
Husna benar-benar duduk di belakang karena telat, Fatin yang melihatnya pun memanggil adiknya itu.
Husna pun duduk di sebelah Fatin, dan mulai mengikuti pengajian dari sang umi.
setelah pengajian selesai, Fatin dan Husna bergegas untuk pulang, karena mereka masih ada beberapa hal.
terdengar suara adzan Magrib, Fatin bergegas ke masjid, sedang Husna masih sibuk dengan ponselnya
"dek ayo kita berangkat, nanti telat ke masjidnya," panggil Fatin.
"iya neng," jawab Husna meletakkan ponselnya dan bergegas menuju ke masjid bersama Fatin.
saat akan sampai di area masjid, mereka tak sengaja berpapasan dengan mas Abdul.
"assalamualaikum neng Fatin dan neng Husna," sapa pria itu dengan sopan.
"waalaikum salam mas, mau sholat juga, maaf ya kami duluan," jawab Fatin yang langsung menarik Husna.
dari jauh Dila sempat melihat hal itu, Dila tak mengira jika Fatin malu-malu saat berpapasan dengan Abdul.
sedang Husna sempat menoleh dan tersenyum, ya Abdul adalah pria ya g di sukai oleh Husna.
sholat Maghrib berjalan lancar, setelah selesai, husna pulang terlebih dahulu sedang Fatin masih berdoa.
"ya Allah yang maha pengasih dan maha penyayang, aku berdoa padamu ... entah benar atau salah perasaan ini aku rasakan padanya, dia adalah laki-laki kedua yang bisa menyentuh hati ku selain Abi, aku memohon padamu, jika bisa dan memungkinkan, bisakah menjadikan dia imam ku dalam rumah tangga yang mendapatkan ridho Mu," doa Fatin dalam hati.
Dila pun tersenyum melihat khusyuknya Fatin dalam berdoa, malam ini ada acara pengendalian emosional bersama salah satu guru besar dari sebuah kampus.
meski dia sudah menjadi dosen di usia muda, tapi pria ini terkenal dingin dan hanya ustadz Ahmad yang bisa mengajaknya bicara dengan hangat.
Fatin mengikuti acara malam itu, dia pun memakai cadar agar pria yang dia sukai tidak tau jika dia ikut hadir.
terlebih pria itu sangat ketus padanya, acara pun berjalan dendam sangat hangat.
setelah acara selesai,ustadz Ahmad mengajak pria itu untuk mampir ke rumahnya.
"Monggo mas Haris, maaf rumahnya sangat sederhana, assalamualaikum umi, lihat siapa yang mampir," kata ustadz Ahmad.
"waalaikum salam Abi, ya Allah mas Haris, Monggo mas silahkan duduk, mau minum apa mas?" tanya Dila dengan senyuman.
"ya Allah umi, tolong jangan merepotkan diri, saya hanya mampir karena permintaan ustadz saya ini," jawab Haris sopan.
"ya Allah kamu ini selalu selalu begitu sopan dan begitu menghormati gurumu," kata ustadz Ahmad bangga.
Dila pun tersenyum mendengarnya, "sudah jangan begitu sombong ustadz, ingat putrimu belum pulang loh, kemana Keduanya ya Tuhan,"
"assalamualaikum umi, maaf kami telat pulang," kata Hasan, Husain dan Husna.
"waalaikum salam, loh kalian cuma bertiga, mana neng kalian?" tanya Dila khawatir.
"neng sudah pulang tapi sepertinya lewat belakang, wah ada tamu besar ternyata, Husna siapkan dirimu bisa-bisa Abi menjodohkan mu pada mas Haris," kata Husain.
"apa kamu mau Haris? aku akan sangat bangga jika kamu mau," kata ustadz Ahmad.
__ADS_1
prang.... nampan berisi air minum itu menghantam lantai, "astagfirullah... ada apa?" kaget Dila yang langsung berlari ke belakang ternyata Fatin menjatuhkan nampan.
