Pulau Abadi

Pulau Abadi
Tertutupnya Pintu Gudang


__ADS_3

Perlahan, Franky membuka mata, dia bangun dan duduk di atas kasur.


"Aku di mana?"


"Kamu di kamar, Fran," sahut Joko, dia memang sengaja menutupi kejadian yang menimpanya, karena dia nggak mau temannya itu banyak pikiran.


"Sekarang jam berapa? Apa aku tidur lama sekali?" ucap Franky.


"Tentu saja lama, bayangkan, empat puluh hari, Fran," batin Joko.


"Sekarang jam sembilan pagi, Fran," sambung Leon.


"Oh masih pagi, aku lapar nih," kata Franky.


"Iya, Fran, kamu di sini saja ya, aku akan masak mie instan buat kamu, nanti siang baru kita cari nasi di luar, kalau sekarang masih pagi, belum ada warung nasi yang buka," tutur Joko.


"Tapi katanya, pak Yusuf jualan soto kalau pagi," kata Franky.


"Pak Yusuf libur hari ini, dia ada acara mendadak, jadi nggak jualan," Joko berbohong.


"Ya sudah, tapi aku saja yang masak, nggak enak merepotkan kamu terus."


"Ah enggak kok, Fran, aku nggak merasa direpotkan," kata Joko bersikeras.


Akhirnya Franky pun pasrah, Joko berdiri, dia mengambil bungkusan berisi mie instan pemberian bu Regina.


"Kamu mau dibuatkan sekalian nggak, Le?" tanya Joko kepada Leon.


"Eh boleh, Jok, hehe," jawab Leon malu-malu.


Joko pun keluar dari kamar, dia merasa heran, karena tak melihat Nawang dan juga lelaki tua, yang merupakan leluhurnya.


"Aki sama Nawang ke mana ya? Kenapa aku nggak lihat dia?" batinnya.


Di dalam kamar, Franky dan Leon menunggu Joko masak mie.


"Eh, Le, kok sepertinya aku tidur lama sekali ya? Nggak mungkin kalau hanya semalam, pasti lebih, sebenarnya aku kenapa, Le? tanya Franky penuh selidik.


Leon terdiam sejenak, dia bingung, karena dia dilarang oleh Joko, untuk memberitahukan yang sebenarnya kepada Franky. Dan Leon pun sudah berjanji, tak akan membocorkan kejadian yang sebenarnya kepada Franky.


"Ah, mungkin hanya perasaan kamu saja, Fran, atau kamu mimpi tidur panjang mungkin" ujar Leon.


Franky menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.


"Hem, iya, Le, mungkin saja aku bermimpi tidur lama sekali, hehe."


Saat melewati gudang misterius, Joko menoleh ke arah gudang itu, dia heran, karena pintu gudang telah tertutup kembali.

__ADS_1


Joko terus berjalan ke arah dapur, di sana dia melihat Nawang sedang meringkuk di sudut dapur, dengan mata terpejam.


"Ck, ck, ck, kasihan sekali kamu, pus, aku tinggal lama ya, maafkan aku ya."


Nawang membuka mata perlahan. "Kau sudah kembali anak muda," ujarnya.


"Iya, dan roh Franky pun sudah kembali ke raganya, oh iya ... apa kamu tahu si aki pergi ke mana?"


"Tentu saja dia sudah kembali ke alamnya, dia kan hanya menuntunmu saja mencari roh teman kau itu."


"Oh begitu, ya sudah aku akan masak mie dulu, oh iya kamu mau makan apa? Maafkan aku ya, sejak aku pergi ke alam lain, aku nggak pernah memberi makan kamu."


"Ah, kau tak perlu memikirkan itu, dengan wujudku yang sekarang ini, aku bisa tahan nggak makan berhari-hari, beda seperti manusia, yang kalau nggak makan sehari saja, sudah lemas."


Joko pun terkekeh, kemudian dia mengambil panci untuk memasak mie dan mengisinya dengan air, lalu menaruhnya di atas kompor. Saat Joko hendak menghidupkan api, dia berasa ingin buang air, dan dia pun segera masuk ke dalam kamar mandi, yang letaknya hanya beberapa langkah saja.


Setelah Joko menunaikan hajatnya, dia pun keluar, dan berjalan menuju ke arah kompor, namun betapa terkejutnya dia, karena di dekat kompor, sudah tersedia tiga mangkuk berisi mie yang sudah matang. Joko pun membelalakan matanya.


"Hah? Perasaan aku belum masak mie nya, kenapa tiba-tiba sudah matang, ya?" batinnya.


