
Fatin dan Hasan sudah sampai di rumah terlebih dahulu, Dila kaget melihat putrinya yang menunjukkan kembali traumatis itu.
Dila langsung memeluk Dila dan membawanya masuk, ustadz Ahmad pun menghela nafas panjang, dia tak tau harus bagaimana lagi.
ternyata Abdul, Husna dan Haris juga datang, terlihat harus ya g nampak butuh penjelasan.
Husna dan Abdul juga tak tau apa yang terjadi sebenarnya, mereka pun memilih keluar karena Hasan mengajaknya agar tak menjadi orang lain di pembicaraan kedua orang itu.
"ustadz Ahmad, sebenarnya ada dengan Fatin, tadi saya tak sengaja memegang tangannya tanpa permisi,dia begitu marah dan panik, seperti orang yang punya trauma sendiri?" tanya Haris dengan penasaran.
"sebenarnya aku tak berhak bercerita, tapi karena aku memintamu menikahi Fatin, kamu harus tau masa terburuk dalam hidup Fatin dan kami, yang selama ini kami sembunyikan," kata ustadz Ahmad sedih.
saat itu Fatin berusia delapan tahun, sedang ustadz Ahmad baru mengajak Haris masuk kedalam pondok untuk menempuh hidup baru.
Fatin terus melihat kearah pria yang di ajak oleh sang Abi, pria yang terlihat tak terurus itu sudah mencuri hati Fatin kecil.
"neng sedang apa?" tanya Hasan yang melihat sosok Fatin yang mengendap-endap.
"tidak ada, ayo main," ajak Fatin pada adiknya itu.
Fatin kecil diam-diam terus memperhatikan sosok dari Haris yang berubah menjdi pria dengan kepribadian yang begitu baik.
terlebih sang Abi juga sangat menyukai Haris, dan sudah sangat menyayangi bocah itu.
di sekolah, Fatin sering menaruh minuman atau roti di meja Haris, gadis sekecil itu sudah bisa menunjukkan kasih sayangnya.
tapi gadis sekecil itu memang belum mengerti apapun, hanya sebatas mengagumi.
tapi senyum dari Fatin harus hilang di usianya yang kesembilan tahun, saat itu, Fatin sedang berjalan bersama beberapa temannya yang bermain di pinggir jalan.
ketiga gadis kecil itu sedang melihat-lihat bunga di tepi jalan, "lihat itu ada bunga berwarna kuning, aku ingin bunga itu nanti bisa di pres di buku," kata Fatin kecil.
"ya jangan itu saja dong Fatin, ayo ke rumah ku yuk, disana banyak bunga yang ibu ku tanam, mulai dari warna merah, hijau, sampai ungu," kata teman kecil Fatin
"benarkah, ayo kita ke rumah ku," kata Fatin yang lupa tak meminta izin pada orang tuanya.
__ADS_1
ketiga gadis kecil itu berjalan menyusuri jalan, sebuah mobi Jeep berhenti dan menarik ketiganya masuk kedalam mobil.
ustadz Ahmad dan Dila panik mencari putrinya, pasalnya tadi ustadz Ahmad lupa menjemput Fatin dari sekolah yang memang sedikit jauh dari pondok.
"Fatin!!" teriak semua orang yang mencari gadis kecil itu.
Fatin di culik dan di sekap oleh beberapa pria, Fatin dan teman-temannya mengalami pelecehan seksual.
ada Lina gadis kecil lain di sana yang di jadikan sebagai budak untuk memuaskan ketiga pria itu.
setiap hari Fatin dan teman-temannya harus melihat pria-pria itu memuaskan diri mereka dengan di saksikan oleh delapan gadis kecil itu.
hingga puncaknya, mereka menarik tiga gadis dan memperkosanya, itupun di saksikan oleh yang lain, melihat pria-pria itu sibuk.