"maaf umi, tangan Fatin licin," jawab Fatin yang memunguti gelas itu.
"jadi Husna bagaimana, sepertinya nak Haris juga setuju," kata ustadz Ahmad.
"berhenti menjodohkan aku Abi, aku bukan Siti Nurbaya yang harus di jodohkan dengan pria yang tak aku suka, aku tak ingin menikah dengan siapapun pilihan Abi, aku punya orang yang aku cintai sendiri," kata Husna dengan keras.
"Husna!!! jaga bicaramu dengan Abi!" bentak Fatin yang membawa nampan lain.
"neng selalu saja marah jika padaku, neng jahat!" teriak Husna yang marah.
Haris melihat Fatin dengan tajam, dia tak mengira jika wanita yang selalu terlihat murah senyum seperti Fatin begitu tajam dalam berucap.
Husna pun mengambek, Fatin pun hanya bisa menghela nafas panjang, setelah menyuguhkan air minum.
Fatin bergegas menghampiri sang adik, Fatin tersenyum lebar saat masuk kedalam kamar.
"maafkan neng ya, tadi refleks dek," kata Fatin menangkupkan tangannya.
"pergi neng jahat pada Husna," kesal gadis itu.
Fatin pun masuk dan langsung memeluk Husna, "ih neng kan aku suruh pergi, kenapa masuk," kesal Husna.
"maaf ya dek, sudah deh jangan ngambek nanti neng belikan apapun yang Husna ingin," kata Fatin membujuk.
"benarkah, neng janji ya,"kata Husna senang bukan main.
"baiklah neng belikan apapun besok untuk ketiga adikku yang pintar ini, tapi janji pada neng ya,jangan pernah membantah atau bahkan membentak Abi di depan tamu," kata Fatin.
"iya neng, maafkan Husna ya karena Husna tak mau di jodohkan karena Husna sudah ada seseorang," lirih gadis itu memeluk Fatin.
mendengar ucapan adiknya,Fatin memastikan pada kedua adik laki-lakinya, dan keduanya mengangguk.
"Allahu Akbar... kamu ini nakal ya," kata Fatin tersenyum lebar.
Dila yang sekilas melihat pun senang, dia pun ke depan sambil membawa kue.
"umi bagaimana anak-anak masih marahan?" tanya ustadz Ahmad di depan Haris.
"bagaimana bisa marah pada neng yang begitu menyayangi ketiga adiknya itu, Fatin berhasil membujuk Husna bahkan Hasan dan Husain juga bersama kok," kata Dila tersenyum.
"maaf ustadz Ahmad, saya kadang heran, bagaimana bisa putri anda berdua, bisa memiliki sifat yang berbeda, Fatin begitu keras dan tajam saat berbicara, bahkan di kampus dia mendapat julukan galak dari mahasiswanya," tanya Haris penasaran.
"dia seperti itu saat ada pria atau orang asing yang bersikap kurang ajar, seperti tadi Husna yang tanpa sadar membantah ucapan ku, padahal aku hanya bercanda," jawab ustadz Ahmad tertawa.
"tapi kalau boleh jujur ustadz, saya lebih menyukai sikap Husna yang ceria dan baik, berbeda sekali dengan Fatin," ucap Haris tanpa sadar.
"jangan membandingkan mereka nak, mereka berbeda dari segi usia, Husna masih remaja yang masih bisa terpengaruh pergaulan, sedang Fatin dewasa seiring usia nya, bahkan jarang gadis seusianya masih memikirkan orang tuanya, mereka akan sibuk dengan dunianya bahkan mereka cenderung melupakan orang tuanya," saut Dila yang tak suka putrinya saling di bandingkan.
mendengar jawaban Dila, Haris terdiam, diarak mengira akan mendengar ucapan seperti ini dari Dila.
