Pulau Abadi

Pulau Abadi
Di Luar Nalar


__ADS_3

Sore hari pun tiba, Leon mengetuk pintu kamar Franky.


"Ada apa, Le?" tanya Franky setelah membukakan pintu kamarnya.


"Ayo kita ke rumah pak Bima."


"Ayo deh Le."


Franky dan Leon keluar dari rumah, mereka berjalan ke arah rumah pak Bima, yang terletak di depan rumah sewa mereka.


Baru beberapa langkah berjalan, Franky merasa heran, karena rumah pak Bima tak kunjung terlihat, dan mereka berdua kini berada di sebuah kebun kosong dan sepi.


"Rumahnya mana, Le?"


"Lho, harusnya di sini, kan kemarin kita ketemu dia disini."


"Iya, Le, tapi kenapa rumahnya nggak ada?"


Franky terus berjalan lagi, namu semakin dia berjalan semakin dia tak menemukan apa-apa, lalu Franky pun kembali ke tempat di mana Leon berdiri.


"Nggak ada apa-apa, Le."


"Terus gimana, Fran?"


"Kita pulang sekarang saja, Le, perasaanku benar-benar nggak enak."


"Aku minta maaf ya, Fran."


"Kok minta maaf, Le, memangnya kamu salah apa?"


"Gara-gara aku, uang kamu jadi nggak kembali," Leon menunduk lesu.


"Ya ampun, Le, sudah, nggak perlu memikirkan uang, yang penting kita bisa pulang dengan selamat, aku merasa tempat ini nggak beres."


"Tapi, Fran, uang kamu yang buat bayar sewa rumah itu kan nggak sedikit."


"Le, sudah nggak perlu memikirkan uang, aku masih punya simpenan lumayanlah, bukannya aku sombong, tapi uang hasil dari menulis novel sekian tahun, aku kumpulkan, karena aku nggak punya istri, jadi uang itu utuh."


"Tapi aku nggak enak sama kamu, gara-gara aku mengajak kamu ke sini, kamu jadi kehilangan uang kamu."


"Le, sudah, kalau hanya uang, aku masih ada, sudah, kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri, ayo sekarang kita pulang.


Franky dan Leon pun berjalan kembali, ke rumah sewa mereka.


Lagi-lagi mereka di kejutkan oleh kejadian tak masuk akal.


Di hadapan mereka, yang semula adalah bangunan rumah sewa yang mereka tempati, kini telah lenyap dan berubah menjadi pekarangan kosong, hanya sebuah mobil milik Franky sajalah, yang masih tersisa.


"Lho, kok rumah sewanya ikutan hilang, Le?"


"Iya ya Fran, ini benar-benar nggak masuk akal."


"Ya sudah Le, anggap saja kita sedang kena sial, yuk kita langsung naik ke mobil, terus pulang."


"Tapi baju-baju kita, Fran?"


"Sudah, Le, hanya baju saja, bisa beli lagi."


Akhirnya Franky dan Leon masuk ke dalam mobil dengan lemas.

__ADS_1


Di dalam mobil, Leon terkejut, karena dia melihat dua koper miliknya, dan milik Franky tergeletak di jok mobil bagian tengah.


"Lho, Fran, ini kan koper kita?"


Franky menoleh ke arah yang di maksud.


"Lho, iya Le, kok aneh sekali ya, ya sudahlah yuk kita cabut saja sekarang, bisa gila aku lama-lama di tempat ini."


"Ya sudah, Fran, let's goo!"


Franky mengemudikan mobilnya, menuju ke jalan besar.


Ketika Franky melewati sebuah warung makan, yang tadi siang mereka singgahi, terlintas di benak Franky untuk kembali singgah.


"Le, bukankah itu warung makan yang tadi siang?"


"Iya, Fran, memang kenapa? Kamu lapar lagi?"


"Kita mampir sebentar, kamu nggak keberatan kan?"


"Wah, ya nggak masalah, Fran, kebetulan aku juga lapar hehe."


Kedua pria itu pun turun dari mobil, dan masuk ke dalam warung makan itu


"Eh, kalian lagi, ayo silahkan, mau makan apa, ambil sendiri ya."


Franky pun mengambil piring, dan mengisinya dengan sedikit nasi dan lauk, sebenarnya dia tak merasa lapar, hanya saja dia ingin mengorek informasi dari pemilik warung makan itu.


Sedangkan Leon yang merasa lapar, mengisi piringnya dengan nasi dan lauk secukupnya.


Mereka berdua duduk dan menikmati makanannya.


"Eh, iya mas, tanya apa ya?"


Sebenarnya lembah ilusi itu tempat apa ya?"


Ibu pemilik warung itu terbelalak, kemudian dia terdiam.


"Bu? panggil Franky.


"Eh iya mas?"


"Tolong jawab pertanyaan saya dengan jujur, ini penting sekali untuk saya, karna saya sudah di buat aneh di tempat ini," tutur Franky.


Setelah terdiam cukup lama, akhirnya ibu pemilik warung itu pun buka mulut.


