
Sampai di dapur, Joko melihat Aish duduk di dekat kompor, kemudian, pandangan Joko mengarah ke sebuah cangkir yang mengebul, Joko penasaran, dia pun mendekatinya.
"Hah? Kopi? Siapa yang bikin ya?" batinnya.
Dan seketika itu juga, Joko melirik ke arah Aish, dia menatap tajam Aish.
"Apa kamu yang bikin kopi ini?"
"Memang siapa lagi?"
"Eh, makasih ya, hehe."
"Sama-sama."
Joko pun duduk menikmati secangkir kopi buatan Aish, dia menyesap perlahan kopi itu, setelah meniup uapnya.
Tiba-tiba, hidung Joko mencium aroma singkong rebus, Joko mengendus aroma itu, dan netranya pun tertuju ke sebuah tudung saji dengan posisi tengkurap, di meja itu.
Joko pun membukanya, dan betapa herannya dia melihat nasi, telur ceplok, sambal, lalapan daun singkong beserta singkong goreng, telah tersedia di meja itu.
Joko pun mengalihkan pandangannya ke arah Aish yang masih duduk tenang. "Apa kamu yang memasak semua ini?" tanya Joko.
"Iya, mumpung aku masih di sini," sahut Aish dengan nada datar.
Joko pun segera menarik tangan Aish, menyuruh Aish berdiri. Setelah Aish berdiri, Joko pun memeluk Aish.
"Hey, kamu lupa ya, kalau aku ini hantu, main peluk saja."
Joko melepas pelukan Aish. "Maaf, hehe, makasih ya Ish, aku jadi merasa seperti mempunyai istri, yang melayani aku."
"Sudah, jangan menghayal, sekarang makanlah, setelah itu, kamu masih punya tugas."
"Iya."
Joko pun kembali duduk, dia mengambil satu potong singkong goreng, dan menggigitnya.
"Enak sekali," gumam Joko lirih.
Secangkir kopi pun telah habis, dan singkong goreng itu, hanya tinggal beberapa potong saja.
"Aku sudah kenyang, kamu nggak makan?" tutur Joko.
"Hantu mana pernah makan?" ujar Aish.
"Ya sudah yuk, kita ke rumah kamu."
Aish pun melayang di samping Joko, sedangkan Joko berjalan dengan santai.
Ketika melewati sebuah gang, Joko bertemu dengan Tomo, yang sedang membawa kantong plastik hitam di tangannya.
"Mau kemana Mo?" sapa Joko.
__ADS_1
"Eh kamu Jok, aku dari warung, beli gula," sahut Tomo.
Dan bersamaan dengan itu, netra Tomo mengarah ke sosok Aish yang sedang melayang di samping Joko.
Tomo tersenyum smirk. "Baru lagi Jok?"
Joko pun melirik ke arah Tomo, kemudian, berganti menoleh ke arah Aish.
"Dia arwah penasaran Mo, aku hanya bantu dia menemukan keluarganya."
Tomo tersenyum, kemudian mendekatkan wajahnya di telinga Joko. "Awas, nanti kamu naksir," bisik Tomo.
"Hahaha! Kamu bisa saja, Mo, kalau jodoh ya nggak apa-apa," kelakar Joko, di sela tawanya.
Tomo hanya menggeleng, kemudian berlalu dari hadapan Joko.
Joko pun kembali berjalan di ikuti hantu Aish, yang kini telah merubah wujudnya ke bentuk semula. Kini Joko telah tiba di jalan, dia terus berjalan ke arah yang di tunjuk oleh Aish.
Akhirnya, Joko tiba di rumah Aish. Langit hari itu, cukup cerah, tak terlalu panas, juga tak terlalu dingin, terlihat awan masih dengan tegarnya menutupi sinar matahari ke arah bumi.
Dengan membulatkan keberanian dan tekad, Joko mengetuk pintu rumah Aish. Tak lama, muncullah seorang wanita tua berusia sekitar lima puluh tahun, yang ternyata adalah ibu kandung dari hantu Aish.
"Siapa ya?" tanya wanita itu.
"Maaf bu, apa saya boleh masuk?" tanya Joko.
"Oh mari silahkan."
"Siapa bu?" seorang lelaki yang usianya lebih tua dari wanita itu pun keluar.
"Ini pak, ada tamu, tapi ibu juga nggak tahu siapa."
Lelaki tua itu menyalami Joko, kemudian ikut duduk di samping wanita tua,yang adalah istrinya itu.
