Pulau Abadi

Pulau Abadi
Ke Rumah Leon


__ADS_3

Franky pun terlelap dalam tidurnya. Dan pagi hari, seperti biasa, Franky bangun dan bergegas mandi, setelah itu, dia menyeduh teh melati, dan meminumnya perlahan hingga habis.


Sementara Leon belum membalas pesan Franky dari semalam. Untuk itu, dia berencana akan pergi ke rumah Leon. Franky pun keluar rumah, dan mengeluarkan mobilnya. Setelah memanasi mobil, Franky mengendarai mobilnya menuju ke rumah Leon.


Sesampainya di rumah Leon, Franky turun dari mobil, dan mengetuk pintu rumah Leon. Nurdiana membuka pintu itu, dia sudah berpenampilan rapi.


"Eh kamu, Fran."


"Iya, Nyonya, lho Nyonya sudah rapi sekali, mau berangkat ke kantor kah?"


"Iya, Fran, ini banyak naskah yang harus saya periksa hari ini, jadi saya berangkat lebih awal."


"Oh gitu ya, oh ya, Leon ada?"


"Ada, Fran, tapi masih tidur, hem ... biasa lah muka bantal."


"Oh, pantas saja, pesanku nggak dibalas juga," gumam Franky dalam hati.


"Ya sudah masuk saja, Fran, kamu ketuk saja kamarnya."


"Iya, Nyonya, terus tuan Abdul juga sudah berangkat?"


"Kamu kan tahu sendiri, suami saya kalau ke luar kota sampai tiga hari baru pulang, ini dari kemarin belum pulang."


"Oh gitu, ya sudah, saya masuk dulu nyonya."


"Oh ya, Fran, saya hampir lupa mau bilang, novel horor kamu benar-benar banyak diminati oleh pembaca lagi, mereka pada suka cerita horor kamu, banyak juga yang bilang, kalau ceritanya seperti nyata."


"Benarkah? Alhamdulilah kalau begitu nyonya." Raut wajah Franky memancarkan keceriaan.


"Iya, Fran, dan buku nya juga laris sekali, hampir habis terjual, dan kamu dapat bonus tambahan, besok saya transfer, kalau saya sudah nggak sibuk ya."


"Iya, Nyonya, terimakasih sebelumnya."


"Sama-sama, Fran, oh ya kapan kamu buat novel lagi? Ini pembaca pada tanya. Kalau bisa sih, kamu bikin novel horor satu lagi, karna pada bosan sama cerita romance."


"Wah, kebetulan sekali, saya besok mau buat novel horor lagi, Nyonya."


"Benarkah? Ya sudah, semangat ya, saya duluan."


"Iya, Nyonya, hati-hati."


Nurdiana pun segera berjalan, dan masuk ke dalam mobil, setelah itu perlahan berlalu, dan menghilang dari hadapan.


Sedangkan Franky masuk ke dalam, dia berjalan ke arah kamar Leon, kemudian mengetuk pintu sebanyak tiga kali. Tak lama pintu terbuka, tampak Leon yang masih dengan mata mengantuk, dan wajah kusut.


"Kamu itu, tidur terus, sudah jam berapa ini, Le? Pesan ku pun nggak kamu balas, huft."


"Eh, kamu, Fran, iya, iya, duduk dulu yuk, aku mandi sebentar, biar segar."


Franky pun duduk di ruang tengah, sedangkan Leon segera melaksanakan ritual mandinya.


Selesai mandi, Leon menghampiri Franky. Tangan kanannya membawa sebuah toples plastik, kemudian meletakannya di atas meja.


"Nih, Fran, ada sedikit camilan."


"Iya, Le."


"Kamu sudah makan belum, Fran?"


"Ya belum lah Le, aku bangun tidur langsung mandi, terus ke sini."


"Oh ya sudah, habis ini kita makan bareng ya, sepertinya tante aku bangun lebih awal dan masak, aku lihat meja makan banyak lauk."


"Iya, Le, gampang."

__ADS_1


"Oh iya, ngomong-ngomong, kamu kirim pesan apa? Ponsel ku masih di kamar hehe."


"Begini, Le, besok kira berangkat ke pulau abadi, sama Joko juga. Apa kamu yakin, mau ikut? Sudah mantap?"


"Iya, Fran, aku bosan di rumah terus, aku ikut kalian saja, ya biarpun tempatnya seram, tapi kan ada Joko, dia itu pemberani dan bisa melindungi kita juga."


"Iya, Le, Joko bilang, dia mau menguak misteri pulau abadi itu, biar hidup kita normal seperti biasa, karna sejak kita pulang dari tempat itu, kita selalu mengalami hal-hal yang nggak masuk akal."


"Iya, Fran, intinya, kita jadi diikuti sama para hantu, memang di pulau itu, banyak hantunya ya?"


