Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
S3_kado terindah


__ADS_3

pukul enam malam, Mahi pulang setelah menyelesaikan semua pekerjaannya di rumah sakit.


ya meski kadang dia harus melewatkan beberapa jam tambahan karena keadaan darurat.


Fatin sedang membuat ayam goreng, karena beberapa hari ini dia terus makan makanan pedes.


"assalamualaikum sayang..." sapa Fatin yang melihat suaminya itu pulang.


"waalaikum salam, ada apa ini? kok hari ini kelihatannya sangat senang dan cantik banget mau kemana sayang?" tanya Mahi menggoda Fatin.


"gak kemana-mana memang gak boleh ya kalau aku dandan," kata Fatin sedih.


"bukan tak boleh, tapi aku gak suka istriku yang cantik ini di lihat orang lain, karena kami hanya milikku," kata Mahi yang berhasil membuat Fatin tersenyum.


"dasar mas ini, sudah ayo masuk, aku tadi habis nyoba resep, bebek dan ayam goreng sambel bawang," kata Fatin.


"baiklah, sekarang aku mandi dulu, oh ya bukankah lusa ayah dan bunda pulang,mau gak kita ke Jombang sayang," kata Mahi yang menguntungkan niatnya untuk naik ke lantai dua.


"boleh dong, kebetulan di sini kan sudah banyak yang menyambut," kata Fatin yang langsung mengiyakan.


"baiklah kita berangkat besok," jawab Mahi.


"tunggu mas, bukankah jatah cuti milik mu sudah habis, terus jika kita berangkat bukankah kamu harus libur," kata Fatin yang ingat sesuatu.


"tidak apa-apa sayang, mas memang sudah mengajukan pengunduran diri dari rubah sakit itu, dan akan menjalankan rumah sakit sendiri," jawab Mahi.


"apa? jangan bilang mas menerima pemberian dari Gazali," kata Fatin sedih.


"tidak sayang, tenang saja, ini klinik milik ku sendiri, kebetulan ayah sudah menyiapkan semuanya, dan kami bertekad untuk membantu para orang yang membutuhkan," jawab Mahi tersenyum.


"benarkah? gak pernah bilang apa-apa kepada ku sih mas?" tanya Fatin.


"maaf, ini juga aku harus melakukannya secara dadakan, karena tempat itu harus segera berjalan, terlebih sekarang aku memiliki mu dan bisa membantuku juga disana," kata Mahi.


"baiklah mas, aku akan ikut semua yang kamu katakan," jawab Fatin.


Mahi pun merasa senang mendengarnya, setidaknya dia tak harus memaksa istrinya itu.


"tapi mas, rumah ini bagaimana? bukankah ini juga baru kita tempati?" tanya Fatin.


"tebang dek, ada yang mau membelinya, dan aku juga belum bisa melupakan kejadian buruk mu, jadi lebih baik kita tinggal di rumah baru saja," jawab Mahi.


Fatin tak bisa menolak dan hanya bisa mengikuti semua keinginan dari suaminya.


meski rumah itu sudah memiliki beberapa kenangan yang indah tapi kenangan buruk itu terlalu membekas.


dokter Rizal terus berkomunikasi dengan ustadz Ahmad dan meminta pria itu datang saat acara tasyakuran kepulangan mereka.


Fatin juga sudah pamit pada Dila tentang dirinya yang ikut ke Jombang bersama Mahi


Dila tak melarang, karena itu juga rumah Fatin sekarang, tapi mereka belum tau saja jika Fatin akan di bawa menetap di sana.


keesokan harinya, Fatin sudah siap membawa semua barangnya dan Mahi.

__ADS_1


mereka akan menginap setidaknya seminggu kedepan di desa kelahiran dari suaminya itu.


Mahi mengendarai mobilnya dengan santai, mereka berhenti di daerah perak untuk membeli beberapa jajanan.


ya disana terkenal dengan pusat oleh-oleh, setelah berbelanja semua yang di butuhkan.


mereka pun melanjutkan perjalanan menuju ke desa, ternyata rumah di jaga oleh orang kepercayaan dari Hendra.


"assalamualaikum man Kur," sapa Mahi yang turun.


"waalaikum salam, ya Allah mas Mahi pulang, kok gak bilang-bilang sih," kata pria itu nampak begitu senang.


"iya man, mau menyambut kepulangan ayah dan bunda, bagaimana pabriknya oke kan?" tanya Mahi.


"Alhamdulillah semuanya lancar mas, baik pabrik kerupuk, tahu, dan juga sawah semuanya aman," jawab man Kur.


"baiklah, kalau begitu aku masuk dulu ya man," pamit Mahi.


"iya mas, oh ya mau kerumah utama atau rumah samping?" tanya pria sepuh itu.


"rumah samping saja, karena tak enak kalau harus jadi satu sama orang tua," jawab Mahi.


