
Malam hari pun tiba, kini Joko bersiap akan pergi ke pantai menemui Rinjani. Sebelumnya, Joko berbicara dengan Franky.
"Fran, aku mau ke pantai, kamu di sini saja, ya."
"Mau ngapain, Jok, malam-malam ke pantai?"
"Kamu lupa ya, Fran, kita ke sini kan mau cari jasad si Rinjani."
"Oh iya, lupa aku, aku bantu kamu ya."
"Nggak perlu, Fran, kalau kebanyakan orang takutnya beresiko, aku sendiri saja, karna kita kan belum tahu, bahaya apa yang mengintai kita nanti, karna kemarin aku ke pantai aku ketemu sama orang nggak jelas."
"Nggak jelas kenapa, Jok?"
"Ya, dia tiba-tiba menyerang aku gitu."
"Hah? Kok aneh?"
"Ya, kan aku tadi bilang orang nggak jelas."
"Ya sudah, Jok, aku di sini saja, sambil melanjutkan nulis novel."
"Iya, Fran, sebaiknya kamu di sini saja, bahaya kalau ketemu orang jahat, kalau Joko mah orang sakti, bisa melawan dia hehe," celetuk Leon.
"Ah kamu, Le, sakti apa sih."
"Ya memang kok, Jok."
Joko tersipu. "Ya sudah, aku jalan dulu ya, Fran ... ayo, Le, bareng sekalian nggak?" Joko mengajak Leon untuk berangkat kerja sekalian.
"Ah masih jam delapan, nanti aku nunggu lama di sana, nanti saja lah Jok, aku berangkat sendiri," tolak Leon.
"Oh ... ya sudah kalau begitu.
Joko pun keluar kamar, dia berjalan ke dapur, menghampiri Nawang.
"Apakah kau mau ikut denganku?" tanya suara hati Joko.
Nawang pun menggeliat. "Ke mana?"
"Biasa, ke pantai."
"Terserah kau saja," sahut Nawang.
Joko pun menggendong Nawang dan berjalan keluar penginapan, hendak menuju ke pantai. Dalam perjalanan, lagi-lagi Joko berpapasan dengan Jarwo.
"Yah dia lagi," batin Joko.
"Duh, itu kan paman-ku," kata suara hati Nawang.
"Hah? Jadi orang itu adalah paman kamu?" ujar suara hati Joko.
"Iya, itu orang yang sudah membunuh orang tua-ku, dan mengusirku dari rumah-ku sendiri," batin Nawang.
Joko berhenti, ketika Jarwo mendekat.
"Rupanya kau lagi anak muda," ujar Jarwo.
__ADS_1
"Maaf, sebenarnya ada urusan apa kamu sama aku?"
Belum sempat Jarwo menjawab, kedua bola matanya membulat, lantaran melihat kucing hitam, yang sedang di gendong oleh Joko.
"Kucing itu ... Hey, dari mana kau mendapatkan kucing itu?" tanya Jarwo kepada Joko.
"Memang kenapa? Ini kucing peliharaanku, sudah lima tahun aku memelihara kucing ini, apa kamu suka, kalau suka bawalah, aku bisa membeli lagi kucing yang serupa dengan ini." Joko sengaja berbohong dan bersandiwara untuk melindungi Nawang.
"Cih, untuk apa kucing jelek seperti itu? Kau rawat saja sampai besar." Jarwo rupanya percaya dengan ucapan Joko.
Namun, tanpa sengaja Jarwo melihat cincin batu giok yang dipakai oleh Joko.
"Hah? Bukankah itu cincin milik Nawang, pemberian Kinar?" batinnya.
Kinar adalah nama ibu dari Nawang, dan Nawang yang memang dapat mendengar suara hati Jarwo pun cemas seketika.
"Celaka, dia sudah tahu kalau aku adalah Nawang, dia lihat cincin pemberianku yang kau pakai itu," kata suara hati Nawang.
"Hah, yang benar kamu, Nawang? Duh terus gimana ini?"
"Tentu saja dia sangat marah."
"Hai anak muda, rupanya, kau pandai juga berbohong," kata Jarwo.
"Maksud kamu apa?" Joko berpura-pura tak tahu.
"Sudah, jangan bersandiwara, aku sudah tahu semua, sekarang katakan padaku, kau dapat dari mana kucing itu?" tanya Jarwo, yang mulai merasa kesal karena telah dipermainkan oleh Joko.
"Bukan urusan kamu, aku dapat dari mana kucing ini. Lagi pula, bukankah kamu sudah mengusir dia, kenapa juga masih meributkan," balas Joko.
