
"Ah, kenapa juga aku nggak minta nomernya Rindi ya tadi, huft," batin Franky.
Franky memiringkan tubuhnya ke kiri.
"Kok mendadak aku ingin sekali berkemah ya, apa sebaiknya aku berkemah saja untuk menghilangkan penat, biar otakku fresh capek aku mikir ide cerita terus, oh iya sebaiknya aku ajak Leon saja biar aku ada temen."
Franky mengambil ponselnya, kemudian menghubungi Leon.
"Halo Fran, ada apa?" jawab suara di seberang sana.
"Eh Le, besok piknik yuk, aku pengin ngerefresh otak nih."
"Wah asik juga tuh, boleh deh, besok kan hari minggu ya, aku juga nggak ada kegiatan."
"Ya sudah, besok aku jemput kamu ya Le, pake mobil aku aja."
"Oke siap Fran."
Panggilan pun berakhir.
****
Keesokan hari, Franky bangun kemudian segera mandi dan bersiap hendak menjemput Leon.
Dia pun mengeluarkan mobilnya dari garasi, kemudian mengendarainya.
Setengah jam kemudian...
Tiiiin!
Suara klakson dari mobil Franky terdengar sampai ke dalam rumah Leon.
Leon keluar dan tersenyum, dia mengunci pintu rumah kemudian masuk ke dalam mobil Franky, dengan sebuah tas ransel di pundaknya.
"Sudah siap rupanya," gumam Franky.
"Sudah dari tadi Fran, kasihan kamu, kalau nunggu kelamaan hehe," kekeh Leon.
"Bisa saja kamu Le."
Franky mengendarai mobilnya sambil bernyanyi riang, Leon diam-diam memperhatikannya sambil tersenyum.
"Senang sekali lihat teman ku sudah nggak murung lagi," batinnya.
Dua jam kemudian Franky tiba di puncak gunung, dia pun turun di ikuti Leon, Franky. memarkirkan mobilnya kemudian berjalan bersama Leon.
"Apakah kamu suka mendaki Le?" tanya Franky.
"Dulu, waktu kuliah aku sering mendaki, tapi sekarang hampir nggak pernah Fran, karna nggak pernah ada yang ajak aku juga hehe."
"Iya juga ya Le, kalau mendaki sendiri memang nggak asik."
"Ya sudah, ayo kita mendaki dulu, mumpung masih pagi dan cuaca juga belum terlalu panas, nanti agak malam sedikit baru kita pasang tenda," ujar Franky.
"Kamu bawa tenda berapa Fran?"
"Kok kamu tanyanya aneh Le, ya bawa satulah, ngapain bawa banyak-banyak, lagian tendanya kan lumayan besar, cukup buat tidur orang satu RT."
"Dih yang benar saja Fran, yang ada tendanya malah jebol."
__ADS_1
Franky terpingkal.
"Memangnya kenapa Le? Kamu nggak mau tidur berdua sama aku?"
"Ya males bangetlah Fran, kalau berdua sama perempuan baru mau, hehe enggak kok bercanda."
"Hem, kamu ini ada-ada saja Le."
"Apa aku tidur di luar saja, kalau kamu keberatan tidur berdua sama aku," ujar Franky.
"Eh, jangan dong Fran, kamu ini, begitu saja langsung di ambil hati."
"Hatinya siapa yang di ambil Le?"
"Hatinya Rinjani.. ups!"
"Duh kenapa aku jadi keceplosan gini sih," gumam Leon dalam hati.
Franky terkesiap, seketika dia menjadi dejavu.
"Rinjani? Sepertinya, nama itu nggak asing," gumam Franky.
"Kamu kenal sama Rinjani?" tanya Leon berpura-pura tak tahu.
"Eh.. itu, aku juga nggak tahu Le," Franky menjadi gugup seketika.
"Oh.. aku pikir kamu kenal," ujar Leon.
Jantung Franky pun berdegup kencang, pikirannya menjadi tak menentu.
Leon tersenyum, dia merasa geli dengan tingkah temannya itu.
"Kamu itu lucu juga ya Fran," ujar Leon.
"Em.. lucu saja, hehe."
"Oh iya Le, tadi kamu nyebut nama Rinjani, memangnya dia siapa?"
Wuuussshhhhh...
Tiba-tiba angin berhembus kencang menerpa wajah dan tubuh Franky.
