
Seberapa pun reader, like dan favoritnya, author akan tetap selalu update sampai kelar halu/khayalan di kepala author 😸
Reader jangan lupa tinggalkan jejak dukungan ya... Biar lebih semangat nulisnya. 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
Reader yang memberikan dukungan, semoga rejekinya melimpah. Aamiin.
Jangan lupa bahagia.
.........
Aryan turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke apotek. Para apoteker wanita-wanita muda yang mungkin seumuran Tara atau lebih muda dari Tara, mereka terpesona melihat Aryan. Sepertinya mereka berebut untuk melayani Aryan. Tidak dapat dipungkiri ketampanan Aryan memang di atas rata-rata untuk ukuran di negara ini. Tara yang melihat dari balik kaca jendela mobil menjadi kesal dibuatnya.
"Selamat sore, mas. Mau beli apa?" Sapa seorang apotek wanita dengan lembut.
Tara melihat dari jauh makin kesal karena apoteker yang melayani Aryan sempat membetulkan rambutnya agar terlihat lebih rapi.
"Ck… Apa mereka belum pernah melihat pria tampan? Apa mereka tidak mengenali mas Aryan." Gumam Tara.
Tara melepas seat belt dan beranjak turun dari mobil. Pak sopir yang melihatnya hanya tersenyum karena melihat tingkah pengantin yang tergolong masih baru sedang cemburuan.
"Permisi, mbak. Saya mau beli test pack." Jawab Aryan dengan wajah datar tanpa senyuman.
Para apoteker kaget mendengar apa yang ingin Aryan beli. Sepertinya mereka positif thinking dan tetap tersenyum manis pada Aryan. Mungkin mereka kira Aryan hanya diminta membelikan test pact.
"Mau beli berapa, mas?" Tanya sang apoteker lagi, masih dengan nada yang lembut dan tatapan kagum pada Aryan.
"Lima aja. Saya juga nggak tahu butuh berapa." Aryan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Apoteker lain bisik-bisik namun tetap sedikit terdengar. "Lucu ya masnya, pasti cuma disuruh beliin."
"Mau yang harga berapa, mas?" Tawar sang apoteker.
"Harga nggak masalah yang penting alatnya bagus dan berfungsi dengan baik, tolong cepat, mbak!" Aryan mulai risih.
Tara yang tidak tahan segera datang dan memeluk lengan Aryan.
"Mas, kenapa lama?" Tanya Tara dengan lembut dan manis.
"Sayang, kok kamu turun?" Aryan kaget karena sedari tadi dia kesal dan tidak memperhatikan Tara telah menyusulnya.
"Kamu di mobil aja, nanti kalau perutnya kram lagi gimana?" Khawatir.
Tara cuma cemberut dan menggerakkan ekor matanya ke arah para apoteker.
"Mbak, tolong cepat ya. Test packnya 2 aja yang bagus dan paling akurat." Pinta Tara.
Para apoteker berbisik-bisik lagi. "Panggilnya sayang loh, istrinya atau pacarnya ya. Cantik banget sih mbaknya, jadi ngiri deh. Pantesan tadi masnya cuek banget dan nggak mau nengok ke kita-kita."
Samar-samar Tara mendengar ucapan mereka dan hanya tertawa dalam hati.
"Mas, kamu balik ke mobil aja deh! Biar aku yang tungguin." Tara sengaja berbicara lebih keras.
Para apoteker yang tadi berkumpul dan ngerumpi sadar kalau Tara tidak suka karena mereka berbisik-bisik dan membuat pembeli merasa tidak nyaman. Mereka pun terdiam dan lanjut mengerjakan hal lain dan ada yang melayani pembeli yang baru datang.
"Nggak mau! Kalau tiba-tiba perut kamu kram lagi gimana?"
"Tadi udah mas bilangin kalau lebih baik langsung ke dokter aja." Imbuh Aryan.
"Besok kalau udah yakin kita periksa." Tara mengalah.
"Maaf mbak, ini test pactnya."
