
"Tiga hari kemudian, Franky dan Via melaksanakan ijab kabul, mereka menggelar pesta besar-besaran, dan kini mereka resmi menjadi suami istri.
"Selamat ya Fran, akhirnya masa jomblo kamu sudah berakhir, semoga pernikahan kalian langgeng," kata Joko.
"Iya, Jok, makasih ya."
"Permisi." Seseorang mengucapkan salam.
Franky dan Joko menoleh ke arah orang tersebut.
"Leon," ucap Franky dan Joko bersamaan.
"Wah, wah, selamat ya Fran."
Franky tersenyum bahagia. Dan ketiga pria itu duduk dan mengobrol bersama.
"Kamu kapan nyusul, Le? Jangan lama-lama, nanti basi lho," canda Joko.
"Ah, kamu reseh, Jok," Leon menggembungkan kedua pipinya.
"Hahaha!" Joko tertawa, sedangkan Franky hanya tersenyum geli.
"Eh, Le, kamu heran nggak sih?" tanya Joko.
"Heran apa, Jok?" Leon mengerutkan keningnya.
"Ya, si Franky kok gampang sekali dapat perempuan."
"Iya juga ya, resepnya apa sih, Fran?" Leon berbicara kepada Franky.
"Ah, kamu ini, Le, memangnya makanan, pakai resep segala."
"Lah, memang benar kok, kamu selalu beruntung dalam masalah percintaan," kata Leon.
"Biasa saja kok, ya semoga saja kamu cepat dapat Jodoh, Le," ujar Franky.
Leon tersenyum smirk, dan mereka bertiga asik bersenda gurau.
****
Pernikahan Franky dan Via kini berjalan tiga bulan, malam hari setelah menunaikan hajat suami istri, Franky terbangun, dia melihat Via tertidur pulas, kemudian Franky menyelimuti tubuh Via.
Franky pun turun dari tempat tidurnya dan berjalan keluar, dia duduk di ruang tamu dan membuka laptopnya. Seketika dia mendapat inspirasi untuk menulis cerita horor bertema hutan.
Satu jam Franky menulis, kemudian dia menutup laptopnya, dan meletakannya di atas meja.
"Aku kok penasaran sama hutan yang tempo hari aku datangi ya, kenapa tiba-tiba aku ingin sekali kesana lagi," batin Franky.
Franky akhirnya memutuskan untuk pergi ke hutan. Sampai di hutan, dia berjalan perlahan hingga masuk ke dalam hutan itu. Seketika, netranya mengarah ke sosok laki-laki yang sedang berada di dekat jurang.
Franky mengintai dari kejauhan. "Sedang apa orang itu malam-malam begini, dan ... siapa dia?" batinnya.
Franky melihat lelaki itu seperti sedang membuang sesuatu. Setelah lelaki itu pergi, Franky berjalan mendekati jurang itu. Dia melongokkan kepalanya, seketika dia terkejut melihat mayat seorang anak gadis di dalam jurang itu.
"Mayat? Apa dia dibunuh oleh laki-laki tadi?" batin Franky.
Franky pun bergegas pulang ke rumahnya. Dan keesokan harinya, Franky mendatangi rumah Joko.
"Eh, kamu Fran, ada apa pagi-pagi begini?"
"Nggak apa-apa, aku hanya ingin mengobrol saja."
"Kalau begitu, ayo masuk."
Franky pun masuk ke dalam dan duduk di sofa ditemani Joko.
__ADS_1
"Istri kamu mana, Jok?"
"Tadi habis bersih-bersih, terus katanya perutnya sakit, jadi aku suruh istirahat saja di kamar."
"Oh gitu ... eh Jok, tadi malam tuh aku ingin sekali ke hutan."
"Hutan? Hutan tempat kamu mencari inspirasi?"
"Iya, Jok." Kemudian Franky menceritakan tentang kejadian di hutan semalam.
"Hah? Yang benar kamu, Fran?"
"Buat apa juga aku bohong, Jok, dan sepertinya, gadis itu dibunuh terus mayatnya dibuang di jurang."
"Wah, kok tega sekali ya, Fran."
"Tapi aku curiga deh, Jok."
"Curiga kenapa, Fran?"
"Sepertinya, itu ada hubungannya sama pendonor ginjal itu."
Joko tampak berpikir sejenak ....
"Kamu benar juga, Fran. Sepertinya dia dibunuh setelah donorin ginjalnya."
