
Masa sih, Rindi jadi seperti itu, Fran?" tanya Nurdiana.
"Betul nyonya, yang lebih aneh lagi, kalau di dekat Rindi, aku suka merinding gitu."
"Hah? Jangan-jangan... hiiiyyy." Leon bergidik ngeri.
"Jangan-jangan apa Le?" Franky mulai penasaran.
"Eh enggak kok, Fran, hehe." Leon terkekeh, dia tak mau berbicara, yang menurut dia belum benar adanya.
"Ah kamu ini Le, selalu begitu."
Leon hanya meringis.
"Ya sudah, besok saya coba ke rumah Rindi, saya akan bujuk lagi dia, supaya mau kembali lagi kerja di kantornya, sayang lho, karna dia juga sudah naik jabatan, masa di lepas begitu saja."
"Iya, Nyonya, semoga ada titik terang, dan kita secepatnya tahu, ada apa di balik perubahan sikap Rindi," kata Franky.
"Ada apa ini? Kok sepertinya serius sekali."
Sebuah suara mengejutkan mereka bertiga.
Nurdiana pun menoleh.
"Eh kamu sudah pulang, Pak."
"Iya nih, Bu, tadi jalannya nggak macet, jadi lancar pulangnya, oh iya kalian lagi pada membicarakan apa sih?"
"Sini duduk dulu, Pak, ibu akan ceritakan," kata Nurdiana.
Abdul Rozaq pun duduk, bergabung bersama mereka dan Nurdiana pun menceritakan tentang perubahan sikap Rindi, setelah sembuh dari koma.
Abdul Rozaq mengernyitkan dahinya.
"Masa sih sampai segitunya?"
"Benar, Pak." Nurdiana meyakinkan.
"Apa itu efek dari koma yang berpanjangan ya? Kan Rindi koma dua bulan lebih," sambung Franky.
"Ya.. saya kurang tahu juga sih, karna saya sendiri pun belum pernah bertemu dengan orang yang pernah koma, jadi ya nggak tahu menahu soal sikap orang yang baru sembuh dari koma."
Franky dan Leon saling berpandangan, kemudian mereka mengangkat kedua bahunya.
"Ya sudah, jangan terlalu di pikir sangat, nanti kalian stress lagi, lebih baik kita minum kopi hitam," Nurdiana mencairkan suasana.
"Wah, mantap tuh, Bu, ya sudah saya mandi sebentar ya," ucap Abdul Rozaq.
Nurdiana pun berjalan ke dapur, dia menggoreng pisang, dan menyeduh empat cangkir kopi hitam, lalu membawanya ke ruang depan.
Bertepatan dengan itu, Abdul Rozaq telah selesai mandi.
Mereka berempat pun menikmati makanan dan minuman buatan Nurdiana.
Tak terasa hari menjelang sore, Franky pun berpamitan pulang.
Sampai di rumah dia terkejut karena Rinjani telah berdiri di depan pintu.
__ADS_1
"Lho, kamu kapan datang Rin?" tanya Franky setengah heran.
Rinjani tersenyum penuh makna.
"Baru saja kok."
"Terus, kamu naik taxi lagi?"
"Em.. saya pun tak tahu, Fran, kenapa sejak sembuh dari koma, saya tak bisa lagi naik motor." jawab Rinjani berbohong.
Jin seperti Rinjani memang tak dapat mengendarai sepeda motor, lagi pula cara itu sangat ribet baginya, dia lebih menyukai cara yang praktis yaitu hanya dengan mengerjapkan kedua matanya dan sampailah dia kemana pun dia mau.
"Masa sih, Rin?" Franky terbelalak.
Rinjani mengangguk pelan, seolah meyakinkan Franky.
"Ya sudah, ayo kita masuk."
Rinjani pun mengekor di belakang Franky masuk ke dalam rumah.
Dari kejauhan sepasang mata mengintai mereka berdua, dia adalah Roy playboy di desa itu.
"Enak sekali si Franky, setelah putus sama Nila, dia sudah dapet perempuan lagi, aku harus bisa merebut pacar baru Franky," batinnya.
Di dalam rumah, Franky menyuruh Rinjani duduk, dan Franky pun masuk ke dalam kamarnya, lalu keluar lagi dengan membawa sebuah laptop.
Franky duduk di sebelah Rinjani dan membuka laptop itu.
"Eh Rin, aku kok heran ya."
Franky menunjukkan isi laptopnya ke Rinjani.
