Pulau Abadi

Pulau Abadi
Jin Bucin


__ADS_3

Joko berjalan masuk ke dalam kamarnya, betapa terkejutnya dia, melihat Rinjani sedang duduk di bibir ranjang milik Joko.


"Hey jin bucin, kenapa kamu ada di sini? Sepertinya kamu salah alamat," ujar Joko.


"Saya mau minta tolong sama anda."


"Minta tolong apa?"


"Apa anda bisa, membuat Franky supaya bisa melihat saya?"


"Hahaha! Kenapa? Sudah tak tahan, ingin bercinta ya?" Joko merasa geli, dengan ucapan Rinjani.


"Sudahlah tak perlu mengejek saya, itu artinya saya masih normal, karna masih punya rasa cinta, sementara anda, anda belum pernah punya kekasih kan, mungkin anda tak normal hihihi!"


Rinjani pun terkekeh, mengeluarkan tawa yang mengerikan.


"Stop! Tertawamu itu fals, jangan dilanjutkan, bisa-bisa gendang telingaku pecah," cetus Joko.


Rinjani pun berhenti tertawa.


"Jadi bagaimana? Apa anda bisa membantu saya?"


"Dengar ya jin bucin, aku ini manusia, bukan dukun, atau pun tukang sulap, jadi mana bisa melakukan hal di luar batas kewajaran?"


"Bukankah anda orang sakti mandra guna?"


"Aku nggak pernah merasa, kalau aku ini sakti, aku hanya manusia biasa," sahut Joko merendah.


"Tolonglah saya." Rinjani bersikeras.


"Apa yang bisa aku lakukan?"


"Anda kan bisa meminta bantuan sama leluhur anda?"


"Leluhur itu makhluk halus, sama seperti kamu, dan itu artinya, kamu juga leluhur."


"Lantas, apa bedanya?"


"Jelas beda lah, kamu ini bagaimana sih?"


"Menurutku sama saja."


"Sudahlah, aku nggak mau berdebat sama jin bucin seperti kamu, kamu minta tolong sama yang lain saja, sekarang aku mau tidur, sebaiknya kamu pergi dari sini, apa kamu minta aku kelonin? Hahaha!"


"Cih, dasar manusia gila." Rinjani pun menghilang dari pandangan.


Joko merebahkan tubuhnya di atas kasur ....


"Aku gila tapi kan manusia, bisa dilihat orang lain. Nah, kalau kamu, udah gila, bucin, jin lagi, nggak bisa peluk pacarnya hehehe," Joko terkekeh.


"Masih untung kamu, nggak aku bunuh, kalau saja ini sudah bulan purnama, sudah aku habisi kamu."


Mata Joko terasa berat saat itu, dia pun memejamkan matanya, hingga terlelap dalam tidurnya.


Rinjani kini berada di rumah Franky. Saat itu Franky sedang menonton acara televisi.

__ADS_1


Tiba-tiba, televisi itu mati sendiri, Franky mengerutkan keningnya.


"Hah? Kenapa ini tivi? Kok mendadak mati, setahu aku, nggak ada yang rusak," gumamnya.


Tiba-tiba, angin berhembus kencang, menerpa wajah Franky.


"Fran ... Fran ...."


Sebuah suara menggema di telinga Franky.


Franky pun terkesiap, dia seakan mengenali suara tersebut. Sebenarnya posisi Rinjani kini berada di samping Franky. Namun Franky tak dapat melihatnya.


"Fran ... Fran ....


Suara itu kembali terdengar.


"Suara itu ...." Franky mencoba menebak-nebak.


Dan seketika itu, Franky merasakan kepalanya berputar.


"Ah, kepalaku, sakit sekali," ujar Franky sambil memegangi kepalanya.


Dan bersamaan dengan itu, kenangan-kenangan selama di pulau abadi, kembali terbayang di benak Franky.


"Rinjani?"


Rinjani tersenyum penuh arti.


"Fran, anda sudah ingat sama saya?" tanyanya.


"Sepertinya aku mendengar suara Rinjani, tapi ... ah nggak mungkin, dia kan jauh di sana, untuk apa juga ke sini," gumam Franky dalam hati.


"Saya di sini Fran, ya, di dekat anda, apakah anda bisa merasakan kehadiran saya?"


Franky tetap diam tak bergeming.


Rinjani merasa sedih sekali, dia tak tahu harus bagaimana lagi, supaya Franky dapat melihatnya, seperti waktu pertama kali bertemu.


