
Sosok wanita itu telah selesai memasak, dia pun menata makanan yang telah dimasak di dekat kompor, setelah itu dia hendak berjalan menuju ke depan. Saat akan berbalik, wanita itu terkejut, melihat Joko di hadapannya.
"Eh, kau ...."
Joko terkesima, karena wajah wanita itu sungguh mengagumkan, hidungnya mancung, iris matanya sangat indah, dan berpenampilan anggun.
"Siapa kamu? Sedang apa kamu di sini?" tanya Joko penuh selidik.
"Halo anak muda, terimakasih, karna kau sudah membunuh paman-ku, sehingga aku terbebas dari kutukan itu, aku adalah Nawang, kucing hitam yang selalu menemanimu setiap hari."
Joko terbelalak, dia sungguh terkejut mendengar pengakuan Nawang, dia menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari keberadaan kucing hitam itu, dan benar saja, kucing itu tak ada lagi di sana.
"Be ... benarkah kamu ini Nawang?" tanya Joko memastikan.
Nawang tersenyum dalam anggukannya.
"Jadi yang selama ini memasak makanan sebanyak itu, kamu?"
Lagi-lagi, nawang hanya mengangguk.
"Tapi kemarin-kemarin kan kamu berwujud kucing, bagaimana bisa kamu masak?" Joko menjadi penasaran.
Nawang tersenyum ramah, memperlihatkan lesung pipinya yang manis.
"Aku memang dikutuk menjadi kucing, tapi sebelum adzan subuh berkumandang, aku bisa menjadi manusia, tapi hanya selama dua jam saja, nah kalau sudah masuk waktu subuh, aku akan kembali lagi menjadi kucing, jadi selama dua jam, aku memanfaatkan kesempatan itu untuk memasak buat kalian.
"Lho, tapi dari mana kamu mendapatkan sayuran dan lauk mentah untuk dimasak?"
"Dari kekuatanku, ya aku hanya menyulap, supaya di meja menjadi ada masakan."
Joko pun mengangguk. "Oh gitu, nah kok kamu tahu, kalau aku sudah membunuh paman kamu?"
"Iya, karna aku berubah wujud dari jam dua malam tadi, dan ini sudah adzan subuh, tapi aku tak juga berubah menjadi kucing, jadi aku pikir, kamu sudah membunuh paman-ku, terimakasih anak muda, kau sudah membebaskan-ku dari kutukan itu."
"Wah, aku ikut senang, ternyata kamu cantik sekali Nawang," puji Joko, dan Nawang pun tersipu.
"Oh iya, nanti siang, aku akan mengajak kau ke rumah-ku, itupun kalau kau mau."
"Eh, aku mau sekali Nawang."
"Kamu bicara sama siapa, Jok?"
Sebuah suara mengejutkan mereka berdua.
Joko dan Nawang menoleh, ternyata Franky sudah berdiri di hadapan mereka.
"Sejak kapan kamu di sini, Fran?" tanya Joko.
"Sejak dengar kamu mengobrol, Jok," sahut Franky.
Netra Erlangga pun mengarah ke sosok Nawang.
"Dia siapa Jok?"
Joko tersenyum smirk.
Kenalkan, Fran, dia Nawang, orang yang selama ini memasak untuk kita?" ungkap Joko.
__ADS_1
"Hah? Orang yang selama ini memasak untuk kita? Mana?" lagi-lagi sebuah suara mengejutkan mereka bertiga.
Franky pun menoleh ke arah sumber suara, ternyata Leon baru pulang kerja.
"Eh, kamu, Le," ujar Franky.
"Leon sudah pulang?" tanya Joko.
"Sudah dong, Jok," sahut Leon.
"Ya sudah, mumpung sedang kumpul semua, ayo kita makan bersama, sekaligus aku mau berbicara sesuatu," ujar Joko.
Franky mengerutkan keningnya.
"Bicara apa, Jok?" tanyanya.
"Ya maka dari itu, ayo kita ke depan."
Franky dan Leon pun berjalan ke depan, sedangkan Joko membantu Nawang membawa masakan itu. Setelah semua berkumpul dan duduk bersama, mereka pun mulai mengisi piring mereka masing-masing, dengan nasi dan lauknya.
Leon bingung melihat Nawang.
"Ini siapa Jok, kok ada perempuan cantik hehe," kekehnya.