"Ini lho, aku tuh sepertinya nggak merasa kalau sudah merilis novel baru aku, tapi kenapa selalu sudah jadi dengan tiba-tiba, padahal aku nggak merasa menulis, tapi saat aku cek ini benar-benar tulisan tangan dan ideku sendiri, kan aneh."
Rinjani tersenyum penuh arti.
Ternyata sebenarnya yang selalu membuat novel hingga selesai adalah Rinjani sendiri dengan segenap kemampuannya, dia menuangkan semua ide-ide yang bermunculan di dalam benak Franky menjadi sebuah buku yang bagus dan sempurna, dan Rinjani pun membuat seolah-olah itu adalah tulisan tangan Franky.
Rinjani melakukan itu semua semata-mata karena wujud cinta dan perasaannya terhadap Franky. Entah apa alasannya Rinjani sudah gila akan cinta Franky.
"Kamu kenapa, Rin? Kok senyum-senyum sendiri?" tanya Franky yang sedari tadi memperhatikan mimik wajah Rinjani.
Wajah Rinjani merona.
"Eh.. itu, Fran, saya merasa lucu saja sama anda."
"Lucu kenapa memangnya?"
"Ya anda ini sangat lucu, masa menulis novel sendiri tapi lupa kalau pernah menulisnya."
Franky mencoba mencerna kata-kata Rinjani.
"Apa benar, aku sudah menulis ini semua? Tapi kapan ya?" gumam Franky lirih.
"Tuh kan, anda lucu sekali," Rinjani tertawa kecil.
Franky pun menggaruk kepalanya yang tak gatal, merasa bahwa hidupnya itu penuh dengan misteri.
__ADS_1
"Ya, mungkin aku sudah tua ya Rin, jadi pelupa."
"Tua tak apa, yang penting masih good looking," puji Rinjani.
Franky seakan melayang di puji seperti itu.
"Kamu ini perempuan, tapi pandai menggombal, Rin."
"Oh jadi yang pandai menggombal itu hanya laki-laki ya?"
"Ya rata-rata sih," seloroh Franky.
Rinjani tersenyum sekali lagi.
"Oh iya, Rin, kamu sabar ya, aku sedang mengurus surat perceraian dengan istriku Soraya, sejak Soraya meninggal aku belum mengurus status pernikahanku karna aku sibuk merilis novel. Maksudku biar statusku berubah jadi duda dulu baru aku nikahin kamu."
"Iya, Fran, saya sabar sekali kok menunggu anda."
Franky terenyum gembira, dan menatap lekat ke arah Rinjani. Franky seketika menjadi bergairah dan perlahan Franky mendekatkan bibirnya ke bibir Rinjani.
Dan bibir mereka berdua pun saling memagut.
Tengah asik berpagutan, tiba-tiba angin dingin berhembus menyeruak masuk, menerpa wajah Franky hingga dia menghentikan aktifitasnya, seketika bulu kuduknya meremang.
Tanpa sadar, netranya mengarah ke sosok perempuan yang mirip kuntilanak, berwajah rusak, dan berbaju putih lusuh, sosok itu menatap tajam ke arah Franky, kemudian sosok itu menyeringai hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih kekuningan. Di antaranya terlihat gigi taring yang memanjang.
Franky bergidik ngeri namun sosok itu justru senang dengan ketakutan Franky, sosok itu pun terkekeh.
"Ada apa, Fran? Kok anda tegang begitu," tanya Rinjani keheranan.
"I.. itu Rin, di belakang kamu," tunjuk Franky dengan bibir gemetar.
Rinjani menoleh ke belakang, dan dia pun membalikkan tubuhnya menghadap sosok tersebut.
Tanpa sepengetahuan Franky mulut Violetta pun berkomat-kamit membaca sebuah mantera, setelah itu dia terlihat mengeluarkan cahaya dari dalam mulutnya dan menyemburkannya ke arah sosok wanita yang mirip dengan kuntilanak tersebut.
Dan seketika sosok itu pun menghilang.
"Sudah hilang, Fran, tidak ada siapa-siapa lagi," kata Rinjani.
Franky tertegun dan menoleh ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan sosok itu.
"Kemana dia?"
"Sudah, buat apa juga dicari, dia sudah pergi."
"Iya, Rin."
"Ya sudah, saya pamit pulang dulu ya, besok saya ke mari lagi."
"Aku antar kamu, Rin."
"Tak perlu, saya ingin pulang sendiri, anda pasti lelah kan, beristirahat lah."
Franky pun pasrah melepas kepergian Rinjani.
"Kenapa dia nggak mau aku antar ya? Ini kan sudah hampir malam, dan lagi dia itu perempuan," batin Franky.
__ADS_1