
Sore hari, Franky mengajak Nila untuk mencari kost.
Nila berjalan ke luar rumah mengikuti Franky.
Di jalan, Franky bertemu dengan Roy, pemuda yang terkenal playboy di desa itu.
"Wah, siapa itu Fran? Istri baru?"
"Eh, kamu Roy, enggak kok, ini teman ku, namanya Nila, dia mau cari kost disini."
"Oh.. emang dia dari mana?"
Franky berusaha mengarang cerita, karena dia tak mau Roy dan semua penduduk di desanya menjadi gempar.
"Dia dari luar kota, orang tuanya baru saja meninggal karna musibah kebakaran, dan aku bertemu Nila di jalan tadi, dia bingung karna rumahnya ikut habis terbakar."
"Duh maafin aku ya La, aku terpaksa berbohong, untuk menutupi identitas kamu yang nggak jelas," batin Franky sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.
"Dasar manusia, pandai juga bersandiwara," batin Nila sambil tersenyum penuh makna.
Roy menatap Nila sejenak, dia terpesona dengan kecantikannya, namun seketika rasa kagumnya berubah menjadi perasaan aneh.
"Kenapa aku tiba-tiba merinding ya, masa iya, baru jam segini ada hantu," gumam Roy dalam hati.
Namun Roy tak menghiraukan hal itu.
"Sepertinya, manusia ini punya niat nggak baik sama aku," batin Nila.
"Wah, kasihan sekali, eh.. ayo aku antar ke rumah pak Bani, aku dengar, disana masih ada kamar satu, coba kita tanya masih kosong atau sudah sould out," ajak Roy.
Franky dan Nila mengikuti Roy, mereka tiba di sebuah rumah.
Roy memberi salam, tak lama pemilik rumah yang tak lain adalah pak Bani pun keluar.
Pak Bani adalah ketua RT di desa itu, dia memiliki beberapa kamar kos yang letaknya bersebelahan dengan rumahnya, dia pun memiliki sixth sence, alias mempunyai kemampuan yang dapat melihat makhluk tak kasat mata.
"Eh, kamu Roy, ada apa?"
"Begini Pak, apakah masih ada kamar kosong?"
"Oh, kebetulan masih ada satu, memangnya siapa yang mau kost? Kamu Fran?" ujar pak Bani dengan pandangan mata mengarah kepada Franky.
"Bukan saya Pak, masa saya kost, terus rumah saya mau di kemanakan," kelakar Franky.
"Lantas, siapa yang mau kost?"
"Ini Pak, teman saya Nila, dia baru saja kena musibah, rumahnya terbakar, beserta orang tuanya," Franky menunjuk ke arah Nila.
Manik mata pak Bani menelisik ke arah Nila.
"Sepertinya ada yang nggak beres, dia jelas bukan manusia biasa," gumam pak Bani dalam hati.
Manik mata Nila pun balas menelisik pak Bani.
"Sial, dia tahu kalau aku bukan manusia," batinnya.
"Ya sudah, silahkan saya antar ke kamarnya, nanti dilihat-lihat dulu, apakah cocok atau enggak," ujar pak Bani.
"Kalau begitu, saya permisi dulu Pak," celetuk Roy.
Pak Bani tersenyum dalam anggukannya.
"Yuk Fran."
"Iya Roy, makasih ya, sudah antar aku."
__ADS_1
Roy mengangguk kemudian berlalu dari hadapan mereka.
Pak Bani pun mengantar Nila dan Franky ke kamar kos yang di maksud.
Sesampainya, setelah melihat-lihat kamar kost, Nila pun menyetujui untuk tinggal di tempat itu.
Franky menanyakan harga sewa kamar perbulan kepada pak Bani, setelah pak Bani menyebutkan harganya, Franky segera memberikan sejumlah uang guna membayar kamar untuk beberapa bulan.
Pak Bani menerima uang pemberian Franky sambil tersenyum.
"Terimakasih, fasilitas kamarnya sudah lengkap, kamar mandi di dalam, ada kasur meja-kursi dan juga lemari."
"Baik Pak, mungkin nanti malam dia akan menempati kamar ini, karna sekarang dia akan membeli kebutuhannya dulu."
"Baik, nggak masalah, ini kunci kamarnya."
Nila pun meraih kunci dari tangan pak Bani, kemudian Franky dan Nila berpamitan pulang.
Franky segera mengajak Nila ke sebuah Mall, dia membelikan Nila beberapa pakaian, peralatan mandi, skincare dan beberapa macam makanan ringan serta kebutuhan lainnya.
"Duh, aku jadi merepotkan kamu ya Fran?"
"Ah enggak kok La, santai saja, ini juga uang lebih."
Setelah semua kebutuan terbeli, Franky mengantar Nila ke kostnya.
Jumlah Kamar kost di tempat itu ada tiga, dan Nila menempati kamar yang paling pojok.
"Ya sudah, aku tinggal dulu ya, besok kalau kamu jenuh, main saja ke rumahku."
"Iya Fran, makasih ya."
"Sama-sama La, oh iya, kamu berani 'kan sendiri?"
"Hah? Maksud kamu apa La?"
"Ups keceplosan," batin Nila.
"Tidak apa-apa kok Fran, hehe, aku berani kok sendiri," seloroh Nila.
Franky menggelengkan kepala merasa gemas dengan tingkah Nila, kemudian segera berlalu dari hadapan Nila.
Nila tersenyum kemudian masuk ke dalam kamarnya.
