
Rinjani pun menjadi ketakutan, dia berlari menuju ke rumahnya, namun belum sempat langkah kakinya sampai di rumahnya, desa itu telah digulung ombak, semua rumah beserta penghuninya, terseret ombak, rumah-rumah hancur tak tersisa, dan semua penduduk di desa itu mati tenggelam di dalam laut, akibat tergulung ombak, termasuk Rinjani.
Tiga hari setelah musibah itu, arwah Rinjani terlihat sedang melayang di sekitar pantai itu, semua jasad para korban telah di ketemukan di bibir pantai, dan dikebumikan secara layak, kecuali jasad Rinjani yang belum diketemukan, hingga berapa hari. Para warga terus mencari, namun jasad Rinjani tak juga diketemukan.
Roh Rinjani tak diterima di alamnya, karena jasadnya belum ditemukan, sehingga matinya belum sempurna.
Akhirnya, Rinjani kini menjadi hantu penunggu hutan, yang merupakan desa tempat tinggalnya. Setiap tahun, dia masih suka berkeliaran di pantai, dan terus mencari tumbal untuk dirinya, karena dia merasa kesal dengan apa yang menimpa dirinya itu.
Bertepatan dengan itu, Jarwo pulang ke kampung halamannya, dia segera mendatangi rumah Rinjani dengan raut wajah ceria, saat itu hari sudah malam.
Namun, betapa terkejutnya Jarwo, ketika mendapati desa tempat tinggal Rinjani kini telah rata, dan berubah menjadi sebuah alas.
"Hah? Ada apa ini? Kenapa desa si Rinjani hilang? Bukankah benar, ini desanya Rinjani," batinnya.
Kerena merasa penasaran, Jarwo pun mengorek informasi mengenai apa yang telah di lihatnya, dia pergi ke desa yang tak jauh dari pantai itu.
Jarwo terkejut bukan main, mendengar pengakuan salah seorang warga di desa itu, tentang Rinjani yang bersekutu dengan iblis dan pulau abadi yang meminta tumbal setiap tahunnya, hingga penguasa pantai yang mengamuk, karena Rinjani melanggar perjanjiannya.
Setelah mendapatkan informasi, dengan langkah gontai Jarwo kembali ke pantai, karena menurut informasi, hanya jasad Rinjani yang belum diketemukan.
Jarwo pun mengelilingi pantai itu, dia menyelidiki dengan seksama, setiap tempat di sekitar pantai itu.
"Rin, kenapa kamu melakukan ini? Apa kamu nggak sadar, kalau kamu itu sudah cantik sempurna, nggak perlu seperti itu, aku pun sudah suka sama kamu apa adanya, bagiku kamu paling cantik di antara perempuan lain."
Kristal bening terus berjatuhan di pipi Jarwo, dan dia pun terus mencari jasad Rinjani ke sekeliling pantai itu.
"Di mana aku harus mencari tubuh Rinjani, ya?" batin Jarwo sambil terus berjalan.
Tiba-tiba kaki Jarwo tersandung gundukan pasir di depannya, dia pun jatuh menindih sesuatu. Kemudian Jarwo pun bangun, dia penasaran dengan sesuatu yang dia timpa.
"Apa ini?" tanya Jarwo, sambil menatap lekat ke sebuah gundukan pasir di hadapannya. Dan ketika netra Jarwo mengarah ke sudut gundukan itu, Jarwo pun terbelalak, dia melihat sepasang telapak kaki. Jarwo menyentuh telapak kaki itu, dia pun menggali gundukan tanah di depannya.
__ADS_1
Setelah menggali cukup dalam, Jarwo terkejut, dia melihat tubuh sosok wanita mengenakan kebaya dan kerudung serba putih, tubuh itu tergeletak kaku di atas pasir.
"Siapa ini?" batinnya.
Jarwo meraba denyut nadi wanita itu, namun sudah tak berdenyut, dia pun merasakan suhu tubuh wanita itu sangat dingin.
Setelah mengamati wajah wanita tersebut dengan seksama, kedua bola mata Jarwo membola sempurna.
"Rinjani!" serunya, ketika mengetahui bahwa ternyata itu adalah mayat Rinjani.
