Pulau Abadi

Pulau Abadi
Kematian Roy


__ADS_3

Seketika Franky menjadi dejavu.


"Kok aku seperti pernah kenal sama perempuan, dan dia pun selalu mengajak bertemu malam-malam, terus nggak pernah mau bertemu kalau siang, dan dia juga nggak pernah mau kalau aku antar pulang, tapi.. di mana ya aku bertemu perempuan itu?"


Franky membatin sambil berusaha mengingat kembali peristiwa yang pernah dia alami, namun semakin dia berusaha mengingat hal itu semakin kepalanya merasakan sakit yang luar biasa.


"Au! Kenapa kepalaku mendadak sakit begini? Ah sudah lah, mungkin aku hanya bermimpi bertemu perempuan yang mirip dengan Rindi."


Franky pun masuk ke dalam kamarnya, dia hendak beristirahat malam itu.


Sementara itu di tengah jalan Rinjani terus berjalan, dia menghentikan langkahnya, karena merasa di ikuti oleh seseorang.


Rinjani pun menoleh.


Ternyata Roy diam-diam mengikutinya.


"Untuk apa anda mengikuti saya?"


"Eh enggak, itu.. aku hanya ingin mengantar kamu pulang, nggak baik lho seorang perempuan malam-malam begini berjalan sendirian," kata Roy mencari alasan.


Rinjani merasa geram dengan Roy.


"Ini manusia mengganggu sekali, lebih baik aku musnahkan saja," batinnya.


"Benarkah anda mau mengantar saya pulang?" tanya Rinjani disertai senyum smirk.


"Iya, aku mau sekali," angguk Roy dengan antusias.


"Kalau begitu, mari ikut saya."


Roy segera mengikuti Rinjani dengan senang hati dan Rinjani pun mengerjapkan matanya dan dalam sekejap mereka telah tiba di sebuah rumah.


Rinjani menyuruh Roy masuk dan duduk.


Raut wajah Roy terlihat keheranan.


"Kok tiba-tiba sudah sampai di sini, kapan ke sininya ya? Perasaan tadi sedang jalan deh," gumam Roy dalam hati.


Namun perasaan itu segera di tepis oleh Roy, dia berpikir karena terlalu senang, sampai tak terasa sudah sampai di rumah wanita itu.


Rinjani tak menghiraukan suara hati Roy, dia duduk di samping Roy.


Roy sangat gembira sekali, dia mengajak Rinjani mengobrol.


Roy tak henti-hentinya menatap Rinjani dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Gila, cantik sekali dia," batin Roy.


Tanpa sadar tangan Roy merangkul pundak Rinjani namun Rinjani hanya tersenyum.


Melihat kecantikan Rinjani yang mempesona, timbul niat nakal dalam benak Roy.


Tanpa basa basi Roy mendekatkan bibirnya dan memagut bibir Rinjani.

__ADS_1


Rinjani membalasnya dengan santai.


Ketika lidah Roy bermain di dalam mulut Rinjani, dia merasakan sesuatu menjepit erat lidahnya.


Roy meringis kesakitan namun dia tak berhasil melepaskan lidahnya.


"Duh, sakit sekali, kenapa ini?" batinnya.


Tiba-tiba lidah Rinjani memanjang, dia memasukkan lidahnya hingga ke dalam tenggorokan milik Roy. Mata Roy terbelalak, dia merasakan kesakitan yang luar biasa.


Lidah Rinjani terus bergerak hingga sampai di dalam dada Roy. Dan dengan lidahnya Rinjani mencabut jantung Roy dan mengeluarkannya lalu Rinjani melahap habis jantungg Roy dengan rakusnya.


"Aaaaarrrrggggghhhh!!!"


Terdengar suara teriakan yang menyayat hati dari mulut Roy.


Roy merasakan sesak pada dadanya, dia memegangi dadanya namun seketika nafasnya terhenti, dan tubuh Roy pun roboh dengan kedua bola mata menjulur keluar.


"Hahahaha!"


Tawa Rinjani menggelegar membuat merinding yang mendengarnya.


"Rasakan itu manusia sialan, anda sudah mengusik hidup saya!" seru Rinjani dengan suara lantang kemudian menghilang.


Keesokan harinya para penduduk di sekitar rumah Franky gempar, salah seorang dari mereka menemukan mayat Roy di sebuah pemakaman tak jauh dari rumah Franky.


Semua orang berkerumun di pemakaman itu dan menyaksikan jasad Roy yang kondisinya kini mengenaskan.


"Inalillahi, siapa yang tega berbuat seperti ini?" tanya pak Bani, ketua RT di desa itu.