Franky merasa kedinginan di sekujur tubuhnya.
Franky merasa ada yang janggal, tapi dia tak mau Leon curiga dan beranggapan kalau dirinya aneh.
Leon pun menjadi bingung, dia tampak berfikir sejenak.
"Em, dia itu mantan pacar aku hehe."
Leon terpaksa berbohong, karena dia tak mau gara-gara salah bicara, sampai menimbulkan masalah.
"Oh.. mantan kamu, oh iya Le, kemarin waktu kamu pulang, nggak lama ada perempuan datang."
"Perempuan siapa Fran?"
"Namanya Rindi, kata nyonya Nurdiana dia wakil dari PT. Bintang Kejora."
"Oh si Rindi, kalau itu aku kenal sudah lama."
__ADS_1
"Masa sih Le, dia masih single atau sudah berkeluarga?"
"Wah kamu pasti naksir ya Fran? Hayo.. ngaku saja," ledek Leon.
"Ah, kamu itu sok tahu Le, aku kan hanya bertanya, memangnya nggak boleh?"
"Lho aku juga tanya Fran, apa kamu suka sama si Rindi?"
Wajah Franky merah padam, dia menjadi nervous.
"Oh iya Le, kamu belum jawab pertanyaanku, apa si Rindi itu sudah ada yang punya?"
"Wah, kalau masalah itu, aku kurang tahu, aku memang kenal sama dia, tapi nggak tahu pribadinya, karna dia kan kenalannya tante aku, dan dia sering keluar masuk di kantor tante aku, kebetulan aku sering lihat dia, jadi tahu gitu, tapi kita pun sama sekali belum pernah ngobrol."
"Gitu ya?"
Leon mengangguk.
"Memangnya, kenapa sih Fran?"
"Nggak apa-apa kok Le, ya sudah, lupakan saja hehe," Franky terkekeh.
Tak terasa hari hampir petang, dan kedua pria itu sudah kembali ke tempat Franky memarkirkan mobilnya.
"Sudah mau gelap Le, sebentar, aku akan memasang tenda untuk kita beristirahat," ujar Franky.
Franky menuju ke mobil, dia mengambil tenda, kemudian memasangnya tak jauh dari mobilnya.
Setelah tenda terpasang, mereka berdua masuk ke dalam tenda itu.
" Kalau kamu ngantuk, tidur duluan saja Le."
"Iya Fran."
Tanpa menunggu lama, Leon telah terlelap dalam tidurnya, diiringi dengkuran yang cukup keras.
Franky memandangi Leon sambil menggeleng kepala dan tersenyum.
"Le, Le, kalau di suruh tidur kok nomer satu," batinnya.
Franky merebahkan tubuhnya di samping Leon, mendadak dia merasa gerah malam itu, dia pun keluar dari tenda.
"Sepi sekali ternyata, hanya beberapa orang saja yang berkemah," gumam Franky.
Tiba-tiba angin dingin berhembus sangat kencang dan menerpa tubuh Franky.
"Kenapa di luar dingin ya, tapi di dalam tenda aku merasa panas, aneh," batin Franky.
Franky berjalan-jalan di sekitar tempat itu, tiba-tiba dari kejauhan dia melihat danau kecil di sekitar tempat itu.
"Wah ada danau, besok aku ajak Leon berendam di sana, pasti asik tuh," batinnya.
Tanpa disengaja, netranya menangkap beberapa sosok di dalam danau tersebut.
"Hah? Malam-malam begini ada orang mandi? Sepertinya, banyak sekali orang di dalam danau itu," heran Franky.
Franky berjalan ke arah danau itu, sampai di sebuah pohon dia bersembunyi dan mengintai para sosok yang sedang mandi di dalam danau itu.
Franky penasaran dengan mereka, akhirnya dia melangkahkan kakinya lebih dekat lagi, sampai di pohon berikutnya, Franky mengintai mereka sekali lagi.
__ADS_1
"Wah, ternyata perempuan semua yang sedang mandi, cantik-cantik lagi, tapi siapakah mereka? Apakah penduduk sini juga? Tapi.. sepertinya di tempat ini nggak ada penduduk," gumam Franky dalam hati sambil terus menatap ke arah danau itu.
Franky sungguh terpesona dengan para sosok yang sedang mandi di danau itu.