
"Rumahku di belakang pulau ini, ayo ikuti aku," kata Nawang, yang kemudian berjalan mendahului Joko, dan Joko pun mengekor di belakang.
Nawang terus berjalan, hingga melewati sebuah gapura, ketika melewati gapura, lukisan yang berada di atas gapura terjatuh, dan mengenai kepala Joko.
"Aaaaarrrggg!"
Joko mengerang kesakitan, dan seketika pandangan di sekeliling menjadi gelap.
"Meooooong!"
"Jok, bangun, Jok."
Perlahan, Joko membuka matanya dia terbangun. Di samping kanannya, sudah ada Franky dan Leon, sedangkan di samping kiri, ada Nawang si kucing hitam.
"Aku di mana?" tanya Joko kebingungan.
"Kamu di kamar, Jok," jawab Franky.
"Iya, Jok, tadi kita habis ngobrol, terus kamu ketiduran," sambung Leon.
"Hah? Masa sih, kok aneh ya," batin Joko.
Kemudian, Joko menoleh ke arah Nawang, seketika kedua bola mata Joko membulat.
"Lho, kamu kok jadi kucing lagi?" Joko berbicara dengan Nawang dari hati ke hati, supaya tak terdengar oleh kedua temannya.
"Apa yang kau maksud, anak muda? Bukankah aku ini memang berwujud kucing, sejak kita pertama kali bertemu."
"Tapi, tadi kamu sudah berubah wujud, menjadi gadis cantik."
Kucing hitam itu tertawa dalam hati, dia merasa lucu, dengan ucapan Joko.
"Yeee, malah ketawa."
"Mungkin kau hanya bermimpi."
"Hah? Aku mimpi lagi? Berarti, aku belum membunuh paman kamu?"
"Kau ini ada-ada saja." Kucing hitam itu segera keluar dari kamar, karena merasa tak enak hati, berada di kamar ketiga pria itu.
Franky mengusap wajah Joko, dan Joko pun terkesiap.
"Kamu itu, malah melamun Jok," ujar Franky.
"Eh, iya, Fran, ternyata hanya mimpi," lirihnya.
"Jok, Jok, mimpi kok terus, hehe," kekeh Leon.
Joko pun meringis. "Sekarang, jam berapa ya?"
"Jam satu, Jok, masih malam, sudah tidur lagi, tapi awas jangan mimpi aneh-aneh lagi," kelakar Franky.
"Iya, Jok, lebih baik mimpi bertemu perempuan cantik, malah asik tuh, eh ini mah mimpi ketemu hantu, jadinya teriak-teriak nggak jelas deh," ejek Leon.
Joko tersipu malu, wajahnya merah padam.
"Ya sudah, aku mau duduk di ruang depan ya, bosan tidur terus," kata Joko.
"Ya, Jok, nggak apa-apa kok," kata Franky.
Joko pun keluar, menuju ke ruang tamu, dia duduk di salah satu kursi yang ada di ruang itu. Nawang yang mengetahui hal itu, datang menghampiri Joko, dan duduk di sebelah Joko.
__ADS_1
"Meoooong ...."
"Kamu nggak tidur?" tanya Joko dalam hati.
"Nanti lah, aku tadi sedang tidur pulas, tapi terbangun karna mendengar kau mengigau."
"Tapi ... mimpi itu nyata sekali," kata Joko.
"Sebenarnya, kau mimpi apa?" tanya Nawang.
Joko pun menceritakan mimpinya, yang mana dia membunuh paman Nawang, dan yang Nawang berubah wujud menjadi manusia.
"Hahaha! Kasihan sekali kau, anak muda," ledek Nawang.
"Huft, berarti aku belum membunuh paman kamu," keluh Joko lemas.
"Bersabarlah, kau temukan dulu saja jasad si Rinjani itu, barulah kau membunuh pamanku, supaya kau bisa fokus, menyelesaikan masalah satu persatu," tutur Nawang.
"Okelah," angguk Joko.
"Ya sudah, kalau kau ingin beristirahat."
"Enggak ah, aku akan begadang malam ini, tidur nanti mimpi nggak jelas lagi."
Nawang menahan senyum. Tanpa sengaja, Joko memperhatikan kucing itu dengan seksama, dan seketika itu juga, dia membayangkan seorang wanita cantik sedang berdiri di hadapannya. Nawang yang menyadari akan hal itu, pun menjadi geram.
"Hey, apa yang kau pikirkan?"
Joko terkesiap, mendengar ucapan Nawang.
"Eh nggak ada," ucap Joko hati-hati.
"Awas saja, kalau macam-macam," cetus Nawang.
Nawang tak menjawab pertanyaan Joko, dia pun pergi begitu saja, ke arah dapur.
