Pulau Abadi

Pulau Abadi
Gawat!


__ADS_3

"Ah, nanti kalian iri lagi, kalau aku kelonin Rinjani," kelakar Franky.


"Dih, siapa juga yang iri, Rinjani itu bukan levelku," cibir Joko.


"Bukan kamu, Jok, tapi yang masih Jomblo."


Leon yang sedari tadi mendengarkan percakapan kedua temannya itu, pun angkat bicara.


"Aku maksudnya?"


"Ya siapa lagi, Le?"


Franky dan Joko menahan senyum.


"Besok aku mau jalan-jalan ah, siapa tahu dapat kenalan perempuan, hehe," ujar Leon antusias.


"Iya sana, Le, kalau dapat dua bagi aku satu," ledek Joko.


"Ah kamu cari sendiri lah, Jok."


"Hem, males aku, Le, perempuan kok dicari, kalau aku duduk manis saja, pasti datang sendiri, hehe."


"Mana ada perempuan datang sendiri, kalau nggak dicari."


"Ada lah, suatu hari nanti."


"Ah kelamaan, Jok."


"Biarin, aku juga belum mikir perempuan."


Ketiga pria itu pun terkekeh ....


"Ya sudah, tidur yuk," ajak Joko.


"Ayo deh," kata Franky.


Mereka bertiga pun merebahkan tubuhnya di atas kasur, tak lama, mereka pun masuk ke alam mimpi.


****


Tengah malam pun tiba, Franky terbangun, dia berasa ingin buang air. Pria itupun berdiri dan berjalan keluar kamar, menuju ke kamar mandi.


Sampai di kamar mandi, Erlangga masuk ke dalam, dan melaksanakan hajatnya. Setelah selesai melaksanakan hajatnya, Franky pun keluar, spontan saja netranya mengarah ke seekor kucing hitam di depan kamar mandi, kucing itu sedang meringkuk, dan matanya terpejam.


"Kasihan sekali tuh kucing, coba kalau bukan kucing, pasti sudah aku suruh tidur di dalam," batinnya.


Kemudian, Franky berjalan, hendak kembali ke kamarnya. Ketika melewati gudang misteri itu, Franky menghentikan langkahnya, dia menoleh ke arah gudang tersebut.


"Tolooooooooong ....!" Terdengar jeritan pilu dari dalam gudang itu.


"Hah? Seperti ada yang minta tolong, suaranya perempuan," batin Franky sambil menempelkan telinganya di pintu gudang itu. Suara minta tolong pun, terdengar semakin jelas.


"Siapa ya?" batin Franky lagi.

__ADS_1


Karena rasa penasaran yang amat sangat, Franky pun tanpa sadar menggenggam gagang pintu gudang itu, dan pintu pun terbuka perlahan. Franky pun masuk ke dalam gudang itu.


Sementara itu, di dalam kamar, Leon terbangun, dia berasa ingin buang air.


"Lho, Franky mana? Kok nggak ada, apa dia sedang ke kamar mandi ya, ah aku susul saja deh, aku juga kebelet," batinnya.


Leon pun keluar dari kamar, dia berjalan menuju ke kamar mandi. Sampai di kamar mandi, Leon heran, karena pintu kamar mandi terbuka. Dan yang lebih herannya lagi, Leon tak menemukan seseorang pun, di dalam kamar mandi.


"Lho, kamar mandinya kosong, terus si Franky mana ya, di kamar nggak ada, di sini nggak ada, ah jangan-jangan dia ke pantai lagi, tapi kan ini sudah malam, masa dia belum pulang juga," batin Leon.


Leon pun berjalan lurus, hendak ke arah pintu depan, dan betapa terkejutnya dia, ketika netranya tertuju ke arah pintu di hadapannya, pintu itu masih ter-grendel.


"Hah? Pintunya terkunci, terus si Franky lewat mana? Kan pintu keluar hanya satu saja," batinnya.


Dan seketika itu pula, Leon pun mempunyai firasat buruk. "Kok perasaan ku nggak enak ya," batinnya.


Tiba-tiba, Leon teringat gudang yang berada dekat dapur, Leon pun berjalan lagi, menuju ke gudang itu. Sesampainya di gudang yang dimaksud, kedua bola mata Leon membola sempurna, dia tak percaya, dengan apa yang dia lihat.


Leon melihat pintu gudang itu telah terbuka lebar, dan di dalam gudang itu sangatlah gelap, namun dia tak berani masuk ke dalamnya.


"Jangan-jangan, si Franky masuk ke sini, dan kemungkinan juga dia sudah membuka pintu gudang itu," batin Leon.


