
Satu bulan pun berlalu semenjak kejadian tersebut, dan Leon kini sudah lulus dari kuliahnya walaupun dengan nilai pas-pasan karena dia sering absent.
Leon hanya tinggal dengan om dan tantenya, Nurdiana dan juga Abdul Rosaq suami dari Nurdiana, karena orang tua Leon meninggal dalam kecelakaan tragis yang menimpa mereka, saat itu Leon berusia sepuluh tahun, untuk itu Leon di asuh oleh Nurdiana yang merupakan adik dari ayah Leon.
Mereka sedang makan bersama di ruang makan.
"Tante, sejak pulang dari Pulau Abadi, si Franky jadi aneh," kata Leon.
"Aneh bagaimana Le?" tanya Nurdiana.
"Aku bingung ceritanya, pokoknya tingkahnya jadi berubah gitu, terus aku juga tante, kalau malam suka merasa seperti ada yang ngikutin aku di kamar gitu, sama suka denger suara-suara aneh," ujar Leon.
"Masa sih Le?" Nurdiana mengalihkan pandangannya ke arah suaminya.
"Iya tante, hampir tiap malam, tidurku jadi keganggu, nggak pernah nyenyak.
"Memangnya, kamu dengar suara apa Le?" tanya Abdul Rozaq.
"Seperti ada yang memanggil namaku, tapi nggak ada siapa-siapa," jawab Leon.
"Oh iya tante, di rumah Franky ada perempuan yang tinggal di sana, maksudnya dia kos dekat rumah Franky, dia cantik sekali seperti Bidadari, tapi aku merasa agak aneh sama dia, waktu salaman sama dia, aku langsung merinding tante," ucap Leon.
"Mungkin kamu suka sama perempuan itu, jadi merinding kalau bersentuhan," kelakar Nurdiana.
Abdul Rozaq hanya tertawa kecil.
"Dih, apaan sih Tante, Om, malah di ketawain huft," kata Leon.
"Lagian, kamu itu lucu, salaman sama perempuan cantik kok malah merinding," kata Nurdiana.
"Sepertinya, percuma aku curhat sama mereka berdua, nggak ada yang mau ngerti, malah di kira bergurau hem," gumam Leon dalam hati.
"Oh iya Le, kamu rencana mau kerja apa?" tanya Abdul Rozaq.
"Belum tahu nih om, baru cari lowongan," sahut Leon.
"Kalau kamu mau, om ada lowongan," sahut Abdul Rozaq.
"Aku cari sendiri saja om, nanti takutnya kalau sudah bekerja, terus nggak cocok, kan nggak enak juga mau berhenti," jawab Leon.
"Benar kata Leon Pak, dia sudah dewasa, biar dia tentukan sendiri jalan hidupnya, yang penting nggak salah langkah," kata Nurdiana.
"It's oke kalau begitu," ucap Abdul Rozaq.
Selesai makan, Leon masuk ke dalam kamarnya.
"Kangen juga nih sama Franky, sedang apa dia? Mau main ke rumahnya, tapi ada perempuan itu, serem ih, lagian Franky ngapain juga sih bawa perempuan itu, mau dia nikahin mungkin, syukur deh kalau begitu, jadi dia nggak galau lagi, tapi, siapa perempuan itu? Misterius sekali, sepertinya ada yang aneh sama dia, tapi apa ya?" gumam Leon dalam hati.
Tiba-tiba angin dingin berhembus sangat kencang dan menyeruak masuk ke dalam kamar Leon.
Seketika tubuh Leon kedinginan, Leon pun masuk ke dalam selimutnya, beberapa menit kemudian, Leon merasa panas.
"Sebenernya, ini musim apa sih? Cuaca kadang-kadang dingin, kadang-kadang panas," lirih Leon.
Karena merasakan kantuk yang sangat hebat, Leon pun memejamkan matanya, hingga terlelap dalam tidurnya.
Kini Leon telah berada di atas awan, dia berjalan-jalan di sekitar awan yang membentang di hadapannya.
Samar-samar telinganya mendengar suara anak kecil memanggil dari arah belakang.
"Leon..."
"Hah? Siapa yang memanggil aku?"
Leon menoleh ke belakang.
Dia melihat seorang wanita berjalan menghampirinya.
"Kamu siapa?" tanya Leon ketika wanita itu mendekat.
Namun wanita itu tak menjawab ucapan Leon, melainkan berubah wujud menjadi sekelompok anak tuyul yang sedang bermain-main di hadapannya.
Leon ketakutan melihat mereka, akhirnya dia mengambil langkah seribu, namun, sekelompok anak tuyul itu mengejar Leon.
"Om, ayo main sama kami," kata salah satu anak tuyul itu.
"Ayo om, temani kita semua," anak-anak tuyul itu terus mengejar Leon.
"Tolong!" teriak Leon sambil terus berlari.
Tiba-tiba para tuyul itu sudah berada di hadapan Leon.
mereka mengangkat kedua tangannya ke depan hendak mencekik Leon.
Leon membelalakkan matanya karena ketakutan.
"Jangan! Jangan mendekat, pergi kalian, pergi!" seru Leon.
