
Franky mengetuk pintu rumah Roy.
Tak lama pintu di buka, keluarlah Roy.
"Lho, Fran, tumben, ada apa?"
"Apa boleh aku masuk dan duduk?"
"Oh.. mari silahkan."
Franky pun duduk, sementara Roy duduk di sebelahnya.
Franky mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya, dan menyerahkan kepada Roy.
Roy terperanjat, selembar foto miliknya berada di tangan Franky, dia pun meraihnya.
"Kok kamu bisa punya fotoku, Fran?"
Akhirnya Franky menguak semua misteri yang menimpa dirinya.
Roy terkesiap mendengar pengakuan Franky.
"Duh, gimana nih, si Franky sudah tahu, kalau aku yang membunuh si Ririn," batin Roy.
"Kenapa kamu membunuh dia, Roy? Apa kamu nggak mikir dua kali, apa akibat dari semua perbuatanmu?"
"Eng.. aku khilaf, Fran."
Franky menatap intens ke arah Roy.
"Kalau boleh tahu, apa alasan kamu membunuh Ririn?"
"Kita pacaran sudah cukup lama, dan hubungan kita sudah sangat intim, suatu hari, tiba-tiba dia memintaku untuk menikahinya, karna dia hamil."
"Ya ampun, Roy, kenapa nggak kamu nikahin saja dia? Kan malah senang, kamu jadi punya istri, nggak bingung, ada yang melayani kamu."
"Nggak tahu, Fran, waktu itu aku gelap mata, karna aku juga belum siap menikah."
"Hem, itu karna kamu playboy, Roy, suka berganti-ganti perempuan tanpa memikirkan perasaan mereka," batin Franky.
"Aku hanya pesan, lain kali jangan begitu sama perempuan, kasihan kan mereka, dan jangan suka memberi harapan palsu."
"Iya, Fran, aku khilaf pokoknya."
"Berarti waktu kita makan di rumah makan bebek goreng itu, kamu memang sudah hapal sama tempat itu kan, Roy?"
"Eh i.. iya, Fran," gagap Roy.
"Haduh, Roy, pantas saja sikap kamu aneh gitu."
Roy meringis dan menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.
"Kalau saranku sih, Roy, kamu ke rumah makan itu dan minta maaf sama ibunya, kasihan ibunya sangat terpukul karna kehilangan anak satu-satunya, dan setelah itu pasti hidup kamu akan tenang, nggak diganggu sama arwah si Ririn lagi.
Deg!
__ADS_1
Jantung Roy berdegup kencang, dia tak menyangka kalau ucapan Franky memang sesuai dengan apa yang dia alami saat ini, hampir setiap malam Roy diganggu oleh arwah Ririn.
"Dari mana kamu tahu, kalau aku selalu diganggu arwah Ririn?"
"Lho, memangnya kamu beneran di ganggu arwah Ririn?"
Roy mengangguk lemah.
"Hem.. sebenarnya aku hanya menebak-nebak saja."
"Terus, aku harus gimana, Fran?"
"Ya itu tadi, kamu temui ibunya dan minta maaflah sama beliau."
"Tapi, kalau ibu si Ririn melaporkan aku ke polisi bagaimana, Fran?"
"Itu sudah jadi resiko kamu, Roy, berani berbuat ya harus berani bertanggung jawab pula."
Roy merasa menyesal atas apa yang dia lalukan sebelumnya, namun dia pasrah seketika.
"Anterin yuk, Fran."
"Hisss, ini orang ngelunjak sekali, berani berbuat tapi nggak berani menanggung resikonya, sudah bagus aku bantu mencari jasadnya si Rini, masih juga minta diantar," batin Franky.
"Gimana, Fran? Mau nggak?"
"Hem, ya sudah yuk."
Franky pun berjalan ke rumahnya di ikuti oleh Roy, sesampainya Franky dan Roy segera menaiki mobil dan Franky pun mengemudikannya.
Beberapa lama kemudian, Franky dan Roy tiba di rumah makan bebek goreng.
"Lho, kalian kok kesini lagi, apa ada yang ketinggalan?"
"Begini bu, ada yang akan kami bicarakan," sahut Franky.
Bu Lely pun mempersilahkan kedua pria itu untuk masuk dan duduk.