"Bapak," panggil Aish lirih, namun lelaki tua itu, tak merasakan kehadiran Aish.
Joko pun menjadi iba terhadap Aish.
"Maaf, kamu ini siapa ya, dan ada perlu apa datang ke mari?" tanya lelaki tua itu.
"Maaf bu, nama saya Joko, dan semalam, saya bertemu dengan arwah Aish.
Pasangan suami istri itu pun terbelalak, mereka seolah tak percaya, dengan apa yang di dengarnya.
"Apa? Kamu bertemu sama Aish anak kami? Dan tadi, kamu bilang arwah? Maksud kamu?"
"Maaf bu, pak, tolong kalian tenang dulu, saya ini, memang bisa melihat makhluk halus, dan semalam, saya bertemu sama arwah Aish, dia minta tolong sama saya, untuk membantu menyampaikan kepada kalian, kalau dia mengalami kecelakaan saat pergi ke mall, saat dia ingin menyebrang jalan, dia tertabrak oleh truk, yang merenggut nyawanya, dan orang-orang di sekitar tempat kejadian itu, membawa Aish ke rumah sakit, tapi mereka nggak menemukan identitas Aish, karna Aish nggak bawa kartu pelajar, akibatnya, mereka nggak bisa memberi kabar sama kalian, kalau anak kalian sudah meninggal."
Joko memberikan informasi dengan hati-hati, dan kedua orang tua Aish pun saling berpandangan.
"Jenazah Aish sekarang ada di rumah sakit Harapan Kasih, dan jika kalian berkenan, aku akan membantu kalian untuk melihat arwah Aish walaupun hanya sebentar."
__ADS_1
"Apa bisa?" tanya ibu Aish.
"Bisa bu, dan setelah kalian melihat arwah Aish, kalian yang tegar ya."
Kedua bola mata pasangan suami istri itu, pun mulai berkaca-kaca.
Kemudian, Joko pun mengumpulkan segenap energi dan tenaganya, Joko meminta Aish untuk menggenggam tangannya, dan Joko pun meminta ijin kepada orang tua Aish untuk menggenggam tangan mereka.
"Ibu genggam tangan bapak ya, dan bapak genggam tangan saya," kata Joko.
Orang tau Aish pun menuruti perintah Joko. Dan seketika itu juga, kedua orang tua Aish melihat arwah Aish, dia tersenyum di balik wajah pucatnya.
"Aish? Kamu beneran anak kami nak?"
Aish mengangguk, dan seketika, tangis mereka bertiga pun pecah.
"Ibu, bapak, Aish minta maaf, karna nggak bisa jaga diri, doakan Aish ya bu, biar Aish tenang di alam sana, dan setelah ini, ibu ke rumah sakit, bawa pulang jasad Aish," ujar Aish, di sela isak tangisnya.
Kemudian Aish pun menghilang dari penglihatan kedua orang tuanya, dan bersamaan dengan itu, Joko melepaskan genggaman tangannya, wajah Joko pucat, tubuhnya pun lemas.
"Kamu kenapa nak?" tanya bapak Aish, yang kebetulan memperhatikan Joko.
"Eh nggak apa-apa pak, saya hanya lemas saja, karna energi saya terkuras, apa saya boleh minta air putih?"
Ibu Aish pun berjalan ke belakang, dan kembali lagi dengan membawa segelas air putih, Joko pun meminumnya.
"Terimakasih ya nak, kamu sudah memberi tahu kami, tentang anak kami," kata ibu Aish.
"Sama-sama bu, saya juga lega, sudah memenuhi permintaan Aish."
Nanti, kami akan segera ke rumah sakit, membawa pulang jasad Aish," ujar bapak Aish.
"Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu." Joko pun berpamitan pulang.
"Iya nak, hati-hati, dan sekali lagi, kami ucapkan terimakasih," kata bapak Aish.
Joko pun tersenyum dalam anggukannya, kemudian berlalu dari hadapan mereka, masih di ikuti oleh Aish, yang melayang di sampingnya.
Joko terus berjalan, hingga tiba di rumahnya.
Joko pun masuk ke dalam rumah, kemudian duduk di kursi panjang yang terbuat dari anyaman bambu.
"Makasih ya pemuda tampan, kamu sudah menolongku," kata Aish.
"Iya, sama-sama," sahut Joko.
"Terus, kamu ngapain masih di sini?"
"Kamu usir aku?" cetus Aish.
"Bukan ngusir, maksud aku, tugas ku kan sudah selesai," kata Joko.
__ADS_1