
"Eh Le, kamu merasa aneh nggak sih?"
"Aneh bagaimana, Fran?"
"Ya dari awal kita berangkat, terus pulang, kita itu selalu dapat sial."
Leon yang awal keberangkatan, selalu tidur, dia tak merasakan keanehan.
"Ah masa sih, Fran?"
"Kamu itu tidur terus Le, jadi mana tahu kamu."
"Hehe, maaf, Fran, nggak tahu kenapa, waktu berangkat, aku ngantuk sekali."
Tiba-tiba Franky teringat dengan kucing hitam, yang dia tabrak sewaktu berangkat ke Lembah Ilusi.
"Oh iya Le, aku mau tanya, tolong kamu jawab jujur ya?"
"Tanya apaan sih?" Leon tampak penasaran.
"Kemarin kamu kan aku suruh menguburkan kuicng hitam yang aku tabrak."
"Iya, Fran, memangnya kenapa?"
"Apakah kamu kubur beneran?"
"Lho ya benerlah, Fran, masa aku bohong," kata Leon menutupi.
Namun Franky melihat gurat wajah penuh kebohongan pada diri Leon, hanya saja Franky malas berdebat dengan sahabatnya itu, Franky memaklumi, dan berpikir bahwa mungkin saja Leon ketakutan pada saat mengubur kucing tersebut.
"Aku yakin sekarang, memang benar apa yang di ucapkan warga kemarin, bahwa menabrak kucing hitam adalah suatu pertanda marabahaya, dan aku yakin Leon nggak mengubur kucing itu, dia pasti hanya menaruh bangkai kucing itu, dan meninggalkannya begitu saja," batin Franky.
Franku terus menggerakkan stang bundarnya, tiba-tiba di hadapan mereka ada sebuah pohon besar berdiri menghadang mobil mereka.
"Apa lagi sih?" gumam Franky.
"Le, apakah kamu lihat pohon itu?" tunjuk Franky.
"Iya, Fran, kok tiba-tiba ada pohon ya, dari mana pohon itu? Menghalangi jalan saja," sahut Leon sambil menggerutu.
Franky turun dari mobil di ikuti Leon.
Mereka berdua berjalan ke arah pohon besar yang menghalangi jalan mereka.
Namun, betapa terkejutnya mereka, ketika langkah kaki mereka semakin dekat dengan letak pohon itu, namun pohon yang baru saja mereka lihat, sudah menghilang.
"Lho, kok pohonnya nggak ada, Le?"
"Lah iya, Frank, apa tadi itu fatamorgana ya?"
__ADS_1
"Apaan tuh Le?"
"Ya semacam ilusi optik, Fran, di mana sesuatu yang nggak ada, menjadi ada."
"Ah, itukan hanya ada di padang pasir, Le."
"Ah nggak juga, Fran, di manapun bisa ada fatamorgana."
"Ya sudah Le, yuk kita lanjut lagi."
Franky pun kembali melanjutkan perjalanan pulang.
Akhirnya mobil Franky sampai juga di rumah Leon.
"Ayo masuk ke rumah dulu, Fran."
"Iya Le, aku juga cape sekali.
Franky dan Leon turun dari mobil, Leon mengambil kopernya, dia pun mengajak Franky masuk ke dalam.
Di sana Nurdiana dan Abdul Rozaq sedang duduk.
"Lho, kalian kok sudah pulang? Apa nggak jadi ke sana?" tanya Nurdiana keheranan.
Franky dan Leon duduk, kemudian Franky menceritakan semua yang telah terjadi kepada dirinya.
Nurdiana dan Abdul Rozaq saling berpandangan.
"Bu, bagaimana kalau saya panggilkan pak kiyai Romli? Mungkin beliau bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi sama Franky ini, karna saya denger, dia kok sering sekali mengalami kejadian nggak masuk akal," ujar Abdul Rozaq.
"Em, bagaimana dengan kamu, Fran?"
"Ya terserah nyonya saja, saya sih setuju saja," sahut Franky.
Leon ikut mengangguk.
Abdul Rozaq berjalan ke luar, tak lama, dia kembali lagi bersama seorang kiyai, bernama Romli.
Abdul Rozaq menyuruh kiyai Romli duduk, sementara Nurdiana menyeduh empat gelas kopi hitam, dan meletakannya di atas meja.
