Pria Idaman Lain

Pria Idaman Lain
S3_pernikahan Husna 2


__ADS_3

tak terasa semua persiapan sudah selesai, pernikahan pun sudah di depan mata, Husna sedang bersiap di dalam kamarnya.


Fatin mendatangi adiknya itu, Husna pun tersenyum melihat neng-nya itu yang masuk kedalam kamar.


"neng, aku deg-degan, apa bisa membacakan doa untuk ku," mohon Husna.


Fatin tersenyum, "ya Allah berikanlah kelancaran dalam pernikahan adik ku ini, dan jadikanlah keluarga mereka menjadi sakinah, mawadah warohmah," kata Fatin.


sedang di luar, dokter Rizal sedang berhadapan dengan ustadz Ahmad untuk melakukan akad nikah.


dan dengan satu tarikan nafas, pria itu berhasil mengucapkan akad nikah dengan lantang.


akhirnya Husna dan dokter Rizal pun sah, Fatin mengajak adiknya itu untuk keluar dan menemui suaminya.


Fatin membantu Husna duduk di samping dokter Rizal, keduanya pun saling bertukar cincin.


dokter Rizal membaca doa sebelum mencium kening Husna, acara di lanjutkan dengan resepsi yang sederhana.


semua orang tak menyangka jika kedua menantu pria dari ustadz Ahmad adalah seorang dokter yang sangat terkenal.


Husna dan dokter Rizal mendapatkan selamat dari semua orang yang datang.


Husna juga begitu baik pada baby Syafa, semua pun seperti melihat pernikahan ustadz Ahmad dan Dila.


Fatin duduk bersama suaminya, sedang mrla melihat Fatin yang terus memakan asam Jawa.


"nak apa itu tak asam sih, kok dari tapi bunda lihat kamu terus memakannya?" tanya Mela.


"maklum bunda, aku sering mual, dan bagiku ini adalah cemilan yang enak dan yang bisa masuk ke dalam perut ku," jawab Fatin.


"apa, jangan-jangan kamu sedang hamil?" tanya Mela begitu senang.


"sebenarnya sudah delapan Minggu Bunda, benarkan mas?" kata Fatin


"iya bunda," jawab Mahi.


Mela pun begitu bahagia dan memeluk menantunya itu, "Alhamdulillah ya Allah,"


Fatin pun merasa bahagia melihat reaksi dari mertuanya itu, meski Mela sedikit kesal saat tau dia adalah orang terakhir yang tau.


tapi tetap saja dia tetap bahagia, terlebih sekarang menantunya itu akan tinggal dekat dengannya.


dia pun akan berjanji akan menjaga menantunya itu dengan sangat baik, terlebih ini adalah cucu pertama mereka.

__ADS_1


setelah acara selesai, mereka pun beristirahat karena kelelahan, Syafa di bawa pulang oleh keluarga dokter Rizal.


sedang kini dokter Rizal ada di kamar Husna, keduanya sedang duduk di ranjang, dan merasa canggung.


meski bukan pengalaman pertama, tapi tetap saja membuat mereka berdua gugup.


"apa kita sholat dulu mas," tanya Husna.


"baiklah, kita sholat dulu," jawab dokter Rizal.


mereka pun sholat Sunnah berjamaah sebelum melakukan malam pertama.


Husna melepas mukena yang di kenakannya, dokter Rizal terkejut melihat Husna yang begitu cantik.


meski berambut pendek, Husna terlihat begitu anggun, terlebih dia mengenakan daster pendek.


dokter Rizal pun berdiri di depan Husna, keduanya pun saling pandang,Husna tersenyum ke arah suaminya itu.


"maaf, sepertinya aku tak bisa menahannya lagi, jadi bisakah kita melakukannya malam ini?" tanya dokter Rizal dengan lembut.


"baiklah mas, aku sudah menjadi istrimu, jadi sudah kewajiban ku melayani mu sebagai suami ku," jawab Husna yang menyentuh pipi dokter Rizal.


keduanya pun berciuman dengan sangat mesra, dokter Rizal pun merebahkan tubuh Husna di ranjang.


keduanya susah menanggalkan seluruh pakaiannya, dan menikmati malam indah milik keduanya.


Husna menahan suaranya, dan dia tak sengaja mengigit bahu suaminya.


