
Ketiga pria itu pun selesai mandi.
"Makan dulu yuk, Fran, aku lapar sekali," celetuk Leon.
"Nggak puasa, Le?" kelakar Joko.
"Hehe, kapan-kapan saja, Jok," kekeh Leon.
"Ya sudah, ayo kita makan di warung bu Monik saja," sahut Franky.
"Iya lah, yang dekat, memang mau makan di mana lagi," kata Leon.
Mereka bertiga pun berjalan, menuju ke warung makan bu Monika. Sesampainya, mereka di sambut oleh bu Monika.
"Eh kalian mau kemana, pagi sekali?"
"Mau makan, Bu, lapar hehe," sahut Leon di sela kekehannya.
"Oh, ya sudah silahkan ambil sendiri ya."
"Bento mana bu?" tanya Franky pada bu Monika.
"Biasa, dia kalau bangun siang, maklum nggak ada kerjaan," sahut bu Monika.
Franky mengangguk, sambil menaruh nasi, beserta lauk, ke piringnya, begitu pula dengan Leon dan Joko, mereka menaruh nasi, dan memilih menu yang mereka suka, kemudian duduk dan menikmatinya. Selesai makan, Franky membayar makanan itu, kemudian berpamitan.
"Nggak main dulu, sama nunggu Bento bangun?"
"Nanti saja, Bu, kami ada urusan penting," sahut Joko berbohong, dia tak mau aksinya diketahui oleh siapa pun, selain kedua temannya.
"Oh ya sudah hati-hati ya."
Mereka bertiga mengangguk, kemudian berlalu dari hadapan. Di tengah jalan, Leon bertanya setengah berbisik kepada Joko, supaya tak didengar oleh Franky.
"Eh, Jok, kita mau ke mana?"
"Kan aku sudah bilang, aku akan menguak misteri hutan itu, sebenarnya apa yang ada di hutan itu, dan siapa sebenarnya Rinjani itu. Kalau dia memang sudah mati, apa alasan dia masih bergentayangan, dan menyesatkan manusia?" Joko pun menjawab ikut berbisik juga.
"Bukannya kamu bilang, Rinjani itu tinggalnya di hutan itu, Jok?"
"Duh, kamu ini, nggak paham juga, Le, memang semua tempat yang angker itu, ada penunggunya, tapi kan mereka biasanya hanya tinggal, dan sekedar mengganggu manusia saja. Nah, kalau Rinjani kan sudah mengikuti Franky ke mana pun, dan dia berusaha ingin menyesatkan Franky."
"Menyesatkan bagaimana maksud kamu, Jok?"
"Rinjani itu, berencana menjadikan Franky sebagai budaknya."
__ADS_1
Leon, yang memang tidak tahu menahu soal dunia gaib, pun semakin bingung dibuatnya.
"Sudah, kamu nggak perlu ikut mikir, pokoknya, inti dari permasalahan ini adalah, membuat Franky bebas dari Rinjani, biar dia hidup normal seperti semula, nggak sering melamun, dan juga nggak sering bertingkah aneh lagi, seperti yang kamu tahu."
"Oh, ya sudah, Jok, aku ngikut kamu saja, gimana baiknya, kamu kan yang lebih tahu.
"Kalian berdua ini, ngapain bisik-bisik?" celetuk Franky.
"Eh enggak kok, Fran, ini si Joko, katanya masih lapar."
"Yeee, enak saja kamu fitnah aku, Le."
"Lho, bukannya kamu tadi bilang gitu?"
"Sudah, sudah, kalian ini selalu saja adu mulut," seloroh Franky.
Joko dan Leon saling berpandangan, kemudian mereka berdua saling mengerjapkan mata, seolah ada sebuah rahasia, di antara mereka.
Ketiga pria itu terus berjalan, hingga kini mereka sampai di pantai, saat itu hari masih pagi, waktu baru saja menunjukan pukul setengah tujuh.
"Ayo kita ke hutan itu, Le, kamu gandeng terus tangan Franky," kata Joko setengah berbisik.
Leon pun menggandeng tangan Franky.
"Gandengan segala, seperti sama pacar saja, Le," kelakar Franky.
"Kamu pikir, aku anak kecil, suka hilang?"
Leon hanya terkekeh, sedangkan Joko menahan tawanya. Mereka bertiga terus berjalan, hingga sampai di depan hutan. Joko pun menyuruh kedua temannya berhenti.
"Le, kamu tunggu di sini ya, tolong jaga Franky, jangan kasih dia untuk pergi."
"Baik, Jok, kamu mau kemana?"