Dia antara para warga yang sedang berkumpul berdiri seorang pemuda indigo bernama Tomo.


"Ini pasti ulah jin sialan itu," batinnya.


Kemudian dia melirik sinis ke arah Franky yang juga sedang ikut berkerumun.


Menyadari sedang di perhatikan oleh Tomo, Franky pun menunduk, dia merasa heran mengapa Tomo menatapnya dengan tatapan seperti itu kepadanya.


Begitupun dengan seorang anak bernama Shella, gadis indigo di desa itu, dia pun menatap intens ke arah mayat Roy kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Franky membuat Franky menjadi salah tingkah.


"Kenapa sih orang-orang pada memperhatikan aku, seolah aku yang membunuh Roy, padahal kan aku nggak tahu apa-apa," batinnya.


Akhirnya jenasah Roy di bawa ke rumah sakit untuk di otopsi, mereka tidak tahu-menahu dengan kejadian yang menimpa Roy bahkan mereka pun tak mengetahui bahwa jantung Roy telah lenyap, karena dokter yang mendeteksi mayat Roy pun seolah inderanya tertutup, jadi dokter hanya mengira kalau Roy meninggal di karenakan serangan jantung.


Akhirnya jenazah Roy di bawa pulang untuk di mandikan dan di doakan.


Setelah itu jenazah Roy di kebumikan dengan layak.


Selesai pemakamanvsatu persatu orang pun meninggalkan makam tersebut.


Kini yang tersisa hanya Tomo dan bu Suli yang masih menangis di pusara Roy.


Dari kejauhan terlihat Rinjani berdiri menatap ke arah makam Roy.

__ADS_1


Tomo yang menyadari kehadiran Rinjani pun balas menatap Rinjani dengan penuh kebencian.


"Awas kau Jin sialan, kau sudah membuat kekacauan di desaku," ucap suara hati Tomo.


"Anda mau balas dendam? Hahaha! Silahkan saja pemuda indogo," ucap suara hati Rinjani.


Tomo hanya diam dan berlalu meninggalkan makan itu, karena Tomo tak bisa mendengar suara hati Violetta. Konon yang dapat mendengar ucapan dalam hati seseorang hanyalah makhluk halus seperti Rinjani


Setelah puas menangisi Roy bu Suli pun pulang ke rumah dengan langkah gontai.


Rinjani masih berdiri di tempat pemakaman itu, dia menatap tajam ke arah makam Roy.


Tiba-tiba terdengar suara tanpa wujud, menggema di tempat Rinjani berdiri.


"Kau sudah berulah, bukankah kau di minta untuk melakukan tujuh kebaikan, tapi kau justru melakukan kejahatan!"


"Tapi dia sudah mengusik saya Ratu."


"Tapi tak sepantasnya kau berbuat seperti itu!"


Dan suara itu pun menghilang bersama hembusan angin.


Sementara Rinjani merasa kesal, dia pun mengerjapkan matanya dan dalam sekejap dia sudah berada di depan rumahnya.


Rinjani masuk ke dalam, di sana sudah ada Nurdiana sedang duduk di temani bu Mira di ruang tamu.


Rinjani menatap tajam ke arah Nurdiana.


"Duh, siapa lagi sih ini?" batin Rinjani.


Nurdiana dan bu Mira menoleh ke arah Rinjani.


"Rindi, dari mana saja kamu?" sapa Nurdiana ramah.


Rinjani tak menjawab, bu Mira pun menyuruhnya duduk.


Rinjani menurut saja apa yang di perintah oleh bu Mira, karena dia pun tak mau kalau mereka sampai curiga.


"Rindi, saya mau berbicara suatu hal," kata Nurdiana.


"Em, maaf bu, saya tinggal dulu ya," kata bu Mira, dia tak mau mengganggu perbincangan Rinjani dan Nurdiana.


"Oh ... silahkan bu," sahut Nurdiana.


Bu mira pun berlalu dari hadapan mereka berdua.


"Rin, kamu kenapa mengundurkan diri dari PT? Padahal, kamu kan sudah menjadi orang kepercayaan kami di PT itu."


"Maaf, saya sudah bosan bekerja di tempat itu," sahut Rinjani dengan nada datar.


Nurdiana mengerutkan keningnya.


"Hah? Bosan katamu? Tapi kenapa Rin? Bukankah jabatan kamu sudah naik, dan posisi kamu di PT itu, adalah hal yang sudah lama sekali kamu idamkan, lalu kenapa setelah semua impian kamu terwujud, kamu justru mengundurkan diri, ini aneh sekali."

__ADS_1


__ADS_2