Joko tersenyum-senyum sendiri, membayangkan si kucing betina itu. "Apa benar, wujud asli kucing itu, adalah gadis cantik seperti dalam mimpiku? Kalau benar, wah aku mau sekali menjadi pacarnya hehe," batinnya.
Joko pun segera menampik pikiran itu. "Ah, aku ini mikir apa sih? Aku harus fokus mencari jasad Rinjani, setelah itu, aku akan membunuh paman Nawang," batin Joko lagi.
"Berarti, aku bertemu Rinjani juga mimpi ya? Aku belum bertemu dia ternyata, huft, dasar mimpi nggak jelas."
Joko pun kembali ke dalam kamarnya, dia melihat Leon sudah tertidur pulas, sedangkan Franky sedang duduk, memangku laptopnya.
"Buset, si Leon sudah ngorok saja," kelakar Joko.
"Hehe, iya, Jok, biasa lah, kamu juga sudah paham kan," sahut Franky.
"Iya, Fran, oh ya, kamu sedang bikin novel?"
"Iya nih, Jok, pelan-pelan, karna belum begitu fokus."
"Ya jangan terlalu dipaksa lah, Fran, nanti malah alurnya berantakan."
"Ya enggak lah, Jok, ini juga nyicil per satu bab."
"Kamu sudah makan belum, Fran? Kalau belum, makan dulu, jangan sampai terlambat, nanti sakit, lho."
"Sudah kok, Jok, kamu itu sudah makan atau belum?" Franky balik bertanya.
"Aku tuh sehari makan sekali dua kali sudah cukup, Fran."
__ADS_1
"Oh begitu."
"Iya, Fran, ya sudah kamu lanjutkan dulu bikin novelnya, nanti malah nggak dapat ide lagi, kalau aku ajak ngobrol terus, hehe."
"Hehe, iya, Jok."
Joko pun merebahkan tubuhnya di atas kasur, dia berusaha memejamkan matanya, namun tak kunjung terpejam.
"Huft, mungkin aku terlalu banyak tidur, jadi sekarang nggak ngantuk," lirihnya.
"Ya sudah temani aku saja, Jok," seloroh Franky.
"Ah nanti kamu terganggu, aku nggak enak."
"Enggak lah, aku kan sudah terbiasa menulis cerita, jadi ya tetap bisa fokus."
"Ya sudah, aku temani kamu."
Franky terus memainkan jari jemarinya dengan lincah, mengetik huruf demi huruf, menjadi susunan kata yang akhirnya tercipta sebuah cerita.
"Itu kucing, mau kamu bawa pulang, Jok?" tanya Franky memecah keheningan.
"Iya, Fran, memangnya kenapa?" Joko balik bertanya.
"Ya nggak apa-apa lah, Jok, aku kan hanya tanya saja. Em, sejak kapan juga kamu jadi suka hewan, hehe."
"Kemarin itu, nggak tahu kenapa, tiba-tiba aku kasihan saja, sama kucing itu, jadi aku memutuskan untuk membawa pulang, dan rencana mau aku rawat gitu."
"Oh, ya bagus, Jok, dengan begitu, kamu kan jadi ada kesibukan."
"Iya, Fran."
"Sebaiknya, aku nggak menceritakan, kalau Nawang adalah manusia, aku takut Franky jadi kepikiran, terus mentalnya down lagi deh," batin Joko.
"Kamu kok bisa jadi penulis novel, awalnya gimana, Fran? Atau memang, hobi kamu membuat novel dari kecil?" tanya Joko.
"Ya, bisa dibilang begitu, entah kenapa, aku hobi menghalu, Jok, hehe," kekeh Franky.
"Tapi, nggak nyangka ya, halu kamu bisa jadi uang."
"Ya alhamdulillah, Jok, aku jadi punya pemasukan, kerjanya pun santai, nggak perlu keluar rumah, ya hanya bermodalkan otak saja."
"Hebat kamu, Fran," puji Joko.
"Hebat apanya, Jok? Biasa saja, kok." Franky berusaha merendah.
"Lho, kamu kan penulis terkenal, jelas hebat lah."
"Jangan terlalu memuji, Jok, nanti dadaku sesak."
"Hahaha! Kamu ternyata humoris juga, Fran."
Wajah Franky merah padam, tak lama dia pun menutup laptopnya.
"Ah, akhirnya satu bab selesai juga, lanjut besok, aku ngantuk." Franky menaruh laptopnya di atas meja.
"Ayo kita tidur, Jok, ini masih malam, masih ada waktu buat mimpi indah," ujar Franky.
Joko melirik jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul dua malam.
"Ayo deh, Fran, aku juga mulai ngantuk nih."
__ADS_1
Joko merebahkan tubuhnya di pinggir kasur di samping Leon, sedangkan Franky merebahkan tubuhnya di dekat dinding kamar.