"Bagaimana kalau kita pasangi CCTV, tapi letaknya benar-benar tersembunyi, jangan sampai ketahuan sama si pelaku," usul Joko.
"Ide bagus itu, Jok, tapi kita pasangnya kapan? Sepertinya mereka melakukan pembuangan mayat pada malam hari."
"Iya juga ya, Fran, kalau siang, kira-kira aman nggak ya?" ujar Joko.
"Em, mungkin aman, biasanya aku nulis di hutan itu siang, dan tempatnya sepi," kata Franky.
"Tantu saja, aku sudah geram, ingin tahu siapa pelakunya, CCTV itu bisa kita jadikan bukti, untuk kita laporkan sama pihak yang berwajib, kita bisa meringkus si pelaku pembunuhan itu."
"Ya sama, Fran, kalau dibiarkan, pasti akan semakin banyak korban berjatuhan. Oh ya, kok kamu malam-malam niat sekali nulis, bukannya bikin adek ya," ledek Joko.
"Halah, kamu ini Jok, ada-ada saja."
"Lho, benarkan, kalau malam ya bikin adek haha!"
"Memang harus setiap hari? Nggak juga kali, Jok."
Joko pun terkekeh, dia memang suka sekali mengerjai temannya itu.
"Istri kamu sudah hamil berapa bulan, Jok?"
"Baru tiga bulan, Fran."
"Oh, wah pasti senang kamu ya Jok, besok kalau anaknya sudah lahir, pasti ramai rumah ini."
"Iya, Fran, terus, istri kamu sudah isi belum?"
"Belum,.Jok." Franky menggeleng.
"Sabar, Fran, istriku saja satu tahun baru bisa hamil."
"Iya Jok, aku sabar terus kok, hehe."
"Ya memang belum rejekinya, kalau sudah waktunya, pasti tetap dikasih."
"Iya Jok, semoga saja secepatnya bisa punya momongan."
"Iya Fran, semangat terus. Eh, istri kamu sedang apa, Fran?"
__ADS_1
"Dia sedang masak.
"Wah, pasti masakan istri kamu enak ya, Fran?"
"Ya, lumayan Jok, ayo makan di rumah ku."
"Besok saja, Fran, aku baru saja makan. Lho, kamu sendiri belum makan berarti?"
"Kan istriku sedang masak, ya belum matang, tentu saja aku belum makan, kamu ini bagaimana sih Jok."
"Ya, maksud aku, kalau kamu lapar, kamu makan disini dulu nggak apa-apa kok."
"Ah, enggak ah Jok, aku mau makan masakan istri ku saja."
"Cieee, suami setia nih." Joko mencibir.
"Apaan sih kamu, Jok."
Joko pun tersenyum geli.
"Ya sudah Jok, aku pulang dulu, besok aku kesini lagi."
"Okey, Fran."
Franky pulang, dan sampai di rumah dia disambut oleh Via.
"Kamu dari mana, Mas?"
"Dari tempat Joko."
"Oh, ya sudah ayo kita makan Mas."
"Sudah matangkah?"
"Syudah dong."
Franky dan Via makan bersama, Franky melahap masakan Via dengan penuh kenikmatan.
"Masakan kamu enak, Vi, jadi doyan makan aku, hehe."
"Ah kamu ini bisa saja Mas, ya sudah ayo dihabiskan."
"Tentu saja aku akan memakan habis semua makanan ini."
"Memang, perut kamu cukup?"
"Cukuplah Vi, kan perut aku melar seperti karet."
Via mencubit lembut hidung Franky.
"Auuu!"
"Kenapa? Sakit?" Hahaha!"
"Yeee, malah ditertawakan.
"Habis, kamu itu lucu Mas."
Setelah makanan habis, Via membereskan meja makan, dan mencuci peralatan makan.
Setelah itu, dia duduk santai di depan televisi, sedangkan Franky duduk di teras depan rumah, sambil memangku laptopnya, dia mulai menuangkan ide cerita yang dia dapat.
Buku horor yang dirilis Franky hampir selesai ditulis, tak lama Franky menutup laptopnya.
"Sebentar lagi selesai, dan aku akan mendapat uang lagi, uang itu akan aku pergunakan untuk mengajak Via jalan-jalan, kasihan dia setiap hari di dalam rumah terus, pasti dia bosan," batin Franky di iringi senyuman manisnya.
__ADS_1