
Kalau saya tak cinta dengan manusia itu, buat apa saya selalu mengikuti dia, dan mengganggu dia?"
"Tapi, apa kamu tahu, kalau si Franky itu playboy? Dia selalu menaruh hati kepada setiap wanita yang dia temui, apa lagi kalau bau-bau cantik."
"Namanya juga lelaki, memang seperti itu."
"Tapi aku enggak," kelakar Joko.
"Enggak apa?"
"Enggak seperti Franky dong."
"Karna anda kelainan."
"Yee, berani sekali hantu macam kamu, mengatai aku kelainan."
"Memang kenyataannya seperti itu, anda saja dari dulu sampai sekarang, belum punya kekasih, kan?" ejek Rinjani.
"Itu karna aku orangnya nggak gampangan, saat ini, aku belum siap untuk mengurus soal perempuan, tapi aku yakin, suatu saat nanti, aku akan mempersunting seorang istri yang berbakti sama aku, pokoknya tiada duanya," ujar Joko dengan penuh percaya diri.
"Dan tak akan pernah ada," sambung Rinjani.
"Kita lihat saja nanti."
Rinjani terdiam ....
"Jadi, kamu tetap akan menjadikan Franky, sebagai pacar kamu?" tanya Joko.
"Anda sudah tahu sebelumnya, untuk apa bertanya lagi?" ketus Rinjani.
"Ya nggak apa-apa lah, anggap saja siaran ulang."
Rinjani tampak gemas, dengan Joko.
"Apa anda bisa menolongku?"
"Menolong apa?" Joko mengerutkan keningnya.
"Aku ingin bereinkarnasi secepatnya, dan menikah dengan Franky." Curahan hati Rinjani.
"Kamu saja belum menemukan jasad mu, bagaimana kamu bisa bereinkarnasi? Secepatnya lagi, huft," keluh Joko.
Rinjani kembali terdiam ....
"Coba kamu ceritakan, bagaimana kamu bisa jadi seperti ini? Dan bagaimana kronologi kematian kamu?" pancing Joko.
Rinjani berjalan membelakangi Joko ....
"Ceritanya panjang sekali, dan semua memang salah saya."
"Salah gimana?"
"Ya sebagai perempuan, saya dulu ingin cantik dan awet muda, saya ingin hidup abadi, lalu saya melakukan ritual dan terlibat perjanjian dengan Ratu penguasa pantai ini."
"Ritual? Perjanjian? Apa itu?" raut wajah Joko memancarkan rasa penasaran.
__ADS_1
"Ya, Ratu pantai bersedia membuat saya cantik, dan awet muda, dengan berbagai syarat, di antaranya memberikan tumbal manusia setiap tahunnya, dan dia harus lelaki juga pendatang, dan bukan asli penduduk sini, dan hutan ini, dulunya adalah desa penduduk." Rinjani mulai bercerita.
"Wah gila benar, setiap tahun, kamu melakukan kejahatan, dengan membunuh orang-orang yang nggak berdosa, cantik-cantik kok kejam." tukas Joko.
"Waktu itu, saya khilaf, saya terlalu berambisi dengan keinginan saya, sampai saya tak memikirkan perasaan mereka yang ditinggalkan oleh si korban," sesal Rinjani.
"Ck, ck, ck, terus Franky juga mau kamu jadikan tumbal?" tukas Joko lagi.
"Saya belum selesai bercerita, kenapa anda tiba-tiba sok tahu?" Rinjani mulai geram.
Joko meringis, sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal itu. "Ya sudah lanjutkan lagi."
"Nah setiap tahun, saya selalu mendekati para pengunjung pulau ini yang berjenis kelamin laki-laki, tapi target saya hanya satu orang saja setiap tahunnya, tapi malangnya, kesialan pun datang menimpa saya, saya tak mendapatkan tumbal sama sekali di tahun itu."
"Memang kenapa?" Joko menyela.
"Entah lah, pada tahun itu, tak ada yang berkunjung ke pulau ini."
"Memang kalau orang sini kamu jadikan tumbal, nggak bisa ya?"
"Itu pantang sekali bagi Ratu pantai."
"Oh begitu, ayo lanjutkan, aku nggak sabar dengarnya."
"Akhirnya Ratu murka dan mengamuk, dan saya lah yang di jadikan tumbal terakhir, beserta seluruh warga di desa yang saya tinggali, saya digulung ombak, hingga jiwa saya terpisah dengan jasad saya, lalu ombak menggulung desa saya, semua penduduk tewas tak terkecuali."
"Waduh, tragis sekali sih nasib kamu." Joko mulai merasa iba terhadap Rinjani.
