkan tanda cinta. Awalnya saya juga sedih namun keluarga saya selalu menguatkan. Bahkan mereka memberi saya semangat untuk menikah lagi suatu saat nanti. Bukan berarti saya tidak setia, namun lebih baik menikah menghindari zina dan fitnah jika memang sudah ada calonnya." Tara mendengar ibu-ibu tadi masih bercerita.
"Tidak takut dengan ayah tiri, bu? Nanti kalau nggak sayang sama anak ibu gimana? Kan sudah banyak kasus yang seperti itu." Ibu-ibu yang lain ada yang menanggapi.
"Harus selektif bu dalam memilih pasangan, banyak juga kok janda beranak yang menikah lagi dan bahagia. Tidak boleh takut melangkah, yang penting berjuang dan berusaha yang terbaik." Ibu itu mempertahankan pendapatnya.
"Lagi pula zaman susah modern, banyak janda yang menikah lagi. Janda 'kan juga butuh kasih sayang, butuh nafkah lahir batin juga. Bukankah lebih baik menikah daripada berbuat zina atau hal-hal yang negatif?" Imbuh ibu itu.
"Oh, benar juga ya. Daripada jadi janda dan menimbulkan fitnah, meskipun tidak semua janda itu negatif kan ya! Asalkan sudah cocok dan bertemu jodoh, nggak usah ragu lagi, yang penting jangan jadi pelakor aja ya, bu... Ibu...!"
"Ha... Ha... Ha... " Ibu-ibu itu tertawa bersama.
Tara seakan tersadar dan setuju dengan pendapat ibu-ibu itu. Tiba giliran Tara dipanggil masuk ke ruang dokter. Gala membantu Tara berdiri, menggandengnya menuju ruang dokter. Tara tidak berkata apa-apa, dia menurut saja dengan perlakuan manis Gala.
"Selamat pagi ibu Tara." Sapa sang dokter cantik.
"Selamat pagi, dokter." Menjawab salam.
Sang dokter memperhatikan Gala yang memperlakukan Tara dengan lembut dan penuh kesabaran.
__ADS_1
"Wow... Anda ketemu bodyguard semanis ini di mana, bu? Biasanya bodyguard kan sikapnya sangat kaku dan tegas." Canda sang dokter.
"Ha... Ha... Ha... Mungkin kalau sama yang lain dia akan kaku dan tegas juga, dokter. Dia cinta pertama saya yang sempat kandas." Tara menjawab candaan sang dokter.
"Wow... Saya juga mau dong diperlakukan manis sama bapak, ehh... Mas bodyguard. Saya masih single loh." Ucap sang dokter cantik.
Gala hendak menjawab, namun Tara mendahuluinya. "Ha... Ha... Ha... Bu dokter bisa aja. Ini kan calon suami masa depan saya."
Deg... deg...
Raut wajah Gala menjadi secerah sinar mentari, hatinya menghangat mendengar ucapan Tara.
"Oh... Maaf, saya tidak tahu. Tolong jangan diambil hati, saya hanya bercanda saja." Sang dokter malu.
"Tidak mengapa, bu dokter. Saya sudah hafal sih, biasanya yang menggoda Gala malah lebih ektrim lagi. Tapi dasarnya dia bodyguard yang dingin sih, mencair kalau sama saya doang." Ucap Tara menyatakan kepemilikannya atas Gala.
"Pantas saja dia memperlakukan ibu dengan lembut sekali, sabar dan penuh kehati-hatian. Semoga bisa segera bersatu ya, bu Tara. Tapi prioritas utama tetap harus baby-nya dulu." Bu dokter mengingatkan.
"Pasti saya memprioritaskan baby-nya dulu, dokter tidak perlu khawatir." Ucap Gala tegas.
"Sabar dulu ya pak bodyguard! Tunggu baby-nya lahir."
"Pastinya, bahkan saya menunggunya dari dulu sejak pertama bertemu." Ucap Gala dingin.
Sang dokter diam dan melanjutkan pemeriksaan terhadap kandungan Tara. Semuanya dalam keadaan baik dan sehat, hanya saja Tara perlu menjaga mood-nya dan tidak boleh sering menangis atau sedih. Keluar dari ruang dokter, bukan hanya Gala yang menggandeng Tara, namun Tara yang sengaja berpegangan pada Gala.
"Semoga saja ini bukan hanya karena kamu cemburu semata lalu bersikap dingin lagi setelah di rumah nanti." Gala berdoa dalam diam.
Di dalam mobil menuju rumah.
"Gala, jika ayah mu tidak merestui hubungan kita, apa yang akan kamu lakukan?" Tara menanyakan hal yang mengganggu hatinya sejak kemarin.
"Aku akan berusaha mendapatkan restunya. Asalkan kamu mau, aku akan memperjuangkannya meski aku harus memohon-mohon pada ayah. Aku tahu ayah hanya khawatir jika aku tidak menerima anakmu. Aku hanya perlu membuktikan bahwa aku mencintaimu dan anakmu. Meski butuh waktu yang cukup lama untuk meyakinkan kamu dan ayah, aku tidak akan pernah mundur lagi." Jawab Gala penuh keyakinan.
"Aku akan membuka hatiku lagi untukmu. Aku harap kamu tidak ingkar dan pergi meninggalkan aku lagi."
.................
Ikuti terus ceritanya ya 🙏🏼👍🏼
Yuk ditunggu jempolnya👍🏼, komentarnya dan dukungannya❤. Terima kasih telah bersedia mampir membaca.
__ADS_1