Karena merasa kesal, Rinjani pun menghilang dari hadapan Franky.


Dan, televisi pun kembali menyala, seperti semula.


"Lho kok nyala lagi? Aneh sekali," gumam Franky.


Kini Rinjani telah kembali ke istananya, dia melihat Raja Jin sedang duduk di depan. Rinjani pun menghampirinya.


"Kau dari mana anakku?" tanya Raja Jin.


Rinjani terdiam sejenak ....


"Pasti kau habis menemui manusia itu lagi, kan? Anakku, sadarlah, tempatmu bukan di bumi, tapi di sini, dan jangan kau ganggu terus manusia itu, biarkan dia hidup tenang."


"Romo, kenapa Franky sekarang tak bisa melihat saya?"


"Sudahlah anakku, kau tak perlu lagi berurusan dengan manusia, jangan mencari masalah lagi, kau rawat dan besarkan saja anakmu, jika kau ingin mencari lelaki, Romo bisa carikan."

__ADS_1


"Enggak Romo, saya hanya mau dengan Franky."


"Tolong, hilangkan sifat keras kepalamu itu, anakku."


"Romo, kenapa sih Romo tak pernah memihak saya? Saya mohon, sekali saja membantu saya, dari dulu, saya tak pernah meminta yang aneh-aneh sama Romo, saya hanya ingin bisa bersatu dengan manusia itu, karna saya sangat mencintai dia, tak ada yang lain, yang bisa menggantikan posisi dia."


Raja Jin menatap iba kepada Rinjani ....


"Anakku, bukanya Romo tak mau membantumu, tapi ingat, kita itu berbeda dengan manusia itu, dan sejatinya, manusia lebih kuat dari kita, Romo hanya berpesan, janganlah membuat masalah dengan mereka, kau akan tahu sendiri akibatnya, kalau kau masih keras kepala."


Rinjni terdiam, dan Raja Jin pun pergi meninggalkan Rinjani.


"Huft, Romo sama saja, tak bisa mengerti perasaan anaknya." Rinjani menggerutu.


****


Dan di rumah Franky, saat itu malam sudah larut. Franky kini telah berada di dalam kamarnya. Namun, Franky tak dapat memejamkan matanya.


"Kenapa aku nggak bisa tidur ya, biasanya jam segini aku sudah ngantuk sekali."


Franky melirik jam dinding, saat itu waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari.


Franky membalikkan tubuhnya. Selang beberapa menit, Franky kembali membalikkan tubuhnya, kemudian dia duduk di atas kasur.


"Huft, kenapa sih aku nggak bisa tidur juga?" gumamnya.


Akhirnya Franky turun dari tempat tidurnya, dia keluar kamar, menuju ke dapur.


"Lebih baik aku membuat teh melati saja," gumamnya.


Franky mengambil gelas, dan mulai menyeduh teh kesukaannya. Setelah itu, dia membawanya ke ruang tengah, kemudian Franky mengambil laptop di kamarnya, dan kembali lagi ke ruang tengah


Franky membuka laptopnya, dia membaca ulang novel horor yang baru saja dia rilis.


Franky tersenyum puas, melihat hasil karyanya sendiri.


"Besok, aku antar ke kantor nyonya Nur," batinnya.


Tiba-tiba, Franky teringat dengan almarhum Soraya.


"Sora, andai kamu masih ada di sini, kamu pasti bangga melihat perjuanganku," gumam Franky lirih. Tanpa sadar, bulir bening menetes di pipinya.


Namun Franky segera menghapusnya. "Ah, aku nggak boleh mengungkit Sora lagi, kasihan, dia kan sudah tenang di alam sana, kenapa juga aku jadi cengeng begini."


Franky menutup kembali laptopnya, dan meletakannya di atas meja, tanpa sengaja, netranya pun mengarah ke segelas teh yang baru saja dia buat.


"Astaga, aku sampai lupa, kalau aku baru saja membuat teh."


Kemudian, Franky meminum teh yang sudah setengah dingin itu, hingga berkurang separuh.


"Biarpun sudah dingin, tapi masih enak juga," gumamnya.


Akhirnya, Franky merasakan kantuk yang luar biasa, kemudian dia masuk ke dalam kamarnya, tak lupa membawa laptopnya.


Franky merebahkan tubuhnya, di atas kasur, dia memejamkan matanya, hingga masuk ke alam mimpinya.

__ADS_1


__ADS_2