Pulau Abadi

Pulau Abadi
Teror


__ADS_3

Setengah jam kemudian, Franky sampai di rumahnya, setelah memasukkan mobilnya di garasi, dia segera mandi, selesai mandi Franky merasa segar sekali, dia pun masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Tak lama ponsel Franky berbunyi, ada satu pesan, Franky meraih ponselnya dan membuka pesan itu.


"Rindi?" batinnya.


"Hai Fran, aku baru pulang kerja, apakah aku boleh main ke rumahmu?"


Isi pesan dari Rindi.


Deg!


Jantung Franky berdetak seketika itu.


"Eh, i... iya boleh Rin, aku share lokasi ya."


Balasan pesan dari Franky.


"Oke Fran," balas Rindi.


Pesan berakhir setelah Franky mengirimkan letak lokasi rumahnya kepada Rindi.


Setengah jam kemudian, Rindi sampai di rumah Franky, dia memarkirkan motornya di halaman rumah, lalu mengetuk pintu.


Tak lama pintu pun terbuka.


"Sudah sampai kamu Rin, ayo masuk."


Rindi masuk dan duduk di kursi bersama Franky di sampingnya.


"Apakah aku ganggu kamu?"


"Lho, ganggu apa sih Rin? Ya jelas enggak lah, aku kan orang santai, justru aku senang kamu mau main ke rumahku."


Rindi tersenyum, kemudian kedua insan itu asik mengobrol.


"Rin, sebenarnya ada hal penting yang mau aku bicarakan."


"Apa itu Fran?" Rindi penasaran.


Franky terdiam sejenak...


"Em, kita kan sudah saling mengenal, jadi aku nggak mau berbasa basi, apakah kamu mau menjadi istriku?"


Deg!


Jantung Rindi berdetak kencang, dia tak menyangka dengan ucapan Franky.


Sebenarnya Rindi sejak awal pun telah menaruh hati terhadap Franky, hanya saja dia malu untuk mengutarakan perasaannya.


"Hey, kenapa diam?" Franky membuyarkan lamunan Rindi.


"Eh, itu, em.. hehe, aku kan sedang mendengarkan kamu bicara."


"Haha! Kamu itu lucu juga ternyata Rin."


Rindi tersipu malu.


"Jadi gimana? Apakah kamu mau jadi istriku?"


"Memangnya, apa alasan kamu, ingin aku jadi istri kamu?"


"Ya itu tadi Rin, aku sudah bilang kalau aku nggak mau basa-basi, aku ini sudah tua, umurku sudah kepala tiga lebih, dan aku sudah siap untuk berkeluarga lagi, karna aku merasa sudah mampu menghidupi anak dan istriku kelak."


"Ya Tuhan, so sweet sekali dia," batin Rindi.


"Tapi kenapa harus aku Fran?"

__ADS_1


"Karna aku yakin, kamu bisa menjadi ibu yang baik untuk anak kita kelak."


Jantung Rindi seakan ingin lepas, dia benar-benar merasa bahagia.


"Apa kamu sudah yakin sama aku Fran?"


"Yakin seratus persen Rin."


"Tapi aku takut, suatu saat kamu pasti menduakan aku, bisa saja kan kalau ada perempuan yang lebih sempurna dari aku, kamu bakal berpaling."


"Rin, maaf sebelumnya ya, jujur aku laki-laki normal, dan aku selalu suka melihat perempuan cantik dan baik, tapi kalau sudah punya satu ya selamanya cukup satu, itulah aku."


Rindi sungguh kagum dengan Franky.


"Aku sih mau saja, tapi aku hanya orang miskin dan nggak punya apa-apa."


"Memang aku minta apa sama kamu?"


"Ya takutnya kamu kecewa."


"Aku nggak cari perempuan kaya, aku hanya ingin perempuan yang bisa bikin aku bahagia, dan masalah materi, itu sudah menjadi tugas dan urusanku, aku janji sebisa mungkin akan mencukupi kebutuhan anak dan istriku, dan aku bisa jamin, anak dan istriku nggak akan hidup menderita ketika bersamaku.


Rindi benar-benar terhanyut oleh ucapan Franky.


"Bagaimana Rin? Apa kamu mau?"


Rindi mengangguk pelan.


"Iya Fran, aku mau, tapi kamu janji ya, jangan selingkuh."