****
Malam itu di dalam kamar, Franky terlihat sedang termenung.
"Kenapa aku terus memikirkan Nila ya? Apa aku jatuh cinta sama dia? Tapi, aku juga memikirkan Rindi, dia dan Nila sama cantiknya, terus siapa yang aku suka? Nila atau Rindi? Ah aku nggak bisa kalau suruh memilih satu di antara mereka, tapi apakah Nila dan Rindi juga menyukaiku? Kenapa aku begitu percaya diri? Hehe," batin Franky sambil tersenyum sendiri.
"Tapi kalau aku memilih keduanya, apakah mereka bisa menerimaku secara bersamaan? Entahlah, kenapa aku jadi serakah begini."
Tiba-tiba ponsel Franky berbunyi, ada pesan dari Leon.
"Halo Fran, gimana kabar kamu? Aku kangen nih, besok ketemu yuk ngobrol-ngobrol," isi pesan tersebut.
"Eh kamu Le, kabarku gimana ya, aku sedang bingung ini Le, bolehlah besok kita ketemuan di Taman Anggrek ya, di sana 'kan tenang suasananya, ada hal yang ingin aku bicarakan," balas Franky.
"Oke Fran," balas Leon.
Pesan pun berakhir, Franky mencoba memejamkan matanya.
Saat dia mulai terlelap samar-samar terdengar suara seorang perempuan.
"Franky, Fran...!"
__ADS_1
Franky membuka matanya, dia kini berada di sebuah Taman Bunga.
Di hadapannya sudah berdiri seorang wanita yang tak asing baginya.
"Begitu mudahnya anda melupakan saya, dan berpaling kepada perempuan lain, ingat saya masih resmi menjadi milik anda, apakah anda tega mengkhianati saya?" ujar wanita itu.
"Rin.. Rinjani?"
Ternyata wanita itu adalah Rinjani, hantu penunggu Pulau Abadi.
"Baguslah, kalau anda masih ingat dengan saya."
"Memangnya, siapa yang mengkhianatimu Rin? Bagaimana bisa kamu berpikiran, kalau aku berpaling dengan perempuan lain?" tanya Franky.
"Anda pikir, anda bisa mengelabuhi saya? Saya tahu, semua yang anda lakukan di belakang saya," tutur Rinjani.
"Terus, apa mau kamu Rin? Kalau kamu merasa, kamu adalah milikku, kenapa kamu nggak pulang ikut bersamaku, justru kamu menjauh dariku," ketus Franky.
"Anda tidak mengerti juga ya, kita berbeda dunia, saya tak bisa masuk ke dunia anda, kalau anda ingin kita hidup bersama, andalah yang harus ikut dengan saya," papar Rinjani.
"Aku mempunyai rumah Rin, dan di rumah itu aku tinggal sendiri, kita bisa menempati bersama, jadi untuk apa aku ikut denganmu, yang masih tinggal dengan ayah kamu, dan di sana pun ada Pangeran Endro, dia bahkan nggak suka sama aku, aku mana bisa tinggal di sana, bukannya kamu sudah menikah sama dia? Lalu, untuk apa kamu masih menggangguku?" ujar Franky.
Rinjani nampak bingung, karena dia memang tidak dapat masuk ke dalam kehidupan Franky, dikarenakan Rinjani bukan manusia biasa.
Sedangkan Rinjani dapat membawa Franky menuju dunianya dengan cara mengambil roh Franky dari dalam tubuhnya.
"Ya sudah, kalau anda tidak mau ikut dengan saya, berarti anda sudah tidak cinta lagi dengan saya," kata Rinjani.
Rinjani pun membalikkan tubuhnya dan berlari meninggalkan Franky.
"Rinjani! Tunggu! Bukan begitu maksudku!"
Rinjani tak menghiraukan Franky, dia terus berlari hingga menghilang dari pandangan, sedangkan Franky terus mengejar Rinjani, tanpa di sengaja kakinya tersandung sebuah batu berukuran sedang, Franky pun jatuh terjerembab, seketika pandangan di sekitar menjadi gelap.
Beberapa saat kemudian, Franky membuka matanya dan duduk di atas kasurnya.
"Ah, aku mimpi buruk..."
"Rinjani? Siapa dia? Rasanya aku pernah mengenalnya, tapi di mana ya? Namanya seperti nggak asing," batin Franky.
Tiba-tiba pintu rumah Franky di ketuk, Franky segera membukanya, kini di hadapannya sudah berdiri Roy.
"Lho Roy, ada apa ya?" tanya Franky.
"Seharusnya aku yang bertanya, kamu kenapa teriak-teriak nggak jelas?" tanya Roy.
"Hah? Teriak-teriak gimana?" Franky mengerutkan keningnya.
"Kebetulan aku mau tugas ronda, waktu aku lewat di depan rumah kamu, aku nggak sengaja dengar kamu berteriak keras sekali, sampai kupingku sakit," ujar Roy.
"Em, tapi aku nggak merasa seperti yang kamu katakan," kata Franky.
Roy mengerutkan keningnya.
"Pasti kamu mimpi buruk."
"Ya mungkin juga Roy, aku juga bingung."
"Ya sudah, aku lanjut lagi ya, hari ini jatahku ronda," kata Roy.
"Baiklah," jawab Franky.
"Aku teriak-teriak? Ah, mungkin Roy salah dengar," pikir Franky.
Franky pun kembali melanjutkan tidurnya.
__ADS_1