Para tuyul semakin mendekat ke arah Leon, dan Leon sudah terpojok, dia sudah tak bisa berlari lagi, karena tepat di belakang tubuhnya di mana dia berdiri adalah sebuah jurang yang sangat dalam, selangkah lagi Leon terperosok masuk ke dalam jurang itu.
Para Tuyul terus mendekat, kini hanya tinggal selangkah lagi mereka bisa menyerang Leon.
__ADS_1
"Pergi dari sini! Pergi! Tolong! Tolong! Tolong aku!"
"Le, Le, bangun Le!" sebuah suara membuat mata Leon terbuka.
Perlahan Leon bangun dari tidurnya dan duduk dengan posisi kedua kakinya di tekuk di depan dada dan kedua tangannya melingkar di kedua kakinya itu.
Dia melihat Nurdiana dan Abdul Rozaq berdiri di sampingnya.
"Kamu mimpi apa? Masih siang ini," tanya Nurdiana.
Keringat dingin mengucur di kening Leon.
"Ternyata hanya mimpi," gumam Leon.
"Memangnya kamu mimpi apa Le?" sambung Abdul Rozaq.
"Aku mimpi di datangi tuyul om," sahut Leon.
"Le, Le, kamu ini ada-ada saja, siang bolong begini, mana ada tuyul," kata Nurdiana gemas.
"Adalah tante, buktinya aku mimpi di datangin tuyul," jawab Leon.
"Itu kan hanya mimpi, lagian kamu tuh kebanyakan tidur, jadi ya gitu deh, mimpi nggak jelas," sambung Abdul Rozaq.
"Betul Le, kerjaan kamu cuma makan sama tidur, makannya tambah gendut tuh badan hehe," Nurdiana terkekeh.
"Ya sudah, jalan-jalan di depan sana, bergaul sama perempuan di rumah sebelah, siapa tahu kamu dapet jodoh," kelakar Nurdiana.
"Yeee.. tante ini malah buly aku huft," gerutu Leon.
"Ya sudah, kita keluar yuk Pak, di kira ada apa teriak-teriak, makannya jangan tidur siang-siang," kata Nurdiana.
Nurdiana dan Rozak keluar dari kamar, sedangkan Leon duduk di bibir kasur, dia memainkan ponselnya.
Leon membuka sosial media, dia menjelajahi kabar berita yang ada, kedua bola matanya membulat ketika membaca beberapa iklan lowongan pekerjaan.
"Wah, banyak lowongan nih, aku pilih yang mana ya?" batin Leon.
Akhirnya pilihan Leon jatuh ke sebuah pekerjaan yang di rasa cocok untuknya.
"Masterchef," gumam Leon.
Dia pun menghubungi nomor telpon yang tertera di bawah iklan tersebut.
"Halo? Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pria di seberang sana.
"Maaf Pak, saya mau tanya, apakah masih ada lowongan?" Leon balik bertanya.
"Kebetulan saya lulusan tata boga," kata Leon antusias.
"Apakah anda bisa membuat dessert juga? tanya pria itu.
"Insya allah bisa Pak."
"Kalau begitu, besok saya tunggu di Hotel Merpati di kota L, untuk melakukan serangkaian tes terlebih dahulu," perintah pria tersebut.
"Baik pak," jawab Leon.
Panggilan berakhir...
Leon keluar kamar dan berjalan menuju ruang utama, di sana ada om dan tantenya sedang menonton televisi.
"Kalau aku bekerja jadi Masterchef gimana Tan? om?" tanya Leon.
"Wah, boleh tuh, kamu dapat lowongan di mana?" tanya Abdul Rozak.
"Di sosial media Om," jawab Leon.
"Tempatnya di mana?" timpal Nurdiana.
"Di Hotel Merpati, di kota L," jawab Leon antusias.
"Hah? Hotel Merpati? Bukannya hotel itu mengalami kebakaran satu bulan yang lalu ya," ujar Abdul Rozak.
"Tapi, di iklan gambar Hotelnya masih utuh bangunannya Om," sahut Leon.
"Mungkin sudah di bangun lagi Pak," ujar Nurdiana.
"Ya,ya, ya, bisa juga, tapi cepat sekali Hotel itu di bangun," Abdul Rozaq mendadak curiga.
"Bisa saja, pemiliknya menyewa ribuan tukang bangunan handal, supaya cepat selesai, jaman sekarang teknologi sudah canggih, jadi, apa sih yang nggak mungkin," Nurdiana meyakinkan.
"Kamu benar Bu, terus kamu mau berangkat kapan Le?"
"Besok aku di tes dulu, doakan saja supaya aku bisa lulus tes, dan di terima kerja, karna pekerjaan koki itu gajihnya lumayan, melebihi karyawan kantoran, apa lagi kalau bagian membuat menu utama sama hidangan penutup, suka dapat tips dari para pelanggan," ujar Leon.
"Ya sudah, besok hati-hati, kita doakan semoga kamu berhasil dan di terima kerja," kata Abdul Rozaq.
