
Franky membawa kopernya dan memasukannya ke dalam bagasi mobil miliknya.
Kemudian dia mengunci pintu rumahnya, dan mengemudikan mobilnya menuju rumah Leon.
Sesampainya, Leon telah menunggu di depan rumah, Franky pun turun.
"Halo, Fran!"
"Iya Le, nyonya Nur mana?"
"Ada di dalam, yuk masuk dulu."
Franky dan Leon masuk ke dalam yang langsung di sambut oleh Nurdiana.
"Kamu sudah siap merilis novel terbaru, Fran?"
"Sudah, Nyonya," angguk Franky.
"Ya sudah, kalian hati-hati ya di sana."
"Baik, Nyonya, saya berangkat dulu.. ayo, Le."
"Tante, aku berangkat dulu ya, tolong pamitkan sama om nanti ya," kata Leon pada Nurdiana.
Nurdiana tersenyum dalam anggukannya.
Setelah kedua sahabat itu telah masuk ke dalam mobil, Franky pun mengemudikan mobilnya.
Mobil melaju dengan kecepatan seratus kilo meter perjam.
Tiba-tiba sebuah truk menyalip mobil Franky.
"Wah truk itu, seenaknya saja menyalip."
Franky pun menancap gas, hingga kecepatan mobilnya di atas seratus kilo meter.
"Jangan ngebut dong, Fran," Leon ketakutan.
"Lah, itu ada yang nyalip kita."
"Ah sudah, biarkan saja, kita santai."
"Kamu bilang tempatnya jauh, jadi ya kita harus ngebut."
"Nggak gitu jugalah, Fran, memang tempatnya jauh, tapi santai saja lah, kita mau sampai malam pun nggak masalah, nggak perlu terburu-buru, nanti kalau ada apa-apa gimana?"
Franky pun menurunkan gas mobil hingga kini kecepatannya menjadi sembilan puluh kilo meter.
Tiba-tiba Franky menginjak rem, dia seperti merasa menabrak sesuatu.
Meoooong!
"Suara apa tuh, Fran?"
"Entah, Le, seperti suara kucing."
"Hah? Kamu nabrak kucing, Fran?"
"Ya aku nggak tahu, Le, nggak kelihatan juga."
__ADS_1
"Ya sudah ayo kita lihat, Fran."
Franky dan Leon pun turun, untuk memastikan apakah suara tadi berasal dari seekor kucing atau bukan.
Setelah Franky dan Leon turun dari mobil, mereka melihat seekor kucing hitam tergeletak bersimbah darah, di dekat ban mobil, kepalanya hancur, dan yang pasti sudah tak bernyawa lagi.
"Duh gimana nih, Fran?"
Franky tampak bingung.
Warga di sekitar pun banyak yang mendekati mereka berdua.
Dan salah satu dari mereka berkata....
"Wah, Mas, kucing ini harus di kubur memakai salah satu baju dalaman milik salah satu dari kalian, kalau enggak, malapetaka akan muncul dan menyerang kalian."
Konon di desa para warga tersebut, beredar sebuah keyakinan, kalau kucing hitam yang tertabrak mobil, si penabrak harus menguburkannya memakai pakaian dalam milik si penabrak.
"Em maaf, Pak, kenapa harus memakai baju dalaman? Dikubur biasa kan bisa?" tanya Leon.
"Ya, itu hanya sekedar mitos atau kepercayaan disini mas, terserah sama kalian juga sih mau bagaimana, tapi biasanya kalau menabrak kucing hitam, itu pertanda bahaya mengancam kalian."
Franky dan Leon saling berpandangan.
"Ah hanya mitos kan, Pak," kata Leon.
"Sudah Le, sana kuburkan dulu kucingnya."
"Yah kok jadi aku sih, Fran, kan kamu yang nabrak.
Franky terdiam sejenak, dia merasa malas untuk mengubur kucing itu.
Leon terkesiap, karena dia sama sekali tidak tahu menahu soal mesin.
"Eh, aku yang mengubur kucing saja deh, hehe."
Franky menggelengkan kepala, merasa geli dengan tingkah Leon.
"Hem, kamu itu Le, ya sudah sana kubur dulu kucingnya."
