
Adzan maghrib pun berkumandang. Dua puluh menit setelahnya Rinjani telah berada di depan rumah Franky.
Dia segera masuk dengan menembus pintu rumah itu.
Saat itu Franky baru saja selesai mandi. Saat dia keluar dari kamarnya dia terkejut bukan main melihat Rinjani yang berdiri di hadapannya.
"Rindi? Kamu membuatku terkejut saja, kapan kamu datang? Kenapa nggak telpon? Baru saja aku akan menjemput kamu."
Rinjani tersenyum smirk.
"Saya baru saja datang, Fran."
"Kamu naik apa?" tanya Franky.
"Naik taxi," bohong Rinjani.
Franky mengangguk, namun seketika dia terbelalak melihat sosok wanita berbaju putih lusuh, yang berada di belakang Rinjani, wajahnya penuh darah, matanya menatap tajam ke arah Franky dan rambutnya berantakan, kemunculannya pun tiba-tiba.
Seketika itu juga bulu kuduk Franky meremang, Franky bergidik ngeri, ada rasa takut dalam dirinya.
"Rin, kamu sama siapa?" bisik Franky dengan gemetar.
Rinjani mengerutkan keningnya.
"Maksud anda, siapa Fran?"
"I.. itu di belakang kamu," Bisik Franky.
Rinjani menoleh ke belakang, seketika dia terkejut karena melihat arwah Rindi berdiri tepat di belakangnya.
"Kenapa dia mengikuti saya? Dan, kenapa pula manusia ini bisa melihatnya? Bukankah dia tak bisa melihat wujud asli makhluk gaib seperti saya, dia kan hanya bisa merasakan saja," batin Rinjani.
Rinjani pun menatap dengan intens ke sosok tersebut, dia berbicara kepada arwah Rindi menggunakan suara hatinya.
"Hey, kenapa anda mengikuti saya?" tanya Rinjani ketus.
"Siapa juga yang mengikuti kamu? Dasar Jin genit."
"Anda kurang ajar sekali, dasar hantu sialan, beraninya mengatai saya Jin genit, kalau anda tak mengikuti saya, lantas, kenapa anda ada di sini?"
"Kau lupa atau pura-pura nggak tahu? Tentu saja aku akan mengambil kembali milikku."
"Milik anda? Apa itu?"
"Tubuhku!" seru arwah Rindi.
"Hah? Tubuh?"
"Memang kamu pikir, kamu sedang berada di tubuh milik siapa?"
"Hey, tubuh anda sudah menjadi mayat, dan jiwa anda pun sudah tak bisa bersatu lagi, maka dari itu, tubuh ini sudah saya ambil alih, jadi anda sudah tak berhak atas tubuh ini."
Perdebatan batin berlangsung sengit, akhirnya Rindi pun pergi karena Rinjani menggunakan batu kristalnya untuk mengalahkan Rindi.
"Rindi!"
Suara Franky membuyarkan lamunan Rinjani.
"Eh iya, Fran."
"Kamu kenapa, kok melamun lama sekali? Terus, mana perempuan tadi?"
"Sudah saya suruh pergi."
"Memangnya dia siapa?"
"Sudah lah tak perlu di bahas, ayo kita kencan."
"Kamu mau kencan di mana, Rin?"
__ADS_1
Terserah anda saja."
"Ya sudah yuk, aku akan memanaskan mobil dulu."
Franky dan Rinjani pun keluar rumah, bersamaan dengan itu, lewatlah Joko, si pertapa sakti.
"Hey, Jok, mau kemana kamu?" sapa Franky ramah.
"Ini, Fran, biasa lah hehe," kekeh Joko.
Saat Joko melihat ke arah Rinjani, dia terheran-heran.
"Hah? Perempuan itu, wah aku harus mendapatkan benda di dalam tubuhnya," batinnya.
Rinjani yang merasa diperhatikan oleh Joko telah paham kalau Joko sedang mengincar batu kristal yang ada di dalam tubuhnya.
"Fran, siapa tuh?" tanya Joko sambil melirik ke arah Rinjani.
"Oh ini, kenalkan, dia calon istriku, Jok."
Joko terkejut, namun dia tetap bersikap tenang.
"Ya sudah, aku duluan ya."
Franky mengangguk dan Joko pun segera berlalu.
"Franky mau menikah sama perempuan itu? Ini nggak bisa dibiarkan, aku harus mencegahnya, apakah Franky nggak tahu, siapa perempuan itu, dia akan celaka kalau menikah sama jin itu," gumam Joko dalam hati.
Joko bisa membaca siapa Rinjani bahkan dia pun Tahu kalau Rinjani sudah menggunakan tubuh Rindi untuk merengkuh jiwa Franky.
"Ah sudahlah, lebih baik aku nggak perlu ikut campur sama urusan orang, aku cari cara saja bagaimana mendapatkan batu kristal yang ada di tubuh jin itu, karna dengan batu itu, kesaktianku bisa bertambah," batin Joko sambil terus berlalu dan menghilang di kegelapan malam.