"Kurang ajar kau! Rasakan ini!" Jarwo mengeluarkan kilatan cahaya berwarna biru, dan melesatkan ke arah Joko.
Joko segera mengeluarkan tongkat saktinya, dan menangkis kilatan-kilatan yang diberikan oleh Jarwo.
Jarwo akhirnya kewalahan, seketika dia pun menghilang.
"Sial, kemana dia?" gerutu Joko.
"Dia itu bisa menghilang, ya sudah ayo kita pergi," kata suara hati Nawang.
"Kamu bilang, aku suruh bunuh paman kamu itu."
"Ya memang benar, tapi kau urus dulu lah urusanmu, jangan setengah-setengah, nanti malah nggak fokus."
"Huft, okelah, sekarang kita lanjut ke pantai," kata suara hati Joko.
Kemudian Joko berjalan hingga tiba di pantai, dia duduk di sebuah batu besar, yang ada di dekat pantai.
"Paman kamu itu, sama dengan orang yang ada di mimpi-ku tempo hari," ujar Joko.
"Memang, benar ya? Kemarin kau mimpi bertemu paman-ku?"
"Buat apa juga aku berbohong."
"Ya mungkin kau terlalu memikirkan paman-ku, sampai terbawa mimpi."
"Dih, ngapain juga aku memikirkan paman kamu, memang dia pacar aku?"
__ADS_1
Kucing hitam itu merasa geli dengan ucapan Joko. "Kau ini memang lucu anak muda."
Joko pun terkekeh, dia menaruh kucing itu di atas batu. "Kamu tunggu sini ya, aku akan memanggil jin bucin itu."
"Okelah."
Joko berjalan ke arah hutan di seberang pantai, dia memanggil Rinjani.
Tak lama, muncullah asap putih, dan perlahan berubah menjadi sosok Rinjani.
"Bagaimana?" tanyanya.
"Kok malah tanya, justru aku yang seharusnya bertanya sama kamu," ujar Joko.
"Anda ingin bertanya apa?"
"Masalah jasad."
"Bukankan saya sudah menyuruh anda, untuk mencarinya?"
"Iya benar, tapi kalau nggak ada petunjuk, mana bisa aku tahu di mana keberadaan jasad kamu itu."
"Hem, saya pun tak tahu," sahut Rinjani pasrah.
"Haduh, kamu ini aneh, kamu kan hantu, masa nggak tahu keberadaan jasad kamu sendiri."
"Kalau pun saya tahu, buat apa juga saya menyuruh anda yang mencari."
Joko menepuk keningnya. "Apa kamu sama sekali nggak punya petunjuk sedikitpun, mengenai jasad kamu sendiri.
Rinjani menggeleng lemah, Joko pun merasa heran dengan sikap Rinjani.
"Terus, bagaimana caranya aku menemukan jasadmu, kalau kamu sendiri nggak punya petunjuk sama sekali?"
"Saya memang tak tahu, sepertinya jasad saya memang sengaja disembunyikan, biar saya mati tak tenang."
"Tapi, siapa yang menyembunyikannya? Apa kamu punya musuh?"
"Kalau musuh, saya sepertinya tak punya, tapi ... Ah entahlah, saya pun tak paham."
"Duh, Rin, kamu ini bagaimana sih? Ya sudah begini saja, coba kamu ingat-ingat sekali lagi, waktu detik-detik kematian kamu, dan terakhir kejadian."
Rinjani menggeleng lagi. "Saya tak dapat mengingat apapun."
"Hem, dasar jin bucin, bisa-bisanya menyuruh orang tanpa memberi petunjuk sedikitpun."
"Saya memang tak paham, tapi saya yakin, anda pasti sedikit-sedikit pernah dapat petunjuk, entah apa itu."
Joko mengerutkan keningnya. "Maksud kamu gimana?"
"Ya masa anda sendiri tak ingat, mungkin kapan anda pernah melihat kejadian aneh, atau ganjil."
Joko bertambah heran. "Duh, Rin, kamu bikin aku tambah bingung."
"Sama, saya pun lebih bingung, jadi intinya jasad saya terperangkap di sebuah tempat."
Joko terlihat sedang berpikir keras, bagaimana caranya agar dapat menemukan jasad Rinjani.
__ADS_1
"Begini saja, besok malam kamu bersiap ya, aku akan mencoba menerawang, apa yang terjadi denganmu di masa lalu, itupun kalau aku mampu, karna aku sendiripun nggak yakin dengan kemampuan-ku, karna aku punya kekuatan hanya untuk melindungi diri dari kejahatan saja, itu yang aku tahu, kalau buat yang lainnya, aku belum yakin."