"Perkenalkan, ini adalah Nawang, dia adalah kucing hitam, yang kalian lihat selama ini."
"Hah??? Franky dan Leon terbelalak bersamaan.
"Jadi Nawang ini adalah siluman kucing hitam itu?" tanya Franky setengah tak percaya.
"Ck, ck, ck, kasihan sekali ternyata," gumam Franky seraya memasukan sendok berisi nasi dan lauk ke dalam mulutnya.
"Iya, Fran, dan kutukan itu bisa hilang, kalau pamannya mati," sambung Joko, sambil mengunyah makanannya.
"Eh, mpus, ups ... salah, hehe, Nawang ... masakan kamu enak sekali," kelakar Leon.
"Aku senang kalau kalian suka sama masakan-ku, tapi maaf, besok aku sudah tak bisa memasak untuk kalian lagi, karna aku akan kembali ke rumah-ku," ujar Nawang.
"Nggak apa-apa, Na, biar kita makan di warung lagi," kata Franky.
"Iya, Na, nanti kasihan Leon, kalau kamu masak terus, banyak lagi," sambung Joko.
"Kasihan bagaimana, Jok?" tanya Leon.
"Nanti tambah gendut, nggak bisa gerak, makan terus sih, haha! ledek Joko.
"Huuu, kamu itu, Jok, kebiasaan," cibir Leon.
Joko dan Franky terkekeh, sedangkan Nawang tersenyum geli melihat tingkah ketiga pria tersebut.
"Ya sudah, habiskan makannya, setelah ini aku akan mengantar Nawang ke rumahnya," kata Joko.
"Oke, Jok, tapi awas, jangan sampai kesasar," seloroh Leon.
"Nggak mungkin, Le, kan aku punya petunjuk arah," kata Joko.
"Petunjuk arah apa, Jok?" tanya Leon.
__ADS_1
"Petunjuk arah hati ke hati hehe," Joko terkekeh.
"Huuu," sorak Leon.
"Ketularan bucin dia," celetuk Franky.
"Dih, apaan sih, Fran, bucin sedikit kan nggak apa-apa," kelakar Joko.
Nawang tersipu malu, sedangkan Franky dan Leon terus terkekeh.
"Uhuk!" Leon tersedak.
"Tuh, makannya kalau makan jangan sambil tertawa, jadi kuwalat kan hahaha!"
"Ah sialan kamu, Jok, malah ngatain orang," gerutu Leon.
Joko terkekeh.
"Kalian ini lucu ya," ujar Nawang.
"Memang kita ini boneka, Na, kamu bilang lucu, hehe," kekeh Joko.
Nawang hanya menahan senyum, dia memang tak banyak bicara.
Tak lama, makanan yang mereka santap pun telah habis, dan Franky menata piring kotor di pinggiran meja.
"Biar aku yang mencuci alat makannya," kata Nawang sambil membawa tempat yang sudah kotor.
"Eh, biar aku saja yang mencuci, Na," kata Joko, berusaha mencegah Nawang.
"Tak apa, aku sudah terbiasa mencuci peralatan makan dan membersihkan rumah, jadi sudah terbiasa," ujar Nawang.
Ketiga pria itu pun akhirnya membiarkan kemauan Nawang, dan Nawang pun berjalan ke dapur.
"Wah, cantik juga ternyata, Jok, siluman kucing hitam itu," celetuk Leon.
"Sssttt ... jangan keras-keras, nanti orangnya dengar," bisik Joko.
"Hehe, iya, Jok, kamu pacari saja Jok, kan kamu jomblo, sepertinya dia juga suka sama kamu," bisik Leon lagi.
Joko tertawa kecil.
"Itu sih masalah gampang, yang penting pendekatan dulu," ucap Joko dengan pedenya, masih setengah berbisik.
"Iya, Jok, kita dukung kamu kok," sambung Franky lirih.
Joko pun tersipu.
"Makasih ya Fran, Le, kalian memang teman-teman-ku yang baik."
"Sama-sama, Jok, kamu juga baik, selalu mau membantu masalah orang lain," ujar Franky.
"Kalau itu sudah menjadi kewajiban aku, Fran," sahut Joko.
Tak lama, Nawang pun kembali dengan membawa nampan berisi empat cangkir teh melati.
"Silahkan diminum, maaf, aku lihat di dapur ada teh, jadi aku seduh untuk kalian," ujar Nawang.
__ADS_1