"Iya Om, kalau jadi bekerja, aku akan mencari kos atau kontrakan, nggak mungkin kalau aku laju, secara, tempatnya jauh," kata Leon.
"Iya Le, kamu kan sudah dewasa, jadi kamu pasti bisa jaga diri kamu sendiri, kita nggak mungkin terus mengawasi kamu," kata Nurdiana.
__ADS_1
"Iya Tante," kata Leon.
****
Keesokan harinya, Leon bangun dan bergegas mandi, kemudian dia memakai baju kemeja berwarna putih dengan celana panjang berwarna hitam di padukan dengan jas hitam, menambah manis wajah pria berbadan gemuk itu.
Leon berjalan menuju ke meja makan, di sana sudah tersedia satu tangkup roti tawar dengan toping coklat dan satu gelas susu coklat hangat.
Leon segera melahapnya hingga habis.
Setelah sarapan, dia berpamitan kepada om dan tantenya, kemudian mengendarai mobilnya menuju kota L.
Perjalanan dari rumah Leon ke kota L, memakan waktu cukup lama, kurang lebih sekitar tiga jam.
Sepanjang perjalanan itu sangat sepi, hanya beberapa orang saja yang lewat di tempat tersebut.
Tiba-tiba ada seekor kucing hitam, melompat ke atas mobil Leon, dan kemudian turun lagi, Leon dapat melihat adegan itu dari kaca mobilnya bagian depan, Leon pun berhenti sejenak.
"Apaan sih tuh kucing, main lompat-lompat segala, bikin kaget saja" batin Leon.
Leon kembali melanjutkan perjalanannya, lagi-lagi dia di hadang oleh seorang kakek tua berbaju putih sedang membawa tongkat, kak berjalan membungkuk.
Leon mengerem mobilnya, dan kakek tua itu mengetuk kaca mobil Leon bagian samping.
Leon membuka kaca mobil.
"Ada apa kek?" tanya Leon.
"Cu, sebaiknya jangan kau teruskan perjalanan ini, pulanglah sebelum semua terlambat," ucap kakek tua itu.
"Maaf kek, saya mau bekerja, ini buat masa depan saya," sahut Leon.
"Terserah cucu saja, saya sudah memperingatkan," kata kakek tersebut.
Kemudian kakek itu berjalan ke arah belakang mobil yang di kendarai oleh Leon.
Leon pun menoleh ke arah kakek itu berjalan.
Betapa terkejutnya Leon, ketika kakek itu sudah tak terlihat batang hidungnya.
"Gila tuh kakek, cepat sekali jalannya," gumam Leon dalam hati, dia pun kembali melanjutkan perjalanannya, hingga tibalah dia di Kota L.
Leon segera membuka Google Map, setelah menelusuri jalan sesuai peta yang ada, sampailah dia di sebuah bangunan bertuliskan Hotel Merpati.
Bangunan itu terlihat sangat mewah.
Leon turun dari mobilnya, kemudian berjalan masuk ke dalam.
"Kok suasananya aneh ya, atau mungkin hanya perasaanku saja," batin Leon.
"Permisi," sapa Leon.
Tak lama keluarlah seorang pria tua berusia empat puluh lima tahun, wajahnya terlihat pucat.
"Apakah kamu yang melamar pekerjaan kemarin?" tanya pria tersebut dengan nada datar.
"Benar pak, nama saya Leon," jawab Leon antusias.
Leon pun bersalaman dengan pria itu.
"Saya adalah Beni, manager di hotel ini," kata pria itu.
Leon mengangguk dan tersenyum.
"Sekarang ikut saya ke dalam, saya akan mengetes kamu untuk membuat beberapa hidangan," kata pak Beni.
"Baik pak," sahut Leon.
"Kok tangan pak Beni dingin sekali, padahal cuaca di sini panas, mukanya juga pucat, apakah dia sedang nggak sehat? Ah, sebaiknya aku ikuti saja dia, semoga di terima," batin Leon.
Leon terus berjalan mengikuti pak Beni hingga sampai di sebuah ruangan yang mirip sebuah dapur.
"Ini ada beberapa bahan, coba kamu buat makanan ala Jepang, karna mayoritas tamu langganan di hotel ini menyukai hidangan ala Jepang, jangan lupa hidangan dessert nya," perintah pak Beni.
"Baik pak," jawab Leon.
Leon mulai meracik bahan-bahan untuk di masak menjadi sebuah hidangan.
Dia membuat okonomiyaki yaitu Sayuran, daging, makanan laut dan bahan-bahan lain yang ditambahkan ke campuran tepung terigu dan telur dan dimasak diĀ hotplate seperti martabak, dinikmati dengan saus khusus dan mayones.
Untuk dessert Leon membuat namagashi yaitu adonan kacang yang di beri pemanis.
Satu setengah jam, Leon berhasil menyelesaikan masakannya.
Pak Beni pun masuk ke ruangan dapur, kemudian mencicipi masakan yang di buat oleh Leon.
Betapa terkejutnya pak Beni, karena makanan yang di masak oleh Leon sangat luar biasa dan mengguncang lidah, rasanya pun bikin nagih.
****
(Dessert adalah hidangan penutup)
__ADS_1