Joko pun menoleh ke arah Nawang, kucing itu kembali meringkuk, dan memejamkan matanya. Joko merasa bingung, akhirnya dia membawa ketiga mangkuk mie itu, ke dalam kamar, dengan sebuah nampan yang telah tersedia.


"Ayo kita makan, Fran, Le," kata Joko.


"Lho, kok cepat sekali kamu masaknya?" tanya Leon penuh selidik.


Leon pun terkekeh, dan mereka bertiga pun menikmati mie instan itu. Selesai makan, Joko membawa ketiga mangkuk itu ke dapaur dan mencucinya hingga bersih. Setelah itu, Joko kembali ke dalam kamarnya, dan duduk di atas kasur, dia bergabung bersama kedua temannya.


"Fran, mulai sekarang kalau kamu ke kamar mandi, biar di temani Leon ya, jangan sendiri," kata Joko kepada Franky.


"Memang kenapa, Jok? Seperti anak kecil saja," sahut Feanky merasa heran dengan ucapan Joko.


"Kamu itu, memang masih anak kecil, Fran, baru sadar ya," kelakar Joko sambil menahan tawa.


"Yeee, enak saja kamu, Jok."


Joko dan Leon pun terkekeh.


"Pokoknya ingat pesan ku ya, Le?"


"Iya Jok."


Franky hanya menggeleng, merasa geli dengan tingkah Joko.


"Oh iya, Le, kamu selama ini gimana makannya?" tanya Joko sambil mengedipkan mata ke arah Leon, seolah mengisyaratkan sesuatu.


"Ya, aku diam-diam keluar, beli nasi sebentar, terus kembali lagi ke sini," jelas Leon.

__ADS_1


"Memang, kapan kamu keluar beli nasi, Le Bukannya kalau malam, sudah nggak ada warung buka, apa lagi warung nasi," tanya Feanky kepada Leon penuh selidik.


"Pas kamu sudah tidur pulas, Fran, aku lapar sekali, jadi aku ke rumah Bento, minta makan di sana," Leon berbohong.


"Ya ampun, Le, memalukan sekali, jangan minta-mintalah, nggak baik," kata Franky mengingatkan.


"Hehe, iya, Fran, besok lagi enggak kok," tutur Leon.


Joko pun menahan tawa, mengerti maksud Leon.


"Eh, kalian tunggu di sini ya, aku mau ke tempat bu Regina sebentar, ada yang mau aku bicarakan," kata Joko.


"Ya sudah, sana Jok," kata Leon.


Joko pun keluar kamar, dan menuju ke rumah bu Regina. Sesampainya, Joko mengetuk pintu rumah bu Regina.


Tak lama pintu terbuka, keluarlah bu Regina. "Eh kamu, ada apa? Bagaimana dengan teman kamu? Lama sekali nggak ada kabar."


"Baik, Bu ...." Joko pun menceritakan, perjalanan dia yang menjemput roh temannya itu."


"Hah? Apakah kamu orang sakti?" puji bu Regina.


"Ah Ibu bisa saja, ya kebetulan saya ada sedikit kemampuan mencari roh orang yang hilang hehe."


"Jadi, teman kamu itu, sekarang sudah sadar?"


"Sudah, Bu, dan pintu gudang pun sudah tertutup lagi."


"Oh, baguslah kalau begitu." Bu Regina merasa lega.


"Bu, kalau bisa pintu gudangnya dikunci yang rapat, biar nggak bisa dibuka, karena saya yakin sekali, kalau pintu itu hanya ditutup saja, kan?" usul Joko.


Bu Regina terbelalak, dia benar-benar tak menyangka, kalau Joko mengetahui tentang pintu itu.


"Maaf, besok akan saya usahakan untuk menggembok pintu itu, biar teman kalian nggak bisa membuka."


"Begini saja, Bu, apa Ibu punya palu sama paku besar?"


"Buat apa memang?" bu Regina mengerutkan keningnya.


"Itu, biar saya yang merapati pintu itu, biar nggak bisa dibuka gitu, itu pun kalau Ibu nggak keberatan.


"Oh justru saya sangat senang, kalau ada yang membantu. Ya sudah, sebentar saya ambilkan palu sama paku besar, di gudang banyak."


Joko mengangguk, dan bu Regina pun masuk ke dalam rumah, dan tak lama, bu Regina kembali lagi, dengan membawa bungkusan berisi palu dan paku di tangannya.


"Ini paku sama palunya, sebelumnya terimakasih ya?" kata bu Regina, sambil memberikan benda itu kepada Joko.

__ADS_1


"Sama-sama, Bu," sahut Joko, sambil menerima bungkusan dari tangan bu Regina.


__ADS_2