
"Ya sudah, aku akan kembali ke tempat teman-ku," kata Joko.
Arwah Eli pun menghilang.
Joko membalikkan tubuhnya, dan berjalan memasuki lift hingga sampai di lantai sebelas.
Dia pun memasuki ruangan Leon.
"Gimana, Jok?" tanya Leon.
"Ternyata ada perempuan bunuh diri di lantai delapan, Le," kata Joko.
"Hah? Kamu lihat, Jok?" Leon terbelalak.
"Kalau nggak lihat, mana aku tahu, Le, kalau ada orang bunuh diri."
"Ya, maksud aku, kok kemarin aku nggak lihat apa-apa ya, waktu aku buka pintu ruangan itu, kosong nggak ada siapa-siapa, apa lagi orang bunuh diri, sama sekali nggak lihat aku," tutur Leon.
"Dia itu gantung diri, mungkin kamu nggak lihat, orang dia di atas."
"Oh gantung diri, berarti kamu lihat dia sedang gantung di atas gitu?"
"Ya enggak gitu juga, Le, menurut penerawangan-ku, dia itu gantung diri pakai tali tambang, nah talinya tuh sudah usang, jadi putus deh, dan dia jatuh dari atas, kepalanya terbentur lantai, itu yang aku lihat."
"Oh, berarti kamu lihat dia sudah jatuh di bawah?"
"Iya, Le," kata Joko, dia sengaja tak menceritakan kondisi mayat yang dia lihat, karena khawatir, temannya itu jadi terus kepikiran, hingga tak tenang dalam bekerja.
"Ih serem ya, Jok, terus kamu pasti lihat arwahnya ya?"
"Tentu saja, Le."
"Nah, arwahnya bilang apa, Jok? Kan katanya kamu bisa komunikasi sama hantu."
"Dia katanya pacarnya Rubi."
"Apaaa? Rubi yang di lantai dua puluh itu?"
"Benar, dan dia katanya melihat Rubi selingkuh sama perempuan lain, dan dia merasa sakit hati, terus akhirnya bunuh diri deh."
"Wah, kasihan sekali, terus gimana tuh, Jok?"
"Ya dia suruh aku bantu dia, intinya si Rubi suruh tanggung jawab, atas kematian dia, ya maksudnya, arwah perempuan itu ingin jasadnya dikubur dengan layak."
"Terus gimana, Jok?" Leon semakin penasaran.
"Terus ya nabrak, Le," kelakar Joko, sambil menahan tawa.
"Nabrak gimana maksud kamu, Jok?"
"Lha kamu bilang terus-terus saja, kalau terus-terusan ya akhirnya nabrak hahaha!"
"Huuu, kamu ini, Jok, nggak lucu ah."
"Bercanda, Le, jangan terlalu serius, nanti stress, hehe," kekeh Joko.
__ADS_1
"Hehe, iya, Jok, terus apa rencana kamu selanjutnya?"
"Sudah kamu tenang saja, itu urusan aku, yang penting dia sudah nggak mungkin ganggu kamu lagi."
"Kok kamu bisa yakin, Jok?"
"Ya kan aku suruh."
"Suruh gimana, Jok?"
"Ya aku suruh dia jangan ganggu kamu lagi."
"Oh gitu ya, ya sudah kalau gitu, aku bisa kerja dengan tenang."
"Ya sudah aku tinggal dulu, Le."
"Lho, kamu mau ke mana, Jok?"
"Ya ampun, Le, ya mau mengurus itu arwah lah, kamu ini gimana sih, Le."
"Hehe, ya sudah, Jok, tapi bener kan, suara minta tolong itu sudah nggak ada lagi?"
"Beneran, Le."
"Oke lah, Jok," kata Leon.
Joko pun berjalan masuk ke lift, dia ke lantai bawah, sampai di lantai bawah, dia keluar apartemen, kemudian berjalan hilir mudik, kesana dan kemari.
"Duh, aku harus gimana ya," batinnya.
Cukup lama Joko berpikir, akhirnya dia menemukan sebuah ide. Joko pun kembali masuk ke dalam, dan menuju ke ruangan Leon, Joko membuka pintu.
"Le, di sini ada kertas sama bolpoint?"
"Oh ada nih, Jok," Leon pun menyerahkan selembar kertas dan bolpoint, dan Joko menerimanya.
Kemudian, Joko terlihat tengah menulis sesuatu, kemudian, dia segera menuju ke lantai dua puluh. Sampai di lantai dua puluh, Joko langsung menuju ke ruangan kerja milik Rubi.
Tok ... tok ... tok ....!