Bu Lely menyuguhkan dua gelas berisi teh hangat kepada kedua pria tersebut.
"Ah ibu, nggak perlu repot-repotlah," kata Franky.
"Nggak apa-apa, ini hanya air saja kok, silahkan di minum, seadanya ya."
"Terimakasih, Bu," ucap Franky.
Kemudian Franky menjelaskan maksud kedatangannya, dan setelah itu di lanjutkan dengan pengakuan Roy, bahwa dialah yang telah membunuh anaknya.
Bu Lely terperanjat, dia benar-benar tak menyangka, namun seketika dia menjadi luluh.
"Sekali lagi saya minta maaf, Bu, saya benar-benar menyesal, setelah ini saya akan menyerahkan diri sama pihak yang berwajib."
"Eh, nggak perlu, Mas, saya sudah memaafkan kamu dan saya pun sudah mengikhlaskan semuanya, hanya saja pesan saya, jangan kamu ulangi lagi perbuatanmu yang nggak terpuji itu, semoga saja nggak ada korban selanjutnya."
Roy benar-benar menyesal saat itu, dia pun bersujud di kaki bu Lely, namun bu Lely segera menyuruhnya duduk kembali.
__ADS_1
"Setelah selesai urusan mereka, Franky dan Roy pun berpamitan pulang.
"Hati-hati pulangnya," pesan bu Lely.
Franky dan Roy mengangguk bersamaan, kemudian menuju ke mobilnya dan pulang.
"Makasih ya, Fran, kamu sudah membantuku."
"Itulah gunanya kawan, saling bantu membantu."
"Iya, Fran."
"Kamu kenapa, kok belum nikah sampai sekarang? Padahal kamu itu lumayan tampan," tanya Franky tiba-tiba.
"Entahlah, Fran, aku belum kepikiran saja."
"Katanya, kamu ingin punya istri, biar ada yang memasak buat kamu, mencuci baju kamu, dan lain sebagainya."
"Hehe belum kepikiran saja, Fran."
"Hem ... kamu itu memang play boy Roy, makannya kamu belum siap nikah, karna kamu masin ingin bebas menjelajahi para perempuan yang ada di dunia ini," batin Franky.
Tak lama, sampailah mereka di rumah Franky, kemudian mereka turun dari mobil.
"Ya sudah m, aku langsung pulang ya, Fran, sekali lagi makasih."
"Iya Roy, jangan di ulang lagi ya."
Roy mengangguk dan berlalu dari hadapan Franky, sementara Franky pun masuk ke dalam rumahnya, dan langsung menuju kamarnya kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Lega deh, tugasku sudah selesai, dan besok aku akan ke lembah ilusi untuk fokus menulis," batinnya.
Franky pun mengirim pesan kepada Leon, yang isinya bahwa dia akan berangkat besok pagi, kemudian pesan tersebut di balas oleh Leon yang isinya mengiyakan dan menyetujui.
"Rindi lagi apa ya? Kenapa aku tiba-tiba kangen sekali? Apa nanti malam aku temui saja dia," pikirnya.
Franky meraih ponselnya dan mengirim pesan kepada Rindi.
"Hey cantik, sedang apa nih?"
Tak lama Rindi pun mengirim balasan.
"Aku baru saja pulang dari kantor, kalau kamu sendiri sedang apa?"
"Sedang di hatimu dong," balas Franky.
Di seberang sana, Rindi pun tersenyum senang membaca balasan pesan dari Franky.
"Ah, kamu ini pintar sekali menggombal,"
Franky tersenyum smirk.
"Oh ya, nanti malam kita ketemu yuk, karna besok aku akan berangkat ke lembah ilusi untuk merilis novel terbaruku."
"Em, boleh deh."
__ADS_1
Pesan pun berakhir...
"Aku akan fokus menulis satu buku lagi, kemudian aku akan secepatnya melamar Rindi untuk menjadi istriku, setelah itu aku sudah nggak butuh untuk pergi ke mana-mana, aku akan menulis di rumah saja, karna aku yakin sekali, kalau aku menulis di temani oleh Rindi, pasti aku bisa berkonsentrasi, dan bisa mendapatkan ide-ide cerita yang bagus," batin Franky.