"Yeee, nggak mungkin lah Rin, kalau sedikit nggak apa-apa kan?" kelakar Franky.


"Apanya yang sedikit? Selingkuhnya?"


"Iya, hehe, eh.. enggak kok, aku hanya bergurau saja," kekeh Franky.


"Belum apa-apa sudah nakal ya."


"Iya ampun Tuan Putri hehe."


Franky sengaja menggoda Rindi.


Rindi pun tersenyum dan menggeleng melihat tingkah Franky.


"Kamu beneran mau Rin, jadi istri aku?"


Rindi tersenyum dalam anggukannya.


"Ya sudah, besok aku akan mengatur hari, tanggal dan bulan yang cocok untuk melamar kamu."


Rindi semakin merasa bahagia.


"Rin."


"Apa?"


"Sini pangku."


"His, seperti anak kecil saja, di pangku segala."


"Ayolah, cepat sini," paksa Franky.


Rindi pun menuruti apa yang di perintahkan oleh Franky, saat Rindi berdiri, Franky menarik lembut tangan Rindi hingga Rindi terjatuh di pangkuan Franky, kini posisi duduk Rindi berada di atas pangkuan Franky


"Nah, begini kan lebih asik," kata Franky.


Adrenalin Rindi bermain seketika, dan tanpa di sadari bagian atas lutut Rindi menyentuh pusaka Franky, dan Rindi bisa merasakan kalau pusakanya menjadi keras dan panjang.

__ADS_1


Rindi menjadi nervous seketika, nafasnya memburu naik turun, badannya gemetar dan terciptalah suatu denyutan di bawah sana, perlahan Franky meremas kedua buah milik Rindi.


Bletak!


Sebuah jitakan kecil mendarat di ubun-ubun Franky.


"Aaauuu!" seru Franky.


"Jangan ngelunjak, kita belum muhrim," kata Rindi ketus.


Franky meringis, Rindi pun berpindah posisi duduknya.


"Maafin aku ya Rin," lirih Franky.


"Nggak apa-apa kok Fran, santai saja, aku juga minta maaf, bukannya aku sok jual mahal, tapi aku mau melakukan itu, kalau kita sudah resmi jadi suami istri.


"Iya Rin."


"Rindi sungguh menggoda, aku jadi ingin segera menikahi dia, apakah ini kelemahanku? Nggak bisa tahan dengan semua perempuan yang aku temui?" pikir Franky dalam hati.


Sementara itu Rindi masih berusaha menepis perasaan nervousnya.


"Ya Tuhan, Franky memang benar-benar lelaki yang perkasa dan romantis, aku sangat kagum sama dia," batinnya.


Tiba-tiba angin dingin berhembus menyeruak masuk ke dalam rumah Franky dan menerpa wajah Rindi.


Seketika Rindi merasa kedinginan.


"Aneh, perasaan di sini nggak ada kipas angin menyala, tapi kenapa ada angin lewat di mukaku?" batin Rindi.


Tak lama, seperti ada yang menyentuh telinga Rindi.


"Ih apaan sih kamu Fran, iseng sekali deh."


Franky mengerutkan keningnya, dia merasa keheranan.


"Iseng bagaimana Rin?"


"Lho, kamu kan tadi colek-colek kupingku."


"Hah? Ah, kamu bisa saja Rin, dari tadi kan aku duduk diam, terus kapan aku colek kuping kamu?"


"Ih, kalau bukan kamu, terus siapa dong?"


"Kamu halu mungkin Rin?"


"Enak saja, aku nggak hobi menghalu Fran."


"Maksudnya, kamu sedang berhalusinasi Rin."


"Ah, nggak mungkinlah Fran."


Baru saja Rindi selesai berdebat, lagi-lagi rambut Rindi seperti ada yang membelai.


Rindi terkejut bukan main.


"Jangan-jangan, rumah ini angker lagi," batin Rindi.


"Ya sudah Fran, aku pulang dulu ya, nanti lanjut chating saja."


"Lho, nggak nanti sore sekalian, masih panas ini lho."


"Aku baru ingat, kalau aku ada tugas dari PT."


Rindi berbohong.


"Oh, ya sudah, hati-hati ya Rin."

__ADS_1


Rindi mengangguk, kemudian mengemudikan sepeda motornya meninggalkan rumah Franky.


__ADS_2