Rizal pun merasa jika Husna seperti masih belum pernah melakukan hal itu, terlebih Husna memberikan reaksi yang sangat tak terduga.


akhirnya keduanya pun kelelahan, dan Rizal pun kaget melihat ada bercak darah, "sayang kamu masih virgin," kata dokter Rizal.


"aku juga tak tau mas, padahal dulu aku benar-benar melakukannya dengan mas Abdul, dan aku juga tak mengerti, terlebih jadwal mens ku juga baru saja aku dapatkan," jawab Husna yang ada di pelukan dokter Rizal.


"apa milikku yang terlalu besar, atau milik mantannya yang tak bisa memuaskan, sudahlah itu tak penting," batin dokter Rizal.


sedang Husna terasa begitu lelah dan mengganjal setelah berhubungan dengan suaminya itu.


padahal dulu tidak seperti ini saat bersama Abdul, tapi dia hanya bisa memilih diam saja.


sedang di rumah, Fatin sedang ada di atas tubuh suaminya. pasalnya wanita itu sedang ingin melakukannya.


tapi Mahi tak mau karena takut melakukannya, karena ini adalah masa rawan di tri meter pertama.

__ADS_1


"sayang ayolah, aku ingin melakukannya dengan mu," lirih Fatin.


"tidak dulu sayang, kamu sedang dalam masa hamil muda, takutnya aku menyakiti anak kita," lirih Mahi yang menahan dirinya sendiri


mendengar itu, Fatin pun ngambek dan langsung bangun dari ranjang dan langsung turun ke bawah.


dia pun mengambil sambel bawang di kulkas dan berusaha membukanya, dua sedang marah dan emosinya sedang tinggi.


Mahi pun menghela nafas dan mengikuti istrinya itu turun, dia kaget melihat Fatin yang ingin makan sambel bawang begitu saja.


"apa yang kamu lakukan," kata Mahi yang langsung merebut botol sambal itu.


"berikan padaku, jangan ikut campur, aku sedang marah," kata Fatin yang berusaha merebut sambal itu.


"tidak boleh, kamu bisa sakit karena makan sambal begitu saja, ayolah dek jangan kekanak-kanakan!" bentak Mahi tanpa sadar.


Fatin langsung menangis setelah Mahi membentaknya, "mas jahat!" kata Fatin sedih.


Mahi pun hanya bisa menghela nafas, "sayang jangan lari, sayang maafkan aku," panggil Mahi yang tak di hiraukan oleh Fatin.


Fatin berlari dan membanting pintu kamar mereka, Mela yang kebetulan belum tidur pun keluar.


dia melihat putranya yang sedang terlihat sedih di dapur, "ada apa Mahi? kenapa kalian malam-malam malah berteriak," tanya Mela.


"maaf bunda. mengganggu tidur mu, aku sedang kesal karena istriku yang tak bisa di bilangin, dia mau makan sambal pedas ini begitu saja, saat aku menolaknya saat ingin berhubungan," jujur Mahi.


mendengar itu Mela malah kesal, kenapa putranya yang lulusan terbaik di universitas kedokteran malah jadi orang bodoh begini.


"ya Allah, kamu itu dokter kenapa kamu jadi bodoh begini, bukankah kamu tau apa yang baik atau tidak untuk istrimu, dan bunda lihat kondisi dari Fatin juga baik-baik saja," kata Mela.


"iya bunda aku tau, tapi aku rakit pada diriku sendiri yang sering lepas kendali saat melakukan hubungan dengan istriku," jawab Mahi polos.


"sekarang bujuk dia, atau kamu bisa mempengaruhi kandungannya, jadi cepat pergi, dan turuti, ingat kamu itu tau posisi bagaimana yang aman, jadi jangan membuatnya sedih lagi, pergi," kata Mela tak habis pikir.


"iya bunda, aku pergi dulu ya," kata Mahi yang langsung naik ke lantai atas.


dia pun masuk dan melihat Fatin sedang makan beberapa cemilan yang ada di kamar.


"kamu masih marah sayang?" tanya Mahi.


"menurut mas, pikir saja sendiri, jangan mengajak ku bicara, aku ngambek," jawab Fatin sambil menikmati coklat di tangannya.


saat Mahi mendekat, Fatin menjauhi dirinya, dan benar-benar tak mau di dekati oleh Mahi.

__ADS_1


__ADS_2