"Aku mau masuk ke dalam hutan sebentar."
Leon pun mengajak Franky duduk di sebuah batu besar, yang terletak di luar hutan itu. Sementara itu Joko berjalan memasuki hutan, baru beberapa langkah terdengar sebuah suara yang membuat Joko menghentikan langkahnya.
"Lancang sekali anda, beraninya memasuki wilayah kekuasaan saya!"
Joko mengarah ke sumber suara, dan kini di hadapannya telah berdiri sosok wanita cantik berkebaya dan berkerudung serba putih, yang tak lain adalah Rinjani.
Joko tersenyum smirk ....
"Sudahlah, kamu jangan keras kepala, kalau nggak mau aku musnahkan sekarang juga," kata Joko, sambil mengeluarkan tongkat saktinya dari dalam baju yang dia kenakan. Joko selalu membawa tongkat itu, kemana pun dia pergi.
__ADS_1
Kedua bola mata Rinjani membulat. "Tongkat itu ... tongkat Raja iblis, dari mana anda mendapatkannya?"
Lagi-lagi Joko menyunggingkan senyumnya. "Kamu tak perlu tahu, dari mana aku dapat, tapi yang jelas, kalau kamu terus mengganggu temanku, kamu akan kumusnahkan sekarang juga."
Raut wajah Rinjani memancarkan kekhawatiran yang mendalam, dia tak menyangka akan bertemu dengan lawan yang ilmunya lebih tinggi darinya.
"Katakan, apa mau anda?" tanya Rinjani geram.
"Aku nggak ada kemauan yang macam-macam sama kamu, aku hanya ingin kamu menjawab pertanyaan ku saja."
"Lantas, apa yang ingin anda tanyakan?
"Kamu ini sudah mati, tapi kenapa masih menjadi arwah penasaran? Mengganggu, dan menyesatkan manusia yang tak bersalah."
Rinjani terdiam sejenak, sebelum akhirnya angkat bicara, entah ada kekuatan apa dalam diri Joko, sehingga hati Rinjani menjadi luluh di depan Joko.
"Saya hanya ingin mencari jasad saya, agar seseorang menemukannya, dan saya segera di kubur dengan layak, dan bisa melanjutkan hidup di alam selanjutnya, sehingga saya tak lagi menjadi arwah penasaran."
Joko terkejut mendengar pengakuan Rinjani. "Jadi, kamu ini matinya belum sempurna?"
Rinjani menggeleng lemah. "Saya sendiri pun tak tahu, di mana jasad saya berada."
Joko mendadak iba dengan Rinjani. "Ini hantu, jujur apa bohong ya?" gumam Joko dalam hati.
"Anda pikir, saya tukang tipu?" celetuk Rinjani.
Joko terkesiap. "Oh iya ya, aku lupa, kalau kamu bisa dengar suara hati orang, hehe," kekehnya.
Rinjani diam, netranya menatap sinis ke arah Joko, membuat Joko menahan senyum, merasa lucu dengan tingkah hantu di depannya itu.
Tanpa sadar, bulir kristal bening menetes dari kedua mata Rinjani, dan tanpa sengaja Joko pun melihatnya.
"Duh ... kamu kok nangis sih, aku malah jadi bingung."
"Saya hanya ingin dikasih kesempatan sekali lagi, saya ingin menemui seseorang, supaya bisa menyelamatkan saya dan menemukan jasad saya. Dengan begitu saya bisa kembali ke raga saya, dan saya bisa mati dengan sempurna."
"Aku tahu, kalau kamu ingin sekali bereinkarnasi menjadi manusia, supaya bisa bersama orang yang kamu cintai, tapi ingat, kamu nggak boleh lagi ikut campur, dalam urusan manusia. Karna dunia kalian sudah berbeda. Lagi pula, kamu memang sudah ditakdirkan seperti itu, tapi kamu nggak perlu khawatir, suatu saat akan ada seorang lelaki yang menolongmu, dan mengembalikan jiwamu ke dalam tubuhmu, dan lelaki itulah, kelak yang akan menjadi jodohmu."
"Apa seseorang itu, adalah Franky?" Rinjani bertanya penuh harap.
"Hahaha ...." Joko pun tak bisa menahan rasa gelinya, akhirnya dia tertawa terpingkal.
"Hey, apanya yang lucu?" tanya Rinjani ketus.
"Kamu itu, ternyata bucin juga ya."
__ADS_1
"Memang kenapa?" Rinjani mengerutkan keningnya.
"Apa kamu ... benar-benar suka sama Franky?" tanya Joko.