"Ada yang bisa saya bantu pak Abdul?" tanya kiyai Romli.
"Begini pak Kiyai...."
Abdul Rozaq mulai bercerita, mengenai Franky yang mana dia selalu mengalami kejadian aneh, setelah pulang dari pulau abadi.
Kiyai Romli menatap intens ke arah Franky.
"Nak Franky, mari duduk di dekat saya."
__ADS_1
Franky pun berpindah duduknya, dan kini dia berada di samping Kiyai Romli.
"Saya akan menerawang nak Franky, maaf sebelumnya, saya minta ijin untuk memegang kepala nak Franky."
"Oh, silahkan, Pak Kiyai," sahut Franky santai.
Kiyai Romli tersenyum, kemudian dia menyentuh ubun-ubun milik Franky.
Kiyai Romli memejamkan matanya, dia seolah menerawang, apa yang sedang terjadi pada diri Franky.
Setengah jam kiyai Romli melakukan penerawangan terhadap Franky, kini dia menurunkan tangannya dari kepala Feanky.
"Jadi, nak Franky ini sedang dicintai atau diincar oleh sosok jin perempuan, dan sepertinya jin itu berasal dari pulau abadi, dia sering berada di dekat nak Franky, kadangkala, dia juga suka mengikuti kemana pun nak Franky pergi.
Semua orang yang berada di tempat itu, menjadi terkejut, tak terkecuali Leon.
"Pantas saja, sejak kita pulang dari pulau abadi, tingkah Franky menjadi aneh, ternyata si Vio yang katanya hantu pulau itu mengikuti Franky," gumam Leon dalam hati.
"Lantas, bagaimana cara mengatasinya pak kiyai?" tanya Nurdiana.
"Sebenarnya, bisa dengan cara di ruqyah, tapi menurut saya, hal itu percuma, karena ruqyah hanya untuk mengusir makhluk halus untuk sementara saja."
"Terus jalan keluar lainnya apa pak kiyai?" sambung Abdul Rozaq.
"Sebenarnya, yang bisa mengusir jin yang mengikuti nak Franky, hanya nak Franky sendiri."
"Maksud pak kiyai?" tanya Franky heran.
"Ya, nak Franky ini suka sekali melamun kan? Nah Hal ini dikarenakan, bahwasana jin perempuan tidak rela jika pria yang disukai dan dicintai bergaul atau dekat dengan orang lain."
Franky terperanjat mendengar hal itu.
"Untuk mencegah nak Franky diikuti jin itu, nak Franky harus bisa menghilangkan kebiasaan melamun itu, ya memang itu nggak mudah, tapi harus di coba, dan biasanya, ciri-ciri seorang lelaki yang dicintai oleh jin perempuan, dia mudah jatuh cinta, meski kelaki ini telah dipikat oleh jin perempuan itu, tetapi lelaki ini akan mudah jatuh cinta kembali, baik kepada wanita yang baru dikenal, maupun yang telah lama dikenal bahkan bisa dalam sekali pandang saja."
Deg!
Jantung Erlangga berdegup seketika, wajahnya merah padam, dan dia pun menjadi nervous.
"Kenapa tepat sekali ramalan pak kiyai ini, Franky mengingat bebrapa wanita yang telah dia kenal, sekaligus membuat Franky jatuh cinta pula.
Di antaranya adalah Nila dan Rindi, namun Franky sulit sekali mengingat tentang Violetta, makhluk pulau abadi itu, kendati dia sering di rasuki olehnya.
"Dan ciri yang terakhir seseorang yang dicintai oleh jin, dia lebih suka menyendiri, jadi saya sarankan, nak Franky jangan suka melamun, dan jangan suka menyendiri, coba bergaul sama orang-orang di sekitar, dengan begitu, saya yakin perlahan jin yang menyukai nak Franky, pasti lama-lama menjauh."
"Tuh, Fran, kamu jangan suka melamun," celetuk Nurdiana.
"Hehe, iya, nyonya," kekeh Franky.
"Berarti hanya itu saja, cara mengatasi permasalahan Franky ya Pak Kiyai?" tanya Abdul Rozaq.
__ADS_1
"Betul sekali pak Abdul, jadi intinya, nak Franky ini sedang diikuti oleh makhluk halus."
Leon pun bergidik ngeri.