Fatin menarik kedua temannya untuk berlari dari tempat buruk itu, Fatin dan temannya sempat jatuh tapi mereka terus lari.
ketiga pria itu seakan membiarkan mereka bertiga lari karena sedang menikmati kesenangan.
kaki kecil Fatin terus berlari bersama kedua temannya, hingga tepat berada di jalan raya, dan sebuah mobil menabrak ketiganya.
tak butuh waktu lama, ustadz Ahmad dan Dila menuju ke rumah sakit untuk melihat putri mereka.
kondisi Fatin sangat buruk, gadis kecil itu terus berteriak bahkan tak bisa mengenali ustadz Ahmad lagi.
hanya Dila yang bisa menyentuh putrinya itu, dokter mengatakan jika Fatin mengalami trauma psikis yang sangat dalam.
terlebih atas tindakan kriminal yang di lakukan oleh para bajingan itu, ustadz Ahmad melakukan segala cara untuk menangkap para biadab itu.
meski Fatin tak mengalami pelecehan yang sesungguhnya, tapi perbuatan pria itu merusak mental dari gadis kecil itu.
Fatin bahkan harus di ungsikan dan menjalani terapi secara intens selama beberapa tahun sampai dia sembuh.
bahkan saat ketiga pria bajingan itu di tangkap oleh polisi, mereka tengah membuang tiga mayat dari gadis kecil yang mereka perkosa hingga meninggal dunia.
mereka pun mendapatkan hukuman seumur hidup, sedang ustadz Ahmad harus melihat putrinya yang begitu trauma seumur hidupnya.
__ADS_1
perlahan bulan berganti tahun, perlahan Fatin mulai bisa normal perlahan.
suatu saat Fatin pulang setelah lima tahun dia menjalani terapi di yayasn khusus di tempat saudara jauh ustadz Ahmad.
saat sampai di rumah, Fatin bisa memeluk Dila dan Husna, begitupun dengan Hasan dan Husain juga mendapatkan pelukan.
tapi saat ustadz Ahmad mendekat Fatin seperti ragu-ragu, tapi saat melihat ustadz Ahmad menangis di depannya.
Fatin pun luluh dan memeluknya, meski ustadz Ahmad merasakan tubuh putrinya sedikit gemetaran.
"tolong jangan takut ya nak, Abi berjanji akan selalu menjagamu, maaf karena kecerobohan Abi, kamu jadi seperti ini ya nak," tangis ustadz Ahmad.
Fatin pun mengangguk dan mulai bisa dekat kembali dengan sang Abi, dan keluarga mereka kembali bersatu.
perlahan demi perlahan, Fatin sudah seperti gadis normal, dan semua orang melupakan hal yang terjadi hingga tak ada yang membahasnya lagi.
Haris diam, dia salah paham ternyata, ternyata gadis kecil itu bukan Husna yang menaruh roti atau minuman.
ternyata itu adalah Fatin, gadis yang selalu dia benci karena terlihat acuh tak acuh padanya, tenyata pernah mengalami hal seburuk itu.
"ada apa nak Haris, merasa tak baik ya, saya tak memaksa mu untuk menikah dengan putriku, saya tau Fatin tak sempurna, tapi dia tetap putri kesayangan dan kebanggaan ku," kata ustadz Ahmad yang menghapus air matanya.
"ustadz boleh saya bertanya dulu pada Husna," mohon Haris.
ustadz Ahmad mengangguk, dan Haris bergegas keluar menemui gadis itu.
"sudah selesai mas Haris?" tanya Husna sopan.
"sudah, tapi aku ingin bertanya padamu Husna, apa kamu yang saat aku kelas satu madrasah Aliyah yang menaruh roti dan air?" tanya Haris.
"wah sepertinya mas harus salah orang deh, aku memang pernah ketahuan oleh mas Haris tapi itu karena aku marah sama neng, dan berniat mengambil roti yang aku inginkan, sedang neng malah menaruhnya di meja tak tau siapa pemiliknya," jawab Husna dengan kesal.
Haris pun menepuk dahinya, dia pun berlari masuk kedalam rumah ustadz Ahmad, "ustadz Ahmad tolong nikahkan saya dengan Fatin, saya berjanji akan menjaganya dengan segenap hati saya, meski kami harus mengenal dari awal kembali," kata Haris bersimpuh di depan ustadz Ahmad.
"apa kamu yakin nak?"
__ADS_1
Haris dengan mantap menjawab pertanyaan itu, "insyaallah iya ustadz."