"Entahlah, Le, aku pun tak paham."


"Eh, Fran, si Joko itu orang sakti ya? Sepertinya dia nggak takut sama hantu, malah hantunya yang takut sama Joko."


"Dia kan orang paling sakti di desaku, Le. Bisa di bilang sakti mandra guna."


"Oh iya, Fran, aku lupa, dia kan pernah cerita sama aku, kalau dia punya ilmu terawang, terus bisa berkomunikasi sama hantu juga. Kalau aku, boro-boro komunikasi, lihat wujudnya saja, sudah kabur deh, nggak kuat."


"Haha, kamu yang nggak takut, lihat perempuan cantik, Le."


"Ah sama, Fran, kamu juga kan hehe."


Franky pun terkekeh ....


"Kalau kamu, masih suka diganggu sama hantu nggak, Le?"


"Nggak tahu, Fran."


"Kok nggak tahu?"


"Ya, akhir-akhir ini aku tidurnya pagi terus, makannya aku bangunnya siang, kalau aku tidur malam, pasti selalu diganggu. Aku selalu dengar suara-suara aneh gitu, Fran, tapi anehnya aku nggak pernah bisa lihat mereka, aku hanya dengar suara-suara saja."


"Terus, kamu kalau malam ngapain saja, Le?"


"Kok kuat mata kamu?"


"Ya mau gimana lagi, Fran, kalau tidur malam juga nggak bisa, malah aku paksa merem, tapi nggak merem juga."


"Kalau aku sering, Le, hampir setiap hari diganggu hantu, kemarin saja, aku sedang nyapu di belakang rumah, eh tiba-tiba ada perempuan berdiri di depan aku."


"Hah? Yang benar kamu, Fran?"


"Kapan aku pernah bohong, Le?"


"Terus, kamu diapakan sama hantu itu, Fran?"


"Ya nggak diapa-apakan, Le, orang pas aku tanya, siapa, eh dia langsung hilang gitu saja."


"Ih, kok seram sekali, Fran."


"Iya, Le, malah pas sampah yang sudah aku sapu, jadi berantakan lagi."


"Hah? Masa sih, Fran?"


"Iya, Le."


"Wah, aku kok jadi merinding dengar cerita kamu, alamat nggak bisa tidur nih, nanti malam."


"Katanya kamu kalau tidur pagi, Le."


"Eh iya lupa aku, hehe."


Franky menggelengkan kepala. "Le, Le, kamu ini, hem."


Leon terkekeh, sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.

__ADS_1


Waktu pun, kini sudah menunjukkan pukul dua belas siang ....


"Fran, kamu sudah lapar, atau belum? Kita makan yuk."


"Ayo deh, Le, aku juga lapar hehe, karna tadi aku belum sarapan, hanya minum teh saja."


"Teh melati?"


"Iya dong, Le."


"Andalan kamu, Fran, hehe."


"Kamu juga suka kan, Le, kalau dibuatkan?"


"Tentu saja suka, Fran, kalau buat sendiri baru nggak suka haha!"


Franky tersenyum ....


"Ya sudah, ayo, Fran, kita ke belakang."


"Yuk, Le."


Franky dan leon berjalan ke belang, mereka berdua makan makanan yang telah dimasak oleh Nurdiana.


"Em, enak sekali, Le?"


"Iya, Fran, masakan tante aku memang enak, ayo makan yang banyak, biar kuat."


"Kuat ngapain, Le?" Franky mengerutkan keningnya.


"Kuat menghadapi kenyataan hidup lah, Fran."


"Haha, kamu bisa saja, Le."


Leon terkekeh .... "Besok kita berangkat jam berapa, Fran?"


"Pagi saja, Le, biar sampai sana nggak kemalaman, kan tempatnya jauh."


"Iya sih, Fran, ya sudah nanti malam, aku siap-siap."


"Kamu tidurnya malam saja, Le, kalau tidur pagi, kita bisa terlambat."


"Ah aku nggak tidur, Fran, tidur di mobil saja."


"Oh, ya sudah terserah kamu saja, Le. Oh iya, kamu sudah bilang sama tante kamu, kalau kamu mau ke pulau abadi lagi?"


"Sudah, Fran."


"Terus? Boleh?"


"Ya boleh lah, kan perginya sama kamu, kalau sendiri baru nggak boleh."


"Oh ya sudah, kalau begitu."


"Iya, Fran."


Kini, Franky dan Leon telah menghabiskan makanan mereka.


"Ah, kenyang sekali, Le."


"Sama, Fran, ya sudah yuk kita nonton tivi sambil ngobrol-ngobrol."


"Iya, Le, tapi aku cuci piring dulu."


"Sudah, nggak perlu, Fran, nggak apa-apa, biar tante aku saja."

__ADS_1


__ADS_2