"Begini mas, sebenarnya lembah ilusi yang kalian maksud itu adalah sarang Hantu, tempat itu terkenal angker, dan nggak ada manusia yang tinggal di tempat itu," ibu itu menjelaskan.


"Uhuk...." Leon tersedak mendengar cerita ibu itu.


"Maksud ibu, di lembah itu nggak ada penduduknya?" tanya Leon memastikan.


Ibu itu mengangguk pelan.


Franky dan Leon saling berpandangan.


"Tapi, saya kemarin ketemu sama bapak-bapak, dan saya menyewa rumahnya, dan bapak itu seperti manusia biasa kok," kata Leon."


"Betul bu, terus semalam saya juga ketemu sama perempuan penjual roti, dia juga seperti manusia pada umumnya kok," sambung Franky.

__ADS_1


"Kalian hanya terkena ajian ilusi jiwa," sahut ibu itu.


"Ajian ilusi jiwa?" ucap Franky dan Leon bersamaan.


"Betul, seseorang yang terkena ajian ilusi jiwa, dia akan mengalami hal-hal yang bertentangan dengan hal yang sebenarnya," sahut ibu itu.


Franky dan Leon mengerutkan keningnya, mereka masih belum paham dengan ucapan ibu pemilik warung itu.


"Em maaf, maksud ibu bagaimana?" tanya Leon dengan hati-hati.


"Jadi begini, sebenarnya penghuni lembah ilusi itu adalah para makhluk halus alias manusia-manusia yang sudah meninggal, karena arwah mereka belum di terima, jadi mereka berkeliaran di tempat itu layaknya manusia biasa, mereka bergaul dengan manusia biasa yang datang ke tempat itu untuk menyesatkan manusia-manusia tersebut," ibu itu menjelaskan secara detail.


Franky semakin dibuat bingung.


"Sudah, pokoknya kalian jangan kembali kesana lagi, bahaya kalau sampai kalian nggak bisa keluar dari pulau itu," kata ibu itu lagi.


Franky dan Leon mengerutkan keningnya, mereka masih belum paham dengan ucapan ibu pemilik warung itu.


"Apakah benar begitu? berarti pak Bima itu hantu?" tanya Leon penasaran.


"Hah? jadi kalian bertemu sama pak Bima?" tanya ibu itu penuh selidik.


"Iya Bu, memang siapa dia? Bukankah dia manusia juga seperti kami?" tanya Franky.


"Kalian salah, dia juga salah satu hantu, di lembah ilusi itu," sahut ibu itu.


"Maksud ibu apa sih, kami nggak mengerti," kata Leon.


"Iya Bu, tolong ceritakan yang sebenarnya, ada apa dengan lembah itu?" sambung Franky.


Iya bu, ayo cerita, saya penasaran sekali dengan tempat itu, karna sepertinya, tempat itu penuh misteri," Leon menimpali.


Franky membujuk ibu itu, supaya mau menceritakan mengenai misteri di lembah ilusi.


Ibu itu mulai bercerita...


"Begini, duluuu sekali, di dalam lembah ilusi itu, ada sebuah dusun yang asri, di mana para penduduknya hidup rukun dan damai, dan dulu itu masih jaman peperangan, penduduk dusun di Pulau itu mempunyai musuh besar yang berasal dari negeri Cina, suatu hari, beredar kabar kalau musuh dari Cina mau datang ke dusun tersebut, mereka mau mengajak berperang, sekaligus mengadu kekuatan.


Dan penduduk dusun itu sebenarnya tidak suka peperangan, akhirnya salah satu warga menemui orang paling di takuti dan di segani di dusun itu, konon, orang tersebut adalah orang yang sakti mandra guna, dia mempunyai ilmu yang tinggi dan belum ada tandingannya.


Salah satunya adalah ilmu ajian panglimun.


Ajian ini merupakan ajian yang berfungsi untuk mengelabui penglihatan lawan, agar tidak dapat melihat diri kita secara jelas.


Salah satu dari warga dusun tersebut meminta kepada orang sakti itu, untuk membuat para penduduk dusun tidak terlihat di mata musuh besar mereka.


Akhirnya setelah berunding, orang sakti itu mengerahkan segenap ilmunya untuk membuat orang-orang yang berada di dusun itu tak terlihat oleh musuh mereka.


Namun, setelah orang sakti itu berhasil membuat mereka tak terlihat, hal yang tidak di duga terjadi.


Tubuh orang sakti itu menjadi lemah, dan saat itu orang sakti itu meninggal di tempat.


Para penduduk dusun itu kebingungan, mereka tidak tahu harus meminta pertolongan kepada siapa untuk mengembalikan keberadaan mereka kembali.


Akhirnya karena mereka tidak pernah terlihat oleh penduduk lain, mereka satu persatu menjadi Dewa dan Dewi, yang menghuni dusun tersebut."


*****


mohon maaf ada bab yang keliru 🙏 segera direvisi

__ADS_1


__ADS_2