
Sementara itu, di samping tempat tidur bu Mira, kini telah berdiri sosok hantu Rindi.
Hantu Rindi menatap ke arah bu Mira, yang sedang tertidur pulas. Bulir bening menetes, mengalir di kedua pipi hantu Rindi.
"Bu, maafkan aku, aku sudah meninggalkan ibu sendiri, aku nggak bisa menjaga ibu dengan baik, aku janji, aku harap ibu menemukan jasadku dan menguburkannya dengan layak," gumam hantu Rindi, yang kemudian menghilang dari tempat itu.
Pagi hari, bu Mira bangun, dia segera ke kamar mandi, untuk melaksanakan ritual mandinya. Selesai mandi, bu Mira bersiap-siap, dia akan pergi ke rumah Nurdiana.
Bu Mira pun naik angkutan umum, menuju ke rumah Nurdiana.
Sesampainya di rumah Nurdiana, bu Mira disambut oleh Leon, yang sedang duduk di teras depan rumah.
"Eh tante Mira, silahkan masuk."
"Iya, Le, tante kamu ada?"
"Ada tante, di dalam."
Bu Mira pun masuk ke dalam.
"Eeh mbak Mira, apa kabar, kok sendiri saja?"
"Iya mbak Nur, saya sendiri saja, lho mas Abdul mana mbak?"
"Biasa mbak, sedang keluar kota."
Oh begitu, oh iya, saya ingin berbicara sesuatu mbak."
"Ayo duduk dulu, mau minum apa mbak, biar aku buatkan sekalian."
"Nggak perlu repot-repot mbak, saya sudah minum di rumah tadi."
Bu Mira pun duduk di sebelah Nurdiana.
"Ada apa mbak? Kok sepertinya serius sekali," tanya Nurdiana.
"Begini mbak, si Rindi sudah sekitar tiga hari ini, kok nggak pulang ke rumah, saya pikir kalau ada di sini."
Nurdiana mengerutkan keningnya.
"Wah saya justru sudah beberapa hari ini, nggak melihat Rindi, terakhir tempo hari yang lalu, waktu saya ke rumah mbak Mira, membahas tentang pekerjaan sama Rindi."
"Duh, ke mana ya si Rindi?" Bu Mira merasa cemas.
"Mbak Mira, saya mau bicara sesuatu, tapi tolong, mbak jangan menilai saya yang enggak-enggak ya."
"Nggak mungkin saya seperti itu, mbak Nur."
"Em, begini mbak Mira, saya merasa ada yang aneh sama Rindi."
"Aneh bagaimana mbak Nur?"
"Itu lho, setelah dia sembuh dari koma, tingkahnya aneh sekali, terus logat bicaranya juga sepertinya asing sekali, bukan bahasa keseharian orang sini."
"Kalau begitu,berarti kita sepemikiran mbak Nur, aku juga merasa aneh sama Rindi, sejak dia sembuh, dan kembali ke rumah, banyak kejadian aneh juga di rumah, pokoknya nggak masuk di akal gitu."
__ADS_1
Bu Mira pun menceritakan perihal potongan yang hilang, dan Rindi yang makan telur ayam setengah matang sebanyak enam butir, keanehan lainnya pada diri Rindi.
"Hah? Masa sih mbak? Kok serem juga ya."
"Saya juga heran, sebenarnya ada apa dengan Rindi, anak saya."
Nurdiana tampak berpikir sejenak.
"Mbak, saya punya usul."
"Apa itu mbak Nur?"
"Bagaimana, kalau kita tanyakan hal ini, sama kiyai Romli, barangkali saja dia paham apa yang terjadi sama Rindi."
"Boleh juga usul kamu mbak Nur, terus kapan kita akan menanyakan ke kiyai Romli?"
"Besok saya saja yang ke rumah mbak Mira, saya bujuk kiyai Romli, biar dia yang ke rumah mbak Mira, nanti biar saya antar, karna saya nggak mau, kalau suami saya sampai mengetahui hal ini."
"Lho, memangnya kenapa mbak Nur?"
"Karena sepertinya, suami saya nggak suka sama hal-hal yang berbau gaib," bisik Nurdiana.
"Ya sudah, besok kalau mbak Nur ada waktu, saya tunggu di rumah saya."
Lama mereka berbincang-bincang, akhirnya bu Mira pun berpamitan pulang.
****
Keesokan harinya, Nurdiana dan kiyai Romli datang ke rumah bu Mira.
Bu Mira menyambut mereka dengan ramah, kemudian bu Mira mempersilahkan mereka untuk duduk.
"Eh, ini saya sedang santai saja kok," jawab bu Mira, dengan senyum ramahnya.
"Ini kiyai Romli mbak Mira," tunjuk Nurdiana ke arah kiyai Romli.
Bu Mira dan kiyai Romli pun bersalaman.
"Jadi apa yang mau ibu tanyakan?" tanya kiyai Romli kepada bu Mira.