"kamu sudah lihat contohnya bukan, Fatin bisa sangat lembut pada orang yang dia kasihi, tapi sangat tajam pada orang yang meragukan orang lain, gambaran Fatin sama dengan Dila dalam bersikap," kata ustadz Ahmad tertawa menepuk punggung Haris yang nampak kaget.
__ADS_1
"iya ustadz," jawab Haris.
Fatin mencari Dila ke dalam kamar, Fatin langsung memeluk uminya itu, "umi sedang sibuk, Fatin ingin mengatakan sesuatu,"
"ada apa sayang, apa kamu ingin bercerita tentang masalah pria," tanya Dila tersenyum.
"ih umi.... Fatin kan pernah bilang jika Fatin tak ingin memikirkan tentang itu dulu, Fatin ingin memberikan gaji pertama Fatin sebagai asisten dosen," kata Fatin memberikan amplop.
"kamu simpan nak, buat untuk kebutuhan mu, umi tak ingin mengambilnya," jawab Dila yang menolak secara halus.
"kebutuhan Fatin sudah ada dari gaji selama menjadi guru umi, tolong terima ya, meski tak seberapa ini," mohon Fatin.
Dila pun mengangguk dan menerimanya, dia akan mentransfer nanti saat Fatin sudah lupa.
"terima kasih umi," kata Fatin memeluk Dila.
tak terduga, mas Abdul datang menemui ustadz Ahmad, dia membawa sketsa gedung baru.
"assalamualaikum ustadz Ahmad, maaf menganggu, saya ingin mengantarkan cetak biru dari gedung baru, sesuai permintaan dari ustadz Yusuf dan ustadz Ilyas." kata mas Abdul.
"waalaikum salam mas, ayo sini duduk dulu, neng tolong kemari sebentar," panggil ustadz Ahmad.
Fatin keluar, dia tersenyum kearah mas Abdul. "inggeh Abi, ada apa?"
"tolong bantu Abi melihat gambar desain dari mas Abdul ya, gak papa kan nak?" tanya ustadz Ahmad.
"inggeh Abi," jawab Fatin sopan sambil menundukkan kepalanya.
dia mengambil flashdisk milik Abdul yang di taruh di atas meja, Fatin duduk di lantai dan menjelaskan pada ustadz Ahmad.
"Alhamdulillah mas Abdul, saya menyukai desain yang mas buat, benar kan Fatin?" tanya ustadz Ahmad.
"inggeh Abi, desainnya modern tapi tidak melupakan tentang fokus islami, ini cocok di gunakan untuk SMK Islam yang Abi ingin bangun," jawab Fatin.
"Alhamdulillah," jawab ustadz Ahmad.
mas Abdul pun pamit, sebelum itu harus sempat melihat ada bayangan seseorang di balik kelambu.
Fatin juga tau sosok itu dan bisa menebaknya, dia pun tersenyum dan kembali kedalam rumah.
"bagaimana menurut mu nak, apa pria itu baik?" tanya ustadz Ahmad pada Haris.
"pria yang sangat sopan dan memiliki kemapuan yang hebat, bukankah dia sepupu dari ustadz Ilyas yang mengabdi di sini?"
"kamu benar, usianya sama dengan Fatin, aku berharap dan berdoa supaya Fatin bisae dapatkan pria yang bisa membuatnya bahagia suatu hati nanti, terlebih usia ku juga sudah tak muda lagi," terang ustadz Ahmad.
"ustadz ini ngomong apa sih, ustadz Ahmad makan berumur panjang, insyaallah..." kata Haris.
ustadz Ahmad tersenyum, meski usia harus dewasa, kadang baginya pria itu terlalu dingin jika harus bersama Fatin.
terlebih sosok putrinya itu yang terlihat tegar dan kuat, tapi nyatanya dia hanya gadis biasa yang sering menyimpan semua perasaannya sendiri.
itulah kenapa ustadz Ahmad ingin pria seperti Abdul yang pembawaannya tenang, mudah bergaul bisa menjadi pendamping putrinya.
__ADS_1