
"Bagaimana ini, Nawang? Aku akan menjemput roh Franky, kira-kira berhasil nggak ya?" raut wajah Joko memancarkan kecemasan.
"Kau lupa ya, kalau cincin yang aku kasih itu bisa melindungimu? Pergilah, bawa kembali roh teman kamu, dan kembalikan ke dalam raganya, kamu harus yakin, Joko."
Joko pun memperhatikan cincin pemberian kucing itu, yang kini melingkar di jari tengahnya.
"Terus bagaimana cara kerja cincin ini?"
"Kamu bisa menggosok batu cincin itu, ketika kau membutuhkan pertolongan."
"Okelah, kalau begitu."
Tak terasa, adzan subuh pun berkumandang.
"Ini saatnya, Joko, kau harus pergi menjemput roh temanmu itu, aku pernah mendengar, bahwa roh yang tersedot ke dimensi lain, hanya bisa bertahan selama empat puluh hari saja, jika lebih dari itu, mereka akan terperangkap selamanya di dimensi itu."
"Empat puluh hari? Berarti sekarang masih ada waktu tiga puluh sembilan hari lagi," ucap Joko antusias.
"Tapi ...." Ucapan Nawang terputus.
"Tapi apa, Nawang? Ayo bicaralah, apa yang kamu ketahui tentang dimensi lain itu."
Dengan berat hati, Nawang melanjutkan ucapannya ....
"Saat kau sudah masuk ke dunia mereka, satu hari di sana, itu sudah berjalan lebih dari tiga hari di dunia manusia," kata suara hati kucing itu, yang kemudian menunduk, dia merasa bersalah dan menyesal, karena tak bisa mencegah Franky melepas sukmanya.
"Hey, kamu nggak perlu merasa bersalah gitu, kamu kan nggak ada hubungannya sama masalah ini, justru ini sudah jadi tanggung jawabku, karna aku yang mengajak Franky ke sini."
"Aku akan membantumu, Cu ...."
Tiba-tiba sebuah asap mengepul di dalam ruangan itu, dan membentuk sosok lelaki tua, dia adalah leluhur Joko.
"Aki?" lirih Joko.
"Ya, aku akan membantu semampu ku, supaya cucu bisa membawa pulang kembali roh teman cucu."
"Aku akan menemanimu ke sana," ucap suara hati Nawang.
Joko hanya melirik ke arah Nawang, kemudian mengangguk.
Lelaki tua itu pun menatap intens ke arah kucing hitam itu.
"Kasihan dia, cantik-cantik malah dikutuk menjadi kucing, semoga suatu hari nanti, kutukan itu segera hilang," gumamnya lirih.
Kucing hitam itu hanya mengangguk, mendengar ucapan lelaki tua itu.
"Hah? Jadi Aki tahu, kalau ini hanyalah kucing jelmaan?"
__ADS_1
"Kamu itu, Cu, seperti tak tahu saja, aku ini siapa?" ledek lelaki tua itu.
"Oh iya ya, hehe." Joko meringis, sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.
"Apakah cucu yakin? Dan benar-benar sudah siap, untuk masuk ke dimensi lain?" tanya lelaki tua itu.
"Yakin Aki, pokoknya teman saya harus kembali."
"Ya sudah, kita masuk ke kamar kamu," perintah lelaki tua itu.
"Baik, Aki."
Joko pun menggendong kucing itu, dan berjalan menuju kamarnya, diikuti oleh lelaki tua yang merupakan leluhur dari Joko, dia mengekor di belakang.
Joko dan lelaki tua itu masuk ke dalam kamar, di sana Leon sedang duduk di samping tubuh Franky.
Leon heran melihat sosok lelaki tua, yang datang bersama Joko.
"Dia siapa, Jok?" tanyanya.
"Ini kakekku, Le, yang akan membantuku menjemput roh Franky.
"Oh, begitu," angguk Leon.
"Ya sudah, sekarang cucu berbaringlah," perintah lelaki tua itu.
"Kalau saran saya, sebaiknya cucu pergi sendiri, karna kalau terlalu banyak manusia, semakin besar juga resikonya, dan cucu juga tidak perlu membawa kucing."
Joko pun mengangguk, mengiyakan ucapan leluhurnya.
"Ya sudah, apakah kamu sudah siap?"
Joko mengangguk.