"Jadi begini pak kiyai, anak saya Rindi, kemarin itu mengalami kecelakaan, dan dia koma, dan setelah sembuh dari koma, dia pulang ke rumah ini, tapi saya perhatikan, tingkahnya aneh, suhu badannya sangat dingin, dan logat bicaranya juga asing," ungkap bu Mira.
Kiyai Romli tampak sedang menerawang sesuatu.
"Bu, saya mau bilang, tapi ibu yang kuat dan ikhlas ya."
"Apa pak kiyai?"
"Begini bu, mungkin ini sangat sulit untuk di mengerti, tapi menurut mata batin saya, Rindi itu sebenarnya sudah meninggal, bersamaan ketika dia koma, benturan di kepalanya, mengakibatkan dampak yang sangat fatal."
"Apa?" Bu Mira merasa lemas seketika.
"Pak kiyai bohong kan?" Bu Mira masih belum percaya.
"Buat apa saya berbohong? Untungnya juga apa, sebenarnya saya juga nggak enak hati, mau bilang yang sedetailnya sama bu Mira, hanya saja, kalau ibu nggak segera mengetahuinya, ibu akan terus menerus di hantui rasa penasaran," ujar kiyai Romli.
__ADS_1
"Jadi, yang selama ini saya lihat, itu arwah anak saya?"
"Bukan bu," kata kiyai Romli.
Bu Mira semakin bertambah penasaran.
"Lantas?"
"Jadi jasad anak ibu, di rasuki sama makhluk gaib lainnya."
"Tunggu pak kiyai, maksud pak kiyai apa ya, saya benar-benar nggak mengerti."
Begini bu, intinya, ada yang merasuki jasad anak ibu, dia bersemayam di dalam tubuh anak ibu, dia memanfaatkan tubuh anak ibu, hanya demi kepentingan yang menyesatkan.
"Terus, apa masalahnya pak kiyai?"
"Ya, jadi arwah Rindi yang sesungguhnya, itu tersesat, dia nggak bisa kembali ke dalam tubuhnya, maka dari itu, jazad Rindi, nggak bisa di makamkan dengan layak, sebagaimana mestinya, karena tubuhnya sudah di kendalikan sama makhluk halus lain."
Jadi Rindi yang selama ini, yang sikapnya aneh, itu bukan Rindi?"
Kiyai Romli menggeleng.
"Terus, kita harus bagaimana pak kiyai? Apa roh yang berada di tubuh anak saya, bisa di suruh pergi?"
"Saya akan mencoba berkomunikasi, sama makhluk yang mendiami tubuh anak ibu, sepertinya dia adalah jin perempuan."
"Terus pak kiyai, saya ingin bertanya satu hal lagi."
"Katakan bu."
"Kalau yang ada di tubuh anak saya, adalah arwah lain, terus kemana arwah anak saya?"
"Dia tersesat, bergentayangan ke sana sini, mungkin bisa jadi arwah anak ibu, sedang mencari cara, bagaimana cara dia mendapatkan kembali jasadnya.
"Em, apa saya bisa bertemu dengan arwah anak saya?" tanya bu Mira penuh harap.
"Bisa bu, tapi melalui perantara, kalau ibu melihat langsung, saya rasa nggak bisa, karna ibu nggak punya indera ke enam."
"Apa itu indera ke enam pak kiyai?"
"Indera ke enam adalah, kemampuan yang bisa melihat makhluk halus."
"Jadi nanti, lewat mbak Nur bisa, apa mbak bersedia, di rasuki sama arwah Rindi, biar bu Mira bisa berkomunikasi?"
Nurdiana mengangguk antusias.
"Iya pak kiyai, saya bersedia kok, demi menolong bu Mira mengatasi masalahnya, kasihan bu Mira, setiap hari di hantui rasa penasaran, dan kasihan juga Rindi, arwahnya jadi nggak bisa beristirahat dengan tenang."
"Ya sudah, kalau begitu, sebelumnya saya ucapkan terimakasih, dan saya akan mencoba berkomunikasi terlebih dahulu sama arwah Rindi, karna kita juga nggak bisa sembarangan melakukan sebuah ritual, harus ada persiapan yang matang dulu, karna bisa bahaya, kalau kita nggak hati-hati, berurusan sama makhluk halus, walaupun dia anak ibu, tapi dia sekarang sudah berbeda alam dengan kita, dan yang namanya makhluk halus, pasti sifatnya bisa berubah jadi jahat."
"Ya sudah, saya ngikut pak kiyai saja, bagaimana baiknya."
"Baik, besok saya kasih kabar lagi, kalau sudah siap betul, ya sudah saya sekalian permisi dulu."
"Oh iya silahkan pak kiyai, trimakasih sudah mau menyempatkan ke sini."
__ADS_1
"Baik bu, ayo mbak Nur, kita pulang.
Kiyai Romli, dan Nurdiana pun berlalu, dari hadapan bu Mira.