Seketika, Leon pun menjadi panik, dia pun berlari menuju ke kamarnya, di dalam kamar, Leon membangunkan Joko, dia mengguncang tubuh Joko.


"Jok, bangun, Jok! Franky hilang!"


Perlahan Joko membuka matanya, dia mengumpulkan segenap kesadarannya.


Setelah merasa sadar, Joko pun terduduk.


"Franky, Jok, dia nggak ada di tempat ini."


Joko pun terkesiap. "Maksud kamu, apa, Le?"


"Aku tuh kebangun, karna kebelet, tapi sewaktu aku bangun, Franky sudah nggak ada di kamarnya, aku pikir dia di kamar mandi. Nah, aku pun menyusul dia ke belakang, tapi di kamar mandi nggak ada siapa-siapa."


Joko terbelalak. "Yang benar kamu, Le?"


"Beneran, Jok, dan aku pikir, dia pergi ke pantai untuk menemui si Rinjani, tapi pas aku cek pintu depan, kok terkunci, kan aneh ... nah, aku mendadak ingat sama gudang itu, terus aku ke sana, dan kamu tahu, apa yang aku lihat?"


"Ya mana aku tahu lah, Le, kamu ini ada-ada saja, haha!" Joko terbahak.


"Hehe, iya sih, tapi pintu gudang terbuka."


"Apaaa? Gawat! Jangan-jangan Franky sudah membuka gudang itu," kata Joko setengah berseru.


"Entahlah, Jok, aku juga nggak paham, ayo kita lihat ke sana."


Joko dan Leon pun bergegas keluar kamar, menuju ke gudang itu. Dan betapa terkejutnya Joko melihat pintu gudang itu telah terbuka lebar, namun di dalam gudang itu tak terlihat apa pun, dikarenakan ruangan itu gelap.


Joko pun berjalan ke belakang, dia melihat Nawang sedang tertidur pulas.


"Buset, ini kucing apa kebo ya," batinnya.

__ADS_1


Kemudian, Joko meniup wajah kucing itu, dan perlahan, kucing itu membuka matanya.


"Hey, kau ganggu orang sedang tidur saja."


"Memangnya, kamu orang? Kamu kan hewan, hehe," kekeh Joko.


"Kamu menghina aku ya, awas, aku kutuk kamu jadi tikus, terus aku makan."


"Waduh, ampun deh kalau begitu, aku hanya bercanda saja kok."


"Ada apa memangnya?"


"Sebenarnya tadi sore itu, aku ingin bicara sama kamu, tapi aku capek sekali, ngantuk pula, jadi aku pikir aku akan berbicara besok saja, sekalian sama ngobrol."


Kucing itu diam sejenak, dia hanya menyimak ucapan Joko.


Katakanlah, ada apa?" lanjutnya.


"Apa kamu tahu, di penginapan ini ada gudang misteri?"


"Mana aku tahu, aku saja baru tahu tempat ini."


Akhirnya, Joko menceritakan perihal mengenai gudang misteri, dan larangan untuk membukanya.


"Terus, apa masalahnya?"


"Teman aku hilang, nggak ada di kamarnya."


"Wah, mungkin dia membuka gudang itu."


"Nah bisa jadi, apa kamu bisa membantuku?"


Nawang, si kucing hitam itu terdiam sejenak ....


"Ayo, kita lihat gudang itu."


Nawang dan Joko pun berjalan ke arah gudang yang dimaksud, dan Leon masih berdiri di dekat gudang. Nawang berdiri di depan gudang yang telah terbuka itu, sedangkan Joko berdiri di samping kucing itu.


"Tempatnya gelap sekali, coba kamu hidupkan lampunya, Jok," titah Nawang.


Joko pun masuk ke dalam gudang itu, dan meraba-raba tembok, mencari saklar lampu, setelah menemukan, dia pun menekannya, dan seketika, gudang itu menjadi terang.


Joko terkejut, melihat tubuh Franky tergeletak tak berdaya, di lantai yang berada di dalam gudang itu.


"Franky!" serunya.


Leon yang mendengar seruan Joko pun ikut melihat ke dalam gudang itu.


"Hah? Franky? Ngapain dia tidur di situ?"


"Gawat, ini benar-benar gawat," gumam Nawang.


"Gawat? Maksud kamu?" sambung Joko sambil mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Roh teman kamu itu, dibawa oleh makhluk gaib ke alam mereka, ini sungguh gawat, teman kamu bisa mati," ungkap Nawang.


__ADS_2