"Baiklah, sekarang pejamkan matamu."
Joko pun memejamkan matanya, tiba-tiba tubuhnya terasa ringan sekali, kemudian, ada suara yang meminta Joko untuk membuka matanya.
Ketika Joko membuka mata, dia benar-benar terkejut, karena kini telah berada di sebuah hutan yang lebat dan gelap.
"Di mana aku?" batinnya, sambil terus berjalan perlahan.
"Ikuti cahaya di depanmu!"
Joko mendengar suara leluhurnya, namun tak dapat melihat wujudnya. Dia memandang sekitar, samar-samar dia melihat seberkas cahaya terang, tepat di depan matanya. Cahaya itu bergerak maju, dan Joko pun mengikutinya dari belakang, sesekali dia merasa cemas juga.
"Tak perlu takut, Cu, aku akan mengawasi perjalananmu," ucap leluhur Joko, yang masih tak menampakan wujudnya.
__ADS_1
"Grrr ...."
Joko mendengar suara erangan makhluk, yang sepertinya tahu akan keberadaan Joko.
"Terus saja jalan, jangan kau hiraukan suara-suara yang tak jelas," ucap leluhur Joko.
Joko pun terus berjalan lurus, mengikuti arah cahaya yang bergerak di depannya. Dia menyusuri semak belukar, di bawah pohon-pohon besar. Saat itu hari masih malam, dan gelap.
Tak terasa, perjalanan Joko sudah jauh, hingga tampak sebuah cahaya yang cukup menyilaukan, pertanda pagi telah datang.
"Sudah pagi, apakah aku sudah sampai?" gumam Joko.
Namun suasana hening, dan tak terdengar lagi jawaban dari leluhurnya.
Akhirnya Joko memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya sendiri.
Tak lama, Joko pun sampai di sebuah desa tua, dan Joko yakin, bahwa dia harus memasuki desa itu. Perlahan Joko berjalan, memasuki desa itu.
Desa itu sangat sepi, tak ada seorang pun yang di temuinya.
Joko terus berjalan di dalam desa tanpa penduduk itu, dia melihat rumah-rumah berjajar, masih terbuat dari bilik bambu, dengan atapnya dari daun pisang kering.
Sayup-sayup, Joko mendengar suara orang sedang menyapu halaman. Joko mencari asal suara itu, kemudian dia melihat seorang wanita paruh baya, sedang menyapu halaman rumahnya.
"Permisi, Bu, saya mau bertanya." Joko memberanikan diri untuk berbicara.
Wanita itu menghentikan aktifitasnya, kemudian menatap intens ke arah Joko, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, kemudian dia menunjuk ke arah depan, dan Joko berpikir, bahwa dia harus melanjutkan perjalanannya, ke arah yang ditunjuk oleh wanita itu.
Joko pun tersenyum, dan mengucapkan terimakasih kepada wanita itu, kemudian dia kembali berjalan lurus ke depan. Masih sepi, belum tampak seorang pun di desa itu.
"Sebenarnya ini tempat apa sih, kenapa nggak nemu manusia juga, hanya ibu yang menyapu halaman saja tadi," gumam Joko dalam hati, kemudian iseng-iseng menoleh ke belakang, arah di mana bertemu dengan sosok ibu yang sedang menyapu.
Alangkah terkejutnya Joko, ketika tempat yang baru saja dilihatnya sudah kosong, bahkan suara sapu pun tak terdengar lagi di telinga Joko.
"Hah? Cepat sekali perginya si ibu, ah mungkin dia sudah masuk ke dalam rumahnya," batin Joko, dia berusaha menepis pikiran buruknya.
Joko pun kembali melanjutkan perjalanannya, dia terus melangkahkan kakinya, dan kali ini dia kembali bertemu dengan seorang kakek tua, yang sedang berjalan membungkuk, sambil membawa tongkat di tangannya.
"Permisi, Kek, saya mau tanya ...."
Namun ucapan Joko terhenti, tatkala dia melihat kakek itu menganggukan kepalanya, kemudian pergi begitu saja.
"Hah? Aneh sekali sih kakek itu, apa dia nggak mau aku ajak bicara ya, huft."
Suasana di desa itu benar-benar sepi, Joko pun merasa heran.
"Aku harus menemukan roh Franky di mana ya?" Joko bertanya dalam hati.
__ADS_1