
"Memangnya kenapa, Mas? Cinta itu nggak mandang usia."
"Ya kalau kamu suka beneran sama Franky, ya aku dukung deh, kasihan dia, kelamaan jomblo, hehe."
"Ya sudah Mas, kamu pulang saja sana, coba nanti sore kesini lagi, barangkali Franky sudah pulang."
"Dih, main usir saja kamu."
"Lho, bukannya aku usir kamu, tapi aku takut, nanti kalau tiba-tiba dia pulang, terus melihat kita sedang berduaan, malah jadi salah paham."
"Ya nggak mungkinlah, kan Franky kenal baik sama aku, lagi pula, aku bukan tipe orang yang suka mengganggu pacar orang lain."
"Lantas, kamu kesini mau apa?"
"Ya mau ketemu sama Franky."
"Kan dia sedang nggak ada di sini."
"Ya sudah, aku pulang."
"Hem ...."
Joko terkekeh, kemudian bergegas pulang. Nawang menyambutnya dengan heran.
"Lho, kok sudah pulang Mas, memang urusannya sudah selesai?" tanya Nawang yang sedang menyapu ruangan salonnya.
"Franky nggak ada di rumah."
"Memang kemana dia?"
"Ya mana aku tahu."
"Ya sudah, nanti sore coba kesana lagi, siapa tahu saja sudah pulang."
"Iya Na."
Joko menarik tangan Nawang.
"Kau mau apa Mas?"
"Aku kangen."
"Ih, kau ini aneh sekali Mas."
"Ah, kamu ini, Na, pura-pura nggak tahu, atau memang nggak peka?"
"Ya, lagian kau ini aneh sekali, kita setiap hari bertemu, belum pernah berpisah pun, tapi kau bilang kangen, kan aneh namanya."
"Memang nggak boleh, kalau aku kangen setiap hari sama kamu?"
"Ya boleh saja Mas, tak ada yang melarang."
"Ya sudah, ayo kita ke kamar."
"Ah, enggak Mas, ini masih siang, males deh kau itu pikirannya kotor."
"Nah, kamu lagi pegang sapu kan, ya sudah tolong sapuin otakku hehehe."
Nawang memonyongkan bibirnya. "Sudah, kamu kalau mau istirahat, ya sana masuk kamar sendiri."
"Ah kamu pelit?"
"Pelit bagaimana?"
"Nggak mau kasih."
"Kasih apa?"
"Dasar nggak peka."
"Sudah diam, aku malas berdebat."
__ADS_1
Joko tersenyum geli, dia baru menyadari kalau orang hamil emosinya masih labil, akhirnya Joko masuk ke dalam kamar, dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.
****
Di sebuah hutan, Franky berjalan hingga masuk ke dalamnya, dia duduk di sebuah tempat duduk yang terbuat dari kayu.
"Ah, aku pasti bisa menulis dengan tenang di sini," batinnya.
Selang beberapa menit, Franky mendengar suara aneh di telinganya.
"Suara apa itu?" Franky membatin.
Suara itu semakin jelas terdengar di telinga Franky, dan karena penasaran, Franky pun beranjak dari duduknya, kemudian berjalan mencari-cari asal suara itu.
Franky terus berjalan, hingga akhirnya dia melihat jurang. Farnky perlahan mendekati jurang itu, dan mengamati sekitar jurang itu. Dia pun terkesiap ketika melihat seorang wanita sedang menunduk, dengan rambut menutupi wajahnya.
"Neng? Sedang apa kamu di situ?" Franky memberanikan diri bertanya.
Namun wanita itu tak bergeming, dia tetap dalam posisinya diam di tempat. Franky perlahan melangkah, hendak turun ke dalam jurang itu.
"Jangan!"
Terdengar suara dari belakang Franky, dan Franky pun menoleh ke belakang, namun tak ada seorang pun.
"Seperti ada yang berteriak, tapi siapa ya," batinnya.
Pada saat Franky mengalihkan pandangannya ke dalam jurang, betapa terkejutnya dia, karena wanita yang dia lihat tadi telah lenyap tanpa bekas.
"Hah? Kemana si neng tadi?"
Dan seketika bulu kuduk Franky meremang. "Jangan-jangan hutan ini angker lagi, hiiiyyy."
Franky membalikan badannya, dan lagi-lagi dia terkejut melihat seorang wanita tua bersurai putih menyeluruh.
"Nek, bikin kaget saja."
"Pergi dari sini," bisik wanita tua itu.
