Pulau Abadi

Pulau Abadi
Kerasukan


__ADS_3

Malam hari pun tiba, Rindi sedang rebahan di atas kasur di dalam kamarnya.


Dia sedang termenung saat itu.


"Kenapa aku jadi memikirkan Franky ya? Tapi kalau boleh jujur, dia betul-betul laki-laki yang baik," batinnya.


Tiba-tiba angin kencang menyeruak masuk ke dalam kamar Rindi.


"Duh kenapa dingin sekali, padahal jendela sudah aku tutup."


Rindi pun bangun dari tidurnya, ketika dia hendak turun dari kasurnya, dia dikejutkan oleh sosok wanita di hadapannya, parasnya cantik, berpakaian kebaya dan kerudung berwarna serba putih.


Dia adalah Rinjani, makhluk gaib yang tinggal di Pulau Abadi.


Rindi terkejut.


"Siapa perempuan ini? Kenapa bisa masuk kamarku?" batinnya.


"Siapa kamu?"


Rinjani itu tersenyum.


"Aku ingin meminjam tubuhmu sebentar saja."


"Hah? Apa maksudnya?" Rindi mengerutkan keningnya.


Tiba-tiba Rinjani masuk ke dalam tubuh Rindi, seketika Rindi tak sadarakan diri, dia telah di rasuki oleh Rinjani.


Beberapa saat kemudian, Rindi yang tubuh dan jiwanya telah di rasuki oleh Rinjani siuman.


Saat itu waktu sudah menunjukan pukul dua belas malam, Rindi mengerjapkan matanya, dan dalam sekejab saja dia telah berada di depan rumah Franky.


Tanpa di sadari, Roy yang kebetulan lewat di depan rumah Franky, tanpa sengaja menoleh ke arah rumah itu.


"Hah? Siapa itu? Kok ada perempuan malam-malam begini, mau apa dia? Apa dia pacar Franky? Tapi kenapa bertamu kok jam segini? Seperti nggak punya etika saja," batinnya.


Tubuh Rindi pun menembus masuk ke dalam rumah Franky.


Sementara Roy yang menyaksikan hal tersebut terbelalak, dia pun mengucek kedua matanya, sambil terus memperhatikan rumah Franky.


"Apa aku nggak salah lihat? Dia nembus pintu itu," batinnya.


Seketika bulu kuduk Roy meremang.


"Kok aku mendadak jadi merinding gini ya," batinnya.


Akhirnya Roy mengambil langkah seribu, dia berlari sekencang mungkin, sampai di pos Ronda, Roy berhenti, nafasnya tersengal-sengal.


Di pos ronda itu ada tiga orang lelaki yang sedang berjaga, mereka adalah Parto, Tomo dan pak Ali.


"Kamu kenapa Roy? Kok lari-larian seperti di kejar hantu saja," tanya Parto


"Eh tahu nggak kalian?"


"Ya enggaklah Roy, kan kamu belum cerita, ah kamu ini lucu deh," kelakar Parto.


"Tadi aku lewat di depan rumah si Franky, terus aku nggak sengaja lihat perempuan, tapi dia masuk."

__ADS_1


"Lho memangnya kenapa? Biarkan sajalah, mungkin itu pacarnya si Franky, dia kan duda, wajar kalau punya pacar baru, siapa tahu bisa menggantikan istrinya yang sudah meninggal, kasihan dia hidup sendiri, sudah, kamu nggak perlu ikut campur sama urusan orang lain, nggak baik Roy," kata Parto.


"Betul Roy, atau jangan-jangan, kamu naksir lagi sama perempuan itu," sambung pak Ali.


Sedangkan Tomo hanya diam menyimak pembicaraan mereka, dia memang pria pendiam dan tak banyak berbicara.


"Yeee, siapa juga yang mau ikut campur, dengarkan dulu aku bicara, belum selesai sudah main samber saja."


"Memangnya ada petir? Kok bisa nyamber hehe," kekeh Parto.


"Ya sudah teruskan ceritanya," kata pak Ali.


"Perempuan itu nembus ke pintu terus ilang gitu, kalian paham kan?"


Parto dan pak Ali terkesiap, sedangkan Tomo hanya bersikap santai.


"Jadi, maksud kamu, pintunya tertutup tapi perempuan bisa masuk gitu?" tanya Parto.


"Iya To, seperti hantu di film-film gitu deh, bisa nembus tembok atau dinding."


Tiba-tiba angin berhembus sangat kencang dan menerpa tubuh keempat pria tersebut.


"Eh, kok aku jadi merinding ya," ujar Parto.