Jarwo pun membopong mayat Rinjani dan segera membawanya pulang. Malam itu, keadaan pantai telah sepi, tak ada seorang pun berada di pantai itu, dengan begitu, tak ada satu orang pun warga, yang melihat aksi Jarwo.
Sampai di rumah, Jarwo meletakan jasad Rinjani di sebuah kursi panjang, seketika itu juga, timbullah niat buruk di benak Jarwo.
"Aku nggak akan mengubur mayat Rinjani," batinnya.
Jarwo termenung sejenak, tiba-tiba sebuah ide gila terbesit di benaknya. Jarwo memandikan jenazah Rinjani. Setelah bersih, Rinjani kembali dibaringkan di atas kursi panjang.
Keesokan harinya, Jarwo keluar rumah, dia berniat hendak mencari sesuatu, beberapa lama kemudian, Jarwo kembali lagi, ternyata dia membeli kanvas dan pigura berukuran persegi panjang, namun pigura ini lebih besar, dari pigura pada umumnya, ukurannya hampir sama dengan panjang tubuh manusia dewasa.
Jarwo membuat lukisan itu dengan sempurna, seolah lukisan itu terlihat hidup.
Malamnya, Jarwo membawa lukisan itu ke gapura, yang merupakan perbatasan antara jalanan dengan pulau abadi.
Dengan kesaktian yang dimilikinya, Jarwo melayangkan tubuhnya ke udara, dan kini dia berada di atas gapura itu.
Jarwo memasang lukisan itu di atas gapura, setelah itu, dia turun ke bawah. Sampai di bawah gapura, Jarwo menatap ke atas gapura, sambil tersenyum smirk.
Ya, itulah asal mula lukisan yang berada di atas gapura.
"Tenanglah kamu di sana, Rin, kalau aku merindukanmu, aku akan kesini, menatap lukisanmu, hahaha!" Jarwo tertawa terbahak.
__ADS_1
Kemudian Jarwo pulang ke rumah nya, dan sejak peristiwa itu, sifat Jarwo berubah menjadi tamak.
**Flashback off
Jarwo kembali mengucek matanya, dan terus menatap ke arah sosok Rinjani dari kejauhan.
"Apa benar, dia itu Rinjani? Kalau pun benar, itu pasti arwahnya, karna tubuhnya sudah aku kurung di dalam lukisan itu," batin Jarwo.
"Tapi, kenapa arwahnya masih berkeliaran? Ini sudah berapa puluh tahun dari kematian dia ... ah sudahlah, buat apa juga aku pusing memikirkan dia? Toh dia juga sudah mati, biar saja dia masih bergentayangan, asal dia nggak menggangguku," batin Jarwo kemudian membalikan tubuhnya, dan menjauhi tempat itu.
Tanpa disadari, waktu telah menunjukan pukul dua dini hari, Franky melirik jam di ponselnya.
"Astaga, Rin, kita pulang yuk, ini sudah hampir pagi, aku nggak enak sama kedua temanku, mereka pasti mencari-ku."
Rinjani tersenyum ramah. "Baiklah, hati-hati, ya."
"Baiklah, Rin, apakah kamu mau aku antar?" ujar Franky.
"Tak perlu lah, anda kan paham dengan saya, kalau saya berani pulang sendiri."
Franky terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ya sudah, kamu pulanglah dulu, aku pantau dari sini."
Rinjani tersenyum, kemudian berjalan masuk ke dalam hutan, hingga akhirnya menghilang dari pandangan.
Franky pun membalikan tubuhnya, dia berjalan lurus hingga menjauhi pantai. Pria itu terus berjalan, hingga akhirnya sampai di rumah penginapan.
Franky membuka pintu, ternyata tak di kunci dan dia pun masuk ke dalam menuju kamarnya, setelah menutup kembali pintu penginapan dan menguncinya.
Franky masuk ke dalam kamar, dia melihat Joko dan Leon yang tertidur pulas disertai suara dengkuran yang cukup keras, dari mulut Leon.
__ADS_1
Franky menggeleng dan tersenyum. "Le, Le, kamu ngorok keras sekali, untung si Joko nggak terganggu," kelakarnya dalam hati.
Kemudian Franky pun merebahkan tubuhnya, di sebelah Joko, tak lama, dia masuk ke alam mimpi.