"Dan jiwa saya hanya berkeliaran di tempat ini, tak pernah menuju ke alam yang seharusnya, saya sudah bosan juga. Untuk itu, saya pun dendam, dan setiap tahun, saya ikut mencari tumbal, sampai akhirnya saya bertemu dengan Franky. Awalnya saya memang ingin menjadikan dia sebagai tumbal. Mamun, entah mengapa, saya merasa dia berbeda dengan lainnya, dan akhirnya, alih-alih menjadikan dia tumbal, justru tumbuhlah benih-benih cinta di antara kami, saya dan Franky saling mencintai, saat itulah saya baru sadar, kalau Franky adalah cinta pertama saya."
Rinjani menggeleng pelan. "Saya terlalu sibuk dengan ambisi saya, sampai tak sempat memikirkan kekasih untuk saya sendiri."
"Memangnya, kejadian itu sudah berapa tahun?"
"Tujuh puluh lima tahun."
"Apaaaa?" Joko membelalakan matanya.
"Buset, jadi umur kamu sekarang ini sudah tujuh puluh lima tahun?"
"Hey, anda ini tak pernah sekolah ya, masa tak tahu hitung-hitungan." Rinjani murka.
"Lho, bagaimana, sih?" Joko meringis.
Umur saya saat itu, dua puluh dua tahun, nah, di tambah tujuh puluh lima tahun, jadi berapa?"
Joko terlihat sedang menghitung. "Sembilan puluh tujuh? Wah umur kamu sekarang hampir satu abad!"
"Ya begitulah," sahut Rinjani simpel.
"Eh tunggu deh, kamu kan mati di laut, itu artinya jasad kamu pasti ada di sekitar laut," kata Joko mencoba menebak.
"Bisa jadi, tapi saya tak tahu, di mana tepatnya, pasti sudah membusuk, dan menjadi tengkorak, karna sudah dimakan usia," tutur Rinjani.
"Aku akan membantu kamu," gumam Joko antusias.
__ADS_1
"Benarkah?" Rinjani tampak sangat berharap.
"Benar, dengan satu syarat dong tentunya."
"Apa itu?"
"Ya kamu berhenti berkeliaran, dan mengganggu teman-temanku."
"Saya tak ada niat untuk berkeliaran, saya hanya mendekati Franky, kalau untuk yang satu ini, anda tak bisa melarang saya, karna dia sudah menjadi kesenangan saya," tegas Rinjani.
"Duh, susah juga ya bicara sama hantu, maksud aku, kamu jangan mencelakai Franky."
"Saya bisa pastikan, itu tak akan pernah terjadi," yakin Rinjani.
"Ah, aku nggak percaya, kamu saja sudah membunuh Roy, dia itu salah satu warga di desaku," balas Joko.
"Saya minta maaf, saat itu saya benar-benar khilaf, karna ada yang sudah berani mengganggu saya dengan Franky."
"Maaf saja nggak cukup, kamu harus benar-benar menjaga sikap, kalau kamu sedang bersama Franky, karna yang aku tahu, kamu sering membuat manusia takut, kamu juga sering membuat kekacauan di desaku," ujar Joko.
"Tak akan ada asap kalau tak ada api, anda paham kan maksud saya?" Rinjani berbicara dengan penuh wibawa.
"Okelah, yang kemarin-kemarin, nggak perlu diungkit lagi. Pokoknya, aku minta mulai saat ini, kamu harus menjaga sikap, kalau ingin bisa terus bersama Franky, sampai jasad kamu ditemukan."
"Baiklah, sebelumnya saya ucapkan trimakasih."
"Hey, itu nggak gratis kali, hem." Joko semakin benci.
"Apa yang anda inginkan sebagai imbalannya?" tanya Rinjaji.
"Aku ingin kamu memberikan batu kristal putih itu kepadaku."
Kedua mata Rinjani membola sempurna, mendengar keputusan Joko. "Dari mana anda tahu, kalau saya punya batu kristal?"
"Aku kan punya ilmu terawang, dan saat itu, aku nggak sengaja melihat batu kristal di dalam tubuh kamu, dan aku mengincar batu itu."
"Hiiiiii ... hiiiiii ... hiiiiiii ...."
Rinjani tertawa terkekeh mengerikan, membuat Joko menutup telinganya.
"Hey, hentikan! Tertawamu fals begitu."
"Anda ini lucu, jadi saya tertawa," kata Rinjani.
"Cepat berikan batu kristal itu." Joko benar-benar mendambakan batu kristal milik Rinjani.
"Batu itu sudah lenyap saat saya membunuh pangeran Endro," ungkap Rinjani.
"Pangeran Endro? Siapa lagi itu?"
"Dia adalah jin yang dijodohkan dengan saya, oleh ayah saya."
"Tapi kalian sudah menikah?" Joko mengerutkan keningnya.
"Ya terpaksa, tapi dia selalu mengekang saya dan juga selalu mengganggu saya, ketika saya bertemu dengan Franky."
__ADS_1