"Dia itu siapa, Fran?" tanya Rinjani.
"Dia itu Joko, orang paling sakti di desa ini."
"Rin?" panggil Franky.
"Iya."
"Ayo kita berangkat."
Rinjani pun naik ke dalam mobil Franky dan tak lama mereka tiba di sebuah tempat yang mirip dengan taman. Mereka berdua duduk di tempat yang tersedia.
"Kapan anda akan menikahi saya?" tanya Rinjani tiba-tiba.
Deg!
Jantung Franky berdetak kencang.
"Em, nggak lama lagi kok, Rin? Kamu serius, mau nikah sama aku?"
Rinjani mengangguk disertai senyuman penuh arti membuat Franky tersenyum bahagia.
Bersamaan dengan itu lewatlah sepasang kekasih di depan mereka.
"Eh, Mas, kamu lihat nggak tuh?" kata si wanita sambil menunjuk ke arah belakang tubuh Rinjani.
Si Pria pun menoleh ke arah yang di maksud, dan seketika bulu kuduk mereka meremang, mereka melihat sosok wanita, bermuka menyeramkan, sedang berdiri di belakang Rinjani. Wanita itu tak lain adalah kuntilanak jelmaan arwah Rindi, yang menakuti kedua pasangan kekasih tersebut.
Sepasang kekasih itu pun berlari tunggang langgang.
Franky yang memperhatikan kedua insan itu, pun menjadi heran.
"Mereka kenapa lari-lari begitu?"
"Entah, mungkin mereka sedang main drama india-india he," kelakar Rinjani.
Dan tak lama terdengar suara tawa terkekeh mengerikan.
__ADS_1
Franky bergidik ngeri.
"Siapa yang tertawa, Rin?"
Franky menoleh ke kanan dan kiri, namun dia tak melihat siapa-siapa di sekitarnya.
Rinjani hanya diam dan tenang.
Bulu kuduk Franky semakin meremang, namun seketika perasaan itu pun lenyap.
"Oh iya, Rin, bagaimana novelku yang kemarin? Apa lulus?"
Rinjani terkesiap mendengar pertanyaan Franky.
"Novel?"
"Iya, novel yang berjudul lembah ilusi."
Rinjani akhirnya paham bahwa Rindi bekerja sebagai penyeleksi buku-buku novel karya dari berbagai novelis di seluruh kotanya.
"Em ... maaf, saya lupa bilang, kalau saya sudah berhenti dari pekerjaan saya."
Franky terbelalak.
"Lho, memangnya kenapa, Rin? Bukannya pekerjaan itu adalah yang terbaik buat kamu?"
"Saya bosan, ingin mencari kegiatan lain saja."
"Lalu, sekarang kamu kerja apa?"
"Aku menjadi selebgram, dan pendapatanku jauh lebih banyak dari pekerjaanku sebelumnya, memang kenapa? Sepertinya anda tak suka, kalau saya berhenti bekerja?"
"Eh enggak gitu, Rin, maksud aku.. ya terserah kamu saja deh Rin, semoga pekerjaan kamu yang sekarang bisa membuat kamu senang," kata Franky, dia tak tahu harus berkata apa.
Malam semakin larut dan udara semakin dingin menusuk ke kulit tubuh.
"Pulang yuk Rin, aku antar kamu."
Rinjani mengangguk.
Franky pun mengantar Rinjani pulang ke rumah Rindi.
Sesampainya mereka berdua turun dari mobil dan berjalan hingga sampai di depan rumah Rindi.
"Ya sudah, kamu istirahat.. aku pulang dulu."
Franky melingkarkan kedua tangannya di pundak Franky membuat Franky menjadi nervous seketika.
Posisi mereka kini saling berhadapan dan saling berpandangan.
Detak jantung kedua insan itu pun tak beraturan, nafas mereka memburu.
Perlahan, mereka saling mendekatkan masing-masing bibirnya hingga akhirnya bibir mereka saling berpagutan.
Tak lama lewatlah seorang pria paruh baya, dia adalah salah seorang warga di tempat itu, dia melihat Franky dan Rinjani sedang berpagutan mesra, dan dia pun menghentikan langkahnya.
"Hem, dasar orang jaman sekarang, nggak punya sopan santun, bermesraan di depan rumah, seperti nggak ada tempat lain saja," batin pria itu.
Namun ucapan suara isi hati pria paruh baya itu pun terhenti tatkala netranya mengarah ke sosok wanita di samping mereka berdua.
Sosok itu menatap tajam ke arah pria itu.
Sontak pria itu terkejut setengah mati.
"Siapa itu? Kenapa tiba-tiba muncul?" pria itu membatin, dan seketika bulu kuduknya meremang.
"Kenapa aku jadi merinding begini, jangan-jangan dia... hiiiiy."
Pria itu pun mengambil langkah seribu dan segera berlalu dari tempat itu.
__ADS_1