"Iya nih aku juga," kata pak Ali.


"Sama aku juga," Roy menimpali.


Mulut Tomo terlihat sedang berkomat-kamit, dan dalam sekejap angin pun berhenti berhembus.


"Sudah, jangan membahas perempuan itu lagi, biarkan saja dia mau berbuat apa, yang penting nggak mengganggu kita," celetuk Tomo.


*******


Sementara itu di rumah Franky, Rindi berjalan masuk menembus pintu kamar Franky.


"Franky.. Franky...."


Panggilan Rindi alias Rinjani itu membangunkan Franky yang sedang tertidur pulas.


Franky menggeliat, kemudian memicingkan matanya, samar-samar terlihat jelas sosok Rindi yang sedang berdiri di dekat tempat tidurnya.


Erlangga segera bangun dari tidurnya.


"Rindi?"


Rindi tersenyum.


"Kenapa kamu bisa ada di sini?" heran Franky.


"Itu nggak penting, sekarang mari kita bercinta, aku sangat merindukanmu."


Franky seolah terhipnotis oleh ucapan Rindi.


Rindi duduk di sebelah Franky, dia pun menyandarkan kepalanya di pundak Franky.


Jantung Franky berdetak kencang, iramanya tak beraturan, tubuhnya gemetar.

__ADS_1


Perlahan Franky mengusap surai Rindi, kemudian Franky meraih wajah Rindi, menjadi sejajar dengan wajahnya.


Rindi menatap tajam ke arah Franky.


Bibir mereka perlahan saling mendekat, kemudian lidah mereka saling bergulat di dalam sana.


Lima menit kemudian, mereka menghentikan aktifitasnya, Franky kembali menatap Rindi, kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Rindi.


"Rindi, i love you," bisik Franky.


Wajah Rindi merah padam, perlahan Franky membaringkan Rindi di atas kasurnya.


"Kenapa aku jadi bergairah gini?" batin Franky.


Setelah tubuh Rindi terbaring, Franky segera melucuti pakaiannya satu persatu, hingga tak sehelai benang pun melekat di tubuh Rindi.


Kemudian Erlangga mengecupi leher jenjang milik Rindi, lalu turun ke bawah, saat mengenai kedua buah, tubuh Rindi menggeliat.


Franky begitu menggebu, dia menikmati setiap keindahan tubuh milik Rindi, tanpa sadar pusaka Franky mengeras.


Saat Franky akan memasukan pusakanya, tiba-tiba adzan subuh berkumandang.


"Sial kenapa sudah pagi saja," umpat Rindi.


Dia segera bangun dan memakai kembali pakaiannya.


"Lho kenapa terburu-buru? Kita belum sampai ke puncak kenikmatan lho," bisik Franky lirih, dia sedikit kecewa.


"Maaf Fran, aku harus pulang."


Kemudian Rindi berjalan ke luar dan menghilang seketika.


"Rindi! Tunggu!"


Franky setengah berlari keluar kamar mengikuti Rindi, namun dia sangat terkejut ketika tak mendapati Rindi di sana.


"Aneh, cepat sekali perginya, kenapa dia buru-buru sih? Terus dia naik apa ya? Kok aku nggak dengar suara kendaraan pun," batinnya.


Franky berjalan ke dapur, dia membuat teh melati kemudian berjalan kembali ke ruang depan, dia duduk sambil menikmati teh yang baru saja di buatnya.


"Rindi, ah iya sepertinya dia perempuan yang tepat untukku, apa dia mau menikah sama aku ya?" Franky bertanya pada dirinya sendiri.


Kemudian Franky menyesap tehnya yang sudah hangat itu.


"Kalau Rindi bisa menjadi istriku, aku pasti senang sekali," pikirnya.


Tiba-tiba sebuah cahaya menyilaukan masuk melalui celah jendela di rumah Franky.


Franky memejamkan matanya karena merasa silau, dan seketika pandangannya menjadi gelap.


Beberapa saat kemudian, Franky membuka matanya, saat itu dia berada di dalam kamarnya, dia pun bangun dan duduk di tempat tidurnya.


"Kok aneh, perasaan aku tadi sedang minum teh, tapi kenapa tiba-tiba ada di kamar," batinnya.


Franky turun dari tempat tidurnya, dia berjalan keluar menuju ruang depan, dia terkejut karena melihat meja yang masih kosong dan tak ada gelas pun.


"Hah? Gelas tehnya sudah nggak ada, apa aku mimpi ya, Rindi? Oh iya tadi malam bukannya Rindi kesini ya."

__ADS_1


Franky terlihat sangat bingung.


__ADS_2