Pulau Abadi

Pulau Abadi
Mimpi Lanjutan


__ADS_3

Franky ... Franky ...."


Sebuah suara terdengar lembut mengejutkan Franky, dia menoleh ke arah sumber suara tersebut. Franky kini berada di pesisir pantai, angin berhembus sepoi-sepoi, dan air laut tampak tenang pada malam itu.


"Pantai?" gumamnya.


Tiba-tiba, Franky merasa tubuhnya lengket dan gerah. Untuk itu, dia berjalan sedikit demi sedikit, menuju bibir pantai itu.


Franky semakin merasakan gerah pada tubuhnya, dan karenanya, dia ingin menceburkan dirinya ke dalam laut itu. Sepertinya Franky ingin sekali berendam di tengah laut, untuk menghilangkan rasa lengket di tubuhnya.


Tanpa di sadari, seperti ada kekuatan gaib yang Franky rasakan, hingga membuatnya terus berjalan menyusuri pantai itu, air pun telah membasahi bagian betis Franky, dan kini Franky telah berada di tengah-tengah pantai.


"Franky ...."


Franky kembali mendengar sosok perempuan memanggil namanya. Dia pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling pantai itu, dan netranya tertuju kepada sosok wanita, berkebaya dan berkerudung putih.


Sosok itu melambaikan tangannya ke arah Franky seakan mengajak pria itu untuk menghampirinya.


Kini, air laut sudah sebatas dada Franky.


Tiba-tiba, Franky melihat seekor ikan besar, seperti ikan paus, dengan ukuran tubuhnya kurang lebih lima meter.


Ikan itu menatap tajam ke arah Franky seolah mengisyaratkan, supaya Franky segera pergi dari tempat itu.


Namun, Franky tak mempedulikan ikan itu, dia terus saja berjalan ke tengah pantai, dia terus mengikuti kata hatinya, untuk menghampiri wanita yang melambai tangan kepadanya.


Melihat Franky yang terus maju ke tengah laut, ikan itu menjadi marah, dia mengepakkan ekornya, sehingga terciptalah cipratan air, membasahi wajah Franky.


"Pulanglah Franky suamiku, jangan kau teruskan langkahmu."


Ucapan ikan itu membuat Franky menghentikan langkahnya.


"Hah? Soraya?" batinnya.


Ketika Franky menoleh, ternyata ikan itu sudah tak terlihat.


Wanita yang memanggil Franky semakin dekat. Namun, ketika Franky menyadari hal itu, ternyata air laut telah menenggelamkan tubuh Franky.


Franky mencoba melambaikan tangannya, supaya ada seseorang yang mau menolong.


Akhirnya, Franky merasakan tubuhnya ringan, seperti ada yang menariknya ke daratan.


Mendadak, di sekeliling Franky menjadi gelap.


Perlahan, Franky membuka matanya.


"Ah, ternyata aku hanya mimpi," batinnya.


Kemudian, Franky melirik jam dinding. "Hem, masih jam dua, masih malam," gumam Franky sambil menguap.

__ADS_1


"Ah sebaiknya aku tidur lagi, mau apa juga, masih malam, mataku juga masih berat."


Erlangga melirik laptopnya, yang terletak di sebelah bantalnya, dia tersenyum.


Aku hampir lupa menyerahkan naskah ku sama Nyonya Nur, mungkin besok deh, setelah itu, aku akan memikirkan novel selanjutnya," gumamnya dalam hati.


Kemudian Franky merebahkan tubuhnya, dia kembali memejamkan matanya, karena merasa mengantuk sekali.


"Franky ...."


Franky kembali mendengar suara wanita, yang memanggil dirinya. Dia pun menoleh ke kiri, dan ke kanan, namun tak ada seseorang pun, yang dia lihat.


Franky terperanjat, karena saat itu, dia sedang berada di sebuah hutan. "Kenapa aku ada di sini?" batinnya.


Franky pun duduk, di salah satu batang pohon yang tumbang, tiba-tiba, sosok wanita berkebaya dan berkerudung putih pun telah duduk di sampingnya.


Franky terbelalak .... "Rinjani ....?"


Sosok yang ternyata Rinjani itu pun tersenyum ke arah Franky.


"Kamu apa kabar, Rin?"


Rinjani hanya tersenyum, tak menjawab pertanyaan Franky.


"Apakah anda masih ingat dengan saya?" tanya Rinjani.