"ya sudah kalau begitu, kebetulan tadi sudah saya bersihkan rumah sampingnya," jawab pria itu.


Mahi pun mengajak Fatin masuk kedalam rumah, ternyata meski dari luar nampak tak ada perubahan.


tapi di dalam rumah sangat bagus, ternyata sudah di renovasi habis-habisan.


"mungkin ayah dan bunda ingin kita nyaman saat datang, kan mas gak pernah mau di rumah utama," kata Fatin.


"bukan tidak mau dek, kalau di rumah utama, kebiasaan dari Rosita suka masuk ke kamar tanpa permisi, dan aku tak ingin saat kita bermesraan dia main nyelonong saja."


Fatin pun tertawa mendengar ucapan suaminya itu, dan akhirnya mereka pun bersih-bersih.


ternyata besok Mela sudah menyiapkan semuanya, terlebih Catering untuk menyambut saudara yang satang juga sudah di pesan.


jadilah mereka tak harus repot, siang itu ada beberapa orang yang datang mengantarkan peralatan makan.


bukan apa karena akan ada prasmanan, ya akan di buat acara open house.


"mas... ayo beli buah yuk, fi kulkas gak ada buah dan bahan yang bisa di masak," ajak Fatin dengan manja.


"mau ke pasar, atau supermarket terdekat?" tanya Mahi.


"ke pasar saja yuk," ajak Fatin.


Mahi pun mengangguk, dan langsung mengeluarkan motor milik ayahnya, Fatin hanya bisa geleng-geleng melihat suaminya.


"mas, aku pakai gamis lebar, Kenapa bawa motor sports seperti itu, bawa motor matic saja," kata Fatin memohon.


"ah iya, maaf lupa," kata Mahi tertawa.


dia pun mengeluarkan motor milik Rosita, ya motor itu tetap termasuk motor besar.

__ADS_1


"ya Allah adek mas naik motor ini setiap hari? badan kecil tapi sukanya motor PCX ya," kata Fatin yang naik ke jok motor.


"ya, dia itu tomboy dek, sudah ayo kita belanja keburu kesiangan," jawab Mahi.


mereka pun ke pasar, Fatin benar-benar menjadi seorang ibu rumah tangga.


bahkan wanita itu tak segan menawar, setelah dapat semua yang di inginkan.


Mahi bingung karena saat dia selesai memasukkan semua kedalam jok motor, istrinya tidak ada.


"hadeh... kemana lagi sih," gumamnya.


dia pun mencari Fatin yang sedang di tempat pedagang sayur, ternyata istrinya sedang menawar kedondong.


"sedang apa sayang?" tanya Mahi yang membuat Fatin menoleh.


"sedang beli kedondong dan mangga muda, tapi kedondongnya mahal," bisik Fatin.


"Bu mangga mudanya saja satu kilo, kedondong tak jadi," kata Mahi yang tak ingin berlama-lama.


"loh mas, aku mau buat rujak," mohon Fatin


"ya Allah dek, di samping rumah ada pohon kedondong, kamu tinggal ngambil dan sedang berbuah, plus banyak yang matang," kata Mahi.


Fatin hanya beroh ria, kemudian Fatin dan Mahi pun menuju ke rumah, tapi sebelum itu Mahi berhenti di sebuah apotik membeli sesuatu.


sesampainya di rumah, Fatin mulai memasak nuggets yang tadi di beli, tapi Mahi menariknya.


"apa sih mas," protes Fatin.


"cepat tes, karena kamu sudah telat dua Minggu dari jadwal mens," kata Mahi yang menunjukkan kalender di ponsel milik istrinya itu.


"paling cuma stres," jawab Fatin yang takut mengecewakan Mahi.


"dek, aku mohon, jika hasilnya negatif juga gak papa," kata nahi yang tak ingin terjadi sesuatu pada istrinya.


"baiklah, tapi mas gak boleh kecewa," kata Fatin yang di angguki oleh mahi.


akhirnya Fatin ke kamar mandi dan mahi yang meneruskan memasak, Fatin pun harap-harap cemas.


pasalnya dia juga sudah ingin memiliki momongan, tapi jika Allah belum memberikan mereka hanya bisa terus berdo'a saja.


Fatin pun menunggu alat tes kehamilan itu bereaksi, satu garis sudah terlihat.


kemudian Fatin keluar dari kamar mandi sambil menangis, melihat itu Mahi kaget.


"ada apa sayang?" tanya mahi khawatir.


"mas... lihat ini..." tangis Fatin sambil memberikan hasil tes kehamilan itu.


nahi langsung memeluk Fatin pasalnya ada dua garis merah di sana, "Alhamdulillah... positif dek," kata Mahi.


Fatin pun mengangguk, dan dia bisa memastikan jika itu adalah anak Mahi, karena sebelum dia menikah, dia melakukan cek up menyeluruh.

__ADS_1


__ADS_2