__ADS_1
Akhirnya drama di apotek selesai. Para apoteker melihat kepergian Tara dan Aryan.
"Uhhh… So sweet, dibukain pintunya, mobilnya bagus sekali guys…" Ucap salah satu apoteker.
"Duh… Kita nggak level sama mereka, cantik dan cakep udah kaya artis aja." Balas apoteker lainnya.
"Eh… Aku ingat deh! Wanita tadi kaya mirip Tara Maheswari yang di majalah Fashion Magazine."
"Iya bukan sih?" Ragu-ragu.
Mereka langsung membuka android mereka dan searching foto Tara Maheswari.
"What?" Teriak salah satu dari mereka.
"Apotek kita kedatangan artis guys… Harusnya tadi kita sadar dan minta foto mbak Tara, pasti apotek kita jadi ramai."
"Mana bisa minta foto, mbak Tara tadi sepertinya kesel karena ada yang mencoba menarik perhatian suaminya."
"Udah lah! Jangan saling menyalahkan!"
"Bukankah kita semua tadi memang terpesona dengan ketampanan suami mbak Tara."
"Wah sepertinya bentar lagi mbak Tara akan punya baby, denger nggak sih tadi bilang perutnya kram? Tanda-tanda hamil muda tuh…"
Begitulah mereka berdebat lebih panjang lagi dan para pembeli kadang jadi objek pembicaraan mereka. Cerita klasik terpesona oleh ketampanan atau kecantikan pembeli/pelanggan.
Sesampainya di rumah Tara langsung turun tanpa menunggu dibukakan pintu oleh Aryan atau pak sopir. Dia juga tidak menyahut panggilan Aryan.
"Duh, apa aku bikin salah ya? Padahal tadi baik-baik aja." Gumam Aryan.
Meskipun pelan pak sopir mendengarnya.
"Tapi tidak biasanya Tara cemburuan, pak! Dia kan yang paling cantik, mana mungkin aku melirik yang lain." Jelas Aryan.
"Kadang cemburu itu buta, tuan muda." Pak sopir tertawa.
"Bapak malah ngeledek nih…"
"Ah… Jadi inget papa. Semoga aja Tara beneran hamil, pasti papa senang karena akan mendapatkan cucu pertama."
"Non Tara hamil, tuan muda?" Tanya pak sopir,
"Belum pasti pak. Tadi kan Tara sendiri yang nyuruh aku beli test pack, katanya nggak boleh nyuruh bapak. Eh… Sekarang malah ngambek."
"Semoga non Tara bener-bener hamil, pasti tuan Indra akan senang sekali."
"Biasanya wanita hamil muda memang suka cemburuan dan ngambekan, jadi tuan muda harus lebih sabar." Saran pak sopir.
"Iya, pak. Terima kasih doa dan sarannya."
Aryan masuk ke dalam menyusul Tara yang sudah lebih dulu masuk tanpa mempedulikan dirinya.
"Cuma jalan dari depan ke sini aja kok lama banget sih, mas?" Sergah Tara.
"Sayang, tadi lagi ngobrol sebentar sama pak Yanto." Menjelaskan jika tadi dia ngobrol dengan sang sopir.
"Tadi pak Yanto do'ain semoga kamu beneran hamil."
"Kok udah diceritain ke pak Yanto sih, mas? 'Kan belum pasti." Tara manyun.
"Namanya orang tua, kalau tanya harus dijawab. Nggak apa-apa, do'a dari orang tua kan biasanya juga mudah dikabulkan." Aryan beralasan, tidak mungkin dia cerita kalau pak Yanto tidak sengaja mendengar dia sedang bingung kenapa Tara ngambekan.
__ADS_1
"Mas, buatin aku jus dong!" Senyum dan mengedipkan mata.
"Jus apa, sayang?" Aryan selalu sabar, apalagi mengingat kemungkinan Tara benar hamil.
"Apa aja yang penting dibuatin sama kamu, mas. Tapi mas Aryan harus lepas baju ya, biar keliatan sixpacknya." Mulai aneh-aneh.