"Apakah anda masih mencintai saya?"


Pertanyaan Rinjani membuat Erlangga terkesiap, jantungnya pun berdetak kencang.


"Eh, i-iya, Rin," jawab Franky gugup.


"Kalau anda masih mencintai saya, ikutlah dengan saya."


Rinjani berdiri, dan berjalan membelakangi Franky.


Franky pun mengikuti langkah Rinjani. Rinjani menggandeng tangan Franky, mereka berdua terus berjalan hingga jauh.


Kini Franky dan Rinjani berada di depan sebuah istana kerajaan, yang sangat megah dan indah.


Franky terpesona. "Apakah ini rumah kamu, Rin?"


Rinjani tersenyum dalam anggukannya. "Yuk masuk," ajaknya.


Rinjani menggandeng tangan Franky dan mengajaknya masuk ke dalam. Franky pun mengikutinya. Kemudian, Rinjani berjalan masuk ke dalam kamarnya. Wanita itu menyuruh Franky untuk duduk.


Franky pun duduk di bibir ranjang. Dia mengamati sekeliling kamar itu, dia benar-benar takjub, karena kamar itu benar-benar mewah, tempat tidur yang dia duduki pun terasa empuk bak kapas, dan tercium wewangian melati dari dalam kamar itu.


"Ini kamar, atau surga? Indah sekali," gumam Franky lirih.

__ADS_1


Rinjani tersenyum penuh makna. "Beristirahatlah, Fran, anda tentunya lelah bukan?"


Franky pun merebahkan tubuhnya, dia merasa nyaman berada di atas kasur itu. Kemudian Rinjani mendekati Franky dia meraba wajahnya yang tampan.


Deg!


Jantung Franky berdetak kencang tak beraturan.


Kini, netra mereka saling bertemu.


Ada rasa gugup, juga malu di hati Franky.


Namun, Franky mencoba memberanikan diri, dia mengusap lembut, pipi Rinjani lalu turun ke pundaknya, dan memijat lembut di sana, hingga membangkitkan sensasi Rinjani.


Jantung Franky berdegup lima kali lebih kencang, pada saat menatap wajah Rinjani, dia seakan telah terhipnotis oleh kecantikannya.


Hembusan lembut nafas Franky telah menyapu wajah Rinjani, hingga membuat sosok cantik itu memejamkan matanya.


Perlahan, Franky memberikan sentuhan lembut di kening dan hidung Rinjani, dan kini beralih ke bibir wanita itu.


Rinjni merasakan manis dan nikmat, dia pun hanya pasrah, menikmati setiap sentuhan yang di berikan oleh Franky. Rinjani tak menyangka, kalau jari jemari tangan Franky kini menyentuh area milik Rinjani yang tersembunyi.


Franky pun merebahkan tubuh Rinjani di atas kasurnya. Tak ada penolakan diantara kedua insan tersebut. Rinjani hanya pasrah, menikmati apa yang Franky lakukan terhadapnya. ******* manja Rinjani membuat Franky semakin bergairah, menjelajahi setiap jengkal tubuh Rinjani.


Mereka berdua pun melayang ke puncak surgawi, di temani dinginnya hembusan angin malam, yang menjadi saksi penyatuan mereka.


Dinding tembok di kamar itu pun, menjadi saksi bisu, mereka berdua seolah mengalami pengalaman baru, yang membuat mereka tak ingin mengakhirinya.


Tok ... tok ... tok ....!


Franky terbangun mendengar suara ketukan pintu, yang begitu keras. Pria itu terduduk di atas kasurnya, lalu menoleh ke kiri dan ke kanan, dia merasakan sesuatu yang aneh.


Kemudian Franky melirik jam dinding, kedua matanya membola sempurna, mana kala melihat jarum jam, yang mendarat di dua angka.


"Hah? Jam dua belas siang?" Gila, apa benar aku tidur dari semalam sampai sekarang ini?" gumamnya tak percaya.


Tok ... tok ... tok ....!


Suara ketukan pintu kembali terdengar, kencang dan pasti.


"Siapa sih?" Franky mengerutkan keningnya.


"Siapa?" Franky akhirnya bertanya dari dalam kamar.


Namun hening, tak ada sahutan ....


Tok ... tok ... tok ....!


Suara ketukan pintu kembali terdengar. Franky menjadi geram.

__ADS_1


__ADS_2