Joko mengetuk pintu dan tak lama, pintu terbuka, dan keluarlah Rubi, dia menatap Joko dengan heran.
"Siapa ya?" tanyanya.
"Maaf, Mas, saya sisuruh oleh mbak Eli," jawab joko.
"Mbak Eli?" Rubi tampak mengingat sesuatu.
"Lho, mas kenal Eli?"
"Eh, iya saya temannya, terus saya disuruh menyampaikan ini sama mbak Eli," kata Joko sambil menyerahkan lipatan kertas.
Rubi pun menerimanya. "Eh, makasih ya, Mas."
Joko mengangguk. "Kalau begitu, saya permisi dulu."
__ADS_1
"Iya, Mas, silahkan."
Joko pun pergi meninggalkan Rubi, sedangkan Rubi membuka lipatan kertas tersebut, di dalamnya berisi tulisan :
"Mas, sebelumnya aku minta maaf kalau sudah mengganggu kamu, tapi aku minta tolong sekali ini saja, aku terkunci di lantai delapan, jadi tolong aku ya, bukakan pintu."
By : Eli
Kedua bola mata Rubi membulat seketika, kemudian Rubi segera menuju ke lantai delapan, dan dia pun berjalan ke arah ruangan di sana, lalu dia membuka pintunya. Betapa terkejutnya Rubi, melihat tubuh Eli sudah tergeletak kaku, dengan darah berceceran yang telah mengering.
Rubi segera menghampiri tubuh Eli, dia menangis sejadinya.
"Ya Tuhan El, kenapa bisa begini? Maafkan aku ya, kalau aku sudah mengkhianatimu," isaknya.
Akhirnya, Rubi pun mengurus mayat Eli. Sementara di ruangan Leon, arwah Eli menampakan dirinya di hadapan Joko, dia tersenyum, dan mengucapkan terimakasih.
Joko pun membalas senyumnya, kemudian arwah Eli pun menghilang, seketika aroma melati menyeruak di dalam ruangan itu.
"Kok bau melati ya, Jok," ujar Leon.
"Nggak apa-apa, Le, dan sekarang kamu bisa bekerja dengan tenang, karna aku jamin, kamu nggak akan mendengar suara misterius itu lagi."
"Yang benar, Jok?"
"Kapan aku pernah bohong, Le?"
"Hehe, iya deh, Jok, makasih ya."
Joko pun mengangguk. "Ya sudah, aku pulang dulu."
"Iya, Jok, hati-hati, mobilnya bawa saja, besok aku pulang jalan kaki saja, dekat kok."
"Oke, Le," kemudian Joko segera berlalu dari hadapan Leon, sebelum keluar apartemen, Joko kembali ke lantai delapan, dia masuk ke dalam ruangan itu, lalu menggantungkan bungkusan berisi tulang babi, di atas pintu.
Setelah itu, dia pun keluar apartemen, dan berjalan menuju ke parkiran mobil, kemudian dia masuk ke dalam mobil, dan mengendarai mobilnya.
"Huft, akhirnya selesai juga tugas-ku, tinggal tugas selanjutnya, aku harus mencari jasad jin bucin itu dulu, baru deh berurusan sama pamannya Nawang," batinnya.
Joko terus mengendarai mobilnya, hingga tiba di penginapan. Joko pun turun dari mobil, dan masuk ke dalam. Di ruang depan, dia melihat Nawang sedang meringkuk.
"Kasihan sekali ni kucing, pasti kedinginan," batinnya.
Kemudian Joko masuk ke dalam kamar, dan mengambil salah satu baju miliknya, kemudian kembali ke ruang depan, dan menyelimuti tubuh kucing itu, dengan bajunya.
Joko menatap sejenak kucing hitam itu. "Comel juga ya, kalau di lihat-lihat," batinnya.
Kemudian, Joko masuk ke dalam kamarnya, dan merebahkan tubuhnya di samping Franky.
"Sebenarnya, aku ingin menemui Rinjani, tapi hari ini aku capek sekali, besok saja deh, semoga saja besok nggak ada gangguan lagi, huft."
Joko menghembuskan nafas kasarnya, dan tanpa sadar, dia pun terlelap dalam tidurnya, ditemani suara dengkuran lembut Franky.
Malam semakin larut, dan semua insan telah masuk ke alam mimpi, namun tidak dengan Leon, dia masih terjaga di apartemen tempatnya bekerja, tapi kali ini dia merasa lega, karena tak lagi mendengar suara misterius itu lagi.
Leon pun dapat berjaga malam dengan tenang, dia duduk di dalam ruangannya, bertemankan acara televisi dan secangkir kopi hitam yang baru saja dia buat di dapur apartemen itu.
__ADS_1