"Ya udah, ayok mas buatin sekarang." Ajak Aryan.
Tara pun mengikuti Aryan. Sebelum membuat jus Aryan melepaskan baju kerjanya dan kini tinggal mengenakan celana pendek.
Tara memeluk Aryan dari belakang dan bersandar di punggung Aryan.
"Mas, rasanya pengen dimanja terus sama kamu. Mas Aryan jangan macem-macem dan melirik wanita lain di luar sana ya!"
"Iya, sayang. Mas janji tidak akan melirik wanita lain." Janji Aryan.
"Mas, tadi waktu di kantor kenapa yang masuk ke ruangan mu hanya pria aja? Apa kamu tidak punya karyawan wanita, kok aku nggak lihat?" Tara akhirnya menanyakan pertanyaan yang sedari tadi dia simpan.
"Seingatku di resepsionis tadi ada karyawan wanita juga." Teringat saat disapa tadi pagi.
"Yang boleh masuk ke ruangan ku hanya karyawan aja, aku tidak mau terjadi pergunjingan atau gossip yang enggak-enggak. Tidak boleh 1 wanita dan 1 pria di ruangan yang sama berdua aja. Aku cuma menghindari hal itu aja." Papar Aryan.
"Mas nggak pernah aneh-aneh di kantor 'kan? Seperti apa yang kita lakukan tadi." Mode cemburuan lagi.
"Mana mungkin aku melakukan hal aneh di kantor, sayang. Masa iya aku aneh-aneh sama pria? Aku kan masih normal!" Tersenyum sendiri.
"Berarti bisa aja aneh-aneh sama karyawan wanita dong?" Belum berhenti menduga-duga karena cemburuan.
"Kamu yang pertama membuatku berani aneh-aneh di kantor, sayang. Jangankan aneh-aneh, bicara basa-basi aja males."
"Iya, aku ingat. Disapa aja kamu cuma mengangguk doang ya mas." Tara ingat yang dikatakan asisten Aryan tadi pagi.
"I love you, mas ganteng ku." Mengeratkan pelukannya.
"I love you more, my princess."
"Bener-bener susah ditebak, sebentar ngambek sebentar manja. Semoga aja beneran hamil. Aamiin." Batin Aryan.
.........
Malam hari di Pakistan tempat tinggal baru Gala. Kerinduannya pada Tara masih saja terus menghantuinya.
Gala bermonolog.
"Aku rindu menjagamu, memperhatikanmu, menyayangi, melindungimu, memelukmu dan memberikanmu rasa aman. Tapi kini kamu telah memiliki pelindung yang lain."
"Young blood thinks there's always tomorrow. I miss your touch on nights when I'm hollow. I know you crossed a bridge that I can't follow. Since the love that you left is all that I get. I want you to know that if I can't be close to you. I settle for the ghost of you. I miss you more than life. And if you can't be next to me. Your memory is ecstasy. I miss you more than life."
Terjemahan. "Orang yang berjiwa muda berpikir akan selalu ada hari esok. Aku rindu sentuhan mu malam-malam ini saat aku hampa. Aku tau kamu melewati jembatan yang nggak bisa ku ikuti. Karena cinta yang kamu tinggalkan itulah semua yang ku dapatkan. Aku ingin kamu tau itu jika aku tidak bisa di dekatmu. Aku akan menghantui mu. Aku sungguh merindukanmu dan jika kamu tidak bisa berada di dekatku. Kenangan mu adalah hal yang bahagia. Aku sungguh merindukanmu."
"Benar-benar masih terasa bagaimana terakhir aku memelukmu di paviliun malam itu. Seolah aku bisa memilikimu selamanya."
"Haaahhh... Harusnya aku sadar mungkin sudah tidak ada lagi kesempatan bagiku untuk memilikimu, Tara." Teriak Gala.
................
Ikuti terus ceritanya ya 🙏🏼👍🏼
Yuk ditunggu jempolnya👍🏼, komentarnya dan dukungannya❤. Terima kasih telah bersedia mampir membaca.
__ADS_1