"Pergi dari sini."
Hanya kata-kata tersebut, yang keluar dari mulut wanita tua itu.
Franky mengerutkan keningnya.
"Baiklah Nek, aku akan pergi."
Franky berjalan menuju arah berlawanan dengan posisi wanita tua itu, setelah beberapa langkah dia berjalan, dia menengok kebelakang, namun dia terperanjat, karena wanita tua tadi sudah tak nampak.
"Buset, itu si nenek cepat sekali jalannya, tapi ke mana dia? Kok main hilang saja, atau jangan-jangan dia itu ... hiyyy, lebih baik aku pulang saja ah, bisa-bisa aku ketemu banyak orang nggak jelas lagi," batinnya.
Franky pun pulang ke rumahnya.
"Kamu sudah pulang, Mas?" sambut Via.
"Sudah, Vi."
"Kok cepat?"
"Lho memang kamu nggak suka ya, kalau aku pulang cepat?"
"Ih, kamu itu sentimen sekali Mas, kamu bilang, katanya mau cari inspirasi, ya wajarlah kalau aku tanya, lagi pula ini rumah kamu, jadi aku nggak ada hak untuk nggak suka atau apalah."
"Hehe, ternyata kamu juga sentimen, Vi," ujar Franky sambil mencubit lembut dagu Via.
"Ih, kamu genit Mas."
"Memang aku genit, kamu mau apa?"
Via terdiam, dia tak tahu harus bicara apa, namun jantungnya berdegup kencang tak beraturan. Perlahan, Franky meraih punggung tangan Via, dan mengecupnya. Wajah Via merah padam, dia mendadak nervous.
"Vi, aku sayang sama kamu," bisik Franky.
__ADS_1
"Eh, a-aku, juga Mas," sahut Via dengan bibir setengah bergetar.
"Vi ...."
"Iya, Mas? Ada apa?"
"Nggak apa-apa, hanya kangen saja," sahut Franky yang langsung memagut bibir Via dengan lembut, membuat tubuh Via merinding menikmati sentuhan lembut dari Franky yang membakar hasratnya.
Via pun membalas kecupan Franky, dan cukup lama mereka saling memagut, hingga akhirnya Erlangga melepaskan pagutannya.
"Vi, aku merasa nyaman dengan kamu," bisik Franky.
"Iya Mas, aku juga nyaman sama kamu."
"Besok kita nikah ya."
Ucapan Franky membuat Via membelalakan matanya.
"Apa nggak terlalu cepat, Mas?"
"Lebih cepat lebih baik, Vi, aku sudah terlalu lama hidup menduda, dan jujur aku kesepian, kamu nggak malu kan nikah sama duda?"
"Ih, ya enggaklah Mas."
Ya sudah, kita nikah secepatnya ya, dan kamu jadi istri aku."
"Iya Mas, aku ikut apa kata kamu saja."
Franky tersenyum.
"Kamu sudah selesai bikin novelnya Mas?"
Franky terdiam sejenak. "Sebaiknya, aku nggak cerita sama Via, tentang kejadian di hutan tadi, aku takut Via akan terus kepikiran, dan hidupnya nggak tenang lagi," batinnya.
"Mas?"
Lamunan Franky buyar.
"Eh, iya Vi?"
"Kok kamu malah melamun sih?"
"Eh, anu, nggak apa-apa hehe."
"Kamu itu aneh sekali, Mas."
"Maaf Vi, mungkin aku lelah saja."
"Aku buatkan minum, ya?"
"Em, boleh deh."
Via berjalan ke dapur, tak lama dia ke depan lagi, membawa sebuah nampan berisi dua buah gelas.
"Ayo Mas, minum dulu, kita minum bareng," kata Via sambil menyodorkan gelas berisi teh ke hadapan Franky.
Franky pun meraih gelas yang diberikan Via, kemudian menyesapnya perlahan. "Ah, teh melati kesukaan ku," lirihnya.
"Oh, kamu suka sama teh melati ya Mas, aku tadi lihat itu, jadi ya aku buat saja," ujar Via yang ikut menyesap tehnya.
"Iya Vi, rasanya segar."
"Iya Mas, aromanya juga sedap."
"Ya sudah, dihabiskan Vi."
"Ya pelan-pelanlah Mas, masih panas juga."
"Hehe, iya Vi."
Franky dan Via pun menikmati teh melati, tanpa ada kata-kata lagi di antara mereka.
__ADS_1