Leon pun mengambil bangkai kucing itu dan berjalan menuju ke suatu tempat untuk mengubur kucing tersebut, sementara para warga pun membubarkan diri.
Leon sampai di sebuah tempat yang mirip dengan perkebunan, namun dia tak menguburkan kucing itu, melainkan hanya meletakannya di sebuah tanah, Leon mengambil dedaunan kering yang berserakan, untuk menutupi tubuh kucing itu, kemudian Leon kembali lagi menghampiri Franky.
"Sudah kamu kubur, Le?"
"Sudah, Fran," Leon berbohong.
"Ya sudah, let's goo!"
"Memang mobilnya sudah kamu cek, Fran?"
"Sudah, Le, normal kok."
Franky dan Leon pun masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanannya.
Tak terasa hari menjelang petang, Leon tertidur di joknya.
Franky terus menyetir mengikuti petunjuk arah tempat yang hendak di tuju, hingga malam pun tiba, jalan yang semula terang, kini yang terlihat hanyalah lampu-lampu jalan, dan lampu mobil yang melintas di sekitar jalan itu.
__ADS_1
Tiba-tiba Franky melihat penampakan sosok wanita berambut panjang menutupi sebagian wajahnya, dan memakai baju berwarna putih lusuh, dia berdiri menghalangi mobil Franky.
"Hah? Siapa perempuan itu? Kenapa berdiri di sana sih, memangnya dia nggak lihat ada mobil ya," batinnya.
Franky menghentikan mobilnya dan membangunkan Leon.
"Le, bangun Le, coba lihat itu ada perempuan cantik, sana ajak kenalan."
Franky membangunkan Leon berkali-kali, namun Leon tak bergeming sama sekali.
"Hem, ini anak kebiasaan, kalau sudah tidur susah sekali di bangunkan."
Akhirnya Feanky memutuskan untuk turun dan menghampiri wanita itu, betapa terkejutnya Franky ketika wanita yang di lihatnya sudah tak ada lagi.
"Lho, kemana dia? Perasaan tadi ada di sini," batinnya.
Franky celingukan mencari wanita yang di maksud, namun tetap tak di ketemukan, akhirnya Franky pun masuk kembali ke dalam mobilnya.
Franky kembali mengemudikan mobilnya, setelah mobil melintas cukup jauh, Franky kembali melihat penampakan.
Namun kali ini sosok bertubuh tinggi besar, bermata merah dan berbulu yang Franky lihat.
Franky menghentikan mobilnya lagi.
"A.. apa itu?" Franky bergidik ngeri, dan sosok itu terus berdiri menatap tajam ke arah Franky.
"Duh Leon, nggak bangun-bangun nih huft."
Franky tak berani turun, karena dia merasa takut dengan sosok tersebut.
Tak lama sosok menyeramkan itu pun hilang.
Franky kembali mengemudikan mobilnya.
"Huft lega deh, ada-ada saja sih, kenapa juga dari tadi kok ada orang-orang aneh yang menggangguku."
Franky terus mengemudikan mobilnya, tiba-tiba perutnya terasa lapar.
"Ni anak tidur terus, apa nggak ngerasa lapar ya hem," batin Franky.
Franky terus mengendarai mobilnya mencari warung makan.
"Jam berapa sih ini, kok sudah sepi, dari tadi nggak nemu warung makan."
Dan kali ini Franky berasa ingin buang air kecil.
"Duh, pakai kebelet lagi."
Franky menghentikan mobilnya tepat di sebuah tempat yang sepi, Franky turun, dia melihat sebuah pohon besar dan tua.
"Ah, aku buang air di situ saja."
Franky berjalan ke arah pohon itu untuk membuang hajatnya.
Selesai membuang hajat, samar-samar Franky melihat sosok nenek tua yang sedang berdiri di seberang pohon, sosok nenek itu seperti sedang memperhatikan Franky.
"Siapa itu?" Franky memberanikan diri untuk bertanya, namun hening tak ada jawaban sama sekali.
Buku kuduk Franky meremang seketika, dia menoleh ke kiri dan ke kanan, ketika pandangan matanya mengarah ke sosok nenek yang di lihatnya tadi, Franky sangat terkejut, karena sosok itu telah hilang.
__ADS_1
Franky pun berlari masuk ke dalam mobilnya, dia kembali mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.